LOGINBip... bip... bip...Suara berisik dari monitor detak jantung yang monoton menjadi hal pertama yang merayap masuk ke dalam kesadaran Celine. Rasa dingin yang menggigit dan aroma antiseptik yang tajam menyengat penciumannya, menggantikan aroma wangi mawar dan lavender yang biasa menenangkannya.Celine perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, terhalang oleh silau lampu neon putih yang menusuk dari langit-langit bangsal rumah sakit. Tidak ada kubah kaca megah, tidak ada kanopi beludru, dan tidak ada kehangatan dada bidang Alaric yang biasanya mendekapnya erat."Pasien di kamar 405 sadar! Dokter, pasien koma selama dua tahun ini akhirnya sadar!"Suara panik perawat dan derap langkah kaki sibuk mengudara di sekelilingnya. Namun, Celine tidak memedulikan semua kebisingan itu. Tangannya yang dipasangi selang infus bergetar hebat saat ia meraba jari manis tangan kirinya. Kosong. Cincin emass bermaterikan permata amethyst yang menjadi saksi sumpah sehidup sematinya bersama Alaric tidak ad
Petir menyambar membakar langit malam Ethelwilde, disusul oleh deru angin badai yang menghantam dinding istana dengan brutal. Di dalam kamar utama yang temaram, suasana mencekam itu mendadak pecah oleh erangan kesakitan. Celestine meremas seprai tempat tidur dengan jemari yang memutih. Usia kandungannya baru menginjak delapan bulan, namun kontraksi hebat yang datang tiba-tiba memaksa anak kedua mereka untuk lahir lebih cepat dari perkiraan."Tahan, aku bersamamu, Sayang. Tarik napasmu." bisik Alaric parau. Wajah tampan sang Raja tampak luar biasa pucat, dipenuhi oleh kepanikan yang ia rasakan lebih daripada saat kelahiran Regulus. Ia menggenggam erat telapak tangan Celestine, menyalurkan mananya dengan kelembutan tertinggi untuk meredakan rasa sakit sang istri.Perjuangan hidup dan mati itu berlangsung dramatis di tengah kepungan badai malam. Setelah berjam-jam bertaruh nyawa di atas ranjang dengan sisa-sisa tenaganya, tangisan melengking seorang bayi perempuan akhirnya pecah, membe
Kelopak mawar merah yang berguguran di sela-sela ranting pohon mawar merambat di taman kaca tampak seperti hujan keperakan yang lambat. Angin sore berembus tipis, membawa keharuman lavender yang pekat dan menenangkan sirkuit mana di dalam tubuh Celestine.Dua tahun telah berlalu sejak tawa renyah Regulus meramaikan lorong-lorong istana, dan kini, kebahagiaan di bawah atap kediaman agung Ethelwilde kembali membuncah. Celestine sedang mengandung anak kedua mereka. Usia kandungannya telah memasuki bulan kelima, membuat perutnya kini tampak membuncah bulat di balik gaun sutra longgar berwarna hijau mint yang ia kenakan.Namun, kehamilan kedua ini sukses mengubah sang Raja Agung menjadi sosok yang protektifnya sudah di luar batas kewajaran.Alaric benar-benar menolak membiarkan Celestine berada di luar jangkauan pandangannya lebih dari beberapa blok. Bahkan, demi tidak meninggalkan istrinya sendirian saat ia harus memeriksa tumpukan dokumen negara, Alaric dengan ugal-ugalan memerintahkan p
Tap, tap, tap!Suara derap langkah kaki kecil yang terburu-buru bergaung renyah di atas lantai marmer, seketika memecah keheningan koridor sayap barat Istana Utama Ethelwilde. Lorong-lorong megah yang empat tahun lalu terasa begitu dingin, kaku, dan sarat akan intimidasi politik, kini telah berubah total. Tempat itu kini dipenuhi oleh energi kehidupan yang teramat hangat, berkat kehadiran seorang balita berpipi gempal yang sedang berlari ugal-ugalan sambil memeluk sebuah boneka naga kain rajutan."Kuda! Cepat, Pangeran mau naik kuda!" pekik suara cempreng nan menggemaskan itu, memicu tawa renyah dari para pelayan istana yang berpapasan dengannya.Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu bernama Regulus Alderwyn. Dia adalah putra pertama, sekaligus sang Putra Mahkota kecil Ethelwilde. Regulus mewarisi ketampanan dari ayahnya, sepasang netra safir biru malam yang berkilau tajam bak permata, serta helai rambut hitam pekat yang legam. Namun, berbeda dengan sang ayah yang irit senyum, sifat
Satu minggu setelah suasana pesta pernikahan agung mereda, ketenangan yang meneduhkan perlahan kembali menyelimuti Istana Utama Ethelwilde. Pagi itu, sinar matahari menembus lembut tirai tipis kamar pribadi sang Ratu, menyiram meja marmer tempat Celestine duduk bersantai dengan segelas teh Chamomile madu hangat yang masih mengepulkan aroma wangi.Di atas meja tersebut, berjejer beberapa kotak beludru besar berhiaskan ukiran permata dari kerajaan seberang—hadiah pernikahan susulan yang baru saja tiba melalui jalur laut. Namun, perhatian Celestine tidak tertuju pada kilaunya emas atau sutra mewah di dalam kotak-kotak itu. Sepasang netra amethyst-nya terfokus sepenuhnya pada selembar kertas perkamen beraroma wangi bunga melati yang sedang ia pegang.Itu adalah surat dari kakak perempuannya, Aureliane.“Untuk adik kecilku tercinta, Celestine.” tulis Aureliane dengan guratan tinta emas yang rapi dan anggun. “Maafkan kakakmu yang tidak bisa hadir di hari paling megah dalam hidupmu. Tabib ke
Gema ribuan lonceng emas dan perak kembali bersahutan membelah langit ibu kota, tetapi hari ini getarannya terasa jauh lebih hangat dan membahagiakan. Tidak ada lagi sisa ketegangan politik atau bayang-bayang kelam dari kudeta masa lalu. Hari yang dinantikan oleh seluruh pelosok kekaisaran Ethelwilde akhirnya tiba. Ribuan rakyat berkumpul di sepanjang jalan protokol sejak matahari belum sepenuhnya terbit, melambaikan bendera kerajaan dan menaburkan kelopak bunga ke udara. Seluruh ibu kota seolah menjelma menjadi lautan pesta yang penuh dengan sorak-sorai suka cita.Di dalam Katedral Agung Elidyr, kemegahan dekorasi hari itu benar-benar memanjakan mata siapa pun yang memandangnya. Sesuai dengan instruksi rahasia yang dipesan langsung oleh sang Raja, seluruh sudut dinding batu katedral dihias indah oleh rangkaian bunga abadi dan hamparan bunga mawar dan bunga camelia segar. Aroma wangi yang menenangkan dan manis menguar di udara, menciptakan atmosfer sakral yang terasa begitu intim dan
Pagi yang mencekam itu perlahan meluruh menjadi siang yang berat. Atmosfer di dalam kediaman Montclair masih terasa seperti medan perang yang dibekukan, ksatria-ksatria Alaric berdiri layaknya pilar baja di setiap sudut koridor. Celestine, yang akhirnya menyerah pada kepungan protektif sang panger
Pagi itu, ruang makan kediaman Montclair seharusnya menjadi tempat yang tenang untuk menikmati croissant hangat dan Teh yang baru diseduh. Namun, bagi Celestine, suasana terasa lebih mencekam daripada berhadapan dengan raja mana pun yang pernah ia bayangkan. Saat ia melangkah masuk dengan gaun pagi
"Masalah dengan sang pedagang kain belum juga menemui titik terang, lalu Paman Nigel muncul dari liang kubur dengan peringatan yang mengusik kewarasan, dan sekarang, aku masih harus menyelidiki organisme menjijikkan ini akibat ulah pedagang kain sialan itu?"Celestine menghempaskan
Pagi itu, kediaman Montclair diselimuti kabut tipis yang mendinginkan taman mawar di sayap timur. Di dalam ruang kerja pribadinya, Celestine sedang meninjau dokumen pendaftaran untuk Akademi Aethelgard ketika Milly masuk dengan membawa sebuah kotak kayu cendana yang diikat dengan pita sutra berwarn







