LOGINTidak jauh dari ibu kota, di sebuah wilayah yang ramai dilalui pedagang dan pengembara, berdiri sebuah bangunan yang pada awalnya sama sekali tidak menarik perhatian.Sebuah papan kayu tergantung di depan pintunya.Paviliun Awan Patah.Tidak ada gerbang megah.Tidak ada penjaga bersenjata lengkap.Namun orang-orang yang mengetahui tempat itu memahami satu hal.Jika ingin mengetahui sesuatu yang sedang terjadi di sekitar ibu kota, Paviliun Awan Patah mungkin memiliki jawabannya.Huang Liang membangun tempat itu dari kecil.Awalnya hanya beberapa orang.Seorang pembawa pesan.Seorang pedagang yang pandai mengingat wajah.Seorang pengembara yang mengenal banyak jalan.Seorang pemuda yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan cepat.Huang Liang tidak peduli dari mana mereka berasal.Ia hanya melihat kemampuan mereka.“Kalau kau bisa mengingat wajah orang setelah melihatnya sekali, kau cocok menjadi pengamat.”“Kau hafal jalan-jalan kecil di sekitar ibu kota?”“Bagus. Kemampuanmu b
Jauh dari Perguruan Bangau Hijau, di sebuah kediaman yang tersembunyi di antara perbukitan, Qiu Hui duduk diam di ruang utama.Luka di wajahnya masih belum sepenuhnya pulih.Di hadapannya, Yangxiang menuangkan teh.Perut perempuan itu sudah mulai membesar.Kehamilannya semakin terlihat.Qiu Hui memandangnya.“Kau harus lebih banyak beristirahat.”Yangxiang tersenyum kecil.“Aku sedang hamil, bukan sakit.”“Aku serius.”“Aku juga.”Yangxiang meletakkan cangkir teh di hadapannya.“Selama aku masih bisa berjalan, aku tidak ingin hanya duduk sepanjang hari.”Qiu Hui menghela napas.Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara langkah kecil dari luar.“Papa!”Seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari masuk.Wajah Qiu Hui langsung berubah.Dingin yang biasanya melekat pada wajahnya lenyap.“Lienshen.”Ia membuka kedua tangannya.Anak itu langsung memeluknya.Qiu Hui mengangkat tubuh kecil itu ke udara.Qiu Lienshen tertawa riang.“Papa sudah pulang!”“Ya.”Qiu Hui mencium kep
Wu Keming berdiri cukup lama di depan bangunan baru itu.Namun kali ini ia tidak bergerak.Tidak mencoba membuka pintu.Tidak mencoba masuk.Bahkan tidak bertanya lagi kepada Qiu Lan.Li Huatang memperhatikannya.“Kenapa diam?”Wu Keming tersenyum tipis.“Karena kalau aku bertindak gegabah sekarang, masalahnya bisa menjadi jauh lebih besar.”Huang Liang mengangguk.“Itu keputusan yang tepat.”Wu Keming menatap halaman Perguruan Bangau Hijau.Para murid berlatih bersama.Tidak ada pertengkaran.Tidak ada kelompok yang saling mencurigai.Semuanya terlihat teratur.Terlalu teratur.“Perguruan Pedang Wu dulu jauh lebih besar dari tempat ini,” kata Wu Keming perlahan.Li Huatang menatapnya.“Lalu?”“Guru belum pergi saja sudah ada murid yang saling berebut.”Wu Keming tertawa kecil.“Yang satu
Pagi itu, Perguruan Bangau Hijau tampak seperti biasa.Para murid berlatih pedang di halaman.Suara kayu pedang beradu terdengar teratur.Qiu Lan berdiri di depan aula, memeriksa latihan para murid dengan wajah tenang.Tidak ada yang aneh.Setidaknya, begitulah yang terlihat.Wu Keming berdiri agak jauh sambil memperhatikan.Tangannya memegang kendi arak.Namun kali ini ia tidak minum.Matanya justru memperhatikan bangunan-bangunan baru di sekitar perguruan.“Bangunan itu baru?”Qiu Lan menoleh.“Yang mana?”Wu Keming menunjuk sebuah bangunan di sisi belakang.“Itu.”“Gudang lama kami terbakar beberapa waktu lalu. Jadi kami membangunnya kembali.”Wu Keming mengangguk.“Cepat juga.”“Kami membutuhkan tempat penyimpanan.”Jawaban Qiu Lan terdengar biasa.Terlalu biasa.Li Huatang yang berdiri di samping Wu Keming juga memperhatikan bangunan tersebut.Zhushu berjalan mendekat.Tiba-tiba langkahnya berhenti.Hidungnya bergerak sedikit.Wu Keming langsung menoleh.“Kenapa?”Zhushu tidak me
Pagi datang perlahan di Perguruan Bangau Hijau.Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Huang Liang duduk sendirian di teras penginapan mereka.Di tangannya terdapat selembar catatan yang ditemukan malam sebelumnya.Tanggal.Jumlah barang.Satu tanda asing.Dan semuanya berakhir beberapa hari sebelum wabah mulai menyebar.Huang Liang mengetukkan jarinya pada meja.“Kalau barang itu dikirim beberapa hari sebelum wabah...”Ia belum selesai berbicara ketika Wu Keming muncul sambil membawa dua kendi arak.“Pagi-pagi sudah berpikir keras?”Huang Liang menatapnya.“Dan kau?”Wu Keming meletakkan salah satu kendi di meja.“Aku berpikir keras juga.”“Memikirkan apa?”“Kenapa arak pagi rasanya lebih enak.”Huang Liang menghela napas.“Lupakan.”Wu Keming tertawa.Tak lama kemudian Li Huatang, Borise, Zhushu, dan Huang Jiayu keluar.Zhushu langsung duduk di samping Huang Liang.“Mana catatannya?”Huang Liang menyerahkannya.Zhushu membaca beberapa baris.“Jumlah obatnya tidak t
Malam semakin larut.Setelah para murid Bangau Hijau mulai kembali ke kamar masing-masing, suasana perguruan perlahan menjadi sunyi.Namun Wu Keming, Li Huatang, Borise, Zhushu, dan Huang Liang masih belum tidur.Mereka berkumpul di sebuah ruangan kosong.Huang Liang membentangkan catatan.“Bau obat itu berasal dari bangunan kecil di belakang aula.”Zhushu mengangguk.“Dan aku yakin aromanya sama dengan obat yang menempel pada kain hitam milik mata-mata yang pernah menyusup ke Perguruan Mohua.”Li Huatang mengerutkan dahi.“Pertanyaannya, siapa yang menggunakan bangunan itu?”“Dan untuk apa?” tambah Huang Liang.Wu Keming berdiri.“Kita masuk.”Li Huatang langsung menatapnya.“Diam-diam.”Wu Keming mengangguk.“Diam-diam.”“Tidak menghancurkan pintu.”“Tidak menghancurkan pintu.”“Tidak mengajak orang minum.”Wu Keming terdiam.“Yang terakhir sulit.”Li Huatang mengangkat sarung pedang.“Baik.”“Aku mengerti.”---Mereka bergerak ketika seluruh perguruan sudah tidur.Li Huatang membuk







