MasukPagi itu, halaman penginapan kembali dipenuhi penduduk yang menunggu kabar dari Zhushu.Huang Liang juga sudah berada di sana bersama Huang Jiayu. Sejak kemarin, keduanya ikut membantu mengawasi keadaan warga dan memastikan tidak ada lagi persediaan makanan yang mencurigakan dibagikan.Zhushu keluar dari kamarnya membawa beberapa botol kecil.Wajahnya terlihat jauh lebih cerah.“Aku sudah menemukan jawabannya.”Wu Keming yang sedang duduk langsung bangkit.“Obat?”Zhushu mengangguk.“Penyakit ini masih bisa dikendalikan.”Suasana seketika berubah.Penduduk yang mendengar berita itu saling memandang. Beberapa bahkan menundukkan kepala karena lega.Zhushu menjelaskan bahwa gejala yang berbeda ternyata berasal dari sumber penyakit yang sama. Sumbernya berasal dari persediaan sayuran asin yang disimpan terlalu lama dan telah tercemar sesuatu yang disebutnya sebagai racun hidup.“U
Malam itu, sebuah gudang tua di bagian utara kota menerima kiriman terakhir.Satu demi satu peti diturunkan dari kereta.Tidak ada nama obat pada peti-peti tersebut.Tidak ada tanda pedagang.Hanya cap kecil berbentuk bangau yang tercetak di sudut kayunya.Seorang lelaki berjubah hijau memeriksa isinya.“Sudah lengkap?”“Sudah.”Ia membuka salah satu peti.Di dalamnya terdapat puluhan botol dan bungkusan obat yang tertata rapi.Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang beredar di pasar kota.Gudang itu penuh.Bahkan ruangan belakang juga telah dipenuhi persediaan.Seorang lelaki lain masuk.“Ketua sudah menerima kabar?”“Sudah.”“Berarti kita bisa mulai?”“Belum.”Ia menutup peti.“Perintahnya belum turun.”Mereka tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang menunggu hasil yang berbeda.---
Malam semakin larut ketika Qiu Hui kembali ke sebuah bangunan kecil di belakang rumah utama.Di dalam ruangan, seorang lelaki berjubah gelap telah menunggunya.Tidak ada lambang perguruan pada pakaiannya.Dari caranya berbicara dan membawa diri, jelas ia bukan anggota Bangau Hijau.Ia datang dari lingkungan istana.“Bagaimana keadaan kota?” tanyanya.Qiu Hui menuangkan teh ke dalam dua cangkir.“Berjalan sesuai rencana.”“Penduduk?”“Mulai melemah.”“Prajurit?”“Beberapa sudah menunjukkan gejala.”Lelaki itu mengambil cangkirnya.“Dan penawarnya?”“Persediaannya kami kurangi sedikit demi sedikit.”Qiu Hui mengangkat pandangan.“Jangan terlalu cepat.”“Kenapa?”“Kalau terlalu banyak orang jatuh sekaligus, tabib akan mengetahui ada sesuatu yang tidak wajar.”Ia meletakkan cangkir.“Kita membutuhkan kelemahan
Malam telah menutupi kota ketika Qiu Hui memasuki sebuah bangunan tua yang hampir tidak pernah didatangi orang.Di dalamnya hanya ada beberapa lampu minyak.Tidak ada lambang perguruan.Tidak ada penjaga.Namun beberapa orang berjubah hijau telah menunggu.Mereka semua berdiri ketika Qiu Hui masuk.Tidak seorang pun memanggilnya ketua.Di kursi utama duduk seorang lelaki yang secara resmi merupakan pemimpin Sekte Pedang Bangau Hijau.Namun ketika Qiu Hui berhenti di hadapannya, lelaki itu justru menundukkan kepala.“Bagaimana keadaan kota?”“Persediaan obat terus berkurang.”“Bagus.”“Beberapa tabib mulai mencurigai sesuatu.”“Jangan hentikan semuanya.”Qiu Hui berjalan melewati meja.“Kalau semua obat menghilang sekaligus, orang akan curiga. Biarkan pasar tetap memiliki persediaan. Sedikit saja.”Ketua Bangau Hijau mengangguk.“Lalu Tabib Miao?”Qiu Hui berhenti.“Jangan bunuh dia.”“Kenapa?”“Karena kematiannya akan menimbulkan pertanyaan.”Ia menoleh.“Buat dia sibuk.”Ketua itu me
Matahari baru saja melewati puncak ketika halaman pengobatan kembali dipenuhi suara gaduh.“Dapat!”“Jangan diinjak!”“Lari ke kiri!”“Jangkriknya masuk ke bawah meja!”Wu Keming berdiri di tengah halaman dengan wajah kosong.Puluhan pasien yang masih cukup kuat berlarian ke sana kemari.Mereka tidak sedang mengejar pencuri.Tidak pula sedang berlatih ilmu bela diri.Mereka sedang menangkap jangkrik.Wu Keming perlahan menoleh kepada Li Huatang.“Ini pengobatan?”Li Huatang mengerutkan kening.“Aku juga tidak tahu.”Keduanya kemudian menoleh kepada Borise.Lelaki besar itu duduk tenang di bawah pohon sambil memakan bakpao.“Borise.”“Hmm?”“Kau tidak merasa ini aneh?”Borise mengunyah pelan.“Tidak.”“Pasien disuruh menangkap jangkrik.”“Ya.”“Di siang hari.”“Ya.”“Selama dua jam.”“Ya.”Wu Keming menatapnya beberapa saat.“Dan kau tidak heran?”Borise menelan bakpao.“Dulu Zhushu pernah menyuruhku mengejar ayam selama setengah hari.”Li Huatang ikut menoleh.“Untuk apa?”“Katanya wa
Hari itu, Zhushu tidak meninggalkan tempat pengobatan.Sejak pagi ia memeriksa satu pasien ke pasien lainnya.Semakin banyak yang datang, semakin serius wajahnya."Obat kalian terlalu sedikit," katanya kepada tabib tua.Tabib itu menghela napas."Bukan karena kami tidak membeli.""Pedagangnya?""Beberapa hari terakhir tidak ada yang datang."Zhushu menoleh."Semua?""Sebagian besar."Ia memandang rak-rak kosong.Penyakit menyebar.Obat menghilang.Dua hal itu terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.Bagi Zhushu, itu bukan kebetulan.Namun ia belum memiliki bukti."Aku akan membuat obat lain."Tabib tua itu terkejut."Obat lain?"Zhushu mengangguk."Tidak semua obat harus berasal dari toko."Ia membuka tas besarnya.Dari dalamnya keluar beberapa botol kecil.Kemudian sebuah kotak kayu.Kemudian satu kantong yang bergerak-gerak.Wu Keming yang kebetulan masuk langsung berhenti."Kenapa kantong itu bergerak?"Zhushu tersenyum."Obat."Wu Keming mundur satu langkah."Obatnya hidup?""Seb







