Beranda / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Pendekar Karatan Berlatih Kecapi

Share

Pendekar Karatan Berlatih Kecapi

Penulis: Ocyobot
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 23:59:24

Tak jauh dari sana...

Li Huatang yang sedang menyusun kitab latihan hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.

Borise menoleh kepadanya.

"Kakak Li."

"Kau juga bisa bermain kecapi?"

Li Huatang mengangguk pelan.

"Sedikit."

Wu Keming langsung berdiri.

"Sedikit?"

"Kalau begitu coba."

Li Huatang sempat ragu.

Namun setelah melihat Borise mengangguk...

ia menerima kecapi tersebut.

Dengan anggun ia duduk bersila.

Tangannya yang ramping menyentuh senar.

Ting...

Nada pertama terdengar.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bau yang Disembunyikan

    Pagi itu, Perguruan Bangau Hijau tampak seperti biasa.Para murid berlatih pedang di halaman.Suara kayu pedang beradu terdengar teratur.Qiu Lan berdiri di depan aula, memeriksa latihan para murid dengan wajah tenang.Tidak ada yang aneh.Setidaknya, begitulah yang terlihat.Wu Keming berdiri agak jauh sambil memperhatikan.Tangannya memegang kendi arak.Namun kali ini ia tidak minum.Matanya justru memperhatikan bangunan-bangunan baru di sekitar perguruan.“Bangunan itu baru?”Qiu Lan menoleh.“Yang mana?”Wu Keming menunjuk sebuah bangunan di sisi belakang.“Itu.”“Gudang lama kami terbakar beberapa waktu lalu. Jadi kami membangunnya kembali.”Wu Keming mengangguk.“Cepat juga.”“Kami membutuhkan tempat penyimpanan.”Jawaban Qiu Lan terdengar biasa.Terlalu biasa.Li Huatang yang berdiri di samping Wu Keming juga memperhatikan bangunan tersebut.Zhushu berjalan mendekat.Tiba-tiba langkahnya berhenti.Hidungnya bergerak sedikit.Wu Keming langsung menoleh.“Kenapa?”Zhushu tidak me

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jejak yang Belum Hilang

    Pagi datang perlahan di Perguruan Bangau Hijau.Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Huang Liang duduk sendirian di teras penginapan mereka.Di tangannya terdapat selembar catatan yang ditemukan malam sebelumnya.Tanggal.Jumlah barang.Satu tanda asing.Dan semuanya berakhir beberapa hari sebelum wabah mulai menyebar.Huang Liang mengetukkan jarinya pada meja.“Kalau barang itu dikirim beberapa hari sebelum wabah...”Ia belum selesai berbicara ketika Wu Keming muncul sambil membawa dua kendi arak.“Pagi-pagi sudah berpikir keras?”Huang Liang menatapnya.“Dan kau?”Wu Keming meletakkan salah satu kendi di meja.“Aku berpikir keras juga.”“Memikirkan apa?”“Kenapa arak pagi rasanya lebih enak.”Huang Liang menghela napas.“Lupakan.”Wu Keming tertawa.Tak lama kemudian Li Huatang, Borise, Zhushu, dan Huang Jiayu keluar.Zhushu langsung duduk di samping Huang Liang.“Mana catatannya?”Huang Liang menyerahkannya.Zhushu membaca beberapa baris.“Jumlah obatnya tidak t

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ruang yang Terkunci

    Malam semakin larut.Setelah para murid Bangau Hijau mulai kembali ke kamar masing-masing, suasana perguruan perlahan menjadi sunyi.Namun Wu Keming, Li Huatang, Borise, Zhushu, dan Huang Liang masih belum tidur.Mereka berkumpul di sebuah ruangan kosong.Huang Liang membentangkan catatan.“Bau obat itu berasal dari bangunan kecil di belakang aula.”Zhushu mengangguk.“Dan aku yakin aromanya sama dengan obat yang menempel pada kain hitam milik mata-mata yang pernah menyusup ke Perguruan Mohua.”Li Huatang mengerutkan dahi.“Pertanyaannya, siapa yang menggunakan bangunan itu?”“Dan untuk apa?” tambah Huang Liang.Wu Keming berdiri.“Kita masuk.”Li Huatang langsung menatapnya.“Diam-diam.”Wu Keming mengangguk.“Diam-diam.”“Tidak menghancurkan pintu.”“Tidak menghancurkan pintu.”“Tidak mengajak orang minum.”Wu Keming terdiam.“Yang terakhir sulit.”Li Huatang mengangkat sarung pedang.“Baik.”“Aku mengerti.”---Mereka bergerak ketika seluruh perguruan sudah tidur.Li Huatang membuk

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Mata-Mata yang Salah Perguruan

    Malam turun di Perguruan Pedang Bangau Hijau.Di balik pepohonan tidak jauh dari pagar perguruan, empat orang berkumpul.Huang Liang membentangkan peta.Li Huatang duduk di sampingnya dengan pakaian serba hitam.“Tujuan kita hanya satu,” kata Huang Liang serius. “Mencari sumber bau obat itu.”Li Huatang mengangguk.“Tidak boleh membuat keributan.”“Benar.”“Kita masuk diam-diam.”“Benar.”“Kita mengumpulkan informasi.”“Benar.”Huang Liang melirik Wu Keming dan Borise.“Dan kalian berdua jangan membuat masalah.”Wu Keming sedang membuka botol arak.Borise sedang memeriksa kecapi.Keduanya mengangguk.“Tenang.”Huang Liang masih menatap mereka.“Serius.”“Serius,” jawab Wu Keming.Li Huatang menghela napas.Entah kenapa ia merasa dua orang itu justru sumber masalah terbesar.Beberapa saat kemudian, rencana dimulai.Li Huatang bergerak lebih dahulu.Tubuhnya melompat ke dinding dengan ringan, kemudian menyatu dengan bayangan.Hampir tidak ada suara.Huang Liang menyusul.Dengan Jurus Pe

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bau yang Sama

    Mereka sudah berjalan cukup jauh meninggalkan Perguruan Pedang Bangau Hijau.Namun Wu Keming masih beberapa kali menoleh ke belakang.Huang Liang akhirnya bertanya,“Masih memikirkan perguruan itu?”“Ya.”Li Huatang menghela napas.“Menurutku mereka tidak terlibat.”Huang Liang mengangguk.“Aku juga berpikir begitu.”“Qiu Lan terlihat jujur,” lanjut Li Huatang. “Dan kegiatan perguruannya juga jelas. Mereka bertahan hidup dari ekspedisi dan pengawalan.”Wu Keming tidak menjawab.Ia hanya berjalan sambil mengerutkan dahi.“Ada yang mengganjal.”Huang Liang menatapnya.“Apa?”“Aku tidak tahu.”Li Huatang tersenyum kecil.“Itu bukan jawaban.”“Memang.”Borise yang berjalan di belakang mereka tertawa pelan.Zhushu sejak tadi diam.Ia justru sesekali menoleh ke arah perguruan yang sudah semakin jauh.Tiba-tiba ia berhenti.“Bau itu.”Semua ikut berhenti.Wu Keming menoleh.“Bau apa?”Zhushu tidak menjawab.Ia mengendus udara.Kemudian berjalan kembali beberapa langkah.Li Huatang mengikuti.

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Perguruan Bangau Hijau

    Setelah beberapa hari menghancurkan gudang-gudang persediaan dan membagikan obat kepada masyarakat, rombongan Wu Keming akhirnya meninggalkan kota.Tujuan mereka hanya satu.Perguruan Pedang Bangau Hijau.Ada satu hal yang masih mengganjal pikiran mereka.Lambang bangau hijau yang terukir pada peti-peti obat.Dan nama Qiu Hui.Jika kedua hal itu benar-benar berhubungan, mereka harus mendapatkan jawabannya langsung dari perguruan tersebut.Sebelum berangkat, Huang Liang terlebih dahulu mengirimkan pesan kepada Li Dihua.Ia menceritakan semua yang mereka temukan.Tentang gudang.Tentang obat yang sengaja dikumpulkan.Tentang kemungkinan adanya rencana membuat kekacauan dan pemberontakan.Dan yang paling membuatnya serius, informasi mengenai kemungkinan adanya rencana yang dapat mengarah pada pembantaian atau penghancuran terhadap masyarakat Miao.Li Dihua membaca laporan itu dengan wajah serius.Ia kemudian meminta agar informasi tersebut disampaikan kepada beberapa tokoh terpercaya lai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status