Share

Penyelamat dari Utara

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-07-28 10:32:41

Kabut pagi menyelimuti pegunungan selatan.

Di sanalah Suku Miao telah hidup selama ratusan tahun.

Mereka tidak membangun kota.

Tidak mendirikan benteng.

Tidak pula memiliki pasukan yang kuat.

Rumah-rumah kayu mereka berdiri sederhana di lereng pegunungan, dikelilingi ladang tanaman obat, kebun rempah, dan berbagai tumbuhan beracun yang bagi mereka sama berharganya dengan sawah bagi para petani.

Bagi orang Miao...

racun bukanlah lambang kematian.

Racun adalah bagian dari kehidupan.

Sedikit racun dapat menjadi obat.

Sedikit obat dapat berubah menjadi racun.

Mereka hidup berdampingan dengan alam.

Menyembuhkan orang yang datang meminta pertolongan.

Merawat hutan yang memberi mereka kehidupan.

Tidak ikut campur urusan jianghu.

Namun...

kedamaian itu perlahan mulai berubah.

Sejak para ketua perguruan besar menghilang di Pegunungan Barat Jauh...

dunia persilatan kehilangan keseimbangannya.

Di wilayah timur, beberapa perguruan mulai berubah.

Mereka tidak lagi hanya mengejar nama besar.

Mereka mengejar kekuasaan.

Mereka diam-diam bekerja sama dengan kelompok-kelompok bandit.

Tujuan mereka hanya satu.

Suku Miao.

Para gadis Miao terkenal memiliki paras yang cantik.

Banyak bangsawan dan keluarga kaya rela membayar mahal untuk menjadikan mereka pelayan, tabib pribadi, bahkan selir.

Anak-anak Miao juga menjadi incaran.

Mereka diculik sejak kecil, dijual ke berbagai daerah, hingga perlahan melupakan asal-usulnya.

Yang lebih mengerikan...

bahkan kuburan leluhur Miao ikut dijarah.

Tulang-belulang para leluhur dicuri.

Dihaluskan.

Diracik menjadi racun-racun mematikan yang dijual dengan harga sangat tinggi di pasar gelap jianghu.

Bagi orang luar...

itu hanyalah bahan langka.

Namun bagi Suku Miao...

itu adalah penghinaan terbesar terhadap leluhur mereka.

Di aula kayu terbesar desa...

seluruh tetua Miao berkumpul.

Suasana begitu sunyi.

Ketua Suku Miao memandang wajah para tetua satu per satu.

"Kita tidak mungkin melindungi semua anak..."

"Musuh terlalu banyak."

Seorang tetua perempuan menundukkan kepala.

"Setiap bulan selalu ada yang hilang."

"Anak-anak..."

"...dan para gadis."

Ketua suku menghela napas panjang.

"Mulai hari ini..."

"...setiap anak perempuan Miao akan menerima Tato Miao."

Beberapa ibu langsung menggenggam tangan putri-putri mereka.

"Tato ini bukan sekadar hiasan."

"Tato ini adalah akar."

"Ke mana pun mereka dibawa..."

"...mereka akan selalu mengingat bahwa mereka berasal dari Suku Miao."

"Dan bila suatu hari mereka berhasil pulang..."

"...mereka tetap akan dikenali sebagai keluarga kita."

Tidak ada yang membantah.

Meski hati mereka sedih...

semua memahami keputusan itu.

Ketua suku kemudian mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang berdiri tenang di belakang para tetua.

Usianya bahkan belum genap dua puluh tahun.

Wajahnya cantik.

Tatapannya lembut.

Senyumnya masih sepolos gadis seusianya.

Namun...

tak seorang pun memanggilnya dengan nama.

Semua orang memanggilnya...

"Nenek Tabib."

Bukan karena usianya.

Melainkan karena anugerah yang dimilikinya.

Sejak lahir, ia dipercaya sebagai Anak Kesayangan Miao, seseorang yang hanya muncul sekali dalam beberapa generasi.

Ia mampu memahami ribuan tanaman obat dan racun seolah-olah telah mempelajarinya selama ratusan tahun.

Setiap kali meracik ramuan...

gerakannya begitu alami.

Setiap kali memeriksa orang sakit...

penjelasannya membuat tabib-tabib tua hanya mampu terdiam.

Para tetua sering berkata,

"Saat berbicara tentang pengobatan, gadis itu terdengar seperti seorang nenek yang telah hidup berabad-abad."

Sejak itulah julukan Nenek Tabib melekat padanya.

Bukan sebagai ejekan.

Melainkan penghormatan tertinggi yang dapat diberikan Suku Miao kepada seorang tabib.

Ketua suku menatap gadis itu dengan penuh harapan.

"Warga boleh kehilangan rumah."

"Kita boleh kehilangan harta."

"Tetapi..."

"...Nenek Tabib harus dilindungi dengan cara apa pun."

"Selama ia masih hidup..."

"...warisan leluhur Miao akan tetap hidup."

Seluruh tetua mengangguk serempak.

Mereka tahu...

jika gadis itu jatuh ke tangan perguruan-perguruan tamak di timur...

bukan hanya seorang tabib yang akan hilang.

Melainkan seluruh masa depan Suku Miao.

Namun...

takdir tidak memberi mereka banyak waktu.

"Musuh datang!"

Teriakan penjaga menggema dari pintu masuk desa.

"Asap di utara!"

"Bandit!"

"Pendekar dari Perguruan Timur juga ikut!"

Dentang lonceng peringatan segera dibunyikan.

Seluruh desa berubah kacau.

Para ibu membawa anak-anak berlari menuju jalur rahasia di pegunungan.

Para pemuda Miao mengangkat tombak dan busur sederhana.

Bukan untuk menang.

Melainkan untuk membeli sedikit waktu.

Rumah-rumah mulai dibakar.

Anak panah berterbangan.

Jeritan memenuhi udara.

Di antara para penyerang terdengar teriakan lantang.

"Jangan bunuh gadis-gadis Miao!"

"Mereka lebih mahal hidup daripada mati!"

"Tangkap Nenek Tabib!"

"Jangan biarkan dia lolos!"

Puluhan orang segera mengepung rumah kayu tempat Nenek Tabib berada.

Ketua Suku Miao menggenggam tombaknya erat.

Wajahnya dipenuhi keputusasaan.

Hari yang paling mereka takutkan...

akhirnya benar-benar tiba.

Api mulai melalap rumah-rumah kayu.

Asap hitam membumbung tinggi ke langit.

Tangisan anak-anak bercampur dengan suara benturan senjata.

Para pemuda Miao yang bertahan satu demi satu mulai roboh.

Mereka bukan pendekar.

Mereka hanyalah tabib, petani, dan peracik obat yang memegang tombak demi melindungi keluarganya.

Ketua Suku Miao menggertakkan gigi.

"Antar semua anak ke jalur gunung!"

"Jangan pedulikan kami!"

Beberapa ibu segera membawa anak-anak mereka memasuki hutan.

Namun para bandit sudah mengepung seluruh jalan keluar.

"Hahaha!"

"Mau lari ke mana?"

"Tangkap semuanya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Lawan yang Malah Diberi Minum

    Pertarungan di Shuanghe semakin kacau.Di halaman rumah kecil di lereng, Borise masih berdiri dengan kedua tangan kosong.Di sekelilingnya, puluhan orang telah bergelimpangan.Sebagian duduk sambil memegangi perut.Sebagian terbaring kelelahan.Beberapa bahkan tertidur.Namun anehnya, tidak seorang pun mengalami luka serius.Zhushu berjalan di antara mereka sambil membawa keranjang obat.Ia memeriksa satu per satu.“Yang ini hanya kelelahan.”Ia pindah ke orang berikutnya.“Yang ini terlalu banyak memaksakan tenaga.”Kemudian ia mengangkat kepala.“Borise, yang tadi kau dorong terlalu keras.”Borise mengangguk.“Maaf.”Qiu Hui yang sedang bertarung tidak jauh dari sana tiba-tiba menoleh.“Apa yang kalian lakukan?!”Borise menjawab santai.“Mereka kelelahan.”“Memangnya aku peduli?!”Borise memandang orang-orang yang tergeletak.“Mereka mungkin haus.”Ia mengambil beberapa wadah air dan mulai membagikannya.“Minumlah.”Salah seorang prajurit kerajaan memandangnya dengan bingung.“Kau…

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pria Besar yang Tidak Berkeringat

    Malam di Shuanghe berubah menjadi medan pertempuran.Puluhan bayangan hitam menerobos dari berbagai arah. Tidak ada lambang perguruan pada pakaian mereka. Wajah mereka tertutup kain hitam sehingga tidak seorang pun dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya.Sebagian adalah murid Sekte Bangau Hijau.Sebagian lainnya merupakan orang-orang yang didatangkan dari luar.Bahkan beberapa di antara mereka menggunakan perlengkapan militer yang menunjukkan bahwa ada tangan lain yang ikut bermain dalam serangan ini.Namun bagi Borise, semuanya sama saja.Musuh.Pria besar itu berdiri di tengah halaman dengan tangan kosong.Tidak ada pedang.Tidak ada tombak.Tidak ada kecapi.Hanya kedua telapak tangannya.Seorang penyerang mengayunkan pedang.Borise menggeser tubuh.Tangannya menangkap pergelangan lawan.Putar.Bruk!Orang itu jatuh ke tanah.Dua orang lainnya datang bersamaan.Borise menunduk.Satu pukulan melewati kepalanya.Ia kemudian mendorong dada orang pertama dengan telapak tangan.Buk!T

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Angin Sebelum Badai

    Hari-hari berlalu, dan Pegunungan Dua Sungai perlahan berubah. Rumah-rumah penduduk yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Ladang kembali ditanami. Jalan setapak dibersihkan dari semak dan perangkap. Anak-anak yang dahulu hanya berani mengintip dari balik pintu kini berlarian bebas di antara rumah-rumah. Orang-orang mulai menyebut tempat itu dengan nama Shuanghe. Keempat orang yang awalnya datang hanya untuk menjalankan tugas dari Ketua Perguruan Pedang Li, Li Dihua, kini hampir seperti bagian dari kehidupan penduduk. Borise membantu membuat pagar, gerbang, gudang, bahkan mengajari para pemuda berburu dan mengenali jejak binatang. Zhushu membuat kebun obat dan mengajari penduduk tumbuhan mana yang dapat digunakan sebagai obat. Wu Keming lebih sering terlihat bermain bersama anak-anak. Sedangkan Li Huatang membantu hampir semua pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sore itu, Li Huatang duduk di depan rumah sambil menulis surat. Ia melaporkan kepada Li Dihua mengenai keadaan Shuan

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Rumah Kecil di Lereng Dua Sungai

    Beberapa hari setelah para bandit di lereng Pegunungan Dua Sungai dilumpuhkan oleh ramuan Zhushu, keadaan perlahan berubah.Bandit-bandit yang masih bersembunyi di gunung satu demi satu ditangkap, diusir, atau melarikan diri setelah mendengar bahwa sekelompok pendekar telah mengambil alih wilayah itu.Namun keempat orang itu tidak segera pergi.Mereka justru membangun rumah.Rumah itu sederhana. Dindingnya dari papan kayu, atapnya dari bambu dan jerami, sementara bagian depannya menghadap ke lembah tempat dua sungai bertemu.Wu Keming tentu saja mengaku sebagai tukang bangunan.Sayangnya, Li Huatang tidak percaya.“Itu miring.”Wu Keming memandangi tiang yang baru dipasangnya.“Sedikit.”“Bukan sedikit.”Wu Keming mencabutnya.“Kalau begitu kita pasang lagi.”Tidak jauh dari sana, Borise sedang membawa sebatang kayu besar yang bahkan harus diangkat dua orang penduduk.“Ke kanan!” teriak Zhushu.Borise berjalan ke kiri.“Bukan! Kanan!”Borise berhenti.“Ini kananku.”Zhushu memijat dah

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Racun di Tengah Malam

    Malam semakin dalam.Api unggun di tengah lereng Pegunungan Dua Sungai tinggal menyisakan bara merah. Angin gunung berembus pelan, membawa suara gemericik dua sungai yang mengalir jauh di bawah sana.Wu Keming duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memegang kecapi.Di hadapannya, Li Huatang masih menggambar sesuatu di atas tanah menggunakan ranting.“Kalau formasi pedang Li dibuat seperti perangkap Borise,” katanya perlahan, “maka lawan tidak perlu dipaksa masuk. Kita justru membuat mereka merasa menemukan jalan keluar.”Wu Keming mengangguk.“Benar.”“Lalu ketika mereka mengejar jalan itu…”“Mereka masuk lebih dalam.”Li Huatang menatap gambar di tanah.Matanya perlahan berbinar.“Menarik.”Wu Keming tersenyum.“Perguruan Pedang Wu juga punya formasi yang membuat lawan terus bergerak mengikuti arah pedang. Tapi formasi Borise berbeda. Ia membuat lawan percaya bahwa mereka sedang mengejar kita.”Li Huatang mengangguk.“Kalau begitu, mungkin aku bisa menggabungkan keduanya.”Dari s

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ramuan Tabib Tua Aneh yang Sakti

    Zhushu tersenyum. "Aku mau bermain." Ia mulai mencampurkan sedikit racun milik bandit dengan ramuan penawarnya. Lalu mencampurnya lagi dengan bahan lain. "Kalau dia bisa membuat racun seperti ini..." "...aku ingin tahu seberapa jauh dia mengerti." Borise menatapnya. "Shushu." "Hm?" "Jangan terlalu senang." Zhushu tersenyum lebar. "Justru aku senang." "Sudah lama tidak menemukan orang yang suka bermain racun." Wu Keming menatap Borise. "Menurutmu siapa yang lebih berbahaya?" Borise berpikir sejenak. Lalu menunjuk Zhushu. "Dia." Wu Keming langsung mengangguk. "Aku setuju." Zhushu mendengar itu. Plak! Dua jitakan mendarat hampir bersamaan. "Aduh!" "Aduh!" Li Huatang yang melihatnya hanya bisa tertawa. Di tengah pegunungan yang penuh misteri... mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada harta karun. Sebuah perangkap. Sebuah prinsip baru. Dan seorang pembuat racun yang entah siapa... yang ternyata cukup berani untuk menantang seorang tabib Miao

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status