LOGINKabut pagi menyelimuti pegunungan selatan.
Di sanalah Suku Miao telah hidup selama ratusan tahun. Mereka tidak membangun kota. Tidak mendirikan benteng. Tidak pula memiliki pasukan yang kuat. Rumah-rumah kayu mereka berdiri sederhana di lereng pegunungan, dikelilingi ladang tanaman obat, kebun rempah, dan berbagai tumbuhan beracun yang bagi mereka sama berharganya dengan sawah bagi para petani. Bagi orang Miao... racun bukanlah lambang kematian. Racun adalah bagian dari kehidupan. Sedikit racun dapat menjadi obat. Sedikit obat dapat berubah menjadi racun. Mereka hidup berdampingan dengan alam. Menyembuhkan orang yang datang meminta pertolongan. Merawat hutan yang memberi mereka kehidupan. Tidak ikut campur urusan jianghu. Namun... kedamaian itu perlahan mulai berubah. Sejak para ketua perguruan besar menghilang di Pegunungan Barat Jauh... dunia persilatan kehilangan keseimbangannya. Di wilayah timur, beberapa perguruan mulai berubah. Mereka tidak lagi hanya mengejar nama besar. Mereka mengejar kekuasaan. Mereka diam-diam bekerja sama dengan kelompok-kelompok bandit. Tujuan mereka hanya satu. Suku Miao. Para gadis Miao terkenal memiliki paras yang cantik. Banyak bangsawan dan keluarga kaya rela membayar mahal untuk menjadikan mereka pelayan, tabib pribadi, bahkan selir. Anak-anak Miao juga menjadi incaran. Mereka diculik sejak kecil, dijual ke berbagai daerah, hingga perlahan melupakan asal-usulnya. Yang lebih mengerikan... bahkan kuburan leluhur Miao ikut dijarah. Tulang-belulang para leluhur dicuri. Dihaluskan. Diracik menjadi racun-racun mematikan yang dijual dengan harga sangat tinggi di pasar gelap jianghu. Bagi orang luar... itu hanyalah bahan langka. Namun bagi Suku Miao... itu adalah penghinaan terbesar terhadap leluhur mereka. Di aula kayu terbesar desa... seluruh tetua Miao berkumpul. Suasana begitu sunyi. Ketua Suku Miao memandang wajah para tetua satu per satu. "Kita tidak mungkin melindungi semua anak..." "Musuh terlalu banyak." Seorang tetua perempuan menundukkan kepala. "Setiap bulan selalu ada yang hilang." "Anak-anak..." "...dan para gadis." Ketua suku menghela napas panjang. "Mulai hari ini..." "...setiap anak perempuan Miao akan menerima Tato Miao." Beberapa ibu langsung menggenggam tangan putri-putri mereka. "Tato ini bukan sekadar hiasan." "Tato ini adalah akar." "Ke mana pun mereka dibawa..." "...mereka akan selalu mengingat bahwa mereka berasal dari Suku Miao." "Dan bila suatu hari mereka berhasil pulang..." "...mereka tetap akan dikenali sebagai keluarga kita." Tidak ada yang membantah. Meski hati mereka sedih... semua memahami keputusan itu. Ketua suku kemudian mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang berdiri tenang di belakang para tetua. Usianya bahkan belum genap dua puluh tahun. Wajahnya cantik. Tatapannya lembut. Senyumnya masih sepolos gadis seusianya. Namun... tak seorang pun memanggilnya dengan nama. Semua orang memanggilnya... "Nenek Tabib." Bukan karena usianya. Melainkan karena anugerah yang dimilikinya. Sejak lahir, ia dipercaya sebagai Anak Kesayangan Miao, seseorang yang hanya muncul sekali dalam beberapa generasi. Ia mampu memahami ribuan tanaman obat dan racun seolah-olah telah mempelajarinya selama ratusan tahun. Setiap kali meracik ramuan... gerakannya begitu alami. Setiap kali memeriksa orang sakit... penjelasannya membuat tabib-tabib tua hanya mampu terdiam. Para tetua sering berkata, "Saat berbicara tentang pengobatan, gadis itu terdengar seperti seorang nenek yang telah hidup berabad-abad." Sejak itulah julukan Nenek Tabib melekat padanya. Bukan sebagai ejekan. Melainkan penghormatan tertinggi yang dapat diberikan Suku Miao kepada seorang tabib. Ketua suku menatap gadis itu dengan penuh harapan. "Warga boleh kehilangan rumah." "Kita boleh kehilangan harta." "Tetapi..." "...Nenek Tabib harus dilindungi dengan cara apa pun." "Selama ia masih hidup..." "...warisan leluhur Miao akan tetap hidup." Seluruh tetua mengangguk serempak. Mereka tahu... jika gadis itu jatuh ke tangan perguruan-perguruan tamak di timur... bukan hanya seorang tabib yang akan hilang. Melainkan seluruh masa depan Suku Miao. Namun... takdir tidak memberi mereka banyak waktu. "Musuh datang!" Teriakan penjaga menggema dari pintu masuk desa. "Asap di utara!" "Bandit!" "Pendekar dari Perguruan Timur juga ikut!" Dentang lonceng peringatan segera dibunyikan. Seluruh desa berubah kacau. Para ibu membawa anak-anak berlari menuju jalur rahasia di pegunungan. Para pemuda Miao mengangkat tombak dan busur sederhana. Bukan untuk menang. Melainkan untuk membeli sedikit waktu. Rumah-rumah mulai dibakar. Anak panah berterbangan. Jeritan memenuhi udara. Di antara para penyerang terdengar teriakan lantang. "Jangan bunuh gadis-gadis Miao!" "Mereka lebih mahal hidup daripada mati!" "Tangkap Nenek Tabib!" "Jangan biarkan dia lolos!" Puluhan orang segera mengepung rumah kayu tempat Nenek Tabib berada. Ketua Suku Miao menggenggam tombaknya erat. Wajahnya dipenuhi keputusasaan. Hari yang paling mereka takutkan... akhirnya benar-benar tiba. Api mulai melalap rumah-rumah kayu. Asap hitam membumbung tinggi ke langit. Tangisan anak-anak bercampur dengan suara benturan senjata. Para pemuda Miao yang bertahan satu demi satu mulai roboh. Mereka bukan pendekar. Mereka hanyalah tabib, petani, dan peracik obat yang memegang tombak demi melindungi keluarganya. Ketua Suku Miao menggertakkan gigi. "Antar semua anak ke jalur gunung!" "Jangan pedulikan kami!" Beberapa ibu segera membawa anak-anak mereka memasuki hutan. Namun para bandit sudah mengepung seluruh jalan keluar. "Hahaha!" "Mau lari ke mana?" "Tangkap semuanya!"Pagi di Gunung Li seharusnya tenang.Sayangnya, Li Huatang sudah tidak percaya lagi pada kata tenang sejak ia ditinggalkan sendirian bersama Xianhua.“Xianhua, jangan tarik rambut Ibu.”Bayi itu menatapnya dengan mata bulat, lalu menarik lebih kuat.Li Huatang menarik napas panjang.“Baiklah. Rambut ini milikmu untuk sementara.”Di seberang ruangan, Ketua Li Dihua sedang duduk menikmati teh. Melihat muridnya yang biasanya tenang kini berjuang menghadapi seorang bayi, sudut bibirnya terangkat.“Guru,” panggil Li Huatang dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Bisakah Guru membantu saya sebentar?”Li Dihua mengangkat cangkirnya.“Tentu. Aku akan mengambil teh lagi.”“Cangkir Guru masih penuh.”“Kalau begitu, aku akan memeriksa halaman.”“Halaman sudah diperiksa pagi tadi.”“Benarkah? Kalau begitu, aku baru ingat ada urusan penting di luar.”Li Dihua berdiri dengan gerakan anggun.Li Huatang langsung menggendong Xianhua dan menghadang pintu.“Guru, murid hanya meminta bantuan menjaga ana
Dentuman tombak kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da dan Mao Ming akhirnya menyadari satu kenyataan yang tidak menyenangkan: jika mereka terus bertarung dengan cara masing-masing, mereka akan kalah.Mao Da harus menjaga jarak dari Borise agar tenaga dalamnya tidak terserap. Sementara itu, Mao Ming sudah mengerahkan Jurus Tombak Tak Terkalahkan, tetapi tetap kesulitan menembus pertahanan Wu Keming.Bahkan jika Mao Ming berhasil mengalahkan Wu Keming dalam pertarungan satu lawan satu, ia belum tentu sanggup menghadapi Borise setelahnya.Dua makhluk aneh itu terlalu merepotkan untuk dilawan secara bergantian.“Mao Da! Dengarkan aku!” teriak Mao Ming sambil memutar tombaknya. “Jangan hanya menggunakan Tombak Pemecah Gunung! Gabungkan seranganmu dengan Jurus Tombak Tak Terkalahkan!”Mao Da menoleh sekilas, lalu menghindari telapak tangan Borise.“Jurus itu belum sempurna!”“Justru karena belum sempurna, kau harus membantuku mengendalikannya! Gunakan tombakmu untuk me
Suara benturan senjata kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da tak lagi menyerang dengan membabi buta. Setelah menyadari bahwa setiap sentuhan Borise dapat menguras tenaga dalamnya, ia mulai mengubah cara bertarung. Tombaknya bergerak lebih terukur, menusuk dari kejauhan dan segera menarik diri sebelum Borise sempat mendekat.Jurus Tombak Pemecah Gunung tetap mengerikan. Setiap tusukan membawa tekanan qi yang mampu merobek udara, sementara sapuan tombaknya memaksa Borise terus mengubah posisi.Namun, Borise tidak terburu-buru.Tubuh besarnya bergerak dengan kelincahan yang sulit dipercaya. Sesekali ia menangkis menggunakan telapak tangan, tetapi lebih sering ia menghindar, menunggu kesempatan untuk mendekat.“Adik Mao, kau semakin pintar,” seru Borise sambil menyeringai. “Sekarang kau tahu bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan menusuk orang!”Wajah Mao Da menggelap.“Jangan banyak bicara!”Tombaknya melesat lurus ke dada Borise.Borise memiringkan tubu
Cahaya di ruang pengobatan perlahan meredup.Zhushu menarik napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya dari punggung Altani. Keringat membasahi dahinya, sementara tato di lengan dan bahunya perlahan kembali seperti semula.Racun yang masuk ke tubuh sang putri ternyata tidak sedikit. Jika dibiarkan lebih lama, racun itu bukan hanya merusak organ dalam, tetapi juga mengacaukan aliran qi hingga tubuhnya kehilangan kemampuan untuk memulihkan diri.Untungnya, Zhushu berhasil mengatasinya.Ia menggunakan jurus pendorong dan penyalur qi untuk menggerakkan racun menuju jalur yang dapat dikeluarkan tubuh. Pada saat yang sama, ia mengobati bagian dalam tubuh Altani, memperbaiki aliran qi yang kacau, serta membuang qi yang tidak berguna dan mengganggu keseimbangan tubuhnya.Proses itu melelahkan. Namun, akhirnya napas Altani kembali teratur.Zhushu menyeka keringatnya.“Sudah selesai. Racunnya berhasil dikeluarkan. Untuk sementara, biarkan dia tidur.”Di luar ruang pengobatan, tiga pria bert
Mao Da kembali mengangkat tombaknya.Meski sebagian qi-nya telah terserap Borise, sorot matanya masih menyala penuh semangat. Ia mengatur napas, mengumpulkan sisa tenaga, lalu bersiap melancarkan Tombak Pemecah Gunung sekali lagi.Borise mengernyit.“Orang ini keras kepala sekali.”Mao Da menginjak tanah dan menerjang.Namun, sebelum ujung tombaknya mencapai Borise, terdengar teriakan keras dari sisi lain lapangan.“Kakak! Jangan biarkan telapak tangannya menyentuh tubuhmu!”Itu suara Mao Ming.Mao Da tersentak. Ia segera mengubah arah tombak dan menarik tubuhnya sebelum Borise sempat mendekat.“Jangan menyerang membabi buta!” teriak Mao Ming lagi. “Semakin banyak qi yang kau keluarkan, semakin banyak yang bisa dia serap!”Mao Da akhirnya memahami maksud adiknya.Ia masih menggunakan Tombak Pemecah Gunung, tetapi tidak lagi mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap kali menyerang. Tusukannya tetap kuat, namun lebih terukur. Ia menjaga jarak, memanfaatkan panjang tombaknya, dan segera me
Halaman Perguruan Tombak Langit mendadak sunyi.Mao Da berdiri dengan tombak panjang di tangannya. Napasnya masih berat setelah menghadapi Borise, tetapi sorot matanya berubah. Ia tidak lagi menganggap pertarungan ini sebagai ujian biasa.“Aku belum kalah.”Borise mengangkat bahu. “Kalau begitu, lanjutkan.”Mao Ming menoleh kepada kakaknya. “Mao Da, jangan gunakan jurus itu sembarangan!”Mao Da tidak menjawab. Ia menggenggam tombaknya dengan kedua tangan, lalu mengatur napas. Tenaga dalam di tubuhnya mulai mengalir deras, berkumpul sepanjang batang tombak hingga terpusat pada ujungnya.Udara di sekitarnya bergetar.Para tetua yang menyaksikan pertarungan segera berubah wajah.“Tombak Pemecah Gunung!”Itulah jurus ciptaan Mao Da sendiri. Selama bertahun-tahun, ia menyempurnakan teknik tersebut dengan menggabungkan kekuatan tubuh, kendali qi, dan tusukan yang memusatkan seluruh daya serang pada satu titik.Mao Da menginjak tanah.BOOM!Tubuhnya melesat maju.Tusukan tombaknya menghantam







