FAZER LOGINDi kejauhan...
Li Dihua yang tanpa sengaja masih sempat melihat pemandangan itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha..." "Hahaha..." Para murid menatap heran. "Guru, ada apa?" Li Dihua masih tertawa sambil mengusap sudut matanya. "Sepertinya..." "...akan sangat lama sebelum Wu Keming benar-benar sampai ke Gunung Li." "Pemuda itu..." "...ternyata buta arah." Belasan murid ikut tertawa. Di tengah kekacauan jianghu yang mulai diliputi perang dan kecurigaan... untuk pertama kalinya setelah sekian lama... tawa hangat kembali terdengar di antara mereka. Matahari mulai tenggelam ketika rombongan Perguruan Pedang Li akhirnya tiba di kaki Gunung Li. Begitu gerbang perguruan terbuka... puluhan murid yang sejak beberapa hari terakhir menunggu dengan cemas langsung berlari keluar. "Guru!" "Guru sudah kembali!" "Kakak Senior Li!" Sorak gembira memenuhi halaman perguruan. Beberapa murid bahkan menangis lega melihat Li Dihua masih mampu berdiri meski tubuhnya dipenuhi luka. Li Huatang yang sejak tadi menunggu di depan aula segera berlari menghampiri gurunya. Ia berlutut memberi hormat. "Guru..." Li Dihua tersenyum lembut. "Aku sudah kembali." Mata Li Huatang sempat memerah. Namun seperti biasa... ia menyembunyikan seluruh emosinya di balik senyum hangatnya. "Syukurlah..." "Itu saja sudah cukup." Li Dihua mengusap kepala murid kesayangannya. "Maaf membuatmu khawatir." Tak lama kemudian seluruh murid berkumpul di aula utama. Mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Li Dihua menceritakan semuanya. Tentang penyergapan Bandit Darah Hitam. Tentang racun yang membuat Qi mereka lumpuh. Tentang bagaimana seluruh muridnya hampir dijual sebagai tawanan. Hingga... muncul seorang pemuda lusuh membawa pedang tua berkarat. Seorang pemuda yang pertama kali mereka lihat justru sedang sibuk mencari arak. Suasana aula yang semula tegang perlahan dipenuhi tawa. "Bahkan setelah diminta tolong..." "...dia malah makan dulu?" Seorang murid bertanya sambil tertawa. Li Dihua mengangguk. "Iya." "Dia berkata..." "'Kalau perut kosong, bagaimana bisa menolong orang?'" Tawa para murid kembali pecah. Kemudian Li Dihua menceritakan bagaimana pemuda itu mempermainkan seluruh Bandit Darah Hitam. Tanpa membunuh. Tanpa melukai secara serius. Namun membuat para bandit menangis karena dijewer, ditampar, dipukul menggunakan sarung pedang, bahkan dihukum jongkok dan berdiri menghadap pohon. Aula kembali dipenuhi gelak tawa. Li Huatang ikut tersenyum kecil. Dalam benaknya terbayang kembali sosok pemuda yang ditemuinya beberapa hari lalu. Pemuda yang pingsan. Kelaparan. Namun tetap tersenyum. "Ternyata..." "Dia baik-baik saja." Bisiknya pelan. Li Dihua menoleh. "Huatang." "Kalau bukan karena roti dan obat yang kau tinggalkan..." "...mungkin pemuda itu tidak akan sempat datang menyelamatkan kami." Li Huatang sedikit terkejut. "Aku..." "Aku hanya kebetulan lewat." Li Dihua tersenyum. "Kadang..." "...kebaikan kecil justru menyelamatkan banyak nyawa." Li Huatang menundukkan kepala. Senyumnya tetap hangat. Dalam hati ia hanya memiliki satu harapan. "Semoga suatu hari nanti..." "Aku bisa bertemu lagi dengan pemuda aneh itu." --- Sementara itu... berbulan-bulan berlalu. Nama Wu Keming perlahan mulai dikenal di berbagai penjuru jianghu. Bukan karena berasal dari perguruan besar. Bukan pula karena memenangkan turnamen. Melainkan karena cerita-cerita aneh yang selalu mengikutinya. "Apa kau dengar?" "Ada pendekar muda yang menghajar dua puluh bandit hanya memakai kendi arak." "Yang pedangnya tidak pernah dicabut itu?" "Iya!" "Tapi katanya setelah menang..." "...dia malah tersesat mencari jalan pulang." Cerita itu menyebar dari kedai arak ke kedai arak lainnya. Dari desa ke desa. Dari mulut para pedagang hingga para pendekar pengembara. Wu Keming mendapat julukan baru. Pendekar Tanpa Perguruan. Namun ada satu kebiasaan yang membuat semua orang geleng kepala. Wu Keming... selalu tersesat. Ia bisa salah masuk desa. Salah naik gunung. Salah menyeberang sungai. Bahkan pernah berjalan seharian penuh hanya untuk kembali ke tempat semula. Akan tetapi... ada satu hal yang tidak pernah salah. Mencari kedai arak. Entah berada di kota besar. Di desa kecil. Di tepi sungai. Bahkan di tengah hutan yang hampir tidak memiliki jalan... Wu Keming entah bagaimana selalu berhasil menemukan tempat yang menjual arak. Banyak orang mulai bercanda. "Kalau ingin mencari jalan, jangan tanya Wu Keming." "Tapi kalau ingin mencari arak..." "...ikut saja di belakangnya." Di balik tingkah konyolnya... Wu Keming diam-diam terus membantu banyak orang. Ia menghancurkan markas para bandit. Mengawal pedagang yang dirampok. Menyelamatkan para perempuan dan anak-anak yang diculik. Mengantar orang tua yang tersesat pulang ke rumah. Namun setiap kali mengalahkan bandit... ia selalu melakukan satu hal yang sama. Mengambil seluruh uang hasil kejahatan mereka. Melihat itu, beberapa orang sempat mengira Wu Keming sebenarnya juga seorang perampok. Hingga suatu hari seorang pedagang memberanikan diri bertanya. "Pendekar Wu..." "Mengapa kau selalu membawa kabur uang para bandit?" Wu Keming berpikir cukup lama. Lalu menjawab dengan wajah serius. "Karena uang adalah sumber masalah." Pedagang itu mengangguk pelan. "Benar juga..." Wu Keming melanjutkan. "Kalau mereka tidak punya uang..." "...mereka tidak bisa membeli arak." Pedagang itu terdiam. Wu Keming mengangguk puas dengan jawabannya sendiri. "Kalau tidak bisa minum arak..." "...mungkin mereka punya lebih banyak waktu untuk menjadi orang baik." Pedagang itu tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Namun satu hal mulai dipahami banyak orang. Di balik senyum, candaan, dan tingkah anehnya... ke mana pun Wu Keming pergi... selalu ada lebih banyak orang yang pulang dengan selamat.Sejak ditemukannya botol kecil di gudang obat, suasana Perguruan Mohua berubah.Tidak ada yang mengatakannya secara terbuka.Namun setiap orang mulai memperhatikan setiap gerakan orang lain.Ketika seseorang pergi ke gudang, akan ada mata yang mengikutinya.Ketika seseorang berbicara terlalu lama dengan orang lain, akan muncul bisikan.Dan ketika nama Chenli disebut, beberapa percakapan tiba-tiba berhenti.Chenli menyadarinya.Ia tidak bodoh.Ia tahu dirinya sedang dicurigai.Tetapi ia memilih diam.Pagi itu, ia kembali ke ruang penyimpanan tempat catatan lama Mohua disimpan. Moxian menemukannya di sana."Kau datang lagi?"Chenli menoleh."Aku mencari sesuatu.""Catatan yang hilang?"Chenli tidak menjawab.Moxian berjalan mendekat.Di atas meja terdapat beberapa gulungan tua. Sebagian berisi aturan lama Mohua, sebagian lagi berisi daftar murid dari generasi sebelumnya."Kenapa kau begitu tertarik pada catatan lama?" tanya Moxian.Chenli menggulung salah satu dokumen."Karena kalau kit
Malam turun perlahan di Gunung Mohua.Setelah keributan sepanjang hari, halaman perguruan akhirnya kembali sepi. Para murid masuk ke kamar masing-masing. Lampu-lampu minyak dipadamkan satu demi satu.Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.Suara benda jatuh terdengar dari arah gudang obat.Prang!Seorang murid yang sedang berjaga langsung berlari ke sana."Siapa?"Tidak ada jawaban.Pintu gudang terbuka sedikit.Ia mendorongnya perlahan.Beberapa kendi obat tergeletak di lantai. Rak kayu di sebelah kiri juga tampak berantakan.Tetapi tidak ada seorang pun.Murid itu mengerutkan kening.Ia kemudian melihat sesuatu di lantai.Sebuah botol kecil.Botol itu tidak memiliki nama.Ia mengangkatnya dan mencium aromanya.Tidak berbau seperti obat biasa.Ia segera membawa botol tersebut kepada Moxian.---Moxian terbangun dari tidurnya ketika seorang murid mengetuk pintunya."Ada masalah."Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di gudang obat bersama Guru Xieru, Yangxiang, dan Chenli.Zhushu
Pagi di Gunung Mohua tidak lagi terasa seperti biasanya.Kabut masih menggantung di antara pepohonan. Lonceng pagi masih berbunyi dari bangunan utama, dan aroma teh hangat masih keluar dari dapur. Namun di halaman perguruan, sesuatu telah berubah.Murid-murid mulai memilih tempat duduk berdasarkan kelompok.Yang mendukung Yangxiang berkumpul di sebelah kiri halaman. Para pengikut Chenli berada di sebelah kanan. Sedangkan mereka yang masih setia kepada Guru Xieru berdiri di sekitar Moxian.Mohua belum terpecah.Tetapi retaknya sudah terlihat.Yangxiang berdiri di hadapan para pendukungnya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia telah memikirkan hal ini sangat lama."Aku tidak meminta kalian menjadikanku ketua," katanya. "Aku hanya ingin kalian berhenti takut terhadap dunia."Seorang murid bertanya, "Apa maksudmu?""Sejak kecil kita diajarkan bahwa dunia luar berbahaya. Kita tidak boleh terlalu dekat dengan perguruan lain. Jangan mudah percaya pada orang luar. Jangan
Pagi berikutnya, Gunung Mohua kembali ramai.Jika malam sebelumnya dipenuhi ketenangan, air mata, dan percakapan yang dalam, pagi itu suasana Perguruan Mohua kembali seperti biasa.Ribut.Setelah keputusan Moxian untuk menjadi ketua, persaingan yang sebelumnya terbagi menjadi dua kini berubah menjadi tiga kubu.Kubu Yangxiang.Kubu Chenli.Dan kubu Moxian.Ketiga kelompok itu belum sampai menghunus pedang, tetapi saling mengejek sudah menjadi makanan pagi."Kalau hanya mengandalkan belas kasihan, bagaimana mungkin memimpin perguruan?" sindir salah seorang murid Yangxiang.Murid di sebelahnya segera menjawab, "Lebih baik mengandalkan belas kasihan daripada mengandalkan suara keras seperti kalian.""Setidaknya kami berani!""Berani bertengkar, maksudmu?"Suasana kembali gaduh.Wu Keming yang sedang sarapan hanya menghela napas panjang."Baru pagi..."Zhushu yang duduk di sampingnya malah sibuk mengunyah."Bagus.""Bagus dari mana?""Kalau mereka sibuk bertengkar, tidak ada yang merebut
Malam di Gunung Mohua begitu tenang.Bulan menggantung di antara pucuk-pucuk pohon, sementara angin membawa aroma bunga yang tumbuh di lereng gunung. Di sebuah halaman kecil yang jauh dari bangunan utama, Moxian berdiri membelakangi Wu Keming.Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa.Wu Keming pun tidak mendesak.Ia hanya berdiri sambil memandang langit.Akhirnya Moxian menarik napas panjang."Keming...""Hmm?""Aku ingin meminta maaf."Wu Keming menggaruk kepalanya."Untuk apa?"Moxian menggenggam kedua tangannya erat."Karena aku tidak menepati janji kita."Wu Keming terdiam.Moxian menundukkan kepala."Janji yang dibuat guru kita dulu."Suara Moxian bergetar."Perjodohan antara kita."Angin malam melewati halaman."Aku sudah memutuskan."Moxian mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca."Aku akan menjadi ketua Perguruan Mohua."Wu Keming tersenyum kecil."Bagus."Moxian terkejut."Bagus?""Tentu saja.""Kau... tidak marah?"Wu Keming malah tertawa."Kenapa aku harus
Denting pedang terdengar berkali-kali di halaman Perguruan Mohua.Li Huatang dan Moxian bergerak seperti dua bayangan yang menari di antara kelopak bunga yang berjatuhan. Pedang Giok Bulan di tangan Li Huatang memancarkan kilau biru lembut, setiap tebasannya ringan dan anggun. Di hadapannya, pedang Moxian bergerak cepat dan tajam, setiap serangan mengandung tekanan yang jauh berbeda dari kelembutan wajah pemiliknya.Tak satu pun dari mereka berkata-kata.Pedang mereka berbicara menggantikan lidah.Li Huatang menusuk ke depan.Moxian memiringkan tubuh, membiarkan ujung pedang lewat hanya sejengkal dari bahunya, lalu membalas dengan tebasan mendatar.Li Huatang menahan.Trang!Percikan kecil beterbangan.Keduanya mundur bersamaan.Wu Keming yang sejak tadi bersandar pada pohon hanya tersenyum."Hebat..." gumamnya.Borise mengangguk kagum."Benar-benar hebat."Zhushu, yang sedang mengunyah makanan di sampingnya, melirik sebentar."Kenapa kalian kagum? Aku cuma melihat dua perempuan yang







