Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Perguruan Paling Aneh di Shuanghe

Share

Perguruan Paling Aneh di Shuanghe

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-10-20 22:03:06

Suara palu terdengar sejak pagi di tepi Sungai Kembar.

Di atas tanah yang sebelumnya hanya berupa halaman kosong, beberapa tiang kayu mulai berdiri. Sebuah bangunan sederhana sedang didirikan, lengkap dengan ruang latihan, tempat beristirahat, dan halaman yang cukup luas untuk berlatih silat.

Di tengah kesibukan itu, Wu Keming berdiri sambil memegang gulungan gambar bangunan.

“Borise, tiang yang sebelah kiri sepertinya terlalu pendek.”

Borise, yang sedang mengangkat sebatang kayu besar di atas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Wajah di Balik Kesopanan

    Jalan menuju wilayah barat membentang melewati pegunungan, desa-desa kecil, dan sejumlah kota perdagangan.Shen Lang menunggang kuda di depan rombongan. Di sisinya, Qiu Lan, perwakilan Jianghu dari Perguruan Pedang Bangau Hijau, mengikuti dengan pakaian rapi dan wajah penuh percaya diri.Penugasan Shen Lang sebenarnya sederhana: memeriksa keadaan wilayah barat, memastikan keamanan jalur perdagangan, serta melaporkan kondisi para pejabat setempat.Namun, bagi Shen Lang, perjalanan ini memiliki tujuan lain.Wilayah barat adalah kesempatan untuk membangun pengaruhnya sendiri.“Jenderal Shen, menurut laporan terakhir, beberapa pejabat daerah mengeluhkan kekurangan dana untuk menjaga jalur perdagangan,” ujar seorang pengawal.Shen Lang tersenyum tipis.“Kalau begitu, kita harus membantu mereka. Keamanan rakyat adalah tanggung jawab pemerintah.”Nada suaranya terdengar begitu tulus hingga pengawal itu mengangguk hormat.Qiu Lan yang mendengar ucapan tersebut tertawa kecil.“Jenderal Shen me

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ketika Tabib Kehilangan Kesabaran

    “BORISE! SEGERA AKHIRI PERTARUNGAN INI!”Teriakan Zhushu mengguncang hutan.Borise yang sedang menghadapi Temur dan Saran seketika menoleh. Tubuh besarnya menegang, lalu ia menelan ludah.Di sisi lain, Wu Keming juga sempat melirik Zhushu.Ketika melihat wajah sang tabib yang sudah benar-benar kesal, pemuda itu segera memalingkan muka.“Wah… sepertinya kita sudah melewati batas.”Altani mengernyit. “Apa maksudmu?”Wu Keming tidak menjawab.Borise menghela napas panjang.“Zhushu, aku akan segera menyelesaikannya.”“JANGAN BERJANJI! LAKUKAN!”Borise kembali menelan ludah.Ia tahu, menghadapi tiga orang utara bukanlah masalah besar baginya. Namun, menghadapi kemarahan istrinya jauh lebih menakutkan.Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti bermain-main.---Borise berdiri tegak.Ia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.Udara di sekelilingnya berubah.Temur yang berada paling dekat merasakan sesuatu yang aneh. Qi di dalam tubuhnya seolah mulai bergerak tanpa k

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pertukaran Lawan yang Merepotkan

    Batu terhuyung mundur.Tubuh besarnya kini dipenuhi rasa sakit. Napasnya berat, dan setiap kali mencoba mengangkat lengannya, ia merasakan nyeri yang membuat gerakannya melambat.Borise berdiri beberapa langkah di hadapannya. Wajah lelaki utara itu tetap tenang, seolah pertarungan panjang tersebut belum cukup untuk membuatnya lelah.“Batu!” seru Saran.Batu menggeram. “Aku masih bisa bertarung!”Namun, Saran tahu keadaan sebenarnya. Jika Batu terus menghadapi Borise, ia mungkin akan tumbang sebelum pertarungan berakhir.Di sisi lain, Temur mulai kehilangan langkah.Wu Keming terus mengubah arah serangan. Temur yang mengandalkan kecepatan kini kesulitan menemukan celah. Setiap kali ia bergerak maju, Pedang Naga Putih seolah sudah menunggu di jalurnya.Altani masih membantu, tetapi Saran mulai merasa khawatir.Ia tidak ingin sang putri terluka.“Putri, mundurlah sedikit!” serunya.Altani mengerutkan kening. “Aku masih bisa membantu!”“Tidak. Kita harus mengubah strategi.”Saran memandan

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Putri yang Turun ke Medan

    Suara benturan senjata terdengar bersahutan di tengah hutan.Wu Keming menggeser tubuhnya menghindari serangan Temur. Di sisi lain, Borise menghadapi Batu yang terus menyerangnya dengan kekuatan besar.Saran belum bergerak terlalu jauh. Ia mengamati kedua pertarungan, mencari kesempatan untuk membantu.Sementara itu, Altani masih berdiri di belakang mereka.Zhushu melirik sang putri. Ia tahu, jika pertarungan dibiarkan seperti ini, ketiga orang itu akan semakin terdesak.“Putri, kau sebaiknya ikut bertarung.”Altani menoleh. “Apa maksudmu?”“Bergabunglah dengan Temur menghadapi Wu Keming.”Altani memandang pemuda yang sedang menghindari serangan belati itu.“Bukankah Temur sudah menghadapinya?”“Temur kesulitan mengimbanginya. Kau bisa membantu menutup ruang geraknya.”Zhushu kemudian menunjuk Borise.“Dan lelaki besar itu belum mengeluarkan jurus utamanya. Batu sudah mulai kesulitan menahan pukulannya. Jika kau ingin menyeimbangkan pertarungan, kau harus ikut turun tangan.”Altani te

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ketika Dua Pemabuk Mulai Serius

    Zhushu baru saja berjalan beberapa langkah ketika suara Altani terdengar dari belakang.“Berhenti!”Wu Keming menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melihat Altani berdiri bersama Saran. Di belakang mereka, Batu dan Temur juga sudah kembali mengambil posisi.Wu Keming menghela napas.“Apa lagi? Bukankah tadi kita sudah sepakat berhenti bermain?”Altani mengangkat dagunya.“Aku belum mengizinkan kalian pergi.”Zhushu memejamkan mata.Ia benar-benar tidak habis pikir. Jika dibandingkan dengan Wu Keming, keras kepala Altani tampaknya bahkan lebih sulit diatasi.“Putri, jangan memperpanjang masalah. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ingin pergi ke utara.”“Aku tahu. Tapi aku belum menyerah membujukmu.”“Dengan cara menghalangi jalan kami?”Altani tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kecil kepada Saran.Panglima bergolok melengkung itu segera bergerak. Batu dan Temur pun mengikuti perintahnya. Kali ini mereka tidak menyerang sendiri-sendiri seperti sebelumnya.Batu berdiri di sisi

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Dua Pertarungan, Satu Permintaan

    Wu Keming memandang belati di tangannya, lalu melemparkannya pelan ke arah Temur.“Ini milikmu. Jangan sampai hilang lagi.”Temur menangkap belatinya. Namun, bukannya mengucapkan terima kasih, ia justru langsung menghilang dari tempatnya berdiri.Gerakannya sangat cepat.Dalam sekejap, tubuh kecilnya sudah berada di sisi Wu Keming. Belatinya menyambar ke arah pinggang, lalu berubah arah menuju bahu ketika Wu Keming menghindar.Wus! Wus! Wus!Serangan bertubi-tubi menyusul dari berbagai arah.Wu Keming hanya menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit. Kadang ia memiringkan kepala, kadang memutar pinggang, bahkan sesekali mengangkat kaki seolah sedang menghindari genangan air.Temur semakin cepat.Ia terbiasa menghadapi lawan yang mengandalkan kekuatan atau teknik bela diri yang memiliki pola tertentu. Namun, pemuda di hadapannya seolah tidak memiliki pola yang bisa ditebak.Wu Keming bahkan masih sempat menguap.“Gerakanmu bagus. Sayangnya, kau terlalu terburu-buru.”Temur mendengus dan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status