LOGINPagi di Gunung Li seharusnya tenang.Sayangnya, Li Huatang sudah tidak percaya lagi pada kata tenang sejak ia ditinggalkan sendirian bersama Xianhua.“Xianhua, jangan tarik rambut Ibu.”Bayi itu menatapnya dengan mata bulat, lalu menarik lebih kuat.Li Huatang menarik napas panjang.“Baiklah. Rambut ini milikmu untuk sementara.”Di seberang ruangan, Ketua Li Dihua sedang duduk menikmati teh. Melihat muridnya yang biasanya tenang kini berjuang menghadapi seorang bayi, sudut bibirnya terangkat.“Guru,” panggil Li Huatang dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Bisakah Guru membantu saya sebentar?”Li Dihua mengangkat cangkirnya.“Tentu. Aku akan mengambil teh lagi.”“Cangkir Guru masih penuh.”“Kalau begitu, aku akan memeriksa halaman.”“Halaman sudah diperiksa pagi tadi.”“Benarkah? Kalau begitu, aku baru ingat ada urusan penting di luar.”Li Dihua berdiri dengan gerakan anggun.Li Huatang langsung menggendong Xianhua dan menghadang pintu.“Guru, murid hanya meminta bantuan menjaga ana
Dentuman tombak kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da dan Mao Ming akhirnya menyadari satu kenyataan yang tidak menyenangkan: jika mereka terus bertarung dengan cara masing-masing, mereka akan kalah.Mao Da harus menjaga jarak dari Borise agar tenaga dalamnya tidak terserap. Sementara itu, Mao Ming sudah mengerahkan Jurus Tombak Tak Terkalahkan, tetapi tetap kesulitan menembus pertahanan Wu Keming.Bahkan jika Mao Ming berhasil mengalahkan Wu Keming dalam pertarungan satu lawan satu, ia belum tentu sanggup menghadapi Borise setelahnya.Dua makhluk aneh itu terlalu merepotkan untuk dilawan secara bergantian.“Mao Da! Dengarkan aku!” teriak Mao Ming sambil memutar tombaknya. “Jangan hanya menggunakan Tombak Pemecah Gunung! Gabungkan seranganmu dengan Jurus Tombak Tak Terkalahkan!”Mao Da menoleh sekilas, lalu menghindari telapak tangan Borise.“Jurus itu belum sempurna!”“Justru karena belum sempurna, kau harus membantuku mengendalikannya! Gunakan tombakmu untuk me
Suara benturan senjata kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da tak lagi menyerang dengan membabi buta. Setelah menyadari bahwa setiap sentuhan Borise dapat menguras tenaga dalamnya, ia mulai mengubah cara bertarung. Tombaknya bergerak lebih terukur, menusuk dari kejauhan dan segera menarik diri sebelum Borise sempat mendekat.Jurus Tombak Pemecah Gunung tetap mengerikan. Setiap tusukan membawa tekanan qi yang mampu merobek udara, sementara sapuan tombaknya memaksa Borise terus mengubah posisi.Namun, Borise tidak terburu-buru.Tubuh besarnya bergerak dengan kelincahan yang sulit dipercaya. Sesekali ia menangkis menggunakan telapak tangan, tetapi lebih sering ia menghindar, menunggu kesempatan untuk mendekat.“Adik Mao, kau semakin pintar,” seru Borise sambil menyeringai. “Sekarang kau tahu bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan menusuk orang!”Wajah Mao Da menggelap.“Jangan banyak bicara!”Tombaknya melesat lurus ke dada Borise.Borise memiringkan tubu
Cahaya di ruang pengobatan perlahan meredup.Zhushu menarik napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya dari punggung Altani. Keringat membasahi dahinya, sementara tato di lengan dan bahunya perlahan kembali seperti semula.Racun yang masuk ke tubuh sang putri ternyata tidak sedikit. Jika dibiarkan lebih lama, racun itu bukan hanya merusak organ dalam, tetapi juga mengacaukan aliran qi hingga tubuhnya kehilangan kemampuan untuk memulihkan diri.Untungnya, Zhushu berhasil mengatasinya.Ia menggunakan jurus pendorong dan penyalur qi untuk menggerakkan racun menuju jalur yang dapat dikeluarkan tubuh. Pada saat yang sama, ia mengobati bagian dalam tubuh Altani, memperbaiki aliran qi yang kacau, serta membuang qi yang tidak berguna dan mengganggu keseimbangan tubuhnya.Proses itu melelahkan. Namun, akhirnya napas Altani kembali teratur.Zhushu menyeka keringatnya.“Sudah selesai. Racunnya berhasil dikeluarkan. Untuk sementara, biarkan dia tidur.”Di luar ruang pengobatan, tiga pria bert
Mao Da kembali mengangkat tombaknya.Meski sebagian qi-nya telah terserap Borise, sorot matanya masih menyala penuh semangat. Ia mengatur napas, mengumpulkan sisa tenaga, lalu bersiap melancarkan Tombak Pemecah Gunung sekali lagi.Borise mengernyit.“Orang ini keras kepala sekali.”Mao Da menginjak tanah dan menerjang.Namun, sebelum ujung tombaknya mencapai Borise, terdengar teriakan keras dari sisi lain lapangan.“Kakak! Jangan biarkan telapak tangannya menyentuh tubuhmu!”Itu suara Mao Ming.Mao Da tersentak. Ia segera mengubah arah tombak dan menarik tubuhnya sebelum Borise sempat mendekat.“Jangan menyerang membabi buta!” teriak Mao Ming lagi. “Semakin banyak qi yang kau keluarkan, semakin banyak yang bisa dia serap!”Mao Da akhirnya memahami maksud adiknya.Ia masih menggunakan Tombak Pemecah Gunung, tetapi tidak lagi mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap kali menyerang. Tusukannya tetap kuat, namun lebih terukur. Ia menjaga jarak, memanfaatkan panjang tombaknya, dan segera me
Halaman Perguruan Tombak Langit mendadak sunyi.Mao Da berdiri dengan tombak panjang di tangannya. Napasnya masih berat setelah menghadapi Borise, tetapi sorot matanya berubah. Ia tidak lagi menganggap pertarungan ini sebagai ujian biasa.“Aku belum kalah.”Borise mengangkat bahu. “Kalau begitu, lanjutkan.”Mao Ming menoleh kepada kakaknya. “Mao Da, jangan gunakan jurus itu sembarangan!”Mao Da tidak menjawab. Ia menggenggam tombaknya dengan kedua tangan, lalu mengatur napas. Tenaga dalam di tubuhnya mulai mengalir deras, berkumpul sepanjang batang tombak hingga terpusat pada ujungnya.Udara di sekitarnya bergetar.Para tetua yang menyaksikan pertarungan segera berubah wajah.“Tombak Pemecah Gunung!”Itulah jurus ciptaan Mao Da sendiri. Selama bertahun-tahun, ia menyempurnakan teknik tersebut dengan menggabungkan kekuatan tubuh, kendali qi, dan tusukan yang memusatkan seluruh daya serang pada satu titik.Mao Da menginjak tanah.BOOM!Tubuhnya melesat maju.Tusukan tombaknya menghantam







