MasukMerpati menatap Badru. Matanya sayu. Napasnya naik turun. Kalimat terakhirnya membuat Badru diam.'Maksud Merpati apa? Bantu yang gimana?' batin Badru.Whuushh!Angin malam berembus lambat. Wangi madu jantan keluar dari kulit Badru. Hidung mungil Merpati kembang kempis menghirup aroma itu. Pipinya merah padam. Gadis itu meremas daster batik pudarnya yang ketat.'Gusti... Merpati sampai begini gairah banget. Apa gara-gara parfum ini?' monolog Badru dalam hati.Badru memperhatikan lekuk tubuh Merpati. Dada padatnya yang basah menempel ketat di kain daster. Kalau Badru mau, dia bisa saja langsung menarik Merpati ke semak-semak dan menghabisinya di pinggir jalan sepi ini.Tapi Badru menahan diri. Dia menatap wajah Merpati. Mereka adalah sahabat sejak orok dan sering main lumpur bersama. Badru tidak sanggup meniduri sahabat masa kecilnya sendiri.Badru memundurkan tubuhnya satu langkah. Ia menggaruk tengkuknya yang basah."Kamunya ngomong apa sih, Mer?" tanya Badru sambil terkekeh.Deg!Me
Badru menatap Merpati. Jarak mereka dekat. Ujung bakul plastik di pinggang Merpati membentur perut kotak-kotak Badru.Whuushh!Aroma madu jantan dari tubuh Badru keluar. Hidung Merpati kembang kempis. Pipinya langsung merah, tapi ia langsung membuang muka."Kenapa diam, Mer? Takut saya diambil lagi sama Lilis?" tanya Badru. Suaranya berat dan dalam.Merpati berdeham. Jemarinya meremas pinggiran bakul lebih erat."N-nggak, lah! Ngapain juga aku takut," sahut Merpati ketus. "Aku cuma nanya sebagai teman, Dru. Kan kasihan kalau kamu ditipu dua kali sama orang yang sama. Aku cuma gak mau lihat kamu susah lagi."Badru terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar mengejek."Cuma peduli sebagai teman?" Badru melangkah maju satu langkah lagi.Deg!Jantung Merpati berdegup kencang. Hawa panas dari dada bidang Badru langsung mengenai wajahnya.Grep!Badru merebut bakul plastik dari tangan Merpati.Plak!Bakul itu dilempar ke semak-semak. Tangan kekar Badru langsung mencengkeram pinggul Merpati yang
Lilis menggigit bibir bawahnya yang pucat. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa malu sekaligus dongkol.Daster tipis bermotif bunga yang dipakainya masih basah kuyup, menempel ketat di kulit dan mencetak jelas lekuk tubuhnya. Dua gundukan dadanya yang padat menyembul kencang di balik kain tipis itu, turun naik seiring napasnya yang memburu karena syok melihat perubahan drastis Badru."Akang... tega pisan ya sekarang sama aku," cicit Lilis, suaranya bergetar ego kewanitaannya runtuh. "Aku ini baru pulang kena musibah di kota, Kang! Bukannya ditanya keadaan aku bagaimana, Akang malah ngomong begitu di depan aku!"Badru tetap tegap di tempatnya. Ia melipat kedua tangan di depan dada bidangnya yang berotot keras.Whuushh!Angin sore menerpa tubuh mereka, mengalirkan aroma madu jantan yang pekat bercampur wangi sabun melati dari kulit Badru langsung ke penciuman Lilis.Sniff! Sniff!Hidung Lilis kembang kempis. Sentakan hawa maskulin itu membuat lututnya kian lemas. Pemandangan otot per
Laras tidak langsung menjawab. Ia hanya bisa mengangguk lemas. Kepalanya bersandar pasrah di dada bidang Badru. Napasnya masih memburu naik turun."Enak pisan, Kang... Sampai lemas lutut Teteh," cicit Laras dengan suara serak.Badru tersenyum tipis. Rahang tegasnya terangkat, merasa bangga melihat istri saudagar kaya kini terkulai lemas di pelukannya.'Gila, padahal dulu dia selalu kelihatan ketus kalau ketemu. Sekarang malah minta ampun di bawah saya,' batin Badru, ego lelakinya berdesir puas.Badru perlahan menarik pinggulnya mundur.Whuushh!Hawa dingin air pancuran langsung menyergap kulit mereka yang semula panas menyatu. Badru meraih gayung di dekat bak air, lalu mulai menyiramkan air bersih ke bahu mulus Laras.Sret! Sret!Tangan kasar Badru bergerak ikut membersihkan sisa-sisa cairan di paha Laras. Kulit wanita itu terasa sangat halus di telapak tangannya yang kapalan karena sering memegang arit."Kamu beneran gak capek, Dru? Badan kamu masih sekeras batu gini ototnya," tanya
Badru menyeringai melihat Laras yang sudah tidak berdaya dalam jepitannya. Ia sengaja menghentikan gerakannya secara mendadak, membiarkan miliknya yang besar tetap tertanam penuh di dalam rahim Laras."Ah... Dru... Kenapa berhenti?" tanya Laras dengan mata sayu, napasnya naik turun memburu.Badru mencengkeram dagu Laras, memaksa wanita matang itu menatap matanya yang tajam."Teteh mau lagi?" bisik Badru, suaranya terdengar sangat dalam dan nakal. "Coba bilang dulu, siapa yang lebih hebat? Saya atau Kang Yanto?"Wajah Laras memerah padam. Ia meremas bahu kekar Badru yang basah oleh peluh. "Kamu, Dru... Kamu jauh lebih hebat. Punya Kang Yanto nggak ada apa-apanya.""Panggil saya apa, Teh?" Badru sengaja memutar sedikit pinggulnya, membuat Laras langsung melenguh panjang."Ahhh! Akang... Akang Badru... Ayo, Kang, hantam lagi. Teteh mohon," racau Laras pasrah, meruntuhkan seluruh harga dirinya sebagai istri saudagar kaya.Whuushh!Hawa magis madu jantan dari tubuh Badru meledak semakin pe
Badru semakin kehilangan kendali diri ketika desahan Laras memenuhi ruangan kamar mandi yang sempit dan beruap itu. Hisapannya pada gundukan ranum Laras kian menuntut dan dalam, sementara tangan kasarnya meremas belahan dada yang sebelah lagi dengan ritme yang semakin cepat.Laras terus melenguh pasrah, matanya sayu menatap Badru yang begitu perkasa di hadapannya. Rasa panas menjalar dari dalam dirinya, membuat bagian intinya berdenyut-denyut menuntut sesuatu yang lebih padat."Dru... Udah, Dru. Teteh udah gak tahan..." bisik Laras dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram bahu kekar Badru. "Langsung masukin saja, Dru. Masukin punya kamu... Teteh mau diisi sekarang."Deg!Mendengar permintaan blak-blakan dari istri saudagar itu, ego lelakinya bergejolak hebat. Darah maskulinnya serasa mendidih.Whuushh!Seketika itu juga, efek magis dari aroma madu jantan di tubuh Badru menguar hebat, menciptakan gelombang hawa panas yang tak kasat mata di dalam kamar mandi. Aura pemikat itu meng
Setelah badai pertama tadi mereda, Laras mengusap sisa peluh di dahinya sambil tersenyum manja. Napasnya masih menderu, beradu dengan sunyinya siang itu."Sini, Dru... Jangan berdiri terus di situ, lemes kan kaki kamu? Kita pindah ke ranjang," bisik Laras, suaranya serak-serak basah, menggoda iman
Glek. Tenggorokan Badru tercekat. Perintah Laras barusan seperti petir yang langsung menyambar seluruh akal sehatnya hingga hangus tak bersisa. Pandangannya terkunci pada dua gundukan besar di depan dadanya yang kini basah dan berkilau oleh cairan putih pekat. "T-Teh... tapi saya—" "Cepetan, Dru.
Badru menelan ludah yang terasa menyangkut di tenggorokan. Tawaran disiapkan makanan setelah memeras daster merah marun itu membuat otaknya semakin tidak keruan. 'Makan sepuasnya? Disiapin? Gusti... ini maksudnya makan nasi apa malah makan yang lain?' batin Badru, matanya melirik liar ke arah celah
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara