Se connecterBadru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.
Deg. Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya. Laras berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sudah berubah total. Laras tampaknya baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan dililit handuk di atas kepala. Sial bagi Badru, Laras hanya mengenakan daster satin hitam yang sangat tipis dan ketat, dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada. "T-Teh Laras ..." ujar Badru lirih, lidahnya benar-benar kelu melihat pemandangan seperti ini. Bahkan, jakunnya terus naik turun. Tubuh Laras benar-benar membuat mata Badru seakan terpaku. Ia baru pertama kali melihat tubuh wanita hampir telanjang begini. Bentuk tubuhnya yang berisi, mulai dari pinggul sampai paha putihnya yang padat, terlihat sangat jelas di balik kain tipis itu. Tangan Badru yang gemetar meremas seprai ranjang semakin kencang. "Kok kamu gemeter gitu, Dru? Ada yang sakit kah?" tanya Laras dengan suara lembutnya sambil melangkah mendekati Badru. Wajah galak yang biasanya dia pasang kini sudah hilang. Matanya terlihat sayu, menatap Badru sambil berkedip manja. Tiap langkah kakinya, membuat bongkahan di bagian depan dan belakang itu bergoyang seksi. Seketika itu juga, bagian bawah celana Badru kembali menegang dengan kuat. Padahal, miliknya itu baru saja mau beristirahat setelah sempat kesakitan karena kena tendang sapi tadi. "A--anu, Teh ... Nggak apa-apa. Saya m--makas--" Belum selesai Badru bicara, tiba-tiba Laras langsung duduk di sampingnya, hingga kasur kapuk itu amblas. Kulitnya yang hangat menempel pas di lengan kekar Badru. Deg! 'Gusti, apa-apaan ini ...' batin Badru semakin tak karuan. Laras menunduk, sengaja mendekatkan wajahnya ke dada bidang Badru. "Syukurlah kalau kamu gak apa-apa. Tapi, aku nggak nyangka loh, ternyata badan kamu sebenernya sewangi ini ya," bisik Laras sambil sedikit mencondongkan wajahnya ke lengan Badru, tangannya sesekali mengusap punggung pria itu. Srrr... Badru langsung merinding di sekujur tubuh. Pikirannya mendadak kosong. 'Wangi? Biasanya Teh Laras bilang aku bau, sampe gak mau deket-deket. Jangan-jangan, Teh Laras begini gara-gara terlalu panik? Iya kan? Pasti ini ada yang salah.' Badru bertanya-tanya lantaran merasa asing dengan sikap Laras yang terus-menerus menempel di lengannya. Campuran wangi sabun mandi Laras dan aroma dari tubuh wanita itu benar-benar membuat Badru kebingungan. Ditambah lagi, keharuman aneh dari parfum loakan yang tadi ia semprotkan seolah makin pekat dan menguar kuat, mengisi setiap sudut kamar yang sempit itu. "T-Teh... mendingan Teteh mundur dikit. Nanti baju Teteh kotor kena baju saya yang bau tanah," bisik Badru terbata-bata. Ia mencoba menggeser duduknya, namun kasur kapuk yang amblas justru membuat tubuh mereka semakin merapat. Laras bukannya menjauh, malah mengulum senyum tipis. Matanya yang sayu menatap lekat-lekat ke arah rahang tegas Badru. "Kotor kenapa, sih? Kan tadi aku udah bilang, kamu tuh wangi pisan sekarang, Dru. Malah bikin kepala Teteh agak pusing, tapi enak ..." ujar Laras dengan suara yang sengaja direndahkan, terdengar manja sekaligus serak. Glek. Badru kembali menelan ludahnya kasar. Dari jarak sedekat ini, daster satin hitam yang tipis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan guncangan halus di dada Laras setiap kali wanita itu menarik napas. "Aduh, tapi ini pundak kamu tegang banget loh, Dru. Pasti gara-gara kaget pas ditenjong sapi tadi, ya?" Laras tiba-tiba menaikkan tangan halusnya, menyentuh pundak lebar Badru yang terbalut kaus oblong lusuh. "Eh, nggak usah, Teh—" "Ssst... udah, diem aja. Teteh pinter loh kalau soal mijit. Biar badannya enakan dan gak kaku semua," potong Laras tangkas. Tanpa meminta persetujuan lagi, Laras menggeser posisi duduknya tepat di belakang Badru. Jemari lentiknya yang masih agak lembap mulai meremas pelatuk pundak Badru dengan lembut namun bertenaga. Bersamaan dengan gerakan itu, dada besar Laras yang membengkak penuh beberapa kali tak sengaja menempel dan menggesek punggung tegap Badru. Srrr... Sensasi hangat dan empuk yang menekan punggungnya membuat Badru memejamkan mata rapat-rapat. Jono di balik celana kainnya yang lusuh langsung berontak hebat, menegang maksimal hingga terasa ngilu karena tertekan kain celana. 'Gusti... ini ujian apa rezeki? Jono, tolong komprominya, jangan tegang sekarang dong!' batin Badru menjerit panik, sementara keringat dingin kembali membasahi pelipisnya. "Badru, kayaknya kamu beneran sakit deh, kamu keringetan banget loh ..." "Eh, e-enggk kok, teh. Mungkin cuma kepanasan." Badru menegang, saat Laras mengusap keningnya yang berkeringat. Laras yang merasakan tubuh Badru semakin mengeras justru terkekeh pelan di dekat telinga pria itu. Embusan napasnya yang hangat terasa menggelitik leher Badru. "Tuh kan, beneran kaku banget badannya. Coba rileks, Dru..." ucap Laras. Tangannya yang halus perlahan turun dari pundak, menyusuri belikat, lalu memijat pelan ke arah pinggang Badru. Gerakan tangan Laras semakin berani. Dari pinggang, jemarinya mulai mengusap sisi pinggul Badru, perlahan-halan bergerak maju ke arah paha dalam. Badru menahan napas saat merasakan elusan manja itu berubah arah. Bukannya menghindar, jemari lentik Laras justru sengaja tergelincir masuk ke sela paha, lalu dengan gerakan halus yang seolah-olah tidak sengaja, telapak tangannya langsung mendarat tepat di atas gundukan celana Badru yang mencuat keras. Deg! Jantung Badru serasa berhenti berdetak. Bukannya langsung menarik tangan, Laras justru membiarkan telapak tangannya diam di sana selama beberapa detik, merasakan ketegangan maksimal dan ukuran luar biasa dari balik celana kain lusuh itu. Jemarinya bahkan sempat memberikan remasan lembut yang samar. Laras sedikit terkesiap, matanya yang sayu seketika membelalak kecil karena terkejut sekaligus kagum. Keberanian wanita matang itu malah semakin menjadi-jadi. Ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Badru, lalu berbisik dengan suara yang sangat serak dan penuh gairah. "Ya ampun, Dru... Teteh gak sengaja. Tapi... ini bukannya tadi kena tendang sapi ya? Teteh pijitin sekalian ya biar gak sakit," ujar Laras sambil mengulum senyum nakal, sementara jarinya mulai mengusap gundukan di celana Badru yang berdenyut kencang. "Heh? Ngg--" Belum selesai Badru menolak, Laras sudah semakin jauh menyentuhnya. Otak Badru sudah benar-benar blank. Darahnya berdesir hebat, siap menyerahkan diri sepenuhnya pada sentuhan maut di area sensitifnya itu. Bibirnya sudah terbuka, hendak melenguh pasrah akibat servis tak terduga ini— Brak!! Pintu kamar yang memang tidak dikunci rapat itu tiba-tiba didorong kasar dari luar hingga menghantam dinding. "Teteh! Teteh tahu gak—" Suara melengking itu seketika memutus hawa panas di dalam kamar. Lilis berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, berniat mencari kakaknya. Namun, kalimatnya langsung tersangkut di tenggorokan begitu melihat pemandangan di depan matanya. Laras dengan cepat menarik tangannya dari atas area nikmat Badru, wajahnya langsung pucat pasi bercampur merah padam karena tertangkap basah. Sementara Badru refleks melompat berdiri, buru-buru membungkukkan badannya ke depan dengan posisi mengangkang yang aneh demi menyembunyikan "si Jono" yang terlanjur berdiri tegak menantang langit di dalam celana kolornya. "L-Lilis?!" pekik Laras gelagapan, langsung sibuk membenarkan daster satinnya yang sempat tersingkap ke atas paha. Lilis mematung dengan mata membelalak sempurna, menatap bergantian antara kakaknya yang berpakaian sangat minim dan Badru yang berdiri gemetaran dengan posisi tubuh yang sangat mencurigakan. "A-akang... Teh Laras... K-kalian sedang apa?" Tanya Lilis tak percaya, dengan suara tercekat.Srenggg...!Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi."Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut."Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru."Siap, Mas Badru..." canda Binar pelan seraya meniriskan pisang goreng yang sudah kuning kecokelatan ke atas piring kaleng.Dengan cekatan, wanita itu menyeduh bubuk kopi hitam di cangkir seng dengan air mendidih dari cerek, lalu mengaduknya hingga uap panas mengepul harum.Srek...Binar melangkah membawa cangkir kopi dan sepiring pisang goreng panas, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan Badru."Nih, Mas Badru... Kopi pahit sama pisang goreng hangatnya," kata Binar.Bukannya duduk di kursi seberang, Bi
Cklek!Suara palang kayu di pintu bilik belakang mengunci rapat.Badru membuang napas panjang. Udara gubuk masih sarat aroma sabun mandi dan semerbak manis tubuh Binar yang memabukkan. Jakun Badru naik turun kaku. Ia merebahkan badannya di dipan bambu depan, menyelipkan sabit berkarat di samping pinggang, lalu memejamkan mata sambil menajamkan telinga mengawasi pekarangan.Malam merayap lambat diiringi desau angin kebun pisang.Kukuruyuuuk...!Kokok ayam jantan pertama memecah keheningan fajar. Cahaya biru kelabu mulai menerobos celah anyaman bambu, menandakan pagi telah tiba.Badru membuka mata. Pria itu langsung bangkit duduk, merapikan sarung, lalu melangkah ke depan pintu bilik belakang.Tok! Tok!"Teh Binar. Udah pagi," panggil Badru rendah.Srek... Cklek!Palang kayu ditarik dari dalam. Daun pintu terbuka separuh.Sosok Binar menyembul dari balik pintu. Pemandangan di hadapan Badru seketika membuat matanya terpaku. Sarung yang semalam tersampir di pundak Binar kini melorot ke pi
Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep
Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr
Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah
Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke
"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered







