Partager

97. Menyatu Di Shower.

Auteur: Amaleo
last update Date de publication: 2026-08-08 22:01:11

Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangguk kecil, kedua tangannya mencengkeram bahu Marco lebih erat.

“Aku siap. Masukin … pelan-pelan, ya.”

Marco mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kejantanannya masuk, dan Zea langsung menegang hebat. Desahan sakit langsung lolos dari bibirnya, kuku-kukunya mencengkeram punggung Marco.

“Aahh—! Sakit .…”

Marco berhenti total. Ia mencium kening Zea, pelipisnya, lalu bibirnya. “Tarik napas pelan-pelan.”

Zea menggigit bibir dan memaksa
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Amaleo
Hehe yang di tunggu-tunggu pembaca, termasuk saya ... (⁠◔⁠‿⁠◔⁠)
goodnovel comment avatar
Ria Bogalopa
mereka unboxing di bawah shower
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   100. Pompa dan Hisapan di Pagi Buta.

    Marco terdiam mendengar pertanyaan Zea. Rahangnya mengeras sesaat, lalu ia menggeleng pelan."Cukup," ucapnya singkat. "Nggak usah dibahas lagi malam ini."Ia bangkit dari tepi ranjang. "Biar aku bantu kamu pakaikan baju."Zea mendengus kesal. Marco seenaknya mengganti topik begitu saja, tapi ia memilih tidak mendesak lebih jauh. Ia sendiri buru-buru bangkit berdiri, bermaksud memakai baju sendiri karena ia merasa masih bisa bergerak.“Aku bisa sendiri— Ahh!” Baru dua langkah, ia meringis keras. Bagian paha dalamnya masih ngilu, membuat lututnya nyaris melipat.Marco sigap mendorong bahunya pelan, memaksanya duduk kembali di tepi ranjang. "Jangan bandel."Zea meringis sambil mendelik kesal, tapi akhirnya membiarkan Marco membantunya. Pria itu memakaikan pakaian dalam, lalu baju tidur, dan terakhir celana pendek dengan gerakan hati-hati. Setiap sentuhannya di kulit Zea tidak lagi terasa seperti godaan, melainkan benar-benar seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh. Begitu selesai, Ma

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   99. Di Balik Perjodohan Marco & Selena.

    Marco terdiam sebelum akhirnya pria itu duduk di tepi ranjang, sedikit menjauh dari Zea. Matanya menerawang ke lantai seolah mencari kalimat pembuka yang tepat. "Kamu udah tahu dari Dimas," ucapnya akhirnya, suaranya datar. "Tapi aku mau dengar dari kamu langsung. Bukan dari Dimas atau siapa pun," balas Zea, tenang tapi tidak memberi ruang untuk mengelak. Marco menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya sebelum mulai bicara. "Dulu, perusahaan Papaku hampir bangkrut," katanya pelan. "Ayahnya Selena yang nyelametin. Sekarang Papaku masih jadi pemilik, sekaligus komisaris. Tapi yang benar-benar pegang kendali, dan jalanin operasional perusahaan ... Ayah Selena, sebagai CEO.” Zea diam mendengarkan, tanpa memotong. "Perjodohan ini bukan ide Papaku," lanjut Marco. "Itu permintaan Ayah Selena. Katanya, Selena udah lama suka sama aku. Dan Papaku ... nggak bisa nolak. Terlalu banyak yang dipertaruhkan kalau sampai hubungan bisnis itu rusak.” Ia terdiam sesaat, rahangnya mengeras. "Ak

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   98. Setelah Menyatu.

    Zea terdiam dengan napas masih tersengal. Pipinya memerah malu hingga ke telinga. Ia menepuk-nepuk bahu Marco pelan dengan suara rengek kecil. “Istirahat dulu, lah. Ini pertama kalinya aku … lakuin ini.” Ia meringis. “Ah … pinggulku ngilu.” Marco masih menempel erat dengan napas berat di ceruk leher Zea. Ia enggan melepaskan. “Hm,” gumamnya pelan, seolah keberatan. “Kita keluar, yuk,” lanjut Zea, masih merengek pelan. “Nanti kita masuk angin. Kamu juga harus datang ke pusat pelatihan besok dengan kondisi bagus di depan sponsor.” Marco menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menurut. Dengan gerakan sangat pelan, ia mengeluarkan kejantanannya dari dalam Zea. Saat batang panas itu lepas sepenuhnya, Zea mendesah lagi, yang kali ini karena rasa kosong yang tiba-tiba memenuhi inti tubuhnya. “Ahh .…” Pinggul dan bagian dalam pahanya terasa ngilu. Marco langsung sigap. Ia mematikan kran shower, lalu mengangkat Zea dalam gendongan hadap-hadapan. Tubuh gadis itu menempel penuh di d

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   97. Menyatu Di Shower.

    Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangguk kecil, kedua tangannya mencengkeram bahu Marco lebih erat. “Aku siap. Masukin … pelan-pelan, ya.” Marco mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kejantanannya masuk, dan Zea langsung menegang hebat. Desahan sakit langsung lolos dari bibirnya, kuku-kukunya mencengkeram punggung Marco. “Aahh—! Sakit .…” Marco berhenti total. Ia mencium kening Zea, pelipisnya, lalu bibirnya. “Tarik napas pelan-pelan.” Zea menggigit bibir dan memaksa tubuhnya rileks. Marco mendorong lagi dengan sangat pelan. Rasa penuh dan perih membuat Zea menangis pelan, tapi ia tidak meminta berhenti. Tangannya mencengkram punggung Marco semakin kuat, seolah bertahan lewat cengkeraman itu. Ketika seluruh batang Marco akhirnya masuk, keduanya terdiam. Hanya bernapas berat di bawah guyuran air. “Kamu … di dalam aku …” bisik Zea gemetar. “Penuh sekali … ahh …” Marco mengerang rendah. “Kamu … ketat sekali, Zea …. Kamu memelukku begitu erat.” Ia tidak lang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   96. Aku Mau Kamu, Marco.

    Marco menunduk sedikit, wajahnya hampir menempel di pelipis Zea yang basah. “Kenapa takut?” tanyanya pelan, suaranya rendah dan dalam, hampir tenggelam di antara gemericik air. Zea terdiam lama. Tangannya masih mencengkram punggung Marco seolah takut pria itu akan menghilang. Napasnya bergetar. “Karena aku sering mikir …” ucapnya pelan, “kalau saja aku nggak mengalami semua ini. Kalau saja tubuhku normal seperti perempuan lain yang belum menikah dan belum punya anak, aku bisa jalanin hidup tanpa harus terus mikirin apa kata orang …” Napas Zea tercekat sejenak. “Tanpa harus sembunyi-sembunyi, tanpa takut ada yang tahu tentang tubuhku.” Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air matanya. “Tapi … aku malah harus hadapin semua ini sendirian. Harus bohong sama Mama, sama Kak Zavian, bahkan sama orang-orang yang sebenarnya udah baik sama aku.” Marco tetap diam mendengarkan, tanpa memotong. “Aku cuma ingin hidup biasa, Marco,” lanjut Zea lirih. “Bisa pergi sama temen, kerja, ketaw

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   95. Mandi Bersama.

    Zea menegang seketika. Wajahnya memerah hebat hingga ke telinga, dan jantungnya berdegup kencang tak menentu. "Marco … kok tiba-tiba banget." Suaranya kecil dan bergetar, sambil menghindari tatapan pria itu. "Malu …." Ia mencoba menjauh tapi tangan Marco masih melingkar lembut di pinggangnya, tidak melepaskan meski tidak juga memaksa. Marco memandangnya diam sejenak. Sorot matanya begitu tenang dan serius. "Kamu pasti udah capek," ucapnya pelan. "Secara fisik, sama batin." Zea terdiam mendengar itu. Marco melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Untung saja temenmu paham posisi kamu. Dia bahkan mau bantu kamu tadi pas ada video call dari Kakakmu, selama aku nggak ada di sini.” Ia mengusap pelan punggung tangan Zea dengan ibu jarinya. “Sekarang, giliran aku yang bener-bener rawat kamu, Zea.” Tidak ada nada menggoda di kalimat itu. Yang tersisa hanya ketulusan dan rasa tanggung jawab yang sudah lama tumbuh diam-diam di antara mereka. Zea menunduk. Ia sadar Marco benar. Tubuhnya le

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status