LOGINZea menegang. Mangkuk es krim di tangannya berhenti di tengah jalan, sendoknya nyaris terjatuh.
"Selena?" tanya Zea pelan. "Dia datang menemui Tante Moara?"Feby yang dari tadi menyimak percakapan langsung menaikkan kedua alisnya, jelas terkejut.Sementara Donna menatap Marco. Kecurigaan di wajahnya sudah lenyap, digantikan keseriusan. Ia tahu betul, masalah baru saja datang.Marco mengangguk singkat. "Iya." Rahangnya mengeras, matanya masih terpaku padaZea mengerjap. Untuk pertama kalinya, Marco mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu serius, tanpa sedikit pun terdengar seperti basa-basi. “Untuk apa?” tanya Zea pelan. “Karena kamu sudah percaya sama aku,” jawab Marco singkat. “Dan sudah kasih aku kesempatan lagi.” Zea merasakan sesak yang sejak sore memenuhi dadanya perlahan mereda. Kehangatan dari pelukan Marco membuat pikirannya yang sempat kacau sedikit lebih tenang. Tangannya meraih lengan Marco yang melingkar di pinggangnya. Ia mengusap punggung tangan pria itu perlahan dengan ujung jarinya. “Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang,” bisik Zea. “Setiap kali aku mulai kepikiran atau takut sama sesuatu, kamu selalu kasih aku alasan buat nggak khawatir.” Ia menggenggam tangan Marco lebih erat. Senyum wanita itu merekah di wajahnya. “Makasih, Marco.” Marco mencium bahu Zea lama dan lembut. “Aku lebih berterima kasih,” ucapnya rendah, “karena kamu hadir dalam hidupku, Zea.” Setelah itu pria itu tidak berkata apa
Di dalam kamar, Marco meletakkan Zea di atas ranjang dengan gerakan lembut namun tegas. Tanpa sekalipun keluar, ia mengatur posisinya menjadi di atas tubuh wanita itu, sambil membuka paha Zea lebih lebar.Lalu pria itu melanjutkan hentakan yang lebih dalam dan terkendali.“Sekarang lebih enak?” tanyanya sambil mengusap rambut Zea.Zea mengangguk sambil tersenyum lemah. “Iya … jauh lebih enak … uhm …”Tangan Marco memegang pinggang Zea untuk mengontrol gerakan. Setiap hentakan membuat payudara Zea bergoyang, dan cairan putih mulai menetes lagi, membasahi dada keduanya. Marco menunduk dan menghisap puting kiri yang basah, menelan cairan putih itu, lalu berganti ke sisi kanan.“Rasakan aku,” bisik Marco berat di sela hisapan. “Aku cinta kamu …”Zea memeluk lehernya dengan kaki melingkar di pinggang Marco. “Aku juga … ahhh … Marco …”“Cantik …” erang Marco setiap kali ia masuk lebih dalam sambil menghisap. “Indah sekali. Kamu basah … dan keluar terus.”“Gara-gara kamu … ahhh … jangan ber
Zea mengerjap pelan dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Wajahnya sedikit berkabut, bibirnya merah karena ciuman Marco tadi. “Badanku masih pegal, loh …” gumam Zea pelan, suaranya hampir seperti rengekan. “Sore tadi kamu kasar banget.” Marco menunduk, menatap Zea dari dekat, lalu tersenyum tipis. “Kali ini aku lebih lembut,” bisiknya serak. “Janji.” Zea terdiam sejenak. Tatapan Marco yang begitu intens membuatnya gugup. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara wajahnya memerah. Setelah ragu beberapa saat, akhirnya Zea mengangguk kecil. “O-oke ... tapi pelan-pelan.” Marco tidak menunggu lebih lama. Ia menarik tengkuk Zea dan menciumnya lagi, kali ini lebih panas. Lidahnya langsung masuk, dalam dan lapar. Zea mendesah disela ciuman. “Mmhh … Marco …” Ciuman mereka semakin dalam. Tangan Marco turun, menyusuri paha dalam Zea dan mengusap pelan di atas celana pendek yang ia kenakan. Zea menggeliat kecil ketika sentuhan tangan Marco membuat tubuhnya spontan menegang. “Ah
Zea baru saja selesai memasak makanan sederhana ketika apartemen kembali diselimuti kesunyian. Donna dan Feby sudah pulang sekitar satu jam lalu, meninggalkan Zea sendirian dengan lampu dapur dan ruang tengah yang masih menyala. Ia duduk di meja makan, sendok masih berada di tangannya. Namun sejak tadi, makanan di hadapannya nyaris tak tersentuh. Pikirannya terus berputar pada Marco. Sejak pria itu pergi ke mansion, tak ada satu pun pesan atau telepon yang masuk. Padahal besok mereka harus menghadapi konferensi pers. Zea tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana dengan konferensi pers besok? Apa skandal ini justru akan semakin membesar setelah Marco akhirnya berbicara di depan publik? Apa Zavian akan tetap terkena dampaknya? Dan yang paling membuat pikirannya tak tenang, bagaimana keadaan Marco sekarang? Sejak tadi pria itu harus berhadapan dengan Selena. Zea tak tahu apa yang sedang terjadi di mansion, atau seberapa besar tekanan yang sedang dihadapi Marco
Selena tersentak hebat, napasnya tertahan. "Kamu gila, Marco?! Om Michael nggak akan pernah setuju! Papa aku pemegang kendali CEO Yozefa's Corporation, dan tanpa keluarga Yansen, perusahaan Papa kamu bisa—" "Papa kamu cuma orang yang dipekerjakan oleh keluargaku," potong Marco tenang, tetapi suaranya begitu berat hingga memotong seluruh keberanian Selena. "Dan Michael tidak bisa memaksa aku mempertahankan pertunangan yang memang dari awal tidak pernah aku inginkan." Aura intimidasi yang terpancar dari tubuh atletis Marco membuat Selena secara refleks mundur satu langkah, hampir tersandung ujung gaunnya sendiri. "Mama sudah mendukung keputusanku, Sel," ucap Marco datar. Selena menoleh cepat ke arah Moara yang berdiri agak jauh di belakang Marco. Ia menatap Moara dengan tatapan penuh permohonan yang terselip amarah, berharap wanita tua itu akan melunakkan sikap. Namun Moara tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap Selena dingin tanpa niat sedikit pun untuk membantu.
Selena tersentak sesaat ketika pintu ganda ruang tamu itu terbanting keras membentur dinding. Namun dalam sekejap mata, ketegangan yang sempat menghiasi raut wajahnya lenyap tanpa bekas, tergantikan raut polos dan manja yang amat terlatih. Seolah percakapan tajam bernada ancaman dengan Moara beberapa detik lalu tak pernah terjadi sama sekali. Dengan langkah ringan yang dibuat-buat anggun, Selena memutar tubuh lalu berjalan mendekati Marco. "Sayang?" Suaranya melembut seketika, nyaris merengek dengan nada mengeluh yang biasa ia gunakan ketika ingin dimanja. "Kamu kapan sampai? Kok nggak kabar-kabar dulu sama aku?" Jemarinya yang terawat dengan cat kuku merah menyala terulur, hendak menyentuh lengan kekar Marco. Namun sebelum kulit mereka sempat bersentuhan, Marco menepis tangan itu dengan satu gerakan sentakan yang dingin, cepat, dan tanpa ragu sedikit pun. "Jangan pernah panggil aku begitu." Senyum manis di bibir Selena goyah sesaat. Kerutan tipis muncul di dahinya. "Kenapa? Aku







