LOGINSuara peluit Zavian melengking nyaring, seketika memotong riuh suasana di sekitar kolam renang setelah sesi perkenalan dan pemanasan selesai."Oke, semua! Sesi penyesuaian fisik pertama dipimpin Vincent di mulai!" seru Zavian tegas.Vincent Ardhana mengangguk sopan. Dengan papan jepit dan kacamata tipisnya, ia bergerak sangat cekatan. Pria itu tidak buang waktu, langsung menghampiri meja bar lounge tempat Zea sedang menyusun wadah suplemen."Biar aku bantu, Zea," tawar Vincent ramah, jemarinya memegang wadah yang sama.Zea menoleh dan tersenyum canggung. “Eh, nggak apa-apa, Vin. Ini cuma suplemen biasa, kok.”“Nggak masalah,” jawab Vincent santai. Ia berdiri di samping Zea tanpa membuat jarak di antara mereka terasa canggung. “Aku memang perlu cek komposisi dan bahan-bahannya juga.”Ia melirik botol di tangan Zea, lalu tersenyum tipis. “Sekalian ... sudah lama, ya? Kita nggak pernah ngobrol begini lagi sejak lulus SMA.”"Iya, lumayan lama," sahut Zea polos sambil menata shaker. "Kamu
Suasana arena kolam renang mendadak sunyi ketika seluruh atensi atlet tertuju pada sosok pria berkacamata yang berdiri di samping Zavian. Kesan pertama yang terpancar dari Vincent Ardhana begitu kuat. Postur tubuhnya yang tegap berlapis kaus polo putih, kacamata berbingkai tipis yang membingkai wajah bersihnya, serta gesturnya yang tenang dan tertata secara alami memancarkan aura seorang yang cerdas, berwibawa, sekaligus sangat dapat diandalkan.Rafi menyikut lengan Kenji pelan, berbisik dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan. "Gila ... penampilannya rapi banget. Berasa lagi didampingi dokter spesialis elit."Kenji mengangguk-angguk setuju. "Beda banget auranya. Keliatan pinter dan paham betul urusan medis."Zavian berdehem pelan, memotong kasak-kusuk para atletnya. Ia menatap jajaran anggota timnya dengan raut penuh rasa hormat dan kebanggaan."Vincent ini bukan orang asing buat saya," buka Zavian dengan suara mengalun tegas. "Dia adalah putra dari Coach Bima Ardhana, pelati
“Uhm...” gumam Zea lirih sambil menggeliat kecil, perlahan membuka matanya dari tidur. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melewati celah-celah gorden di jendela kamar, membiaskan garis-garis hangat di atas sprei pastel yang tertata rapi. Zea terbangun dari tidurnya dengan tubuh telanjangnya. Ia mengerjap pelan sambil menyesuaikan pandangannya yang masih remang. Namun, begitu ingatan tentang kejadian tadi malam berputar kembali di kepalanya, rasa hangat yang menjalar cepat seketika membuat pipinya membakar merah padam. Panggilan video intim dengan Marco semalam, momen pertama mereka harus terpisah ranjang setelah berhari-hari tinggal bersama di apartemen, masih menyisakan desiran halus di dadanya. Marco yang biasanya kaku dan irit bicara, semalam berubah menjadi begitu intens dan penuh tuntutan di layar ponselnya, dipicu oleh rasa rindu dan frustasi karena tak bisa menyentuh Zea secara langsung. Zea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas panjang
Setelah hampir seharian Marco di rumah Zea, malam ini Zea berbaring telentang di atas ranjang kamarnya dengan tubuh yang benar-benar polos. Rambutnya tergerai indah di bantal dengan dada naik-turun pelan. Di layar ponsel yang digenggam Zea, wajah Marco terlihat jelas. Cahaya temaram di sisi sana menerangi garis rahangnya yang tegas dan mata gelap yang seolah bisa menembus layar.Marco pun hanya mengenakan celana dalam. Ia duduk bersandar di headboard ranjang besar di kamar mansion-nya. Otot dada dan perutnya menegang setiap kali ia menarik napas. Matanya tidak pernah lepas dari layar.Pintu kamar Zea terkunci rapat. Tirai jendela yang sudah berteralis besi sudah tertutup rapat, menyisakan kamar dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh napasnya sendiri. Cahaya lampu tidur redup hanya menyisakan bayangan lembut di dinding dan di kulit telanjangnya.“Aku mungkin nggak akan bisa tidur malam ini,” ucap Marco rendah, suaranya serak tapi tetap tenang. “Kalau kamu nggak ada di pelukanku.”Zea
"Jangan bilang ... itu Vincent, Kak?" Mata Zea melebar seketika, mulutnya sedikit menganga tak percaya. Nama itu terlontar begitu saja dari bibirnya sebelum ia sempat menyaringnya. Zavian mengangguk tegas, sudut bibirnya terangkat penuh kebanggaan. "Iya, Vincent Ardhana. Dia baru saja menyelesaikan program magister untuk spesialis kedokteran olahraga dan fisioterapi di Inggris lewat jalur beasiswa." Donna yang duduk di sofa menyunggingkan senyum hangat. "Wah, Vincent hebat ya sekarang. Anak itu memang sejak awal terlihat cerdas." "Benar, Ma," lanjut Zavian, suaranya dipenuhi rasa puas. "Begitu pulang minggu lalu, dia langsung menghubungi aku dan menawarkan diri buat bergabung di klub. Dia bilang mau bantu memegang divisi fisiologi dan pemulihan fisik para atlet kita menjelang Final." Zavian menyandarkan punggungnya di sofa, bersedekap dengan binar mata yang amat lega. "Tentu aku terima tanpa pikir panjang. Selain karena latar belakang akademisnya yang luar biasa, ayahnya itu oran
Donna yang berdiri di ambang pintu kamar langsung terkekeh geli melihat wajah kebingungan putrinya. Ia melirik Marco dengan sudut mata yang penuh godaan. "Itu kelakuan Kakakmu, Zea," bocor Donna tertawa pelan. "Tiga hari yang lalu Zavian sengaja panggil tukang besi buat pasang teralis di jendela kamarmu." Zea mengernyit. "Kenapa?" Donna menahan senyum geli. "Katanya ... 'Supaya Marco nggak perlu diam-diam manjat pohon dan masuk lewat jendela lagi malam-malam'." Mendengar penuturan jujur Donna, Zea seketika membeku. Pipinya kembali membakar merah padam akibat rasa canggung yang teramat sangat. Marco yang berdiri di dekat koper mendadak berdehem keras. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak sedikit canggung. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit ke arah Donna, hendak menyampaikan permohonan maaf atas tindakan nekatnya di masa lalu. "Tante ... soal waktu itu, sekali lagi saya minta maaf—" "Tidak apa-apa, Marco," potong Donna cepat sambil tersenyum hangat, mengibaskan tangannya sant







