Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 272. Jejak Masa Lalu Keluarga Yansen.

Share

272. Jejak Masa Lalu Keluarga Yansen.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-08 18:37:06
“Ya Tuhan …” bisik Donna parau dengan suara bergetar. “Putri Mama … cantik sekali.”

Donna berdiri dari sofanya dengan air mata haru yang perlahan menetes di pipinya saat memandang putri bungsunya yang berdiri anggun di bawah cahaya lampu kristal.

Gaun putih berpotongan kebaya modern itu seolah menyatu sempurna dengan tubuh Zea, memancarkan keanggunan murni yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Moara yang berdiri di samping Donna tak kalah terperangah. Senyuman bangga merekah luas di wajah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   294. Vincent Hampir Mau Kabur.

    Zavian berhenti dan membeku di ambang pintu ruang VIP saat menatap Marco duduk di tepi ranjang periksa dengan tatapan hancur, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan. Di sebelahnya, Zea terisak dengan bahu berguncang, kedua tangannya mencengkram ujung seprai seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa.Belum sempat Zavian bersuara, Michael dan Moara melangkah masuk dengan aura dingin yang amat menekan. Melihat vonis di layar monitor USG, Moara langsung bertanya dengan suara bergetar dan menuntut kejelasan.“Edo … apa yang sebenarnya terjadi pada bahu putraku? Seberapa parah kondisinya?!”Dokter Edo menarik napas sejenak sebelum menjawab tanpa berputar-putar. "Cedera ini bukan cedera karena kelelahan latihan semata, Nyonya. Ini murni hasil sabotase teknis dari fisioterapis tim yang di sengaja. "Keheningan mencekam menyelimuti ruangan.Zea mendengarnya sendiri. Di hadapan calon mertuanya dan semua orang yang hadir, ia mengetahui bahwa masa depan Marco, laki-la

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   293. Tidak Boleh Bertanding.

    Dokter Edo terdiam cukup lama, menatap layar monitor USG dengan dahi berkerut rapat sebelum menatap Marco dan Zea bergantian."Marco ... sudah berapa lama kamu merasakan ganjalan atau rasa kaku seperti ini?" tanya Dokter Hendra dengan nada suara yang mendadak amat rendah.“Sejak kemarin pagi, Dok,” jawab Zea mewakili, suaranya bergetar. “Setidaknya, sejak saat itulah saya mulai sadar Marco mengeluhkan bahunya. Tapi dua hari lalu, setelah sesi latihan sore selesai, dia memang sempat menjalani sesi fisioterapi di klub.”Dokter Edo menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia menanggalkan sarung tangan medisnya, lalu menatap Zea dan Marco dengan binar mata sarat akan keprihatinan sekaligus amarah profesional."Ini bukan kram biasa, dan bukan juga akibat kelelahan pasca latihan," pangkas Dokter Edo tegas. "Kerusakan mikro pada jaringan saraf dan otot ini ... murni terjadi karena ada kesengajaan dari oknum yang melakukan fisioterapi."Zea seketika tercekat kaku di tempatnya, menu

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   292. Pemeriksaan Darurat.

    Sedan hitam yang dikendarai Adrian melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Di kursi belakang, Zea duduk rapat di samping Marco, memeluk lengan tegap pria itu dengan kedua tangan yang bergetar. Tangannya tak berhenti mengusap perlahan pangkal lengan Marco, berusaha menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri diliputi kepanikan luar biasa.Marco menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata rapat-rapat dengan napas teratur. Rahang tegasnya mengeras, menahan rasa panas dan menusuk yang kian hebat di belikat kanannya.Dering ponsel di dalam tas Zea mendadak memecah keheningan mobil. Dengan jemari gemetar, Zea buru-buru mengambilnya dan melihat nama Moara Yozefa tertera di layar."I-iya, Tante?" sapa Zea cepat, suaranya parau dan bergetar."Zea! Bagaimana keadaan Marco sekarang, Sayang?" suara Moara di seberang telepon terdengar sangat cemas dan mendesak. "Adrian baru saja memberi tahu Tante kalau bahu Marco bermasalah sampai harus keluar dari latihan!"Zea men

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   291. Jangan Panggil Vincent!

    ​"Marco?!" jerit Zea spontan dari tepi kolam, papan klip di tangannya nyaris terlepas saat melihat pergerakan kekasihnya mendadak melambat dan oleng di tengah lintasan.​Zavian seketika meniup peluitnya kencang-kencang. "Marco! Ada apa?!”Di dalam air, Marco memaksakan kakinya terus mengayuh, dan mencoba bangkit menembus permukaan air. Wajah Marco memerah padam, rahangnya terkatup rapat menahan ngilu luar biasa dari titik saraf bahunya yang seolah ditarik paksa.​Melihat situasi darurat tersebut, Dimas, Rafi, dan Kenji langsung berbalik arah dan berenang cepat menghampiri lintasan satu. Mereka bertiga memegang tubuh tegap Marco, membimbingnya berenang menepi hingga merapat ke dinding kolam.“Marco, pelan-pelan,” desis Dimas cemas sambil menopang lengan rekannya.Marco hanya mengangguk singkat. Ia menahan napas, membiarkan rasa panas yang menjalar di bahunya tanpa mengeluarkan suara.Zavian melangkah cepat dan berjongkok di tepi kolam dengan wajah terlihat jelas tegang. “Marco, jangan

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   290. Ketegangan H-1 Pertandingan Final.

    ​Napas Zea tertahan di dada saat mendengar nama Vincent disebut dari bibir Marco. Marco menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tak mencapai matanya. Sorot matanya tetap tenang, tetapi ada ketegasan dingin yang tersirat di balik tatapannya. “Aku nggak akan membiarkan Vincent mendekatimu lagi atau membuatmu merasa nggak aman sedikit pun,” ucapnya datar. Ia berhenti sejenak, lalu melirik bahu kanannya. “Dan mulai sekarang, aku juga nggak akan membiarkan dia menyentuhku lagi.” Zea akhirnya hanya bisa menurut pasrah di bawah keteguhan mutlak pria di hadapannya. Meski rasa cemas tentang kondisi bahu Marco masih membayangi benaknya, ketulusan dan perlindungan tanpa kompromi dari Marco berhasil menenangkan gejolak di dadanya. ”Kamu mengerti apa yang aku bilang, Sayang?" bisik Marco lembut. Zea mengangguk pelan. "Iya, Marco. Aku mengerti." Marco menyunggingkan senyum tulusnya yang amat tampan. Pria tegap itu merengkuh pinggang Zea, menarik tubuh halus kekasihnya ke dalam dekap

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   289. Marco Menolak Minum.

    Marco membeku di tempat setelah mendengar tawaran Zea yang begitu nekat. Zea pun tahu apa yang Marco pikirkan sekarang. Pria itu pasti terkejut bahwa dirinya dengan sukarela menyerahkan diri tanpa memikirkan risiko atau skenario terburuk jika ketahuan.Marco berdehem pelan sebelum ia memalingkan wajahnya. “Bukannya aku sudah bilang kalau aku nggak akan meminum ASI-mu lagi demi performaku dan menjelang pertandingan?”Pria itu menoleh pelan, menatap Zea lekat dengan wajah serius. “Kecuali aku akan minum kalau kamu merasa penuh dan nyeri di dada.”Zea mengedip, namun tekad di wajahnya tak kunjung surut. “Tapi, Marco ... mungkin ASI ini bisa membantu meningkatkan stamina dan menunjang performa fisikmu dengan cepat. Belum lagi ...”Kalimat Zea terhenti. Tatapannya beralih ke bahu kanan pria itu, sebelum kembali menatap wajahnya dengan cemas. “Bahumu ... itu bukan cuma karena salah tidur, kan?” tanyanya pelan.Zea mendadak teringat ekspresi Marco yang sempat berubah ketika Zavian menyebut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status