Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 301. Penthouse Eksklusif.

Share

301. Penthouse Eksklusif.

Author: Amaleo
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-18 15:24:51

​"Oh, yang di lantai dua puluh enam sudah disewa orang lain," suara berat Michael Yozefa mendadak memotong dari sudut depan lift, menjawab pertanyaan lirih Zea sebelum Marco sempat bersuara.

​Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah pintu lift yang terus bergerak naik, dan melanjutkan dengan intonasi datar namun tegas. "Jadi karena mungkin kamu akan sering menginap di apartemen ini, sekalian saja saya sediakan penthouse untuk Zea dan keluarga kalau memang membutuhkannya.”

Seketika, suasana di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   301. Penthouse Eksklusif.

    ​"Oh, yang di lantai dua puluh enam sudah disewa orang lain," suara berat Michael Yozefa mendadak memotong dari sudut depan lift, menjawab pertanyaan lirih Zea sebelum Marco sempat bersuara.​Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah pintu lift yang terus bergerak naik, dan melanjutkan dengan intonasi datar namun tegas. "Jadi karena mungkin kamu akan sering menginap di apartemen ini, sekalian saja saya sediakan penthouse untuk Zea dan keluarga kalau memang membutuhkannya.”Seketika, suasana di dalam lift yang tertutup rapat itu membeku total.​Donna menahan napasnya, matanya membelalak kaku lantaran tak menyangka fasilitas sekelas penthouse disiapkan begitu saja. Di sebelahnya, Zavian seketika menegang hebat, rahangnya terkatup rapat dengan binar mata yang terguncang. Sementara itu, Marco dan Moara yang berdiri santai di sisi lain sama sekali tak memperlihatkan raut terkejut.​"Tu–tunggu, Om," potong Zavian cepat. Suara baritonnya terdengar amat tegas, meski ia tetap menjaga kesopana

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   300. Pindah Lantai Apartemen?

    Keheningan seketika menyelimuti ruang VIP.Zea menahan napas. Baginya, Marco terlalu blak-blakan dalam menyinggung sesuatu yang begitu sensitif, terlebih ketika kakaknya sendiri berada tepat di hadapan mereka.Sementara, Zavian terdiam kaku. Perlahan, ia membuang muka, seolah enggan membiarkan siapapun melihat reaksinya setelah titik kelemahan terbesarnya tersentuh begitu telak.​Sorot matanya menyiratkan guncangan batin yang hebat ketika ia baru tersadar sepenuhnya, bahwa Vincent telah memanfaatkan luka masa lalunya dan rasa hormatnya pada almarhum sang ayah hanya untuk dijadikan alat provokasi.Tanpa perlu menunggu jawaban Zavian, Marco menarik sudut bibirnya tipis. Reaksi sang pelatih sudah cukup untuk mengonfirmasi dugaan yang sejak awal ia simpan.“Ternyata tebakan saya benar,” gumamnya lirih.​Melihat putranya terpukul, Donna buru-buru menyela sambil berusaha menetralisasi suasana. "Marco, kamu harus mengerti ... dari awal Vincent itu sudah dianggap Zavian seperti adiknya sendi

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   299. Tujuan Sebenarnya Vincent.

    Keheningan seketika menyelimuti ruang VIP. Informasi yang disampaikan Zavian memicu riak terkejut di wajah semua orang yang hadir.Michael Yozefa memajukan langkahnya, melipat kedua tangan di dada dengan aura dingin yang amat menekan. "Bagaimana bisa pria itu melarikan diri begitu cepat, Zav?!"Zavian menggeleng pelan, rahangnya terkatup rapat. "Vincent pernah menjadi atlet lari di masa sekolahnya sebelum beralih mendalami ilmu fisioterapi, Om. Fisik dan kecepatannya jauh di atas rata-rata orang biasa."Michael mendengus kasar, menyunggingkan senyum remeh yang tak sampai ke mata. "Lihat saja berapa lama dia bisa bertahan untuk bersembunyi. Saya sudah memerintahkan tim untuk membekukan seluruh rekening bank atas namanya. Tanpa akses finansial, ruang geraknya tinggal menghitung hari."Dimas melangkah maju, mewakili sang pelatih untuk menyampaikan perkembangan taktis. "Saya dan Coach Zavian juga sudah berkoordinasi langsung dengan tim detektif dari kepolisian, Om. Pihak berwajib sudah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   298. Jangan Bilang Siapa-Siapa!

    Marco menghembuskan napas panjang, meresapi kehangatan yang merambat di dalam dadanya. Suara beratnya terdengar pasrah namun jujur. ​"Jujur ... aku merasa fokusku kembali tajam, dan staminaku perlahan pulih," bisik Marco rendah. Namun, pandangan pria itu beralih ke gips kaku di bahu kanannya dengan raut pesimis. "Tapi kalau untuk menyembuhkan cedera otot dan saraf ini ... rasanya nggak mungkin secepat itu, Sayang." ​Zea terdiam, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Marco dengan perasaan yang masih dipenuhi keraguan. Ia menatap lekat pangkal lengan kekasihnya, lalu memberanikan diri berbisik pelan. ​"Marco ... coba kamu kedikkan bahu kananmu sedikit?" ​Marco mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Masih sakit sekali, Zea. Nggak mungkin bisa—” Refleks, Marco mencoba menggerakkan pangkal bahu kanannya untuk membuktikan ucapannya. Namun, belum sempat ia melanjutkan kalimat, gerakannya mendadak terhenti. Mata pria itu sedikit membelalak. Bahu kanannya, yang se

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   297. Aku Butuh Kamu.

    Napas Marco tertahan sejenak. Sorot matanya membeku, menatap lekat-lekat binar mata Zea yang dipenuhi kepasrahan nan keteguhan mutlak. Namun, alih-alih langsung menyambut tawaran itu, Marco perlahan menggelengkan kepalanya pelan.​"Nggak, Zea," tolak Marco rendah, suaranya mengalun berat. "Aku sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri. Aku nggak akan pernah lagi bergantung pada cairan tubuhmu hanya demi kepentingan fisikku."​Zea mengerjap, matanya mulai berkaca-kaca kembali saat mendapati penolakan tegas itu. “Aku nggak minta kamu minum demi performa atau medali, Marco. Aku cuma ingin kamu merasa lebih baik. Bahumu… aku nggak tahan lihat kamu menahan sakit seperti tadi.”​Marco terdiam kaku. Guratan tatapannya mendadak sulit dibaca, memancarkan pergolakan batin yang begitu dalam. Pria itu menatap Zea lekat-lekat, seolah sedang membaca lembar-lembar pikiran tersembunyi di balik mata bening kekasihnya.​Zea terdiam sejenak, meremas pelan piyama rumah sakitnya sebelum akhirnya membu

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   296. Minum Demi Aku.

    Mata Zea seketika berkaca-kaca melihat sosok Marco yang baru saja berjalan masuk. "Marco ..." panggil Zea lirih, suaranya parau dan pecah di udara. Tangis Zea yang sempat mereda kembali pecah. Kali ini, isaknya terdengar semakin memilukan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat, sementara bahunya bergetar menahan sesak di dada. “Marco ... maafin aku ....” Suara Zea tercekat di sela isakannya. “Aku terlambat sadar .... Kalau saja aku lebih peka dan menyadari niat busuk Vincent sejak awal, kamu nggak akan sampai terluka separah ini.” Marco tidak membiarkan rasa penyesalan itu makin menggerogoti Zea. Mengabaikan kondisi fisiknya sendiri, pria tegap itu berjalan cepat mendekati ranjang, lalu duduk di sisi brankar. Lengan kirinya yang sehat langsung merengkuh tubuh Zea, menarik gadis itu ke dalam dekapan hangat yang amat protektif. "Ssshh ... bukan salahmu, Sayang. Sama sekali bukan salahmu," bisik Marco rendah di dekat telinga Zea sambil menyalurkan ketenangan mutlak.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status