LOGINNapas Marco tertahan sejenak. Sorot matanya membeku, menatap lekat-lekat binar mata Zea yang dipenuhi kepasrahan nan keteguhan mutlak. Namun, alih-alih langsung menyambut tawaran itu, Marco perlahan menggelengkan kepalanya pelan."Nggak, Zea," tolak Marco rendah, suaranya mengalun berat. "Aku sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri. Aku nggak akan pernah lagi bergantung pada cairan tubuhmu hanya demi kepentingan fisikku."Zea mengerjap, matanya mulai berkaca-kaca kembali saat mendapati penolakan tegas itu. “Aku nggak minta kamu minum demi performa atau medali, Marco. Aku cuma ingin kamu merasa lebih baik. Bahumu… aku nggak tahan lihat kamu menahan sakit seperti tadi.”Marco terdiam kaku. Guratan tatapannya mendadak sulit dibaca, memancarkan pergolakan batin yang begitu dalam. Pria itu menatap Zea lekat-lekat, seolah sedang membaca lembar-lembar pikiran tersembunyi di balik mata bening kekasihnya.Zea terdiam sejenak, meremas pelan piyama rumah sakitnya sebelum akhirnya membu
Mata Zea seketika berkaca-kaca melihat sosok Marco yang baru saja berjalan masuk. "Marco ..." panggil Zea lirih, suaranya parau dan pecah di udara. Tangis Zea yang sempat mereda kembali pecah. Kali ini, isaknya terdengar semakin memilukan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat, sementara bahunya bergetar menahan sesak di dada. “Marco ... maafin aku ....” Suara Zea tercekat di sela isakannya. “Aku terlambat sadar .... Kalau saja aku lebih peka dan menyadari niat busuk Vincent sejak awal, kamu nggak akan sampai terluka separah ini.” Marco tidak membiarkan rasa penyesalan itu makin menggerogoti Zea. Mengabaikan kondisi fisiknya sendiri, pria tegap itu berjalan cepat mendekati ranjang, lalu duduk di sisi brankar. Lengan kirinya yang sehat langsung merengkuh tubuh Zea, menarik gadis itu ke dalam dekapan hangat yang amat protektif. "Ssshh ... bukan salahmu, Sayang. Sama sekali bukan salahmu," bisik Marco rendah di dekat telinga Zea sambil menyalurkan ketenangan mutlak.
“Nghh … sakit …”Suara lenguhan lirih lolos dari bibir Zea saat kesadarannya perlahan pulih. Kelopak matanya terangkat sedikit, tetapi pandangannya masih kabur. Rasa nyeri di dadanya terasa begitu menusuk, seolah ada sesuatu yang tengah menghisap kuat dari dalam hingga membuatnya sulit menahan erangan.Zea mengerjap. Pandangannya menyapu langit-langit putih dan aroma antiseptik yang menusuk hidung. Ia baru sadar bahwa kedua payudaranya sudah terpasang corong pompa ASI portable. Baju yang dikenakannya juga sudah diganti menjadi piyama rumah sakit yang longgar.“Zea? Sayang … kamu sudah sadar?”Donna yang sejak tadi duduk setia di sisi ranjang dengan mata memerah dan penuh air mata, langsung berdiri cekatan. Wanita paruh baya itu mencondongkan tubuhnya, menatap penuh kehangatan dan keprihatinan mendalam.Zea mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Begitu ingatannya kembali utuh, namanya langsung terucap dengan panik.“Marco … Ma, Marco—”Ia mendadak ber
Zavian berhenti dan membeku di ambang pintu ruang VIP saat menatap Marco duduk di tepi ranjang periksa dengan tatapan hancur, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan. Di sebelahnya, Zea terisak dengan bahu berguncang, kedua tangannya mencengkram ujung seprai seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Belum sempat Zavian bersuara, Michael dan Moara melangkah masuk dengan aura dingin yang amat menekan. Melihat vonis di layar monitor USG, Moara langsung bertanya dengan suara bergetar dan menuntut kejelasan. “Edo … apa yang sebenarnya terjadi pada bahu putraku? Seberapa parah kondisinya?!” Dokter Edo menarik napas sejenak sebelum menjawab tanpa berputar-putar. "Cedera ini bukan cedera karena kelelahan latihan semata, Nyonya. Ini murni hasil sabotase teknis dari fisioterapis tim yang di sengaja." Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Zea mendengarnya sendiri. Di hadapan calon mertuanya dan semua orang yang hadir, ia mengetahui bahwa masa depan Marco
Dokter Edo terdiam cukup lama, menatap layar monitor USG dengan dahi berkerut rapat sebelum menatap Marco dan Zea bergantian. "Marco ... sudah berapa lama kamu merasakan ganjalan atau rasa kaku seperti ini?" tanya Dokter Edo dengan nada suara yang mendadak amat rendah. “Sejak kemarin pagi, Dok,” jawab Zea mewakili, suaranya bergetar. “Setidaknya, sejak saat itulah saya mulai sadar Marco mengeluhkan bahunya. Tapi dua hari lalu, setelah sesi latihan sore selesai, dia memang sempat menjalani sesi fisioterapi di klub.” Dokter Edo menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia menanggalkan sarung tangan medisnya, lalu menatap Zea dan Marco dengan binar mata sarat akan keprihatinan sekaligus amarah profesional. "Ini bukan kram biasa, dan bukan juga akibat kelelahan pasca latihan," pangkas Dokter Edo tegas. "Kerusakan mikro pada jaringan saraf dan otot ini ... murni terjadi karena ada kesengajaan dari oknum yang melakukan fisioterapi." Zea seketika tercekat kaku di tempatnya, men
Sedan hitam yang dikendarai Adrian melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Di kursi belakang, Zea duduk rapat di samping Marco, memeluk lengan tegap pria itu dengan kedua tangan yang bergetar. Tangannya tak berhenti mengusap perlahan pangkal lengan Marco, berusaha menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri diliputi kepanikan luar biasa. Marco menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata rapat-rapat dengan napas teratur. Rahang tegasnya mengeras, menahan rasa panas dan menusuk yang kian hebat di belikat kanannya. Dering ponsel di dalam tas Zea mendadak memecah keheningan mobil. Dengan jemari gemetar, Zea buru-buru mengambilnya dan melihat nama Moara Yozefa tertera di layar. "I-iya, Tante?" sapa Zea cepat, suaranya parau dan bergetar. "Zea! Bagaimana keadaan Marco sekarang, Sayang?" suara Moara di seberang telepon terdengar sangat cemas dan mendesak. "Adrian baru saja memberi tahu Tante kalau bahu Marco bermasalah sampai harus keluar dari latihan!" Ze







