Se connecterKeheningan seketika menyelimuti ruang VIP.Zea menahan napas. Baginya, Marco terlalu blak-blakan dalam menyinggung sesuatu yang begitu sensitif, terlebih ketika kakaknya sendiri berada tepat di hadapan mereka.Sementara, Zavian terdiam kaku. Perlahan, ia membuang muka, seolah enggan membiarkan siapapun melihat reaksinya setelah titik kelemahan terbesarnya tersentuh begitu telak.Sorot matanya menyiratkan guncangan batin yang hebat ketika ia baru tersadar sepenuhnya, bahwa Vincent telah memanfaatkan luka masa lalunya dan rasa hormatnya pada almarhum sang ayah hanya untuk dijadikan alat provokasi.Tanpa perlu menunggu jawaban Zavian, Marco menarik sudut bibirnya tipis. Reaksi sang pelatih sudah cukup untuk mengonfirmasi dugaan yang sejak awal ia simpan.“Ternyata tebakan saya benar,” gumamnya lirih.Melihat putranya terpukul, Donna buru-buru menyela sambil berusaha menetralisasi suasana. "Marco, kamu harus mengerti ... dari awal Vincent itu sudah dianggap Zavian seperti adiknya sendi
Keheningan seketika menyelimuti ruang VIP. Informasi yang disampaikan Zavian memicu riak terkejut di wajah semua orang yang hadir.Michael Yozefa memajukan langkahnya, melipat kedua tangan di dada dengan aura dingin yang amat menekan. "Bagaimana bisa pria itu melarikan diri begitu cepat, Zav?!"Zavian menggeleng pelan, rahangnya terkatup rapat. "Vincent pernah menjadi atlet lari di masa sekolahnya sebelum beralih mendalami ilmu fisioterapi, Om. Fisik dan kecepatannya jauh di atas rata-rata orang biasa."Michael mendengus kasar, menyunggingkan senyum remeh yang tak sampai ke mata. "Lihat saja berapa lama dia bisa bertahan untuk bersembunyi. Saya sudah memerintahkan tim untuk membekukan seluruh rekening bank atas namanya. Tanpa akses finansial, ruang geraknya tinggal menghitung hari."Dimas melangkah maju, mewakili sang pelatih untuk menyampaikan perkembangan taktis. "Saya dan Coach Zavian juga sudah berkoordinasi langsung dengan tim detektif dari kepolisian, Om. Pihak berwajib sudah
Marco menghembuskan napas panjang, meresapi kehangatan yang merambat di dalam dadanya. Suara beratnya terdengar pasrah namun jujur. "Jujur ... aku merasa fokusku kembali tajam, dan staminaku perlahan pulih," bisik Marco rendah. Namun, pandangan pria itu beralih ke gips kaku di bahu kanannya dengan raut pesimis. "Tapi kalau untuk menyembuhkan cedera otot dan saraf ini ... rasanya nggak mungkin secepat itu, Sayang." Zea terdiam, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Marco dengan perasaan yang masih dipenuhi keraguan. Ia menatap lekat pangkal lengan kekasihnya, lalu memberanikan diri berbisik pelan. "Marco ... coba kamu kedikkan bahu kananmu sedikit?" Marco mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Masih sakit sekali, Zea. Nggak mungkin bisa—” Refleks, Marco mencoba menggerakkan pangkal bahu kanannya untuk membuktikan ucapannya. Namun, belum sempat ia melanjutkan kalimat, gerakannya mendadak terhenti. Mata pria itu sedikit membelalak. Bahu kanannya, yang se
Napas Marco tertahan sejenak. Sorot matanya membeku, menatap lekat-lekat binar mata Zea yang dipenuhi kepasrahan nan keteguhan mutlak. Namun, alih-alih langsung menyambut tawaran itu, Marco perlahan menggelengkan kepalanya pelan."Nggak, Zea," tolak Marco rendah, suaranya mengalun berat. "Aku sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri. Aku nggak akan pernah lagi bergantung pada cairan tubuhmu hanya demi kepentingan fisikku."Zea mengerjap, matanya mulai berkaca-kaca kembali saat mendapati penolakan tegas itu. “Aku nggak minta kamu minum demi performa atau medali, Marco. Aku cuma ingin kamu merasa lebih baik. Bahumu… aku nggak tahan lihat kamu menahan sakit seperti tadi.”Marco terdiam kaku. Guratan tatapannya mendadak sulit dibaca, memancarkan pergolakan batin yang begitu dalam. Pria itu menatap Zea lekat-lekat, seolah sedang membaca lembar-lembar pikiran tersembunyi di balik mata bening kekasihnya.Zea terdiam sejenak, meremas pelan piyama rumah sakitnya sebelum akhirnya membu
Mata Zea seketika berkaca-kaca melihat sosok Marco yang baru saja berjalan masuk. "Marco ..." panggil Zea lirih, suaranya parau dan pecah di udara. Tangis Zea yang sempat mereda kembali pecah. Kali ini, isaknya terdengar semakin memilukan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat, sementara bahunya bergetar menahan sesak di dada. “Marco ... maafin aku ....” Suara Zea tercekat di sela isakannya. “Aku terlambat sadar .... Kalau saja aku lebih peka dan menyadari niat busuk Vincent sejak awal, kamu nggak akan sampai terluka separah ini.” Marco tidak membiarkan rasa penyesalan itu makin menggerogoti Zea. Mengabaikan kondisi fisiknya sendiri, pria tegap itu berjalan cepat mendekati ranjang, lalu duduk di sisi brankar. Lengan kirinya yang sehat langsung merengkuh tubuh Zea, menarik gadis itu ke dalam dekapan hangat yang amat protektif. "Ssshh ... bukan salahmu, Sayang. Sama sekali bukan salahmu," bisik Marco rendah di dekat telinga Zea sambil menyalurkan ketenangan mutlak.
“Nghh … sakit …”Suara lenguhan lirih lolos dari bibir Zea saat kesadarannya perlahan pulih. Kelopak matanya terangkat sedikit, tetapi pandangannya masih kabur. Rasa nyeri di dadanya terasa begitu menusuk, seolah ada sesuatu yang tengah menghisap kuat dari dalam hingga membuatnya sulit menahan erangan.Zea mengerjap. Pandangannya menyapu langit-langit putih dan aroma antiseptik yang menusuk hidung. Ia baru sadar bahwa kedua payudaranya sudah terpasang corong pompa ASI portable. Baju yang dikenakannya juga sudah diganti menjadi piyama rumah sakit yang longgar.“Zea? Sayang … kamu sudah sadar?”Donna yang sejak tadi duduk setia di sisi ranjang dengan mata memerah dan penuh air mata, langsung berdiri cekatan. Wanita paruh baya itu mencondongkan tubuhnya, menatap penuh kehangatan dan keprihatinan mendalam.Zea mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Begitu ingatannya kembali utuh, namanya langsung terucap dengan panik.“Marco … Ma, Marco—”Ia mendadak ber







