Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 312. Pertandingan Final Dimulai!

Share

312. Pertandingan Final Dimulai!

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-21 21:39:21

Suasana di sekitar lintasan dua mendadak hening kaku. Zavian menatap lengan kanan Marco yang baru saja mengayuh udara dengan sorot mata yang dipenuhi campur adur antara takjub, syok, dan keraguan yang masih tersisa.

​“Marco … kamu tidak sedang memaksakan diri, kan?” bisik Zavian parau, suaranya kini melunak drastis meski ketegangan masih membayang di dahinya. “Dokter Edo kemarin menyatakan ada manipulasi jaringan saraf yang sangat riskan—”

​“Penyumbatan sarafnya sudah mereda, Coach,” pangkas Ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   313. Pengepungan Vincent.

    Zea berdiri di belakang garis batas area pelatih, jemarinya saling mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari lintasan dua.Marco sudah menempuh lima puluh meter pertama dengan kayuhan yang tajam dan agresif. Bahu kanannya yang semalam masih terkunci kini bergerak bebas, memotong air dengan presisi tinggi. Setiap kali kepalanya muncul untuk mengambil napas, Zea merasakan dada seolah ikut berdenyut.Di sampingnya, Dimas, Rafi, dan Kenji berdiri tegang dan tidak ada yang bersuara. Hanya suara cipratan air dan sorak-sorai tribun yang memenuhi stadium.Zea tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke tribun tengah, tepat di sisi paling pinggir yang agak gelap. Ada satu sosok yang berdiri terlalu kaku di antara penonton yang sedang berteriak.Pria itu memakai topi bisbol hitam yang ditarik rendah, jaket tebal, dan kacamata hitam. Tubuhnya tidak ikut melonjak seperti penonton lain. Ia hanya mematung sambil menatap lintasan dua dengan intensitas yang terlalu dalam

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   312. Pertandingan Final Dimulai!

    Suasana di sekitar lintasan dua mendadak hening kaku. Zavian menatap lengan kanan Marco yang baru saja mengayuh udara dengan sorot mata yang dipenuhi campur adur antara takjub, syok, dan keraguan yang masih tersisa.​“Marco … kamu tidak sedang memaksakan diri, kan?” bisik Zavian parau, suaranya kini melunak drastis meski ketegangan masih membayang di dahinya. “Dokter Edo kemarin menyatakan ada manipulasi jaringan saraf yang sangat riskan—”​“Penyumbatan sarafnya sudah mereda, Coach,” pangkas Marco cepat namun tenang, menyela kekhawatiran sang kepala pelatih dengan intonasi mutlak. “Saya sudah mengujinya sejak subuh tadi. Gerakan saya tidak terkunci lagi.”​Dimas melangkah mendekat, mengamati bahu kanan rekan satu timnya itu dari dekat. Binar kebanggaan dan keheranan terpancar di matanya. “Kalau Marco sendiri yang bilang siap, saya percaya padanya, Coach. Lintasan dua tidak boleh kosong hari ini.”​“Tapi, Dimas—” Zavian menghela napas panjang, meremas jemarinya yang dingin.​Zea menyen

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   311. Kehadiran yang Mengguncang Tepi Kolam.

    ​Suasana di lorong khusus atlet stadium utama kejuaraan terasa sangat berisik dan menekan. Suara gema benturan air dari kolam pemanasan, derap langkah para perenang yang berlalu-lalang, hingga gaung instruksi para pelatih membentak udara pagi yang dingin.​Di depan area starting block lintasan dua, Zavian berdiri mematung dengan papan klip di tangannya. Lingkar hitam begitu tampak jelas di bawah matanya akibat tidak tidur semalaman mengurus laporan kepolisian dan pengawasan area rumahnya.​Di samping Zavian, Dimas, Rafi, dan Kenji berdiri membisu dalam balutan jaket tim. Raut wajah mereka bertiga begitu muram. Ketiadaan Marco Yozefa dalam lembar susunan atlet babak Final kejuaraan pagi ini seolah mencabut separuh semangat tim mereka.​"Coach ..." tegur Dimas rendah, suaranya parau. "Waktu check-in atlet untuk sesi perenang pembuka tinggal lima belas menit lagi. Apa kita benar-benar harus mengosongkan lintasan dua?"​Zavian mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya me

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   310. Keajaiban di Pagi Buta.

    ​“Ini ... nggak mungkin,” gumam Marco rendah, suaranya mengalun parau dan bergetar halus.​Marco membeku di tempat. Sorot matanya terbelalak kaku, menatap lurus ke arah lengan kanannya sendiri dengan ketidakpercayaan yang amat pekat.​Rasa panas menusuk yang kemarin seolah menarik paksa titik saraf belikatnya hingga terkunci total, kini mendadak lenyap!​Sebagai gantinya, yang tertinggal di pangkal bahunya hanyalah rasa pegal dan kaku ringan, persis seperti sensasi nyeri otot biasa pasca-latihan berat yang sama sekali tidak menghambat pergerakan.Marco mulai memutar sendi bahu kanannya secara perlahan, lalu meningkatkan kecepatan gerakannya sedikit demi sedikit. Ia mengangkat lengan itu dan menirukan gerakan kayuhan gaya bebas di udara, memperagakan teknik yang presisi dan bertenaga layaknya perenang profesional.Dan gerakan mulusnya mengayuh udara tanpa ada sedikitpun hambatan saraf yang terkunci!​Pria itu menatap telapak tangannya sendiri dengan napas yang tertahan di dada. Logika

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   309. Terapi Pemulihan Bahu. XXX

    Pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka. Lampu tidur pun sudah dinyalakan redup, menyisakan cahaya hangat yang hanya cukup untuk melihat siluet tubuh satu sama lain. Zea berdiri di depan ranjang dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena sisa kecemasan yang belum sepenuhnya hilang setelah pembicaraan serius di ruang tengah barusan. Marco pun berdiri di hadapannya dengan bahu kanan yang masih terpasang penyangga kaku. “Lepas bajumu,” bisik Marco rendah. Suaranya tenang, tapi ada nada perintah lembut yang membuat perut Zea berdesir. Zea menurut. Ia menarik kaos oversized-nya ke atas, lalu melepaskan bra. Kedua payudaranya tampak sudah mulai terasa penuh dan berat karena terpapar udara dingin di kamar. Putingnya sudah mengeras dan sedikit mengkilap karena tetesan ASI yang keluar. Marco menatapnya lama dengan mata perlahan menggelap. “Sekarang celanamu.” Zea menurunkan celana pendek dan celana dalamnya sekaligus. Kini tubuhnya sepenuhny

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   308. Rencana Marco Menjadi Umpan.

    Napas Zea seketika tercekat kaku di dada. Matanya membelalak lebar, memancarkan kepanikan dan rasa takut luar biasa yang mendadak meledak.​"Nggak! Nggak boleh, Marco!" jerit Zea dengan suara bergetar dan napas yang memburu. Tangannya refleks mencengkram kaos Marco erat-erat, seolah berusaha menahan pria itu agar tak pergi ke mana-mana.“Kamu sudah gila, ya?!” Zea menatap Marco dengan mata membelalak, suaranya bergetar menahan panik. “Dokter Edo sendiri sudah melarangmu bertanding karena kondisi bahumu! Bagaimana kalau cederamu makin parah?! Bagaimana kalau lenganmu cacat permanen?! Napas Zea memburu. Ia menggeleng keras, menatap Marco dengan kecemasan yang bercampur amarah. “Aku nggak akan membiarkan kamu masuk ke kolam renang besok, Marco. Apa pun alasannya, aku nggak akan pernah mengizinkanmu mempertaruhkan lenganmu sendiri!”​Protes dan ketakutan yang membombardir dari Zea mengudara tanpa henti, dipenuhi tangisan cemas yang siap pecah kapan saja.​"Dengarkan penjelasanku dulu, Ze

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status