Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 337. Perawatan Khusus untuk Zea.

Share

337. Perawatan Khusus untuk Zea.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-30 23:04:01

​“Oke, Ma. Aku setuju.”

​Zea seketika membelalak. Matanya menatap pria di sampingnya itu dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa Marco mengambil keputusan secepat itu tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu?

​“M-Marco …” Zea menyela terbata-bata, meremas jemarinya cemas. “Tapi bahumu kan masih dalam masa pemulihan. Belum lagi kita nggak bisa jamin media nggak bakal ikutin kita keluar dari gedung ini.”

​“Soal media, kamu nggak perlu khawatir, Sayang,” potong Marco tenang, suara baritonnya m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   341. Ayo, Zea. Habiskan Saja Uangku!

    “Apa …?” Mata Vincent seketika membelalak lebar. Tangannya yang memegang interkom membeku kaku di udara. “Sebagai pria yang menggantikan sosok ayah bagi Zea sejak kecil, saya punya tanggung jawab moral yang sangat besar,” lanjut Zavian tegas, menatap lurus mata Vincent yang mulai bergetar. “Waktu itu, fokus utama saya adalah memastikan Zea menyelesaikan pendidikannya dengan baik tanpa terganggu oleh urusan asmara yang belum waktunya.” “Dan Zea mematuhi arahan saya karena dia percaya pada saya sebagai kakaknya. Bukan karena dia memandang rendah dirimu, apalagi karena masalah materi.” Vincent terdiam. Rahangnya mengeras, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna. Segala tuduhan yang selama ini ia yakini, bahwa Zea adalah wanita matre dan Zavian adalah kakak yang rela menjual adiknya, runtuh berkeping-keping di tempat. Zavian memperhatikan raut wajah Vincent yang perlahan pucat pasi. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menyuarakan rasa iba yang amat dalam. “Lihat dir

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   340. Vincent & Prasangkanya.

    Vincent membeku setelah melihat foto Zea di layar ponsel Zavian. Rahangnya mengeras dan napasnya mulai memburu. Jemarinya mencengkram interkom erat-erat, menahan amarah dan frustasi yang kian sulit dikendalikan.“Kamu sengaja memamerkan foto itu untuk mempermalukan saya?!” bentak Vincent dengan suara parau. “Kamu bangga biarin adikmu dimanfaatkan keluarga konglomerat itu?!”“Kamu biarkan Zea bertekuk lutut pada pria kaya itu cuma demi mempertahankan posisi klub renangmu dan fasilitas mewah yang mereka tawarkan!”Zavian menatap Vincent dengan sorot mata dingin. Kali ini, ia tidak lagi terpancing oleh tuduhan pria itu. Sebaliknya, ia justru menjawab dengan tenang.​“Tuduhanmu itu … setengah benar, dan setengah salah, Vincent,” sahut Zavian santai, intonasinya mengalun datar tanpa ada riak emosi.Vincent langsung terkekeh sinis. Matanya yang memerah menatap Zavian penuh kemenangan. “Ternyata benar! Kamu sendiri mengakuinya—”“Keluarga Yozefa adalah tetangga lama

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   339. Vincent Dikasih Paham.

    ​"Bagaimana, Tuan Marco?" tanya manajer salon tersenyum puas. ​Marco tak menjawab sang manajer. Pria itu justru bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Zea hingga tak menyisakan jarak. ​Tangan kirinya terangkat, mengusap lembut pipi mulus Zea sebelum berbisik tepat di telinga wanita itu dengan suara bariton yang serak. "Cantik sekali ... sampai aku rasanya ingin membawamu pulang ke penthouse sekarang juga.” ​"Marcooo!" pekik Zea pelan dengan wajah memerah padam sambil mencubit pelan pinggang pria itu. Marco terkekeh pelan. Namun, sesaat kemudian, ia merogoh saku celananya dengan tangan kiri dan mengeluarkan ponsel. “Berdiri di sana sebentar, Sayang,” pintanya sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah Zea. “Aku mau foto penampilanmu sekarang.” “Foto?” Zea mengerjap heran. Ia merasa Marco jarang sekali berinisiatif memotretnya seperti ini. ​"Buat disimpan di memori khusus," balas Marco santai dengan alis terangkat tipis. Pipi Zea semakin merona. Dengan wajah salah tingkah,

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   338. Manjain Calon Istri.

    Begitu Marco dan Zea memasuki salon, manajer beserta sejumlah staf berpakaian hitam langsung berdiri menyambut mereka. Manajer salon yang berpenampilan elegan itu membungkuk hormat dengan senyum ramah. "Selamat datang di L'Élite Salon & Spa, Tuan Marco dan Nona Zea," sapanya. "Nyonya Moara sudah menghubungi kami secara khusus pagi tadi. Seluruh area VIP Suite di lantai atas telah kami persiapkan untuk kenyamanan Nona Zea hari ini." Seluruh staf di belakang manajer ikut membungkuk serempak. "Selamat datang, Tuan dan Nona." Zea langsung salah tingkah. Kedua pipinya merona karena belum terbiasa menerima sambutan formal seperti itu. Jemarinya refleks meremas ujung kemeja Marco, lalu sedikit bersembunyi di balik tubuh tegap sang kekasih. Marco hanya tersenyum tipis. Lengan kirinya merangkul pinggang Zea dengan santai. "Terima kasih. Tolong berikan perawatan terbaik untuk calon istri saya," ucapnya tenang. ​"Tentu saja, Tuan Marco. Mari, Nona Zea, kami antar menuju lantai privat," uj

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   337. Perawatan Khusus untuk Zea.

    ​“Oke, Ma. Aku setuju.”​Zea seketika membelalak. Matanya menatap pria di sampingnya itu dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa Marco mengambil keputusan secepat itu tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu?​“M-Marco …” Zea menyela terbata-bata, meremas jemarinya cemas. “Tapi bahumu kan masih dalam masa pemulihan. Belum lagi kita nggak bisa jamin media nggak bakal ikutin kita keluar dari gedung ini.”​“Soal media, kamu nggak perlu khawatir, Sayang,” potong Marco tenang, suara baritonnya mengayun mantap tanpa ragu. “Adrian sudah konfirmasi kalau suasana di luar sudah jauh lebih kondusif. Pengamanan internal kita juga bersiaga penuh.”Melihat keraguan di wajah Zea, Moara segera tersenyum menenangkan. Ia mengusap jemari Zea lembut dengan ibu jarinya.“Sudah, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir,” bujuk Moara lembut. “Sesekali keluar untuk mencari suasana baru juga bagus. Jangan terus-terusan menghabiskan waktu di penthouse. Kamu juga perlu bersantai dan menikmati waktu di luar.”Melih

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   336. Moara Suruh Zea-Marco Kencan.

    Beberapa hari kemudian, ruang tengah penthouse kembali digunakan untuk sesi pemeriksaan dan pemulihan bahu kanan Marco.Marco duduk di sofa tanpa mengenakan atasan, sementara seorang fisioterapis senior memeriksa pergerakan lengan kanannya di bawah pengawasan Dokter Edo. Setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati untuk menilai perkembangan pemulihan otot dan saraf di sekitar bahunya.Tak jauh dari sana, Zea berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. Rasa cemas dan gugup menggelayuti di dadanya setiap kali melihat pergerakan tangan ahli fisioterapi di area cedera kekasihnya.​Di sisi lain, Moara berdiri anggun dengan raut wajah yang tak kalah cemas, mengamati setiap detail pemeriksaan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.​Dokter Edo mengamati layar monitor portabel yang menampilkan grafik respons saraf bahu Marco, lalu berjalan mendekat.​“Apa yang kamu rasakan, Marco?” tanya Dokter Edo tenang.​Marco memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas pelan yang sediki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status