LOGINZavian yang duduk di samping Marco baru saja hendak memotong dan menertibkan wartawan ketika Marco secara mengejutkan mengangkat tangan kanannya ke udara.
Gerakan tenang namun sarat wibawa itu seketika mematikan riuh wartawan di ruangan.Marco menatap lurus jajaran kamera dengan sorot mata hitamnya yang tajam.“Kalau memang Ayahanda saya masih tidak setuju dengan karier saya sebagai perenang ... beliau tidak akan berada di sini hari ini sebagai penyumbang sponsor utama untuk klub“KEJUTAN!” seru Dimas, Rafi, dan Kenji serempak dari tengah ruang tunggu privat.Marco membeku kaku di ambang pintu ganda yang baru saja ia buka. Sorot mata hitamnya menatap penuh ketidakpercayaan pada tiga rekan satu timnya di klub renang yang berdiri menyambutnya di dalam ruangan.Pria itu sama sekali tak menyangka mereka akan datang ke tempat ini, mengingat ia sendiri belum sempat mengabari mereka secara langsung mengenai keputusannya mengundurkan diri dari dunia olahraga.Firasat naluriah Marco seketika bekerja. Pria berjas hitam itu perlahan memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Zea yang berdiri di sudut ruangan. Alisnya terangkat tipis.“Kamu yang undang anak-anak ke sini?” tanya Marco rendah.Zea yang matanya sudah berkaca-kaca mengangguk cepat. “Awalnya aku cuma chat Dimas buat kasih tahu konferensi pers kamu, Marco. Tapi Dimas malah langsung ngajak Rafi dan Kenji ke sini.”Dimas berjalan menghampiri Marco. Senyum tipis terukir di wajahnya saat ia menyodorkan sebuket bu
Zavian yang duduk di samping Marco baru saja hendak memotong dan menertibkan wartawan ketika Marco secara mengejutkan mengangkat tangan kanannya ke udara.Gerakan tenang namun sarat wibawa itu seketika mematikan riuh wartawan di ruangan.Marco menatap lurus jajaran kamera dengan sorot mata hitamnya yang tajam.“Kalau memang Ayahanda saya masih tidak setuju dengan karier saya sebagai perenang ... beliau tidak akan berada di sini hari ini sebagai penyumbang sponsor utama untuk klub Coach Zavian.”Jawaban dingin nan telak itu seketika membungkam seluruh wartawan.Marco menarik napas pelan sebelum menjawab pertanyaan mengenai tindakan hukum terhadap Vincent Ardana. Tatapannya tetap tenang, memancarkan kedewasaan sorot mata seorang perwira bisnis tanpa ada sisa dendam personal.“Mengenai tindakan hukum terhadap Saudara Vincent Ardana,” lanjut Marco tegas, suara baritonnya mengalun jernih memenuhi ballroom. “Saya menyerahkan sepenuhnya seluruh proses penanganan per
Di ruang tunggu privat, tepat di belakang panggung, Zea berdiri menatap layar monitor dengan jemari yang sesekali meremas kain gaunnya. Dadanya terasa hangat menyaksikan betapa berwibawanya Marco menguasai suasana panggung di konferensi pers.Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar pelan. Nama Dimas tertera di layar.Zea sebenarnya diam-diam sudah mengabari Dimas melalui pesan singkat beberapa menit sebelumnya. Ia memberi tahu bahwa konferensi pers Marco akan segera dimulai dan pria itu akan mengumumkan keputusan penting mengenai masa depannya sebagai atlet renang.Lalu wanita itu segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.“Zea! Kami sudah sampai di hotel,” terdengar suara Dimas dari seberang telepon. Nada bicaranya terdengar antusias. “Aku, Rafi, sama Kenji baru saja t
Siang itu, di ballroom hotel berbintang di pusat kota telah diubah menjadi venue konferensi pers yang dijaga ketat oleh tim keamanan. Puluhan awak media dari berbagai media nasional dan media olahraga papan atas telah memadati area tempat duduk. Kilatan kamera saling menyambar di depan panggung utama yang dihiasi latar belakang papan resmi klub renang dan lambang federasi olahraga. Di ruang tunggu VIP di belakang panggung utama, suasana terasa begitu tenang sekaligus mendebarkan. Marco berdiri tegap di depan cermin besar. Ia tampak sangat gagah dan berkarisma dalam balutan setelan jas resmi berwarna hitam, dipadu kemeja putih yang membungkus dada bidangnya. Bahu kanannya yang kini terbebas dari penyangga gips diposisikan tegap dan rileks. Di sampingnya, Adrian berdiri dengan sigap sambil memegang tablet berisi susunan acara. Ia siap memastikan setiap rangkaian kegiatan berlangsung sesuai jadwal dan berjalan lancar. Pintu ruang tunggu terbuka pelan. Zea melangkah masuk mem
Suasana meja makan mendadak hening setelah Marco menyampaikan keputusannya. Zavian membeku total di tempatnya. Sendok di tangannya terhenti di udara, sementara matanya membelalak lebar mencerna pernyataan yang terasa begitu mendadak dan menghantam logikanya. “Kamu serius, Marco?” tanyanya spontan. Donna yang duduk tak jauh dari sana ikut terdiam. Ia sempat terkejut mendengar Marco mengatakannya secara langsung, meski sebenarnya sudah menduga keputusan itu sejak awal. Pandangannya beralih kepada Zea, lalu kembali tertuju pada Marco. Perasaan haru sekaligus sedih tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan di dadanya. Zavian memajukan tubuhnya, menatap Marco dengan sorot mata tak percaya. “Kamu baru sekali ikut pertandingan kejuaraan resmi mewakili klub saya ... dan sekarang kamu mendadak bilang mau keluar begitu saja?!” Melihat seluruh pasang mata di meja makan tertuju kepadanya, Zavian buru-buru memperbaiki posisi duduknya. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, lalu melempar seringai
Ruang tengah penthouse siang itu dipenuhi ketegangan yang bercampur rasa penasaran. Dokter Edo beserta tim fisioterapisnya baru saja selesai melepaskan balutan penyangga gips di bahu kanan Marco. Pria itu menggerakkan jemari dan siku kanannya perlahan, menyerap sensasi leluasa yang sudah beberapa minggu ini tak dirasakannya. Michael, Moara, dan Zavian yang berdiri mengawasi proses tersebut dari dekat tak bisa menyembunyikan rasa terkejut di wajah mereka. “Pergerakan bahumu sudah jauh lebih fleksibel, Marco,” ujar Dokter Edo seraya memeriksa respons refleks otot bahu kanan sang atlet. Ia mengangguk-angguk heran, lalu melanjutkan instruksi medisnya dengan nada serius. “Gips ini sudah boleh dilepas. Tapi bukan berarti bahumu sudah pulih sepenuhnya. Untuk sementara, batasi rentang geraknya maksimal sampai 75 persen.” “Jangan memaksakan gerakan memutar atau mengangkat beban berat dulu. Kita lihat perkembangannya lagi saat evaluasi bulan depan.” “Paham, Dok,” jawab Marco tenang. Ia







