Share

37. Zavian Murka.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-18 23:56:02
Keheningan menyelimuti lounge. Marco menoleh perlahan dan tetap berdiri tanpa gentar.

Sementara Zea buru-buru mendorong Marco agar menjauh dan mengusap air matanya, dadanya masih naik-turun hebat.

Tatapan Zavian bergantian menyorot wajah adiknya yang sembab dan Marco yang masih berdiri di hadapannya.

“Kamu yang bikin adik saya nangis?” tanyanya dengan suara rendah.

Tanpa menunggu jawaban, Zavian melangkah cepat ke depan dan hendak mengayunkan tinjunya ke arah Marco.

Zea langsung bergerak c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   288. Ayo Minum!

    Vincent mengangkat kedua tangannya perlahan dengan senyum santai di wajahnya.​"Saya di sini hanya untuk periksa kebutuhan nutrisi harian untuk kalian semua,” kelit Vincent halus, mempertahankan nada suaranya setenang mungkin.​Dimas tidak terpengaruh sedikit pun. Ia melangkah satu tapak lebih maju, menatap lurus ke wajah sang fisioterapis dengan binar tajam dan mengintimidasi.​"Tapi cara kamu mendekati Zea membuat dia nggak nyaman sama kamu," tembak Dimas dingin dan lugas. "Kalau mau bicara padanya, kamu bisa bicara di jam istirahat. Bukan di jam segini.”Vincent terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan sambil berusaha menutupi keterkejutannya, lalu mengangguk pelan.​"Baik," sahut Vincent, lalu menoleh ke arah Zea dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Saya akan kembali ke ruang kerja saya sendiri, kalau Dimas memang memaksa."​Vincent menyunggingkan senyuman tipis, masih mempertahankan keramahan di bibirnya. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari mulutnya sengaja disuntikka

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   287. Intimidasi Vincent.

    Sekarang, kenapa Vincent malah ke lounge ini?! batin Zea menjerit panik. Zea langsung memaksakan senyumannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tangannya refleks memeluk tas jinjing khususnya sedikit lebih erat ke samping tubuhnya. "A–ah ... aku mau ke toilet," sahut Zea cepat, memoles suaranya sejernih mungkin. "Di loker lama ini kan ada kamar kecil. Jadi ya ... begitu." Vincent menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu hangat di wajahnya. Ia membetulkan posisi kacamatanya, lalu berjalan santai memasuki area meja bar tempat bahan-bahan nutrisi tersusun rapi. "Oh, begitu. Aku pikir kamu kenapa," tutur Vincent halus. “Aku ke sini cuma mau mengecek bahan-bahan dan komposisi nutrisi harian para atlet seperti biasa, Zea.” Pria itu masih mempertahankan senyuman yang tak sampai mata. “Sekalian ... mau ngobrol sebentar sama kamu. Kita kan jarang bicara sebagai rekan sesama tim.” Vincent menatap Zea lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Zea meneg

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   286. Situasi Genting!

    Dahi Zea semakin berkerut. Pandangannya kembali tertuju pada Marco, kali ini dengan kecemasan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. “Seharusnya kemarin dia sudah diperiksa sama Vincent, kan, Kak?” tanyanya lirih. Zavian mengangguk pelan. “Benar, kemarin sore sudah diperiksa Vincent. Tapi entahlah, Zea.” Ia mengerutkan kening, kembali mengamati Marco dari kejauhan. “Kakak sudah cukup hapal bagaimana gerakan Marco saat berenang. Tapi kali ini, ada yang nggak beres dengan bahunya.” Naluri Zea seketika menyengat tajam. Ada yang salah. Tanpa membuang waktu, Zea melangkah cepat menghampiri kekasihnya. "Marco!" Marco menoleh. Sembari menahan meringis tipis di wajahnya, pria itu mencoba menggoyang-goyangkan bahunya pelan untuk melakukan stretching. "Sayang? Kamu sudah sampai?" Zea menyipitkan mata, menatap lengan dan pangkal bahu Marco dengan raut cemas yang begitu kentara. "Bahumu … kenapa, Marco?" Marco berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, mencoba bersikap seolah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   285. Bahu Marco yang Bermasalah.

    Zea terhenyak mendengar penjelasan Dokter Nancy, sementara Donna sedikit menganga di tempatnya. Donna benar-benar tidak menyangka ada suplemen medis yang memiliki efek samping spesifik seperti itu. Dokter Nancy tersenyum ramah, berusaha menenangkan raut tegang ibu dan anak di hadapannya. "Suplemen jenis ini sebenarnya lebih baik dikonsumsi untuk wanita menyusui yang mengalami keluhan ASI tersumbat atau mampet.” “Untuk kondisi seperti itu, komposisinya memang sangat bagus. Tapi karena status Zea belum menikah dan ada kondisi kelainan hormon langka, saya sarankan kamu jangan meminum suplemen ini dulu ya, Zea." Zea tertegun, lalu mengangguk pelan. "I-iya, Dok ... saya mengerti." Donna ikut mengangguk lega sambil mengusap dada untuk meredakan kepanikannya. Setelah pemeriksaan singkat selesai, Zea dan Donna berjalan keluar dari ruang praktik Dokter Nancy. Namun, jantung Zea masih berdebar kencang. Pikiran gadis itu berputar cepat dan liar. Untuk apa Vincent memberikan suplemen i

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   284. Perkara Suplemen dari Vincent.

    Sinar matahari pagi baru saja menyapu pelataran rumah ketika Zea sibuk merapikan tas jinjingnya di dekat pintu utama. Ia pun masih harus menunggu kakaknya, Zavian, agar bisa berangkat bersama ke pusat pelatihan. Namun, suara deru mobil yang berhenti di halaman membuatnya menoleh ke pintu utama. Bukan mobil sport Marco, melainkan sedan hitam milik keluarga Yozefa yang dikendarai Adrian, asisten pribadi kekasihnya. Adrian turun dari mobil dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal dan kotak kecil berlabel medis di tangannya. "Selamat pagi, Nona Zea," sapa Adrian penuh kesopanan. "Saya diutus Tuan Marco untuk menyampaikan pesan penting ini." Dahi Zea berkerut heran. "Pagi, Adrian. Ada apa? Marco mana?" "Tuan Marco sedang berada di perjalanan menuju pusat pelatihan untuk persiapan sesi latihan pagi menjelang Final," terang Adrian, lalu menyodorkan amplop cokelat dan kotak tersebut. "Ini hasil laboratorium dari tes kandungan suplemen yang dijanjikan Tuan Marco waktu itu. Tuan

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   283. Bom Waktu Tersembunyi.

    Selena terpaku duduk di balik kaca sekat tebal dengan pandangan mata tajam yang menusuk pada Siska. Di telinganya, gagang telepon masih menempel rapat, dan ia terlihat mencerna informasi dari mantan pelayannya."Nggak mungkin," desis Selena, lalu tertawa remeh. Suaranya pelan tapi penuh ejekan. "Zea? Punya ASI? Jangan konyol, Siska!"Di seberang kaca, Siska menarik napas pelan. "Nona, dengarkan saya dulu—""Siska," potong Selena tajam dengan suara mulai meninggi. "Pokoknya berhenti menghibur saya dengan omong kosong kayak gitu. Saya nggak mau dengar lagi. Lebih baik kamu pulang saja sana!"Namun Siska sama sekali tidak beranjak. Ia tetap duduk tenang di kursinya dengan telepon masih menempel di telinga. Perlahan, ia merogoh ponsel dari tas kecil yang ia bawa, lalu jemarinya bergerak lincah mencari sesuatu di galeri fotonya."Siska, saya bilang kamu pergi sekarang juga atau—!"Ucapan Selena terhenti seketika saat Siska menempelkan layar ponselnya ke kaca sekat, tepat di depan wajahnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status