LOGINHantaman pertanyaan itu terasa begitu menyudutkan. Zea merasakan kepalanya makin berat. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Kata-kata seperti ‘mengincar popularitas’, ‘status sosial’, dan ‘perusak hubungan’ terus berputar di kepalanya. Setetes air mata menetes basah di wajahnya.BAM!Suara hantaman keras mengejutkan seluruh ruangan. Marco memukul meja podium dengan telapak tangannya.Ruangan seketika hening mencekam. Para wartawan tersentak kaget, beberapa bahkan refleks mundur. Zea yang terkejut ikut menoleh cepat ke arah Marco.Sorot mata Marco berubah dingin dan mematikan lurus ke arah kamera dan para wartawan di depannya. Rahangnya mengeras tajam, kilat amarah terpancar jelas dari matanya.“Kalian sedang butuh klarifikasi dari saya, atau mau menyudutkan kekasih saya?” tanya Marco dengan nada rendah yang amat berbahaya.Para wartawan bungkam. Mereka saling pandang dengan raut tidak suka, tetapi aura intimidasi Marco yang mendadak meledak membuat tidak ada satu pun dari mereka yan
Suara jepretan kamera makin kalap, berpacu cepat dengan kilatan lampu flash yang memantul di dinding venue press conference. Para wartawan langsung sibuk mencatat pernyataan Marco yang meluncur tanpa keraguan. Tidak ada elakan, dan tidak ada kebohongan yang ditutupi.Di tengah keriuhan itu, seorang wartawan di barisan depan berdiri, memegang miknya rapat-rapat dengan raut wajah penuh provokasi.“Tapi Marco! Pengakuan Anda sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Ayah Anda sendiri!” seru wartawan itu, melempar pertanyaan tajam dan menohok. “Sebulan lalu Michael Yozefa dengan tegas membantah foto yang beredar dan menyatakan bahwa foto tersebut palsu atau hasil direkayasa. Bagaimana Anda menjelaskan perbedaan drastis ini?”Marco tidak berkedip. Postur tubuhnya tetap tegak, kokoh layaknya tembok karang.“Saya di sini bukan untuk menyangkalnya lagi seperti yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Ayah saya sendiri, Michael Yozefa,” jawab Marco tenang, namun setiap s
Mobil melaju pelan menyusuri jalanan pagi yang mulai ramai. Di dalam kabin, hanya suara AC dan deru mesin yang mengisi keheningan. Zea duduk kaku di kursi belakang, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Sesekali ia melirik Marco di sampingnya, yang duduk tenang menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras namun tak menunjukkan tanda-tanda gugup sedikit pun. "Marco," panggil Zea pelan, memecah keheningan. "Kira-kira ... media bakal nanya apa aja, ya?" Marco menoleh. “Kemungkinan besar soal hubungan kita dan Selena.” Ia terdiam sejenak. “Mungkin juga soal Michael ... dan perusahaan keluarga.” Zea menelan ludah. "Kalau mereka nanya langsung ke aku, gimana?" "Biar aku yang bicara," jawab Marco tegas, tanpa keraguan. "Kamu cukup di sampingku." Zea mengangguk pelan, tapi kegugupannya belum sepenuhnya reda. Pikirannya terus berputar, membayangkan deretan kamera, suara wartawan yang saling bersahutan, dan sorot mata yang menghakimi seperti yang pernah ia alami di venue pertan
Zea terdiam sejenak setelah mendengar permintaan Marco. Ia menatap wajah pria itu yang tetap datar, tapi sorot matanya tegas dan tidak bergeser. "Kamu yakin, Marco?" tanyanya pelan. "Aku ... aku takut wartawan bakal cecar aku dengan pertanyaan yang menyudutkan. Aku belum siap ngadepin tatapan-tatapan kayak waktu itu lagi." Bayangan hari pertandingan kembali muncul di kepalanya. Bisikan-bisikan sinis, kamera yang mengarah padanya, dan tamparan Selena yang masih terasa panas di pipinya meski itu sudah lama berlalu. Marco mendekat dan memeluknya sejenak, tangannya mengusap punggung Zea perlahan. "Kamu benar," ucapnya tanpa berusaha menghibur dengan kebohongan. "Mereka mungkin akan tetap mencecar kamu. Tapi selama aku ada sama kamu, dan tim keamanan juga siap, kamu aman." Ia menarik napas sebentar. "Mama sama Tante Donna juga akan datang.” Zea mendongak kaget. "Tante Moara sama Mama ... datang?" Marco mengangguk. "Aku juga sudah bilang Mama kamu, kalo Kakakmu boleh datang." Ia terdi
Zea mengerjap. Untuk pertama kalinya, Marco mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu serius, tanpa sedikit pun terdengar seperti basa-basi. “Untuk apa?” tanya Zea pelan. “Karena kamu sudah percaya sama aku,” jawab Marco singkat. “Dan sudah kasih aku kesempatan lagi.” Zea merasakan sesak yang sejak sore memenuhi dadanya perlahan mereda. Kehangatan dari pelukan Marco membuat pikirannya yang sempat kacau sedikit lebih tenang. Tangannya meraih lengan Marco yang melingkar di pinggangnya. Ia mengusap punggung tangan pria itu perlahan dengan ujung jarinya. “Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang,” bisik Zea. “Setiap kali aku mulai kepikiran atau takut sama sesuatu, kamu selalu kasih aku alasan buat nggak khawatir.” Ia menggenggam tangan Marco lebih erat. Senyum wanita itu merekah di wajahnya. “Makasih, Marco.” Marco mencium bahu Zea lama dan lembut. “Aku lebih berterima kasih,” ucapnya rendah, “karena kamu hadir dalam hidupku, Zea.” Setelah itu pria itu tidak berkata apa
Di dalam kamar, Marco meletakkan Zea di atas ranjang dengan gerakan lembut namun tegas. Tanpa sekalipun keluar, ia mengatur posisinya menjadi di atas tubuh wanita itu, sambil membuka paha Zea lebih lebar. Lalu pria itu melanjutkan hentakan yang lebih dalam dan terkendali. “Sekarang lebih enak?” tanyanya sambil mengusap rambut Zea. Zea mengangguk sambil tersenyum lemah. “Iya … jauh lebih enak … uhm …” Tangan Marco memegang pinggang Zea untuk mengontrol gerakan. Setiap hentakan membuat payudara Zea bergoyang, dan cairan putih mulai menetes lagi, membasahi dada keduanya. Marco menunduk dan menghisap puting kiri yang basah, menelan cairan putih itu, lalu berganti ke sisi kanan. “Rasakan aku,” bisik Marco berat di sela hisapan. “Aku cinta kamu …” Zea memeluk lehernya dengan kaki melingkar di pinggang Marco. “Aku juga … ahhh … Marco …” “Cantik …” erang Marco setiap kali ia masuk lebih dalam sambil menghisap. “Indah sekali. Kamu basah … dan keluar terus.” “Gara-gara kamu …







