بيت / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 192. Keraguan dan Ketakutan Zea.

مشاركة

192. Keraguan dan Ketakutan Zea.

مؤلف: Amaleo
last update تاريخ النشر: 2026-09-13 22:53:29

Zea terdiam sejenak setelah mendengar permintaan Marco. Ia menatap wajah pria itu yang tetap datar, tapi sorot matanya tegas dan tidak bergeser.

"Kamu yakin, Marco?" tanyanya pelan. "Aku ... aku takut wartawan bakal cecar aku dengan pertanyaan yang menyudutkan. Aku belum siap ngadepin tatapan-tatapan kayak waktu itu lagi."

Bayangan hari pertandingan kembali muncul di kepalanya. Bisikan-bisikan sinis, kamera yang mengarah padanya, dan tamparan Selena yang masih terasa panas di pipinya meski it
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   192. Keraguan dan Ketakutan Zea.

    Zea terdiam sejenak setelah mendengar permintaan Marco. Ia menatap wajah pria itu yang tetap datar, tapi sorot matanya tegas dan tidak bergeser. "Kamu yakin, Marco?" tanyanya pelan. "Aku ... aku takut wartawan bakal cecar aku dengan pertanyaan yang menyudutkan. Aku belum siap ngadepin tatapan-tatapan kayak waktu itu lagi." Bayangan hari pertandingan kembali muncul di kepalanya. Bisikan-bisikan sinis, kamera yang mengarah padanya, dan tamparan Selena yang masih terasa panas di pipinya meski itu sudah berlalu. Marco mendekat dan memeluknya sejenak, tangannya mengusap punggung Zea perlahan. "Kamu benar," ucapnya tanpa berusaha menghibur dengan kebohongan. "Mereka mungkin akan tetap mencecar kamu. Tapi selama aku ada sama kamu, dan tim keamanan juga siap, kamu aman." Ia menarik napas sebentar. "Mama sama Tante Donna juga akan datang.” Zea mendongak kaget. "Tante Moara sama Mama ... datang?" Marco mengangguk. "Aku juga sudah bilang Mama kamu, kalo Kakakmu boleh datang." Ia terdiam s

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   191. Menjelang Konferensi Pers.

    Zea mengerjap. Untuk pertama kalinya, Marco mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu serius, tanpa sedikit pun terdengar seperti basa-basi. “Untuk apa?” tanya Zea pelan. “Karena kamu sudah percaya sama aku,” jawab Marco singkat. “Dan sudah kasih aku kesempatan lagi.” Zea merasakan sesak yang sejak sore memenuhi dadanya perlahan mereda. Kehangatan dari pelukan Marco membuat pikirannya yang sempat kacau sedikit lebih tenang. Tangannya meraih lengan Marco yang melingkar di pinggangnya. Ia mengusap punggung tangan pria itu perlahan dengan ujung jarinya. “Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang,” bisik Zea. “Setiap kali aku mulai kepikiran atau takut sama sesuatu, kamu selalu kasih aku alasan buat nggak khawatir.” Ia menggenggam tangan Marco lebih erat. Senyum wanita itu merekah di wajahnya. “Makasih, Marco.” Marco mencium bahu Zea lama dan lembut. “Aku lebih berterima kasih,” ucapnya rendah, “karena kamu hadir dalam hidupku, Zea.” Setelah itu pria itu tidak berkata apa

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   190. Pahatan Tubuh Marco yang Menggoda 😍

    Di dalam kamar, Marco meletakkan Zea di atas ranjang dengan gerakan lembut namun tegas. Tanpa sekalipun keluar, ia mengatur posisinya menjadi di atas tubuh wanita itu, sambil membuka paha Zea lebih lebar.Lalu pria itu melanjutkan hentakan yang lebih dalam dan terkendali.“Sekarang lebih enak?” tanyanya sambil mengusap rambut Zea.Zea mengangguk sambil tersenyum lemah. “Iya … jauh lebih enak … uhm …”Tangan Marco memegang pinggang Zea untuk mengontrol gerakan. Setiap hentakan membuat payudara Zea bergoyang, dan cairan putih mulai menetes lagi, membasahi dada keduanya. Marco menunduk dan menghisap puting kiri yang basah, menelan cairan putih itu, lalu berganti ke sisi kanan.“Rasakan aku,” bisik Marco berat di sela hisapan. “Aku cinta kamu …”Zea memeluk lehernya dengan kaki melingkar di pinggang Marco. “Aku juga … ahhh … Marco …”“Cantik …” erang Marco setiap kali ia masuk lebih dalam sambil menghisap. “Indah sekali. Kamu basah … dan keluar terus.”“Gara-gara kamu … ahhh … jangan ber

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   189. Ah… Aku Masih Pegal, Marco🌝

    Zea mengerjap pelan dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Wajahnya sedikit berkabut, bibirnya merah karena ciuman Marco tadi. “Badanku masih pegal, loh …” gumam Zea pelan, suaranya hampir seperti rengekan. “Sore tadi kamu kasar banget.” Marco menunduk, menatap Zea dari dekat, lalu tersenyum tipis. “Kali ini aku lebih lembut,” bisiknya serak. “Janji.” Zea terdiam sejenak. Tatapan Marco yang begitu intens membuatnya gugup. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara wajahnya memerah. Setelah ragu beberapa saat, akhirnya Zea mengangguk kecil. “O-oke ... tapi pelan-pelan.” Marco tidak menunggu lebih lama. Ia menarik tengkuk Zea dan menciumnya lagi, kali ini lebih panas. Lidahnya langsung masuk, dalam dan lapar. Zea mendesah disela ciuman. “Mmhh … Marco …” Ciuman mereka semakin dalam. Tangan Marco turun, menyusuri paha dalam Zea dan mengusap pelan di atas celana pendek yang ia kenakan. Zea menggeliat kecil ketika sentuhan tangan Marco membuat tubuhnya spontan menegang. “Ah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   188. Apartemen yang Tenang🥰

    Zea baru saja selesai memasak makanan sederhana ketika apartemen kembali diselimuti kesunyian. Donna dan Feby sudah pulang sekitar satu jam lalu, meninggalkan Zea sendirian dengan lampu dapur dan ruang tengah yang masih menyala. Ia duduk di meja makan, sendok masih berada di tangannya. Namun sejak tadi, makanan di hadapannya nyaris tak tersentuh. Pikirannya terus berputar pada Marco. Sejak pria itu pergi ke mansion, tak ada satu pun pesan atau telepon yang masuk. Padahal besok mereka harus menghadapi konferensi pers. Zea tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana dengan konferensi pers besok? Apa skandal ini justru akan semakin membesar setelah Marco akhirnya berbicara di depan publik? Apa Zavian akan tetap terkena dampaknya? Dan yang paling membuat pikirannya tak tenang, bagaimana keadaan Marco sekarang? Sejak tadi pria itu harus berhadapan dengan Selena. Zea tak tahu apa yang sedang terjadi di mansion, atau seberapa besar tekanan yang sedang dihadapi Marco

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   187. Kartu AS Marco.

    ​Selena tersentak hebat, napasnya tertahan. "Kamu gila, Marco?! Om Michael nggak akan pernah setuju! Papa aku pemegang kendali CEO Yozefa's Corporation, dan tanpa keluarga Yansen, perusahaan Papa kamu bisa—" ​"Papa kamu cuma orang yang dipekerjakan oleh keluargaku," potong Marco tenang, tetapi suaranya begitu berat hingga memotong seluruh keberanian Selena. "Dan Michael tidak bisa memaksa aku mempertahankan pertunangan yang memang dari awal tidak pernah aku inginkan." Aura intimidasi yang terpancar dari tubuh atletis Marco membuat Selena secara refleks mundur satu langkah, hampir tersandung ujung gaunnya sendiri. "Mama sudah mendukung keputusanku, Sel," ucap Marco datar. Selena menoleh cepat ke arah Moara yang berdiri agak jauh di belakang Marco. Ia menatap Moara dengan tatapan penuh permohonan yang terselip amarah, berharap wanita tua itu akan melunakkan sikap. Namun Moara tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap Selena dingin tanpa niat sedikit pun untuk membantu.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status