Beranda / Urban / Pejantan Tangguh / Bab 32 : Koki Dadakan

Share

Bab 32 : Koki Dadakan

Penulis: Mooncrest
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 20:29:51

“Mending sambil masak, Ra, aku ceritain. Dia udah kelamaan nunggu,” jawab Dewa.

Sarah meletakkan dulu tas yang dibawanya, baru kemudian melihat bahan apa saja yang sudah disiapkan Dewa.

“Ini ayamnya udah dicuci?” tanya Sarah sambil menunjuk wadah berisi ayam.

“Udah. Udah aku kasih perasan jeruk nipis dan garam juga,” jawab Dewa cepat.

Sarah hanya mengangguk. Dia segera mengambil wajan, kemudian mengisinya dengan minyak panas. Sambil menunggu minyak panas, Sarah mengupas bawang terlebih dahulu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pejantan Tangguh   Bab 32 : Koki Dadakan

    “Mending sambil masak, Ra, aku ceritain. Dia udah kelamaan nunggu,” jawab Dewa.Sarah meletakkan dulu tas yang dibawanya, baru kemudian melihat bahan apa saja yang sudah disiapkan Dewa.“Ini ayamnya udah dicuci?” tanya Sarah sambil menunjuk wadah berisi ayam.“Udah. Udah aku kasih perasan jeruk nipis dan garam juga,” jawab Dewa cepat.Sarah hanya mengangguk. Dia segera mengambil wajan, kemudian mengisinya dengan minyak panas. Sambil menunggu minyak panas, Sarah mengupas bawang terlebih dahulu.Setelah minyak panas, Sarah mengecilkan api kompor, baru kemudian menggoreng ayam yang sudah dicuci kembali. Suara mendesis terdengar saat Sarah memasukkan potongan ayam ke dalam wajan. Dewa langsung menjauh karena takut terkena cipratan minyak.“Jadi, gimana ceritanya sampai kamu yang diminta masak sama Bu Lidya?” tanya Sarah, melanjutkan pertanyaan yang tadi belum dijawab Dewa.“Pak Hendri lagi ada urusan bisnis ke London. Nah, kebetulan Bu Lidya pengen dimasakin suaminya. Karena Pak Hendri n

  • Pejantan Tangguh   Bab 31 : Mencari Bala Bantuan

    “Hah?” Dewa hanya terbengong-bengong mendengar nama makanan yang disebutkan Lidya. Dewa tahu makanan seperti apa itu. Namun, dia tidak tahu cara membuatnya. Pria itu hanya tahu cara memakannya saja.“Semua bahannya ada di kulkas. Jangan lama-lama, ya,” ujar Lidya dengan enteng, lalu meninggalkan Dewa begitu saja.“Kamu tahu makanan itu, Wa?” tanya Silvia.“Tahu. Tapi aku nggak tahu gimana cara buatnya,” jawab Dewa frustrasi.Keduanya kemudian duduk di kursi yang ada di dapur. Dewa segera mencari cara membuat masakan yang diinginkan Lidya melalui kanal YouTube. Dia mengetuk salah satu akun untuk melihat proses pembuatannya.“Ini kayaknya gampang,” ujar Silvia.“Gampang kalau lihat doang. Tapi, bikinnya belum tentu bisa.”“Kita ikuti caranya step by step, gimana?” usul Silvia.Dewa mengangguk tanda menyetujui usulan Silvia. Pria itu menuju kulkas, lalu mengeluarkan ayam yang sudah dipotong-potong, kangkung, dan jagung manis. Sementara itu, di meja dapur sudah tersedia bumbu untuk membu

  • Pejantan Tangguh   Bab 30 : Akhirnya Datang Juga

    “Julian nawarin kamu lokasi penelitian? Jangan bilang kalau itu di PT Nirmala?” tanya Dewa.“Iya, kok kamu tahu?” tanya Sarah terkejut.“Apa dia minta kamu buatin sistem inventaris?” Mata Dewa memicing saat menanyakan itu. Sarah itu pintar. Meski tidak sekelas, Dewa tahu bahwa temannya itu termasuk salah satu mahasiswi cerdas di angkatannya.“Kok tahu lagi? Kamu tuh udah kayak dukun aja,” jawab Sarah sambil tertawa.Dewa hanya tersenyum sinis. Rupanya kali ini Julian memanfaatkan Sarah demi menyelamatkan posisinya. Dewa menjadi heran, kenapa pria itu tidak kompeten sama sekali? Berbanding terbalik dengan citranya di kampus selama ini.Banyak yang mengatakan bahwa Julian adalah salah satu mahasiswa yang cerdas di angkatannya. Bahkan, IPK-nya di atas 3,5. Sebuah prestasi yang cukup bagus. Dewa mulai curiga, jangan-jangan semua itu didapat dengan cara memanfaatkan teman-temannya juga.“Kenapa, Wa?” tanya Sarah yang melihat Dewa tampak termenung.“Nggak apa-apa. Kamu harus hati-hati aja

  • Pejantan Tangguh   Bab 29 : Balasan Dewa

    Cukup lama Eliza terdiam di dalam kamar. Dia masih kesal karena Dewa justru membelikan daster untuknya. Namun, karena tidak punya pilihan, wanita itu mau tidak mau mengenakannya juga.Begitu keluar dari kamar, Eliza melihat senyum di wajah Dewa. Dia tahu betul arti senyuman di wajah pria itu. Dengan wajah masam, Eliza mendekatinya.“Kak, kok pake daster?” tanya Bumi sambil menahan tawanya. Penampilan Eliza berubah drastis. Dari wanita modis dengan dandanan cetar bak artis, sekarang dia berubah menjadi wanita rumahan.“Tanya sama kakak kamu!” gerutu Eliza sambil melipat kedua tangannya.“Abang tega banget. Masa Kak Eliza dibelikan daster sih? Emang nggak ada yang bagusan gitu?” tanya Bumi sambil tertawa.“Ada, tapi kebanyakan baju ibu hamil. Emangnya dia mau?” jawab Dewa santai.Nela hanya tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya. Sepertinya Dewa senang sekali mengerjai Eliza. Wanita itu hanya menganggap wajar apa yang dilakukan Dewa tanpa tahu apa yang menyebabkan Dewa melakukan i

  • Pejantan Tangguh   Bab 28 : Pembalasan yang Manis

    Dewa langsung menoleh saat mendengar suara seperti orang terjatuh. Pandangannya tertuju pada Eliza yang sedang terduduk di sawah. Pakaian yang dikenakannya kotor oleh lumpur. Begitu juga dengan beberapa bagian tubuhnya.“Hahaha!” Dewa tak bisa menahan tawa melihat keadaan Eliza.Wanita yang selalu terlihat modis, sekarang justru dipenuhi lumpur. Tawa Dewa yang keras sampai menarik perhatian Ridwan dan Bumi. Kedua pria itu langsung mendekati Dewa.Sama seperti Dewa, mereka juga tak bisa menahan tawanya begitu melihat Eliza yang masih terduduk di sawah yang baru selesai dibajak.Mang Karna bergegas mendekati Eliza, kemudian membantunya berdiri. Karena sandalnya licin, Eliza kembali kehilangan keseimbangan. Dia kembali terjatuh dan kali ini Mang Karna ikut jatuh bersamanya. Tubuh Mang Karna menindih Eliza.Sekarang, bukan hanya tubuhnya, tetapi rambut Eliza juga sudah kotor oleh lumpur.“M-Maaf, Neng,” ujar Mang Karna sambil buru-buru bangun. Saat terjatuh, tangannya tanpa sengaja mendar

  • Pejantan Tangguh   Bab 27 : Apes

    “Emangnya kenapa?” tanya Eliza polos.Dewa hanya menggeleng. Entah Eliza ini polos atau bodoh, sepertinya batasannya sangat tipis. Pria itu kemudian mencari sandal yang bisa digunakan Eliza. Tak lama kemudian dia kembali sambil menenteng sandal jepit.“Kamu pakai ini aja,” ujar Dewa sambil meletakkan sandal di dekat Eliza.“Gue harus pakai ini?” tanya Eliza terkejut. Sandal yang dibawa Dewa sudah seperti sandal kutukan. Sandal putih itu sudah ditutupi titik-titik hitam. “Gue nggak mau. Ieuw … jelek banget sandalnya,” jawab Eliza sambil menendang sandal tersebut.“Kalau nggak mau, nyeker aja,” jawab Dewa santai sambil meninggalkan Eliza.“Dewa, tunggu!” Melihat Dewa sudah meninggalkannya, mau tidak mau, Eliza melepas high heelsnya, lalu mengenakan sandal tersebut.Eliza menyusul Dewa sambil berlari. Dia langsung memeluk lengan pria itu.“Nggak usah pegang-pegang. Ini di desa, nggak pantas kalau dilihat orang,” ujar Dewa sambil melepaskan pelukan Eliza.Jawaban Dewa membuat Eliza kesal.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status