Beranda / Urban / Kebangkitan Dewa / Bab 42 : Proyek Besar

Share

Bab 42 : Proyek Besar

Penulis: Mooncrest
last update Tanggal publikasi: 2026-10-30 16:19:40

Jayadi sangat tertarik saat Dewa mempresentasikan hasil pekerjaannya. Terlihat sekali bahwa pria itu memang menguasai bidang yang ditekuninya. Dewa mampu menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya. Penjelasan yang diberikan pun tidak berbelit-belit dan mudah dicerna.

Dewa memperlihatkan desain fitur yang diminta Jayadi sambil menerangkan fungsi fitur tersebut dan keunggulan masing-masing fitur tersebut.

Di akhir presentasi, Jayadi dan direksi lainnya terkejut saat mengetahui bahwa D
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kebangkitan Dewa   Bab 50 : Berburu Talenta

    “Kamu menawariku pekerjaan?” tanya Enzo tidak percaya.“Iya. Tapi aku belum bisa memberimu gaji besar nantinya karena baru merintis juga.”“Nggak apa-apa, Wa. Aku ngerti kok. Kamu mau kasih aku pekerjaan, aku udah bersyukur. Seenggaknya, aku nggak harus jadi pengangguran setelah lulus nanti. Zaman sekarang, cari kerjaan modal pintar aja nggak cukup. Harus punya koneksi juga,” jawab Enzo panjang lebar.Dewa mengangguk pelan. Sebenarnya, sudah lama dia ingin mengajak Enzo bergabung dengannya. Namun, dia masih menunggu waktu yang tepat.“Ehm … kamu masih butuh orang, nggak, Wa?” tanya Enzo hati-hati.“Masih. Emangnya kenapa? Kamu ada rekomendasi?”“Ada, namanya Naira. Dia kakak tingkat kita. Dia sudah lulus dua tahun lalu. Tapi, karena bermasalah dengan Pak Bisma, dia jadi sulit mendapatkan pekerjaan.”“Pak Bisma?” tanya Dewa. Pria itu mulai tertarik begitu Enzo menyebut nama Bisma. “Memangnya apa yang terjadi?”“Pak Bisma pernah melecehkan Naira. Dia sempat melaporkan ke pihak kampus. T

  • Kebangkitan Dewa   Bab 49 : Tawaran Untuk Enzo

    Kesibukan Dewa semakin bertambah sejak mengikuti malam pertemuan yang diselenggarakan Winaya Sekuritas. Selain harus menyiapkan proposal untuk mengikuti kompetisi, pria itu juga harus menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan dosennya.Ditambah lagi, Dewa sedang menyusun tugas akhir. Dia tidak punya waktu berleha-leha. Dia hanya fokus menyelesaikan semua tugas yang menumpuk.Hari ini, dia mengajak anggota kelompoknya mengerjakan tugas di apartemennya. Selain agar dirinya tidak perlu bepergian, dia juga ingin menunjukkan bahwa dirinya yang sekarang bukanlah sosok yang dulu kerap mereka hina.Danti dibuat kagum begitu memasuki unit apartemen Dewa yang cukup luas dan dipenuhi barang-barang bermerek. Dua temannya yang lain juga dibuat kagum. Mereka tidak menyangka Dewa tinggal di apartemen semewah ini.Padahal, dulu Dewa hanyalah mahasiswa miskin yang harus melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itulah yang sering membuat Dewa menjadi bahan hinaa

  • Kebangkitan Dewa   Bab 48 : Ada Udang Di Balik Batu

    Sarah tampak terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Julian akan menanyakan hal seperti itu kepadanya.“Kenapa diam?” tanya Julian lagi. Pria itu terus mendesak Sarah agar mau menjawab pertanyaannya.“Dewa itu pintar. Dia bisa mempelajari materi dalam waktu singkat. Kemampuanku masih di bawahnya,” jawab Sarah merendah.“Aku justru berpikir sebaliknya. Kamu juga hebat, Sarah. Kamu juga mendapat program beasiswa seperti Dewa. Itu membuktikan kalau kamu nggak kalah darinya.”“Aku hanya mendapat beasiswa lima puluh persen dari keseluruhan biaya kuliah. Tapi Dewa mendapat beasiswa penuh. Itu yang membuat perbedaanku dengannya,” jawab Sarah lagi.Jawaban Sarah bukan karena dia merendah, tetapi wanita itu memang mengakui bahwa kepintaran dan kemampuan Dewa berada di atasnya.“Apa kamu tahu berapa hadiah yang didapat dari kompetisi ini?” tanya Julian berusaha mengalihkan pembicaraan.“Nggak tahu. Memangnya berapa?” tanya Sarah penasaran. Winaya Sekuritas adalah sebuah perusahaan besar. Pa

  • Kebangkitan Dewa   Bab 47 : Kompetisi

    Julian muncul dan berdiri tepat di samping Sarah. Pria itu melemparkan senyum tipis kepada Dewa.“Kenapa aku selalu menemuimu di mana-mana? Apa kamu sengaja mengikutiku?” tanya Julian dengan nada sombongnya.“Mengikutimu? Aku hanya mengikuti orang yang pantas dijadikan role model. Apa kamu pantas menjadi role model-ku?” balas Dewa dengan nada mengejek.Wajah Julian menunjukkan sedikit kekesalan. Namun, sebisa mungkin pria itu tidak terpancing emosi. Dia memeluk pinggang Sarah.Sering menghabiskan waktu bersama wanita itu, ditambah dengan penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang menyenangkan, perlahan membuat sebuah rasa sudah tumbuh di hati Julian.Sarah terlihat tidak nyaman dengan pelukan Julian di pinggangnya. Wanita itu berusaha melepaskan diri, tetapi pelukan Julian cukup erat.Ada perasaan tak suka menjalari hati Dewa saat melihat pemandangan di depannya. Pria itu memilih berbalik lalu meninggalkan pasangan tersebut. Dia menuju meja kosong dan duduk di sana.Sarah terus

  • Kebangkitan Dewa   Bab 46 : Malam Penuh Kejutan

    “Lo buat gue jatuh cinta sama lo, makanya gue benci elo. Kenapa gue bisa jatuh cinta sama elo? “ tanya Eliza sambil menusuk-nusuk dada Dewa dengan telunjuknya. “Gue tahu elo ganteng, tapi lo tuh miskin. Dan gue tuh paling anti sama orang miskin. Kenapa? Karena orang miskin kerjanya cuma minta-minta doang. Minta dikasihani.”Dewa hanya menatap Eliza yang masih mengeluarkan isi hatinya. Wanita itu masih berada di pangkuan Dewa. Tangannya juga masih berada di leher pria itu.“Maafin gue ya, Wa. Sumpah, gue nggak ada maksud ngehina elo. Itu cuma pola pertahanan diri yang gue bangun biar nggak makin jatuh cinta sama elo. Tapi nyatanya ….”Eliza mengembuskan napas kasar. Selama tidak bertemu Dewa, wanita itu berusaha mati-matian menahan rasa rindunya kepada Dewa. Berulang kali dia mencoba menghubungi Dewa, tetapi ditahannya.Sikap kasar Dewa saat liburan tempo hari nyatanya tidak bisa menyurutkan perasaan Eliza kepada Dewa. Wanita itu masih berharap bisa menjalin hubungan dengan Dewa.“Lo m

  • Kebangkitan Dewa   Bab 45 : Pengakuan Eliza

    Sesampainya di area parkir, keduanya menggunakan mobil masing-masing ke tempat tujuan. Eliza meminta Dewa mengikuti mobilnya.Dewa terus mengikuti mobil Eliza yang melaju di depannya. Pria itu sama sekali tidak memiliki gambaran ke mana Eliza akan mengajaknya.Setelah cukup lama tertahan di lampu merah, Dewa akhirnya melanjutkan perjalanan. Dia melihat mobil Eliza berbelok memasuki area parkir gedung VELVET CROWN, sebuah gedung yang menyediakan berbagai fasilitas hiburan, seperti karaoke, pub, diskotek, biliar, dan restoran.Setelah memarkir kendaraannya, Dewa segera mengikuti Eliza memasuki gedung tersebut. Ini adalah pertama kalinya Dewa menginjakkan kaki di pusat hiburan khusus kalangan menengah ke atas.Eliza berjalan menuju area karaoke dan langsung mendekati meja resepsionis. Seorang supervisor yang bertugas langsung melayani Eliza karenawanita itu adalah salah satu pelanggan karaoke ini.Setelah memesan ruangan, seorang runner mengantarkan Eliza ke ruangan yang sudah dipesan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status