Share

Pekerjaan Tidak Senonoh
Pekerjaan Tidak Senonoh
Penulis: Ungu

Bab 1

Penulis: Ungu
Aku menunduk menatap payudaraku yang bengkak dan sakit. Baju menyusui berwarna putih yang kukenakan sudah basah kuyup di dua sisi.

Sudah tiga bulan berlalu sejak aku melahirkan bayiku. Tubuhku ini seakan berubah menjadi pabrik ASI yang tidak terkendali.

Dua gumpalan payudaraku yang penuh ini bak balon yang diisi air, yang sewaktu-waktu merembes keluar. Terkadang saat aku keluar rumah, pakaianku sampai berubah menjadi semi-transparan karena basah, sehingga membuatku terlihat seperti wanita yang tidak benar.

Tentu saja, masalah utamanya adalah rasa sakitnya.

"Faisal, bisakah kamu membantuku? Sekali ini saja," ucapku sambil menggigit bibir, memanggil suamiku yang hendak melangkah keluar rumah.

Faisal menoleh dan melirikku sekilas. Tatapannya tertuju pada dadaku kurang dari satu detik, sebelum akhirnya memalingkan muka dengan rasa muak. "Lagi? Nggak bisakah kamu menyelesaikannya sendiri?"

"Tapi, pompa ASI itu benar-benar sakit …." Suaraku terdengar makin mengecil.

"Wina, kamu menyuruhku mencicipi sesuatu yang amis begitu, apa kamu nggak merasa itu bikin muntah?" Faisal membanting pintu tanpa menoleh lagi.

Aku terduduk lemas di samping tempat tidur bayi. Hatiku terasa sangat pedih.

Bayiku sedang tidur nyenyak setelah kenyang menyusu, sementara aku justru tidak bisa menegakkan punggung karena rasa sakit akibat payudara yang membengkak.

Jariku menekan lembut payudaraku yang membesar, rasanya sekeras dua bongkah batu. Sedikit tekanan saja sudah cukup membuatku mendesis kesakitan sambil menarik napas panjang.

Di saat aku merasa tidak berdaya, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di ponselku, iklan lowongan kerja mendesak untuk mencari seorang ibu menyusui.

Satu juta sekali datang? Itu lebih tinggi dari gajiku selama tiga hari saat bekerja sebagai staf administrasi.

Yang lebih penting lagi, kelebihan air susu yang menyiksaku ini akhirnya memiliki tempat tujuan.

Tanpa berpikir panjang, aku segera menghubungi nomor telepon tersebut.

Suara di ujung telepon terdengar dalam dan lembut. Dia mengatakan jika ada bayi prematur di rumahnya yang membutuhkan nutrisi tambahan.

Saat membuat janji untuk wawancara sore harinya, telapak tanganku dipenuhi keringat.

"Bu, aku pergi dulu untuk melamar pekerjaan."

Aku merapikan kerah baju di depan cermin. Kemeja sifon berwarna ungu muda ini dibeli sebelum aku menikah. Sekarang, baju itu terasa sangat ketat di bagian dadaku yang penuh, sampai-sampai kancing ketiga tidak bisa dikaitkan sama sekali.

Ibu mertuaku yang sedang menggendong si kecil mengerutkan kening. "Pekerjaan apa yang mengharuskanmu pergi sekarang? Bagaimana kalau bayinya lapar?"

"Aku akan kembali dalam dua jam. Kalau berhasil, sebulan bisa dapat tambahan beberapa juta."

Saat aku sampai di sebuah kawasan vila mewah di sisi barat kota sesuai arahan navigasi, pakaian dalamku sudah basah kuyup.

Cermin di lift memantulkan rona merah di pipiku dan dua titik yang menonjol jelas di dada. Aku pun bergegas menutupi dadaku dengan tas.

Pria yang membukakan pintu membuat napasku sejenak tertahan.

Pria itu mengenakan setelan kasual. Kacamata bingkai emas bertengger di wajahnya yang bergaris tegas. Dari penampilannya, dia terlihat seperti berusia sekitar 30 tahun dan tercium aroma kayu cendana yang samar dari tubuhnya.

"Nyonya Wina?" Tatapannya menyapu tubuhku dengan cepat. "Aku Rivaldi Gumelar.."

Lagu dari piano yang menenangkan mengalun di ruang tamu. Sementara, di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan seluruh kota.

Aku duduk dengan kaku di atas sofa kulit, merasakan bagian ujung payudaraku mulai membengkak dan kembali sakit, menonjol makin jelas di balik pakaianku yang tipis.

Benar-benar memalukan.

"Di mana bayinya?" Aku berusaha keras agar suaraku tidak bergetar.

Saat Rivaldi menyodorkan segelas teh hangat, ujung jarinya seolah-olah menyentuh punggung tanganku dengan sengaja, tetapi halus.

"Ada di kamar, sedang ditenangkan oleh pengasuh." Tatapan Rivaldi jatuh ke dadaku, terasa begitu intens seakan memiliki wujud fisik. "Kudengar produksi ASI-mu sangat melimpah?"

"Iya, setiap hari ada kelebihan sekitar 800 mililiter," jawabku sambil menunduk, melihat noda basah yang mulai menyebar di bagian depan bajuku. Dengan canggung, aku pun merapatkan kedua kakiku.

Tiba-tiba saja, Rivaldi mendekat ke arahku. Aku langsung mencium aroma parfum yang harum dari kerah bajunya.

"Bagian ini …." Jemari Rivaldi yang panjang menunjuk ke arah dadaku. Ujung jarinya nyaris menyentuh dua titik basah di sana. "Sepertinya ini sangat menyiksamu."

Di tempat yang ditunjuk Rivaldi, warna merah muda dari ujung payudaraku sudah mulai membayang di balik kain yang basah kuyup. Saat kehangatan tubuh Rivaldi mendekat, tanpa bisa ditahan lagi, pancaran air susu kembali menyemprot keluar hingga membasahi tangan Rivaldi.

Wajahku terasa panas membara.

Tubuhku yang menjadi sangat sensitif selama masa menyusui ini ternyata memberikan reaksi yang memalukan hanya karena tindakan itu.

Diam-diam, aku menyesuaikan posisi dudukku. Aku merasakan bagian di antara kedua kakiku sudah mulai sedikit lembap ….
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 9

    "Sa, sampel gratis …." Aku berdiri dengan panik. "Aku mau cek dulu apa si kecil sudah bangun."Titik balik itu terjadi pada suatu sore di penghujung musim hujan.Aku baru saja selesai menyusui si kecil ketika tiba-tiba Lita mendorong pintu kamar bayi hingga terbuka.Hari ini, dia tidak mengenakan setelan merek terkenal yang biasa dipakainya, melainkan pakaian serba hitam. Wajah Lita pucat, dengan lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya."Bu, Bu Lita …." Tanpa sadar, aku merapatkan kerah bajuku, menutupi bekas ciuman yang ditinggalkan Rivaldi pagi tadi.Lita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya melemparkan segepok foto ke hadapanku.Foto yang paling atas memperlihatkan aku sedang duduk mengangkang di pangkuan Rivaldi dengan kemeja setengah terbuka, sementara bibirnya menempel di dadaku.Pinggiran kereta bayi terlihat di foto itu. Itu adalah kereta bayi biru milik si kecil."Sungguh ironis." Suara Lita terdengar sedingin es. "Kamu menyusui anaknya di satu sisi, tapi di sisi

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 8

    "Sebentar saja." Suara Rivaldi menyiratkan nada memohon yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Biarkan aku memelukmu. Melihatmu merawat si kecil belakangan ini, aku …."Kata-katanya menghilang di udara, digantikan oleh embusan napasnya yang terkubur di ceruk leherku.Alarm moralitasku seharusnya berdering kencang. Namun, tubuhku mengkhianati akalsehat dan bersandar dengan patuh di pelukannya.Dagu Rivaldi bertumpu di bahuku dan tatapan matanya tanpa bisa dihindari jatuh pada dadaku yang tampak penuh karena sedang dalam masa menyusui.Rasa malu membuatku memejamkan mata, mencoba menghalangi pandangannya meski sia-sia."Jangan malu." Bibir Rivaldi menyentuh tepi telingaku, memicu sensasi getaran yang menjalar ke seluruh tubuh. "Ini adalah keindahan seorang ibu, sesuatu yang harus dihargai, bukan disembunyikan."Saat dia mengulum cuping telingaku dengan lembut, seluruh niat untuk melawan seketika sirna tanpa sisa.Perasaan diinginkan dan dihargai itu terasa begitu indah, hingga membuatk

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 7

    Selama beberapa hari berikutnya, aku menyediakan ASI untuk Rivaldi sesuai kesepakatan. Perlahan-lahan, aku pun mulai terbiasa dengan ritme kehidupan di rumahnya.Setiap pagi, aku datang tepat waktu ke rumah mewah ini. Pertama-tama, aku menyusui bayi mungil yang masih dalam bedongan itu, kemudian menggunakan pompa ASI untuk memerah sisa susunya.Awalnya, Rivaldi hanya memintaku menyimpan ASI perah tersebut di dalam lemari es. Namun, entah sejak kapan, dia mulai meminum langsung ASI yang baru saja kuperah, yang masih sehangat suhu tubuh itu."Suhunya pas," komentar Rivaldi singkat setiap kali, lalu meminumnya hingga tandas.Lambat laun, aku menyadari jika pengusaha sukses yang tampak dingin dan acuh tak acuh ini sebenarnya adalah orang yang sangat memegang teguh kata-katanya.Rivaldi pernah berjanji tidak akan mencuri pandang saat aku sedang menyusui. Dia benar-benar selalu membalikkan badannya setiap saat. Rivaldi mengatakan akan menghormati ruang pribadiku dan dia memang tidak pernah m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 6

    Di luar dugaan, Rivaldi tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas seperti kemarin. Sebaliknya, dia berdiri di depanku dan membungkuk dalam-dalam."Bu Wina, kejadian kemarin adalah kesalahanku," ucap Rivaldi dengan nada suara yang tulus dan penuh penyesalan. "Aku dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu."Aku terpaku di tengah ruang tamu, merasa serba salah dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.Namun, Rivaldi dengan tenang mempersilakan aku duduk dan mengatakan jika dia ingin bicara baik-baik denganku.Sosoknya hari ini benar-benar tampak seperti orang yang berbeda dibanding kemarin.Sepasang mata yang biasanya selalu tertuju nakal ke arah dadaku, kini menatap wajahku dengan sopan. Setiap gerak-geriknya menunjukkan sikap seorang pria yang sangat berkelas.Entah mengapa, melihatnya meminta maaf dengan begitu tulus, justru ada secercah rasa kehilangan yang aneh, yang menyelinap di hatiku.Sambil menuangkan secangkir teh untukku, Rivaldi melanjutkan, "Sebenarnya, ada alasan menga

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 5

    Sesampainya di rumah, aku menyusui anakku terlebih dahulu, baru kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Jarang-jarang aku bisa keluar rumah hari ini. Namun, rasanya tubuhku begitu lengket dan tidak nyaman, sehingga aku mandi jauh lebih lama dari biasanya.Begitu membuka pintu kamar tidur, pemandangan yang menyambutku adalah posisi tidur suamiku yang telentang sembarangan. Perutnya yang buncit kembang kempis mengikuti irama napasnya, suara mendengkur yang menggelegar dan bahkan sesekali dia mengeluarkan suara-suara yang kurang sopan.Aku terpaku sejenak di ambang pintu dan tiba-tiba merasa hilang akal. Benarkah pria ini yang dulu pernah membuat jantungku berdebar kencang?Pikiranku tanpa sadar melayang kembali ke kejadian di rumah Rivaldi sore tadi.Kemejanya yang rapi tanpa celah, garis otot tubuhnya yang proporsional, serta godaannya yang berani dan tidak tahu malu …. Pipiku pun mulai kembali terasa panas."Wina!" Aku menepuk pipiku keras-keras. "Kamu sudah gila?"Aku m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 4

    "Hentikan, aku mohon …." Rintihanku berubah menjadi erangan yang manis dan manja.Saat Rivaldi perlahan menarik tali braku dengan giginya, aliran panas langsung menyembur ke pangkal paha, membuat sekujur tubuhku gemetar dan pandanganku berkunang-kunang.Rivaldi menatap puas ke arahku yang tengah hilang kendali. "Ini baru saja dimulai, Bu Wina."Aku memejamkan mata rapat-rapat. Bulu mataku bergetar bagaikan sayap kupu-kupu di tengah embusan angin.Jauh di dalam lubuk hatiku, sebuah suara terus-menerus meratap penuh sesal, 'Suamiku, maafkan aku, aku benar-benar nggak bermaksud seperti ini ….'Akan tetapi, tubuh ini mengkhianati akal sehat. Tiap inci kulitku seolah bersorak kegirangan.Rasa kesemutan yang hebat menjalar naik dari tulang belakang, seperti aliran listrik yang menderu di dalam pembuluh darah, membuatku tak henti-hentinya gemetar."Jangan tegang, Bu Wina." Suara Rivaldi terdengar berat dan dalam seperti selo. Napas hangatnya berembus di atas kulitku yang sensitif. "Aku cuma i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status