Share

Bab 2

Penulis: Ungu
Suamiku berpenampilan biasa saja, kecerdasan emosionalnya rendah dan yang paling utama, dia juga kurang bertenaga dalam urusan ranjang.

Di usiaku yang sedang membara ini, aku selalu merasa haus akan hubungan intim, sehingga aku sering kali tersiksa oleh rasa sepi dan kehampaan.

Kini, berhadapan dengan pria sukses yang begitu sopan dan menawan, serta pandai menggoda saraf wanita, aku menjadi benar-benar sulit untuk menolaknya.

Bahkan, di dalam benakku, aku tidak bisa berhenti berfantasi, ditindih olehnya dengan penuh tenaga dan diberikan kenikmatan yang luar biasa ….

Tepat di saat pikiranku sedang melantur ke mana-mana, terdengar suara tangisan lemah dari kamar bayi.

"Silakan ikut aku." Rivaldi membawaku masuk ke kamar bayi.

Pengasuh bayi yang sedang menggendong anak yang sedang menangis itu, tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikanku dengan tatapan curiga.

Setelah Rivaldi memperkenalkan diriku, aku pun memasang senyum lembut dan mengulurkan tangan. "Bibi, biar aku mencobanya."

Ajaibnya, bayi kecil itu langsung tenang begitu berpindah ke pelukanku.

Hidung kecilnya tampak kembang kempis. Dia mengendus aroma susu seperti seekor anak hewan kecil yang sedang mencari jalan menuju dadaku.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil. Akan tetapi, saat menengadah, aku langsung beradu pandang dengan tatapan Rivaldi yang dalam, yang membuat pipiku seketika terasa panas membara.

"Kalian lanjutkan saja," ucap Rivaldi penuh perhatian sambil menutup pintu kamar. Suara langkah kakinya pun perlahan menjauh.

Aku duduk di kursi goyang. Jemariku sedikit gemetar saat membuka kancing kemejaku.

Meski sudah tiga bulan menjadi seorang ibu, ini pertama kalinya aku membiarkan dadaku terbuka di rumah orang asing.

Bayi itu dengan tidak sabar langsung melahap putingku. Kekuatan isapannya membuatku tanpa sadar mendesis pelan, "Ssh …."

Saat ASI mulai mengalir deras, semacam rasa kepuasan yang aneh menjalar ke seluruh tubuhku.

Melihat si kecil dalam pelukanku menelan dengan rakus, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, sisa ASI yang berlebih itu bukan lagi menjadi sumber penderitaanku, melainkan menjadi sebuah hadiah yang berharga.

Kamar itu sangat sunyi, hanya terdengar suara tegukan sang bayi dan napasku yang perlahan mulai teratur.

Rasa bengkak dan nyeri itu berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh rasa nyaman yang membuatku merasa mengantuk.

Tepat di saat aku hampir memejamkan mata, tiba-tiba ada sensasi aneh yang menjalar di tengkukku, seolah-olah ada seseorang yang sedang "menjilat" punggungku dengan tatapannya.

Aku langsung menoleh dengan cepat. Pintu kamar masih tertutup rapat, tetapi bayangan di bawah celah pintu tampak sedikit lebih pekat daripada sebelumnya.

Tepat di saat aku mulai merasa curiga, bayi itu bersendawa dan cairan putih susu mengalir di dagu kecilnya.

Aku bergegas mengusapnya dengan ujung jari, tetapi tanpa sengaja jemariku menyentuh tulang selangkanganku sendiri. Sentuhan dingin itu membuatku sedikit bergidik.

"Tidurlah, Nak."

Aku menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut, memperhatikan kepalan tangan kecilnya yang perlahan-lahan mulai melemas.

Rasa puas setelah menyusui membuat suaraku pun berubah menjadi begitu lembut.

Saat membaringkannya kembali ke dalam boks bayi, aku memperhatikan jika anak ini jauh lebih kurus dan kecil dibandingkan bayi seusianya. Pergelangan tangannya begitu mungil seolah-olah akan patah hanya dengan sekali sentuh saja.

Setelah merapikan pakaian, aku memeriksa diriku di depan cermin.

Masih ada sedikit noda susu di kerah kemejaku, tetapi ini sudah jauh lebih baik dibanding penampilan berantakanku tadi pagi.

Wanita di dalam cermin itu memiliki rona merah penuh kepuasan di sudut matanya. Bibirnya juga tampak lebih merah merekah dari biasanya, suatu reaksi ajaib yang muncul setelah menyusui.

"Bu Wina?" Suara Rivaldi terdengar dari balik pintu. Suaranya kini terdengar sedikit lebih serak dibanding sebelumnya.

Aku membuka pintu dan mendapati Rivaldi berdiri satu langkah dari ambang pintu. Jarak yang terkesan sopan, tetapi cukup dekat untuk membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Dia sudah tidur dengan nyenyak," ucapku sekadar mencari bahan pembicaraan, sekaligus untuk meredakan ketegangan di dalam haiku.

Rivaldi kemudian menambahkan kontak WhatsApp-ku dan mengirimkan transferan. "Ini pembayaran untuk hari ini."

Satu juta, ini jauh lebih lancar dari yang kubayangkan.

Membayangkan jika setiap hari aku bisa mendapatkan penghasilan seperti ini, hatiku langsung merasa sangat senang. "Terima kasih, Pak Rivaldi. Besok aku akan datang tepat waktu."

"Panggil saja aku Rivaldi," ucap Rivaldi sambil tersenyum, hingga muncul kerutan halus di sudut matanya. "Kamu benar-benar sudah sangat membantu."

Saat berjalan ke arah pintu dan menunduk untuk memakai sandal, tiba-tiba aku menyadari jika ada sebuah bayangan yang menyelimutiku.

Entah sejak kapan, Rivaldi sudah berdiri begitu dekat. Begitu dekatnya, hingga saat aku berdiri, keningku hampir saja menyerempet dagunya.

Aku mundur dengan panik. Akan tetapi, Rivaldi buru-buru menahan pinggang belakangku.

Sensasi geli menyergapku bak aliran listrik, disertai rasa gatal yang halus, yang membuat pipiku seketika merona merah.

"Hati-hati." Telapak tangan Rivaldi terasa panas membara.

Posisi ini membuatku hampir menempel sepenuhnya di dadanya.

Hanya terhalang kemeja tipis, aku bisa merasakan dengan jelas detak jantung Rivaldi yang berpacu kencang.

Yang lebih membuatku malu dan salah tingkah adalah, bagian luar pahaku sepertinya menyentuh sesuatu yang keras.

Aku mencoba menghindar layaknya tersengat listrik. Akan tetapi, Rivaldi justru memanfaatkan kesempatan itu untuk merangkul pinggangku.

"Pak Rivaldi!" Aku berseru kaget. Refleks, telapak tanganku menahan dadanya, tetapi yang kurasakan justru ototnya yang kokoh.

Embusan napasnya menyentuh telingaku. "Bayinya sudah kenyang, tapi aku sendiri belum mencicipinya."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 9

    "Sa, sampel gratis …." Aku berdiri dengan panik. "Aku mau cek dulu apa si kecil sudah bangun."Titik balik itu terjadi pada suatu sore di penghujung musim hujan.Aku baru saja selesai menyusui si kecil ketika tiba-tiba Lita mendorong pintu kamar bayi hingga terbuka.Hari ini, dia tidak mengenakan setelan merek terkenal yang biasa dipakainya, melainkan pakaian serba hitam. Wajah Lita pucat, dengan lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya."Bu, Bu Lita …." Tanpa sadar, aku merapatkan kerah bajuku, menutupi bekas ciuman yang ditinggalkan Rivaldi pagi tadi.Lita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya melemparkan segepok foto ke hadapanku.Foto yang paling atas memperlihatkan aku sedang duduk mengangkang di pangkuan Rivaldi dengan kemeja setengah terbuka, sementara bibirnya menempel di dadaku.Pinggiran kereta bayi terlihat di foto itu. Itu adalah kereta bayi biru milik si kecil."Sungguh ironis." Suara Lita terdengar sedingin es. "Kamu menyusui anaknya di satu sisi, tapi di sisi

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 8

    "Sebentar saja." Suara Rivaldi menyiratkan nada memohon yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Biarkan aku memelukmu. Melihatmu merawat si kecil belakangan ini, aku …."Kata-katanya menghilang di udara, digantikan oleh embusan napasnya yang terkubur di ceruk leherku.Alarm moralitasku seharusnya berdering kencang. Namun, tubuhku mengkhianati akalsehat dan bersandar dengan patuh di pelukannya.Dagu Rivaldi bertumpu di bahuku dan tatapan matanya tanpa bisa dihindari jatuh pada dadaku yang tampak penuh karena sedang dalam masa menyusui.Rasa malu membuatku memejamkan mata, mencoba menghalangi pandangannya meski sia-sia."Jangan malu." Bibir Rivaldi menyentuh tepi telingaku, memicu sensasi getaran yang menjalar ke seluruh tubuh. "Ini adalah keindahan seorang ibu, sesuatu yang harus dihargai, bukan disembunyikan."Saat dia mengulum cuping telingaku dengan lembut, seluruh niat untuk melawan seketika sirna tanpa sisa.Perasaan diinginkan dan dihargai itu terasa begitu indah, hingga membuatk

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 7

    Selama beberapa hari berikutnya, aku menyediakan ASI untuk Rivaldi sesuai kesepakatan. Perlahan-lahan, aku pun mulai terbiasa dengan ritme kehidupan di rumahnya.Setiap pagi, aku datang tepat waktu ke rumah mewah ini. Pertama-tama, aku menyusui bayi mungil yang masih dalam bedongan itu, kemudian menggunakan pompa ASI untuk memerah sisa susunya.Awalnya, Rivaldi hanya memintaku menyimpan ASI perah tersebut di dalam lemari es. Namun, entah sejak kapan, dia mulai meminum langsung ASI yang baru saja kuperah, yang masih sehangat suhu tubuh itu."Suhunya pas," komentar Rivaldi singkat setiap kali, lalu meminumnya hingga tandas.Lambat laun, aku menyadari jika pengusaha sukses yang tampak dingin dan acuh tak acuh ini sebenarnya adalah orang yang sangat memegang teguh kata-katanya.Rivaldi pernah berjanji tidak akan mencuri pandang saat aku sedang menyusui. Dia benar-benar selalu membalikkan badannya setiap saat. Rivaldi mengatakan akan menghormati ruang pribadiku dan dia memang tidak pernah m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 6

    Di luar dugaan, Rivaldi tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas seperti kemarin. Sebaliknya, dia berdiri di depanku dan membungkuk dalam-dalam."Bu Wina, kejadian kemarin adalah kesalahanku," ucap Rivaldi dengan nada suara yang tulus dan penuh penyesalan. "Aku dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu."Aku terpaku di tengah ruang tamu, merasa serba salah dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.Namun, Rivaldi dengan tenang mempersilakan aku duduk dan mengatakan jika dia ingin bicara baik-baik denganku.Sosoknya hari ini benar-benar tampak seperti orang yang berbeda dibanding kemarin.Sepasang mata yang biasanya selalu tertuju nakal ke arah dadaku, kini menatap wajahku dengan sopan. Setiap gerak-geriknya menunjukkan sikap seorang pria yang sangat berkelas.Entah mengapa, melihatnya meminta maaf dengan begitu tulus, justru ada secercah rasa kehilangan yang aneh, yang menyelinap di hatiku.Sambil menuangkan secangkir teh untukku, Rivaldi melanjutkan, "Sebenarnya, ada alasan menga

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 5

    Sesampainya di rumah, aku menyusui anakku terlebih dahulu, baru kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Jarang-jarang aku bisa keluar rumah hari ini. Namun, rasanya tubuhku begitu lengket dan tidak nyaman, sehingga aku mandi jauh lebih lama dari biasanya.Begitu membuka pintu kamar tidur, pemandangan yang menyambutku adalah posisi tidur suamiku yang telentang sembarangan. Perutnya yang buncit kembang kempis mengikuti irama napasnya, suara mendengkur yang menggelegar dan bahkan sesekali dia mengeluarkan suara-suara yang kurang sopan.Aku terpaku sejenak di ambang pintu dan tiba-tiba merasa hilang akal. Benarkah pria ini yang dulu pernah membuat jantungku berdebar kencang?Pikiranku tanpa sadar melayang kembali ke kejadian di rumah Rivaldi sore tadi.Kemejanya yang rapi tanpa celah, garis otot tubuhnya yang proporsional, serta godaannya yang berani dan tidak tahu malu …. Pipiku pun mulai kembali terasa panas."Wina!" Aku menepuk pipiku keras-keras. "Kamu sudah gila?"Aku m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 4

    "Hentikan, aku mohon …." Rintihanku berubah menjadi erangan yang manis dan manja.Saat Rivaldi perlahan menarik tali braku dengan giginya, aliran panas langsung menyembur ke pangkal paha, membuat sekujur tubuhku gemetar dan pandanganku berkunang-kunang.Rivaldi menatap puas ke arahku yang tengah hilang kendali. "Ini baru saja dimulai, Bu Wina."Aku memejamkan mata rapat-rapat. Bulu mataku bergetar bagaikan sayap kupu-kupu di tengah embusan angin.Jauh di dalam lubuk hatiku, sebuah suara terus-menerus meratap penuh sesal, 'Suamiku, maafkan aku, aku benar-benar nggak bermaksud seperti ini ….'Akan tetapi, tubuh ini mengkhianati akal sehat. Tiap inci kulitku seolah bersorak kegirangan.Rasa kesemutan yang hebat menjalar naik dari tulang belakang, seperti aliran listrik yang menderu di dalam pembuluh darah, membuatku tak henti-hentinya gemetar."Jangan tegang, Bu Wina." Suara Rivaldi terdengar berat dan dalam seperti selo. Napas hangatnya berembus di atas kulitku yang sensitif. "Aku cuma i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status