MasukGuys, aku minta maaf ya kalau sepuluh hari ke depan mungkin aku up nya gak rutin. Tapi aku usahakan up terus. Aku takutnya di luar sinyal agak kurang bersahabat. Happy holiday ya :)
Hari ini, bertahun-tahun kemudian, tangan yang sama masih mengusap puncak kepala itu dengan penuh sayang.Puncak kepala anaknya. Dan selamanya akan tetap begitu. Walaupun kertas hasil tes DNA menyatakan bahwa Elvio 99% tidak memiliki kecocokan dengan Arvendra.Kertas itu tidak tahu bagaimana Elvio belajar berjalan sambil memegang jari Arvendra. Tidak tahu malam-malam panjang saat demam, muntah, dan tangisan kecil yang hanya reda saat digendong. Tidak tahu suara ‘Papa’ yang pertama kali keluar dari mulut anak itu, dan bagaimana dada Arvendra hampir pecah karena haru.Kertas itu bisa benar secara ilmiah. Namun, kertas itu tidak hidup di rumah yang sama dengan mereka.Lalu apa hak selembar kertas berkata Elvio bukan anaknya, setelah semua luka, semua ketakutan, semua cinta yang mereka lewati bersama?Namun kenyataan tidak pernah peduli pada ikatan.Hari ini, darah yang tidak sama itu kembali menampar Arvendra tanpa ampun. Hari ini, Elvio membutuhkan transfusi. Hari ini, tubuh kecil itu m
Enam tahun yang lalu.“Mas, kita berpisah saja.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ivelle. Tidak didahului pertengkaran. Tidak juga emosi meledak. Hanya suara datar yang terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya menghancurkan.Padahal beberapa jam sebelumnya, wanita itu baru saja melahirkan anak pertamanya bersama Arvendra.Arvendra yang masih menggendong bayi mungil di dadanya refleks terdiam. Bayi itu hangat, beratnya pas di lengan, napasnya teratur. Anak laki-laki dengan mata abu-abu yang belum benar-benar terbuka, rambut cokelat terang yang masih basah oleh sisa kelahiran.Elvio Dirgantara Pradipta. Nama yang Arvendra ucapkan dengan dada penuh beberapa jam lalu.Perlahan, Arvendra menurunkan Elvio ke boks bayi. Tangannya gemetar, bukan karena bayi itu, tapi karena kata-kata yang baru saja dia dengar. Dia mendekat ke ranjang, berjongkok agar sejajar dengan wajah istrinya.“Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?” suara Arvendra terdengar lembut, berusaha stabil. “Nggak baik ng
“Dokter, tolong!” suara Ivelle pecah saat dia setengah berlari ke nurse station di ujung koridor ruang rawat inap anak. “Anak saya mimisan.”Walaupun sudah diminta pulang oleh Dian kemarin, Ivelle tetap datang pagi ini. Bukan keras kepala, melainkan karena melihat Elvio adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Perawat yang berjaga langsung berdiri. “Di kamar berapa, Bu?”“VIP anak, kamar tiga,” jawab Ivelle cepat, napasnya berantakan.Beberapa detik kemudian, dokter jaga menyusul masuk ke kamar Elvio. Tirai ditarik. Monitor masih berbunyi stabil, tapi darah segar terlihat di tisu yang ditekan Anindya ke hidung bocah itu. Elvio masih setengah tertidur, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.“Tenang dulu,” kata dokter sambil mengenakan sarung tangan. Dia memeriksa hidung Elvio, lalu menekan perlahan pangkalnya. “Mimisan ringan. Tapi pada kondisi Elvio, ini konsisten dengan trombosit yang terus menurun.”“Turun lagi, Dok?” tanya Arvendra cepat.Dokter mengangguk.
Refleks, Anindya menghampiri. “Bunda. San,” sapanya lembut pada Dian dan Sankara.Gadis itu mencium tangan Dian. Calon ibu mertuanya itu membalas dengan mengecup pipi Anindya, meski raut wajahnya jelas menyimpan cemas.“Elvio bagaimana?” tanya Dian langsung, suaranya tertahan tapi jelas cemas.“Positif demam berdarah, Bun,” jawab Anindya jujur. “Masih observasi. Kita lihat ke atas aja, yuk.”Dian mengangguk cepat. Namun ketika mereka hendak berjalan, Anindya menoleh ke belakang, dan mendapati Ivelle masih berdiri agak jauh, ragu melangkah.Tatapan Dian mengikuti arah pandang Anindya. Sekejap, wajah calon ibu mertua itu berubah.“Kamu sedang apa di sini?” tanya Dian dingin saat Ivelle akhirnya mendekat.Anindya sempat mengernyit. Nada itu asing di telinganya. Dian yang dia kenal biasanya selalu lembut bahkan saat marah.Ivelle menelan ludah. “Bun, aku–”Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dian mundur setengah langkah. Tangannya terangkat, menepis saat Ivelle refleks hendak meraih.“
Setelah dokter pergi, keheningan benar-benar menekan ruangan itu. Lima belas menit berlalu, tapi tidak satu pun dari mereka bergerak atau bersuara.Dari sofa kecil di sudut kamar, Anindya memperhatikan diam-diam.Arvendra duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu di paha, kedua tangannya saling mengait kuat. Tatapannya kosong, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak bisa dihitung: kemungkinan, andai, seandainya.Di sisi lain, Ivelle tak berhenti menangis. Tangannya berkali-kali mengusap punggung tangan Elvio yang terbaring pucat, seolah sentuhan itu bisa menarik panas dan bahaya keluar dari tubuh kecil itu.Ternyata begini rasanya menjadi orang tua. Panik yang tidak tahu harus diarahkan ke mana. Takut yang tidak bisa dititipkan pada siapa pun.Apalagi ketika penyakit itu bukan sekadar flu atau demam biasa, tapi sesuatu yang bisa merenggut nyawa seorang anak dengan tiba-tiba.Kalau bisa ditukar, Anindya ingin menukar tubuhnya saja. Biarlah dia yang ter
Anindya bangkit perlahan dari kursinya. Dia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Hanya berdiri. Cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk tidak mengambil alih. Menjadi saksi, bukan pusat.Arvendra membeku di tempat. Wajahnya berubah, bukan marah, bukan pula iba. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk langsung bereaksi.“Apa yang kamu lakukan, Ive?” tanya Arvendra rendah.Ivelle menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku egois. Aku tahu Elvio lagi nggak enak badan, tapi aku maksa ajak dia keluar. Aku cuma mikirin diri aku sendiri.”Wanita itu menunduk. Bahunya bergetar hebat. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama Elvio, aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri.”Hening menyelimuti ruangan.Suara monitor terdengar pelan, stabil. Elvio masih tertidur, napasnya teratur. Anindya melirik bocah itu sekilas untuk memastikan, lalu kembali menatap Ivelle. Kali ini, bukan dengan kewaspadaan. Ada empati di sana. Tidak lunak, tapi jujur.Arvendra menghela napas panjan







