Share

Bab 154: Manipulatif

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 00:30:33
“Cuma ngobrol biasa, Mas,” kilah Anindya. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena dia tahu tidak semua hal perlu diseret ke medan yang lebih besar. Dia tidak ingin hubungan orang tua Elvio retak hanya karena satu permintaan yang lahir dari ketakutan.

“Kalau ada omongan dia yang bikin kamu tersinggung, bilang,” ucap Arvendra tegas. “Biar saya yang tegur dia.”

Anindya tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Mas, aku itu bukan anak kecil yang kalau ada masalah harus selalu dilindungi.”

Arvendra mengernyit tipis.

“Aku bisa kok hadapi Mbak Ive,” lanjut Anindya pelan. “Aku tahu dia bukan orang jahat. Dia cuma ibu yang takut kehilangan tempatnya. Dan jujur aja, Mas kalau aku di posisi dia, mungkin aku juga bakal ngerasa begitu.”

Arvendra menatap Anindya lama. Ada sesuatu di sorot matanya, antara lega dan tersentak. Seolah baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya tidak sekadar kuat, tapi juga jujur pada empatinya sendiri.

“Dia mungkin ngerasa aku datang sebagai pengganti,” sambung Anindya lir
Duvessa

Seberapa gereget kalian sama Ivelle?

| 9
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Bety Yatmikasari
mulai deh ulat keket.... keep strong anin... percaya diapakah arven dgn kejadian ini ?
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
Ivelle msh ga rela bgt sih ngelepas Arven...padahal udh jelas2 arven pilih anin Akal licik apalg yg dipakai buat ngajatuhin anin
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 156: Rela Tersesat

    “Mas, kamu terlalu kejam ngomongnya sama Mbak Ive,” ucap Anindya akhirnya, membuka percakapan.Kini mereka sudah berada di Ulu Cliffhouse. Angin laut membawa aroma asin yang lembut, sementara matahari turun perlahan ke garis cakrawala.Anindya duduk di sebelah Arvendra, punggungnya bersandar ringan pada kursi rotan. Gaun putihnya bergerak pelan tertiup angin, kontras dengan sosok pria di sampingnya yang tampak santai, tapi tetap memegang kendali penuh atas dirinya sendiri dan situasi.Arvendra meraih cocktail di depannya, meminumnya seteguk sebelum menjawab. “Kadang kita harus kelihatan sedikit kejam, biar seseorang tahu batasnya.”Anindya menoleh. Sorot mata hazel Arvendra tersembunyi di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Lengan kemeja putihnya digulung ke siku, jam tangan mahal itu berkilau samar terkena cahaya senja. Wajahnya terlalu tenang untuk pria yang baru saja mematahkan harapan seseorang.Benar-benar definisi hot daddy, dan Anindya sadar betul betapa

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 155: Menetapkan Batas

    “Ada apa?” suara Arvendra terdengar dari arah tangga.Langkahnya cepat tapi terkontrol. Begitu tiba di dapur, mata hazelnya langsung menangkap pecahan mangkuk di lantai, lalu kaki Ivelle yang mengangkat sedikit, darah tipis mengalir di pergelangan.“Mas, kakiku luka,” keluh Ivelle. Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, lebih rapuh.Arvendra tidak langsung menjawab. Tanpa komentar, dia berjalan ke dinding dapur dan membuka kotak P3K yang tergantung rapi di sana.“Duduk,” kata Arvendra singkat pada Ivelle.Ivelle menurut, wanita itu duduk di kursi. Arvendra berjongkok, membuka kotak P3K, mengambil kapas dan antiseptik.Sedangkan Anindya berdiri kaku di tempatnya. Dia menunggu. Menunggu Arvendra menoleh. Menunggu satu kalimat yang menenangkan atau setidaknya memastikan keadaan tidak salah paham. Namun, tidak ada.Bukan karena Arvendra memihak, tapi karena fokusnya memang hanya satu yaitu luka kecil yang harus diobati.“Perih,” keluh Ivelle saat antiseptik menyentuh kulitnya.“Diam

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 154: Manipulatif

    “Cuma ngobrol biasa, Mas,” kilah Anindya. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena dia tahu tidak semua hal perlu diseret ke medan yang lebih besar. Dia tidak ingin hubungan orang tua Elvio retak hanya karena satu permintaan yang lahir dari ketakutan.“Kalau ada omongan dia yang bikin kamu tersinggung, bilang,” ucap Arvendra tegas. “Biar saya yang tegur dia.”Anindya tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Mas, aku itu bukan anak kecil yang kalau ada masalah harus selalu dilindungi.”Arvendra mengernyit tipis.“Aku bisa kok hadapi Mbak Ive,” lanjut Anindya pelan. “Aku tahu dia bukan orang jahat. Dia cuma ibu yang takut kehilangan tempatnya. Dan jujur aja, Mas kalau aku di posisi dia, mungkin aku juga bakal ngerasa begitu.”Arvendra menatap Anindya lama. Ada sesuatu di sorot matanya, antara lega dan tersentak. Seolah baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya tidak sekadar kuat, tapi juga jujur pada empatinya sendiri.“Dia mungkin ngerasa aku datang sebagai pengganti,” sambung Anindya lir

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 153: Peringatan

    “Jangan pernah berharap kamu bisa merebut Elvio juga, Anindya.”Ivelle membuka percakapan setelah hening cukup lama. Suaranya rendah, nyaris berbisik. Elvio sudah terlelap, napasnya teratur, satu tangan kecilnya masih menggenggam ujung selimut.Ivelle duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Anindya memilih kursi di dekat meja rias. Jarak mereka tidak jauh, tapi cukup untuk menjaga batas. Arvendra masih di lantai bawah, tenggelam dalam gambar desain bangunan yang harus selesai malam ini.“Aku nggak merebut siapa-siapa, Mbak,” jawab Anindya pelan. Dia sengaja menahan nada, takut membangunkan Elvio. “Jangan takut. Sampai kapan pun Mbak Ive tetap ibu kandungnya Elvio.”“Bagus kalau kamu sadar,” lanjut Ivelle lirih, tapi tajam. Tatapannya tidak beranjak dari bayangan Anindya yang terpantul samar di cermin meja rias. “Karena banyak perempuan yang begitu sudah masuk rumah orang, langsung lupa diri. Lupa posisi.”Anindya menelan ludah. Tangannya yang sejak tadi bertumpu di paha mengepal sebentar,

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 152: Bolehkah?

    “Ivelle, kenapa kamu bisa menyusul kami ke sini?” tanya Arvendra membuka percakapan.Kini mereka sudah duduk di ruang tengah. Arvendra dan Anindya berdampingan di sofa panjang. Di hadapan mereka, Ivelle duduk santai dengan kaki disilangkan, seolah villa itu masih ruang yang dikenalnya dengan sangat baik.“Semalam aku baru datang dari London, Mas,” jawab Ivelle ringan. “Pagi tadi aku ke rumah, tapi Bi Nur bilang kalian lagi ke Bali. Aku hubungi Sinta, dia bilang kalian di vila ini. Terus katanya Elvio lagi flu, jadi aku langsung nyusul.”Tatapan Arvendra seketika bergeser ke arah pantry. Sinta yang berdiri di sana langsung menunduk dalam. Tangannya saling menggenggam, jelas menyadari kesalahannya.“Aku dengar,” lanjut Ivelle sambil tersenyum tipis, “kalian mau menikah di sini, ya? Selamat.”“Makasih, Mbak Ive,” jawab Anindya tenang. “Mbak rencananya di sini berapa lama?”“Lho, jangan diusir halus begitu dong, Anin.” Ivelle terkekeh pelan. “Aku baru datang.”Wanita bermata biru itu lalu

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 151: Suara Perempuan Lain

    Langkah Anindya terhenti di depan satu gaun lace sederhana. Tangannya terangkat, menyentuh kainnya. Teksturnya lembut, jatuhnya ringan. Namun jarinya sedikit gemetar.Di belakangnya, Arvendra masih berbicara dengan wedding organizer soal jadwal dan teknis. Dia belum mendengar apa-apa.Anindya menelan ludah.‘Aku kenapa sih? Aku udah lewati video, gosip, dan komentar yang jauh lebih kejam dari ini. Masa bisik-bisik begini saja bikin aku goyah?’ batinnya cepat. Namun goyah itu nyata. Karena ini bukan soal gaun. Ini soal ruang. Ruang yang diam-diam selalu mengingatkannya pada satu kalimat tak tertulis: kamu beda kelas.Rasa minder itu datang perlahan. Bukan karena gaun-gaun ini tidak pantas untuknya, melainkan karena suara-suara seperti ini selalu muncul dari sumber yang sama. Mengukur kedewasaan dari tinggi badan. Menilai nilai seseorang dari siapa yang memilihnya. Menyederhanakan hidup menjadi angka di rekening dan status di lengan pria.Anindya menarik napas pelan. Dia menegakkan bah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status