Home / Romansa / Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku / Bab 155: Menetapkan Batas

Share

Bab 155: Menetapkan Batas

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2026-01-08 00:26:23

“Ada apa?” suara Arvendra terdengar dari arah tangga.

Langkahnya cepat tapi terkontrol. Begitu tiba di dapur, mata hazelnya langsung menangkap pecahan mangkuk di lantai, lalu kaki Ivelle yang mengangkat sedikit, darah tipis mengalir di pergelangan.

“Mas, kakiku luka,” keluh Ivelle. Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, lebih rapuh.

Arvendra tidak langsung menjawab. Tanpa komentar, dia berjalan ke dinding dapur dan membuka kotak P3K yang tergantung rapi di sana.

“Duduk,” kata Arvendra singkat pada Ivelle.

Ivelle menurut, wanita itu duduk di kursi. Arvendra berjongkok, membuka kotak P3K, mengambil kapas dan antiseptik.

Sedangkan Anindya berdiri kaku di tempatnya. Dia menunggu. Menunggu Arvendra menoleh. Menunggu satu kalimat yang menenangkan atau setidaknya memastikan keadaan tidak salah paham. Namun, tidak ada.

Bukan karena Arvendra memihak, tapi karena fokusnya memang hanya satu yaitu luka kecil yang harus diobati.

“Perih,” keluh Ivelle saat antiseptik menyentuh kulitnya.

“Diam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 165: Darurat!

    “Dokter, tolong!” suara Ivelle pecah saat dia setengah berlari ke nurse station di ujung koridor ruang rawat inap anak. “Anak saya mimisan.”Walaupun sudah diminta pulang oleh Dian kemarin, Ivelle tetap datang pagi ini. Bukan keras kepala, melainkan karena melihat Elvio adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Perawat yang berjaga langsung berdiri. “Di kamar berapa, Bu?”“VIP anak, kamar tiga,” jawab Ivelle cepat, napasnya berantakan.Beberapa detik kemudian, dokter jaga menyusul masuk ke kamar Elvio. Tirai ditarik. Monitor masih berbunyi stabil, tapi darah segar terlihat di tisu yang ditekan Anindya ke hidung bocah itu. Elvio masih setengah tertidur, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.“Tenang dulu,” kata dokter sambil mengenakan sarung tangan. Dia memeriksa hidung Elvio, lalu menekan perlahan pangkalnya. “Mimisan ringan. Tapi pada kondisi Elvio, ini konsisten dengan trombosit yang terus menurun.”“Turun lagi, Dok?” tanya Arvendra cepat.Dokter mengangguk.

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 164: Tidak Ada Kata Maaf

    Refleks, Anindya menghampiri. “Bunda. San,” sapanya lembut pada Dian dan Sankara.Gadis itu mencium tangan Dian. Calon ibu mertuanya itu membalas dengan mengecup pipi Anindya, meski raut wajahnya jelas menyimpan cemas.“Elvio bagaimana?” tanya Dian langsung, suaranya tertahan tapi jelas cemas.“Positif demam berdarah, Bun,” jawab Anindya jujur. “Masih observasi. Kita lihat ke atas aja, yuk.”Dian mengangguk cepat. Namun ketika mereka hendak berjalan, Anindya menoleh ke belakang, dan mendapati Ivelle masih berdiri agak jauh, ragu melangkah.Tatapan Dian mengikuti arah pandang Anindya. Sekejap, wajah calon ibu mertua itu berubah.“Kamu sedang apa di sini?” tanya Dian dingin saat Ivelle akhirnya mendekat.Anindya sempat mengernyit. Nada itu asing di telinganya. Dian yang dia kenal biasanya selalu lembut bahkan saat marah.Ivelle menelan ludah. “Bun, aku–”Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dian mundur setengah langkah. Tangannya terangkat, menepis saat Ivelle refleks hendak meraih.“

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 163: Jangan Terlalu Baik

    Setelah dokter pergi, keheningan benar-benar menekan ruangan itu. Lima belas menit berlalu, tapi tidak satu pun dari mereka bergerak atau bersuara.Dari sofa kecil di sudut kamar, Anindya memperhatikan diam-diam.Arvendra duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu di paha, kedua tangannya saling mengait kuat. Tatapannya kosong, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak bisa dihitung: kemungkinan, andai, seandainya.Di sisi lain, Ivelle tak berhenti menangis. Tangannya berkali-kali mengusap punggung tangan Elvio yang terbaring pucat, seolah sentuhan itu bisa menarik panas dan bahaya keluar dari tubuh kecil itu.Ternyata begini rasanya menjadi orang tua. Panik yang tidak tahu harus diarahkan ke mana. Takut yang tidak bisa dititipkan pada siapa pun.Apalagi ketika penyakit itu bukan sekadar flu atau demam biasa, tapi sesuatu yang bisa merenggut nyawa seorang anak dengan tiba-tiba.Kalau bisa ditukar, Anindya ingin menukar tubuhnya saja. Biarlah dia yang ter

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 162: Gara-Gara Aku

    Anindya bangkit perlahan dari kursinya. Dia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Hanya berdiri. Cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk tidak mengambil alih. Menjadi saksi, bukan pusat.Arvendra membeku di tempat. Wajahnya berubah, bukan marah, bukan pula iba. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk langsung bereaksi.“Apa yang kamu lakukan, Ive?” tanya Arvendra rendah.Ivelle menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku egois. Aku tahu Elvio lagi nggak enak badan, tapi aku maksa ajak dia keluar. Aku cuma mikirin diri aku sendiri.”Wanita itu menunduk. Bahunya bergetar hebat. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama Elvio, aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri.”Hening menyelimuti ruangan.Suara monitor terdengar pelan, stabil. Elvio masih tertidur, napasnya teratur. Anindya melirik bocah itu sekilas untuk memastikan, lalu kembali menatap Ivelle. Kali ini, bukan dengan kewaspadaan. Ada empati di sana. Tidak lunak, tapi jujur.Arvendra menghela napas panjan

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 161: Ayah yang Hebat

    “Pasien atas nama Elvio Dirgantara Pradipta, di sebelah mana ya, Sus?” tanya Anindya pada perawat yang melintas di ruang IGD.Begitu telepon dari Arvendra terputus, dia langsung meluncur ke rumah sakit. Tidak sempat berganti pakaian. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka sekadarnya. Rambutnya masih diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan. Berantakan, tapi tidak penting. Yang dia pedulikan hanya satu: Elvio.“Dari sini lurus saja, Bu. Paling ujung,” jawab perawat itu ramah, menunjuk ke arah kanan.“Terima kasih.”Anindya hampir berlari menyusuri lorong. Detak jantungnya terasa terlalu keras di telinga. Begitu sampai di bangsal yang dimaksud, dia menarik tirai perlahan, dan dadanya langsung mengencang.Arvendra duduk di kursi di sisi ranjang, tubuhnya condong ke depan, siku bertumpu di lutut. Wajahnya tertunduk. Kusut. Seperti seseorang yang sudah berjam-jam tidak bernapas dengan benar.Di atas ranjang, Elvio tidur. Kulitnya pucat, bibirnya kering, selang infus terpasang di tangan keci

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 160: Berita Lainnya

    Anindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status