LOGIN“Kita beli ponsel buat kamu dulu ya?” tawar Arvendra.Kini dia sudah duduk di kursi kemudi. Anindya di sebelahnya, masih memandangi layar retak itu, ibu jarinya mengusap sudut yang pecah seolah berharap garisnya menghilang.Usai fitting baju pengantin, mereka memutuskan langsung pulang. Takut Elvio menanyakan keberadaan mereka, meski ada Ivelle di vila. Arvendra bahkan memilih memesan makan malam secara daring, tidak ingin merepotkan siapa pun, terlebih setelah insiden mangkuk pecah sebelumnya.“Nggak usah, Mas. Masih bisa dipakai kok,” tolak Anindya. “Nanti aku ganti layarnya aja. Nggak perlu ganti ponselnya.”Arvendra melirik sebentar, menatap layar retak itu, lalu kembali menatap jalan di depannya. “Iya, memang masih bisa. Tapi menurut Mas, lebih baik diganti aja.”Anindya menghela napas kecil. “Mas ini kebiasaannya gitu. Ada yang rusak dikit, langsung diganti.”“Bukan soal rusaknya,” jawab Arvendra tenang. “Kata orang, jangan kebiasaan nyimpen barang yang retak. Katanya bawa energ
Anindya berdiri di ruang fitting gaun pengantin, dan kali ini, tidak ada bisik-bisik yang membuat bahunya mengeras. Tidak ada tatapan yang menimbang usianya, tubuhnya, atau masa lalunya. Yang ada hanya cahaya putih lembut, kain-kain yang digantung rapi, dan suasana tenang yang membuat napasnya kembali ke ritme normal.Ternyata, telepon tadi berasal dari wedding organizer. Mereka menemukan butik lain, lebih kecil, lebih privat, dan entah bagaimana terasa jauh lebih manusiawi.“Saya bantu pasang resletingnya, Nona,” ujar salah satu staf perempuan dengan senyum hangat.Anindya mengangguk. Gaun putih yang dipilihnya sederhana, dirancang untuk pesta outdoor. Potongannya bersih, jatuh mengikuti lekuk tubuh tanpa berusaha berlebihan. Tidak banyak payet, tidak berat.Rambut Anindya ditata setengah terikat. Beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Tidak ada mahkota, tidak ada hiasan besar, hanya dirinya versi yang utuh, yang tidak sedang membuktikan apa pun.“Kita bisa keluar sekara
“Mas, kamu terlalu kejam ngomongnya sama Mbak Ive,” ucap Anindya akhirnya, membuka percakapan.Kini mereka sudah berada di Ulu Cliffhouse. Angin laut membawa aroma asin yang lembut, sementara matahari turun perlahan ke garis cakrawala.Anindya duduk di sebelah Arvendra, punggungnya bersandar ringan pada kursi rotan. Gaun putihnya bergerak pelan tertiup angin, kontras dengan sosok pria di sampingnya yang tampak santai, tapi tetap memegang kendali penuh atas dirinya sendiri dan situasi.Arvendra meraih cocktail di depannya, meminumnya seteguk sebelum menjawab. “Kadang kita harus kelihatan sedikit kejam, biar seseorang tahu batasnya.”Anindya menoleh. Sorot mata hazel Arvendra tersembunyi di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Lengan kemeja putihnya digulung ke siku, jam tangan mahal itu berkilau samar terkena cahaya senja. Wajahnya terlalu tenang untuk pria yang baru saja mematahkan harapan seseorang.Benar-benar definisi hot daddy, dan Anindya sadar betul betapa
“Ada apa?” suara Arvendra terdengar dari arah tangga.Langkahnya cepat tapi terkontrol. Begitu tiba di dapur, mata hazelnya langsung menangkap pecahan mangkuk di lantai, lalu kaki Ivelle yang mengangkat sedikit, darah tipis mengalir di pergelangan.“Mas, kakiku luka,” keluh Ivelle. Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, lebih rapuh.Arvendra tidak langsung menjawab. Tanpa komentar, dia berjalan ke dinding dapur dan membuka kotak P3K yang tergantung rapi di sana.“Duduk,” kata Arvendra singkat pada Ivelle.Ivelle menurut, wanita itu duduk di kursi. Arvendra berjongkok, membuka kotak P3K, mengambil kapas dan antiseptik.Sedangkan Anindya berdiri kaku di tempatnya. Dia menunggu. Menunggu Arvendra menoleh. Menunggu satu kalimat yang menenangkan atau setidaknya memastikan keadaan tidak salah paham. Namun, tidak ada.Bukan karena Arvendra memihak, tapi karena fokusnya memang hanya satu yaitu luka kecil yang harus diobati.“Perih,” keluh Ivelle saat antiseptik menyentuh kulitnya.“Diam
“Cuma ngobrol biasa, Mas,” kilah Anindya. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena dia tahu tidak semua hal perlu diseret ke medan yang lebih besar. Dia tidak ingin hubungan orang tua Elvio retak hanya karena satu permintaan yang lahir dari ketakutan.“Kalau ada omongan dia yang bikin kamu tersinggung, bilang,” ucap Arvendra tegas. “Biar saya yang tegur dia.”Anindya tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Mas, aku itu bukan anak kecil yang kalau ada masalah harus selalu dilindungi.”Arvendra mengernyit tipis.“Aku bisa kok hadapi Mbak Ive,” lanjut Anindya pelan. “Aku tahu dia bukan orang jahat. Dia cuma ibu yang takut kehilangan tempatnya. Dan jujur aja, Mas kalau aku di posisi dia, mungkin aku juga bakal ngerasa begitu.”Arvendra menatap Anindya lama. Ada sesuatu di sorot matanya, antara lega dan tersentak. Seolah baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya tidak sekadar kuat, tapi juga jujur pada empatinya sendiri.“Dia mungkin ngerasa aku datang sebagai pengganti,” sambung Anindya lir
“Jangan pernah berharap kamu bisa merebut Elvio juga, Anindya.”Ivelle membuka percakapan setelah hening cukup lama. Suaranya rendah, nyaris berbisik. Elvio sudah terlelap, napasnya teratur, satu tangan kecilnya masih menggenggam ujung selimut.Ivelle duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Anindya memilih kursi di dekat meja rias. Jarak mereka tidak jauh, tapi cukup untuk menjaga batas. Arvendra masih di lantai bawah, tenggelam dalam gambar desain bangunan yang harus selesai malam ini.“Aku nggak merebut siapa-siapa, Mbak,” jawab Anindya pelan. Dia sengaja menahan nada, takut membangunkan Elvio. “Jangan takut. Sampai kapan pun Mbak Ive tetap ibu kandungnya Elvio.”“Bagus kalau kamu sadar,” lanjut Ivelle lirih, tapi tajam. Tatapannya tidak beranjak dari bayangan Anindya yang terpantul samar di cermin meja rias. “Karena banyak perempuan yang begitu sudah masuk rumah orang, langsung lupa diri. Lupa posisi.”Anindya menelan ludah. Tangannya yang sejak tadi bertumpu di paha mengepal sebentar,







