Share

Bab 56: Pindah Rumah?

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2025-11-19 09:35:51
Ria dan Sinta sontak melompat kecil, wajah mereka pucat dalam hitungan detik.

“M-maaf, Tuan …”

“Kami cuma–”

“Saya tidak tanya alasan,” potong Arvendra lembut. Lembut, tapi beracun. Membuat Mia dan Sinta langsung saling menatap panik.

Arvendra melanjutkan, pelan tapi tegas, “Lakukan pekerjaan kalian. Dan jaga mulut kalian.”

Mereka langsung membungkuk kecil dan buru-buru keluar dapur, hampir menabrak kursi saking cepatnya. Begitu suara langkah itu benar-benar menjauh, barulah Anindya berani mengembuskan napas.

“Mas Arven,” panggilnya pelan.

Arvendra tidak langsung menoleh. Dia berjalan ke kulkas dengan gerakan tenang, terlalu tenang untuk seorang pria yang jelas masih menahan emosi. Pintu kulkas dibuka, sebotol air dingin diambil, lalu ditutup perlahan.

Baru setelah itu, dia menatap Anindya. Tatapan hazel itu lunak. Namun, di balik kelunakan itu, masih ada sisa ekspresi dingin yang tadi dia tunjukkan pada pekerjanya.

“Kamu haus?” tanya Arvendra pelan sambil menyodorkan air. “Ini
Duvessa

Maaf ya guys, aku baru bisa up 1 bab dulu. Kebetulan ini lagi kurang sehat. Semoga kalian selalu sehat ya :)

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Duvessa
aninnya mau ga tuh cepet dihalal in? :)
goodnovel comment avatar
Duvessa
makasih kak :)
goodnovel comment avatar
Duvessa
makasih kak :)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 180: Hidup Baru

    Arvendra, Elvio, dan Ivelle masuk ke restoran hotel The St. Regis yang tenang dan tertata rapi. Di salah satu meja dekat jendela, seorang pria bule sudah menunggu.Begitu mereka mendekat, pria itu berdiri dan tersenyum ramah.“Halo,” sapanya hangat.Ivelle langsung duduk di samping pria itu, sementara Arvendra dan Elvio mengambil kursi di seberang.“Kenalin, ini Thomas.” Ivelle lalu menoleh ke Arvendra. “Maaf aku ngajak kalian jauh-jauh ke sini. Tapi aku pikir Singapura tempat yang paling netral. Tidak terlalu dekat dengan masa lalu, dan tidak terlalu jauh dari hidup kita sekarang.”“Lagipula,” lanjut Ivelle, “setidaknya Elvio dan Thomas bisa bertemu langsung. Sebelum semuanya resmi.”Arvendra mengangguk pelan. “Nggak apa-apa. Kita sekalian liburan,” katanya, lalu melirik Elvio. “Iya, ‘kan, El?”Elvio mengangguk antusias. “Iya, Papa.”Tidak dipungkiri, jantung Arvendra kini berdebar. Bukan karena marah. Bukan pula karena cemburu. Lebih seperti perasaan terintimidasi yang datang tanpa i

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 179: Tiga Tahun Berselang

    “Mbak Lara, besok mau golf nggak? Katanya di dekat hotel tempat kita nginep ada lapangan golf yang bagus,” tanya pria yang sedang menyetir mobil van itu.Juan, asisten sekaligus sopir Anindya selama dua tahun terakhir, melirik sekilas lewat kaca spion.Anindya yang sejak tadi memandangi jalanan Singapura yang rapi, bersih, dan nyaris tanpa cela, menoleh. “Boleh. Tapi runway untuk besok udah siap semua belum, Juan?”“Santai, Mbak. Udah aman semua.”Mobil melaju mulus, seperti hidup Anindya sekarang, teratur, cepat, dan tampak sempurna dari luar.Tiga tahun.Sudah tiga tahun berlalu sejak hari pembatalan pernikahan itu. Sejak hari ketika dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri, meski harus meninggalkan banyak hal di belakang.Indra pulih lebih cepat dari dugaan dokter. Stroke itu meninggalkan bekas, tentu saja, tapi tidak merenggut ayahnya darinya. Anindya menebus rasa bersalahnya dengan cara paling konkret, yaitu merenovasi rumah Indra di desa, memastikan pria itu tidak lagi hidup da

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 178: Akhirnya Terbebas

    “Silakan lihat sendiri,” ujar Anindya tenang, suaranya datar tapi tajam. Dia menyodorkan ponselnya ke tengah meja. “Hanya orang yang benar-benar menutup mata yang masih mau melanjutkan pernikahan ini setelah melihat apa yang ada di sini.”Ruangan kecil di samping gereja itu terasa pengap. Zafran duduk kaku di kursinya. Darsa beserta istri di sisi berlawanan. Indra dan Nani di ujung meja, wajahnya tegang. Lidya duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan, terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan terbongkar.Suami Lidya dan anak perempuannya tidak ada di ruangan itu. Anindya sendiri yang meminta mereka menunggu di luar. Bukan apa-apa, ada hal-hal yang tidak pantas disaksikan anak kecil, dan karena dia tidak mau ada distraksi emosional yang bisa dipakai untuk memelintir keadaan.Video itu diputar. Tidak ada sensor. Tidak ada penjelasan tambahan.Zafran dan Lidya. Di kamar hotel. Bukan hanya tubuh, tetapi rencana.Suara mereka terdengar jelas. Tentang warisan. Te

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 177: Pernikahan?

    “Nona, mempelai pria sudah tiba.”Suara penata rias itu menarik Anindya kembali ke tubuhnya sendiri usai Arvendra pergi. Dia menoleh seketika. Air mata di pipinya belum sepenuhnya kering, dan dia tidak berusaha menghapusnya. Biarlah. Kalau hari ini memang harus jadi hari terburuk dalam hidupnya, dia tidak ingin berpura-pura kuat.“Baik,” ucap Anindya pelan. “Boleh bantu saya berdiri?”Penata rias menghampiri, menahan gaun Anindya agar tidak terseret. Langkahnya terasa berat saat pintu ruang rias dibuka. Musik gereja mengalun lembut, terlalu damai untuk dada yang sedang berantakan.Saat Anindya melangkah masuk, Zafran sudah berdiri di depan altar. Rapi, tenang, tersenyum seolah tidak ada dosa yang baru saja dia sembunyikan rapi di balik jasnya.Anindya mengedarkan pandangan. Di barisan keluarga, Lidya ikut tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang sedang menikmati pertunjukan yang dia sutradarai sendiri.Semua orang tampak baik-baik saja. Semua orang tampak bahag

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 176: Dia Datang

    Bohong kalau Anindya tidak berdebar duduk berhadapan begini dengan Arvendra. Bohong kalau hatinya tidak tersayat. Bohong juga kalau dia tidak ingin bilang maaf, bersimpuh, lalu menarik semua keputusannya kembali.Namun, hari ini bukan tentang apa yang dia inginkan.“Kenapa Mas bisa tahu aku nikah hari ini?” Anindya membuka percakapan, suaranya berusaha datar.Mereka duduk berdua di sofa ruang persiapan. Pintu tertutup. Penata rias yang tadi menanganinya sudah dia minta menunggu di luar. Alasan profesional, alasan keamanan, alasan apa pun asal mereka diberi waktu. Untungnya perempuan itu mengerti dan tidak banyak bertanya.Arvendra menyandarkan punggung, menatap Anindya lama sebelum menjawab. Tatapan yang bukan marah meledak, tapi dingin, terukur, dan justru itu yang paling menyakitkan.“Yang penting itu bukan gimana saya tahu,” kata Arvendra akhirnya. “Yang perlu saya tahu, kenapa kamu mau-maunya dipaksa nikah sama orang itu.”Anindya menelan napas.“Dipaksa?” Arvendra mengulang, sudut

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 175: Kebencian yang Padat

    “Kamu nggak cemburu aku nikah sama adik tiri kamu?” tanya Zafran, nadanya ringan, hampir seperti bercanda di sela sarapan.Lidya menoleh. Senyum terbit di bibirnya, tipis dan terlatih, tapi matanya lelah. Mata orang yang terlalu lama menelan banyak kompromi.“Cemburu, lah,” jawab Lidya santai. Dia menarik selimut, menggeser tubuhnya mendekat. “Tapi ini yang terbaik. Kamu nikah, warisan turun. Habis itu, urusan kita jadi gampang.”“Gampang bagaimana?” Zafran melirik sekilas, sudah tahu jawabannya, tapi ingin mendengarnya diucapkan.“Nanti, setelah kamu dapat warisan,” ucap Lidya pelan, terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya berat, “aku urus perceraianku. Kamu urus pernikahanmu.”Zafran tersenyum kecil. Bukan senyum lega, melainkan senyum seseorang yang menikmati rencana yang rapi, bersih di atas kertas.“Sekarang cerai itu kelihatan buruk,” kata Zafran santai, seolah sedang membahas cuaca. “Keluarga aku butuh lihat aku stabil. Menikah. Normal. Kalau aku datang dengan perempuan be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status