Share

Bab 6: Kesepakatan

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-18 00:18:46

Anindya mengangkat wajahnya pelan. Pandangannya kabur oleh air mata. Semua yang selama ini dia tahan pecah begitu saja. Rasa takut, malu, marah pada diri sendiri. Dia membenci dirinya karena sekarang berdiri di hadapan pria ini, tanpa harga diri, tanpa jalan keluar.

Tidak ada uang. Tidak ada keluarga yang bisa menolong. Tidak ada waktu. Hanya pria ini, berdiri di hadapannya, tatapannya tajam dan tak terbaca.

Haruskah Anindya benar-benar menghabiskan sisa masa mudanya di penjara hanya karena sebuah kecelakaan bodoh?

“Sa … saya mau, Pak,” putus Anindya akhirnya, suaranya parau.

“Bagus.” Arvendra menoleh sekilas, mata hazel-nya berkilat di bawah cahaya lampu taman. “Pakai gaun yang cantik besok.”

Gaun?

Kata itu berputar-putar di kepala Anindya, menimbulkan seribu tafsir yang tak satupun beres.

Untuk tidur bersama, apa perlu memakai gaun cantik?

Apa maksudnya gaun tipis seperti lingerie?

“Gaun seperti apa, Pak?” Anindya akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya pelan tapi terdengar jelas di antara langkah mereka yang beriringan.

“Gaun yang pantas dipakai ke pesta,” jawab Arvendra datar.

Anindya berkedip, kaget. “P-pesta?” 

Arvendra mengangguk. “Ada acara reuni dengan teman kuliah saya di hotel. Saya butuh pendamping. Kamu cukup ikut, bersikap sopan, dan jangan terlalu jauh dari saya.”

Deg. 

Wajah Anindya terasa panas sekali. Ya Tuhan, jadi selama ini dia salah paham?

Semua pikiran kotor dan prasangka buruknya tentang pria ini ingin memanfaatkannya, ternyata hanya hasil khayalannya sendiri.

“Kirimkan nomor rekeningnya, biar saya transfer sekarang,” ujar Arvendra lagi sambil mengambil ponselnya yang ada di meja dekat kolam.

Anindya langsung mengangkat wajahnya. “Eh? Oh … iya sebentar, Pak.”

Malam selanjutnya, Anindya berdiri di teras rumah, sambil menggenggam clutch kecil di tangan.

Gaun merah marun yang gadis itu kenakan memeluk tubuhnya pas, tanpa berlebihan. Lehernya dibuat model halter, memperlihatkan pundak jenjang dan kulit sawo matang yang tampak berkilau di bawah lampu taman. Rambut hitam panjangnya, yang biasanya diikat asal atau digerai polos, malam ini ditata rapi. Bergelombang lembut sampai punggung bawah.

Riasan wajahnya sedikit bold, dengan eyeliner tegas dan lipstik merah bata yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Tadi Jeane dengan semangat meriasnya, benar-benar tahu cara membuat seorang mahasiswi tampak seperti tamu undangan gala dinner.

Anindya menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Dia bukan siapa-siapa, hanya guru les yang dipinjam jasanya. Bukan pasangan sungguhan, bukan kekasih, bahkan bukan teman sejajar di lingkaran sosial Arvendra.

Namun, suara pintu utama terdengar terbuka. Dan di ambang pintu muncul sosok yang membuat napasnya nyaris tercekat.

Arvendra datang mengenakan tuxedo hitam dengan potongan rapi. Kemeja marun di dalamnya tampak kontras sekaligus serasi dengan gaun Anindya, menonjolkan rona hangat pada kulitnya.

Rambutnya disisir rapi ke belakang, memberi kesan matang dan tak terbantahkan gagah. Wangi parfum woody-spicy menyusup ke udara, menciptakan aura maskulin yang nyaris membuat Anindya lupa cara bernapas.

“Sudah siap?” tanya Arvendra datar, tapi tatapannya berhenti beberapa detik lebih lama di wajah Anindya, mungkin tanpa sadar. Matanya yang hazel itu sempat turun ke arah gaun, lalu kembali bertemu pandang dengan gadis itu.

Deg.

Ada sesuatu dalam cara Arvendra melihat yang membuat darah Anindya berdesir.

“Siap, Pak,” jawab Anindya akhirnya, mencoba terdengar santai, meski suaranya sedikit serak.

“Tunggu di mobil,” ucapnya pelan. Suaranya tenang, tapi tak lagi sedingin biasanya.

Anindya mengangguk patuh, lalu melangkah ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat wujud kendaraan itu lebih dekat.

“Duh, gimana cara naiknya ini,” keluh Anindya lirih.

Mobil itu bukan sedan biasa. Ini mobil jeep hitam berukuran besar. Dengan gaun panjang dan sepatu hak delapan sentimeter, naik ke sana jelas bukan hal mudah.

Anindya mencoba mengangkat sedikit ujung gaunnya agar tidak terseret, tapi ketika menapakkan kaki di pijakan besi, tumit sepatu sebelahnya justru tersangkut di sela batu paving. Tubuhnya oleng ke depan.

“Ah–!”

Belum sempat terjatuh, sebuah tangan kuat menahan lengan Anindya dari belakang. Hangat, tegas, dan aman.

Anindya menoleh spontan, dan hampir menahan napas. Arvendra berdiri begitu dekat, tubuh tingginya menutupi cahaya lampu taman di belakang mereka.

“Saya baru mau bantu,” ujar Arvendra datar, meski ada nada rendah di suaranya yang entah kenapa membuat darah Anindya berdesir tak karuan.

“T-terima kasih, Pak.” Entahlah, setiap berbicara dengan Arvendra, Anindya selalu terbata seperti ini.

Anindya mencoba naik lagi, tapi posisi mobil yang tinggi membuatnya sedikit goyah. Saat itulah, tangan besar itu kembali bergerak. Satu menahan di pinggangnya, hangat, kuat, dan membuat jantungnya melonjak. Sementara tangan satunya menepuk bahunya sendiri.

“Pegangan di sini,” kata Arvendra tenang, menunduk sedikit agar sejajar.

Dengan ragu, jemari Anindya menyentuh bahu tegap pria itu. Begitu berhasil duduk di kursi penumpang, Anindya buru-buru menarik tangannya dan menunduk, pipinya terasa panas seperti sedang demam tinggi.

“Maaf, saya agak susah naiknya,” kata Anindya pelan, mencoba terdengar tenang.

“Nggak apa-apa.” Arvendra menjawab datar.

Oh, sejak kapan Arvendra berbicara tidak seformal biasanya?

Arvendra menutup pintu perlahan, mengitari mobil, lalu duduk di balik kemudi. Mesin menyala, lampu dashboard membias redup di wajah mereka. Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah.

__

Lampu-lampu kristal bergemerlap di langit-langit ballroom hotel mewah itu. Begitu Arvendra melangkah masuk, hampir semua kepala menoleh.

Bukan hanya karena reputasinya, tapi juga karena sosok perempuan muda di sampingnya.

Beberapa pria berbisik pelan, beberapa wanita menatap dengan ekspresi penasaran, bahkan ada yang tersenyum sinis. Namun, Arvendra seolah tak peduli. Dengan tangan di saku celana dan bahu tegap, dia berjalan lurus ke arah meja utama.

“Oh, Arven. Tumben kamu datang dengan pasangan. Sudah bisa move on rupanya dari mantan istrimu.”

Anindya spontan menoleh.

Seorang pria sudah duduk di kursi kosong sebelahnya tanpa diminta. Jas abu-abu, kemeja putih tanpa cela, kaki disilangkan santai. Senyum yang dia tampilkan bukan ramah, lebih mirip ejekan yang dibungkus sopan santun.

Samar, ada wangi parfum yang ikut terbawa dari gerak tubuh pria itu.  Dan begitu mata mereka bertemu, dada Anindya langsung mengencang.

Wajah itu. Lelaki yang berdiri di depan buldoser malam penggusuran kosan Anindya, yang mendorong tubuhnya saat dia nekat ingin menyelamatkan motor bututnya.

Namun, pria itu kini hanya menatapnya datar, tanpa sedikit pun tanda mengenal. Mungkin karena penampilan Anindya malam ini cukup untuk membuatnya tampak seperti orang lain.

“Bukan urusanmu,” sahut Arvendra tenang. Bahkan tak mau repot-repot menoleh.

Pria itu terkekeh. “Santai, Arven. Saya cuma heran. Biasanya kamu datang sendirian, kelihatan nggak tertarik sama siapa pun.” Tatapan pria itu melebar ke meja lain. Beberapa orang ikut menoleh, tak berusaha menyembunyikan rasa ingin tahu.

“Nama kamu siapa?” tanya pria itu pada Anindya, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tipis.

“Anindya.” Gadis itu menyambut sopan, meski telapak tangannya dingin.

“Saya Dani,” balasnya, menggenggam tangan itu sedikit lebih lama dari seharusnya sebelum akhirnya melepaskannya.

“Kamu kerja atau masih kuliah, Anindya?” tanya Dani.

Anindya melirik ke arah Arvendra, takut salah bicara, tapi pria itu hanya diam sambil memutar gelasnya. “Masih kuliah,” jawabnya akhirnya.

“Oh, masih kuliah rupanya.” Senyum Dani kian melebar, tapi pandangannya turun ke bahu Anindya yang terbuka oleh potongan gaun. “Pantas Arven selalu nolak Elea, ternyata dia lebih suka daun muda, ya?”

Duvessa

Selamat datang di cerita baru aku! Jangan lupa tinggalkan jejak ya :)

| 40
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Febru Anggorowati
jumpa lagi....smoga lebih heboh dengan Al dan Isvara
goodnovel comment avatar
Jessen Farrel
Hallo kak... moga fiksi ini semenarik Alvano Isvara ya
goodnovel comment avatar
Duvessa
love u too :) terima kasih udah mampir yaa...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Thank you!

    Makasih banget buat kalian yang udah bertahan sampai halaman terakhir. Serius, kalian kuat. Soalnya plotnya kadang beloknya lebih tajam dari tikungan sinetron azab. Tapi kalian tetap di sini, tetap baca, tetap sabar. Jadi, kalau ada penghargaan pembaca paling tabah, itu harusnya kalian yang menang sih!Dan makasih sudah nemenin perjalanan Mas Duda (yang sekarang udah nggak duda lagi) dan Anin sampai akhirnya mereka benar-benar pulang satu sama lain.Jangan lupa baca karya aku yang terbaru judulnya “Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun”.Boleh juga follow medsos aku @me.duvessa atau Tt @duskovduvessa kita ngobrol-ngobrol di sana ya :)

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 232: Berakhir di London

    “Samudra bersama Mami saja ya? Kita main sama Rose,” bujuk Ivelle lembut, berlutut agar sejajar dengan tinggi Samudra. Dia menunjuk ke arah Rose yang sedang duduk di karpet ruang tamu, sibuk mengatur boneka Barbie dengan aksen Inggris kecil yang lucu.Samudra melirik ke arah Anindya dan Arvendra bergantian. “Papa sama Miya mau ke mana?”“Keliling sebentar,” jawab Anindya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya berdebar aneh. Entah kenapa, pergi berdua seperti ini terasa lama tidak dilakukan.Thomas ikut mendekat, menepuk bahu kecil Samudra. “Papa sama Miya mau kencan dulu sebelum pulang ke Indonesia.”Anindya langsung melirik suaminya. “Kencan katanya.”Arvendra mengangkat alis tipis. “Mas nggak nolak.”Samudra masih berdiri di tempat, wajahnya penuh kecurigaan kecil. “Kencan itu lama nggak?”“Nggak lama,” jawab Anindya cepat.Thomas menambahkan dengan nada konspiratif, “Paling cuma jalan, makan, terus pulang. Kamu malah dapat teman main baru.”Rose berlari kecil mendekat. “Sam,

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 231: London

    “Selamat datang di London,” sambut wanita bermata biru itu hangat sambil membuka pintu rumahnya lebar.Ivelle berdiri di ambang pintu. Rambut pirangnya digerai rapi, mata birunya tetap seterang dulu. Di tangannya tergenggam tangan seorang anak perempuan berambut cokelat terang, mungkin tujuh atau delapan tahun usianya. Wajahnya campuran Eropa yang lembut. Di belakang mereka berdiri Thomas, tinggi, rapi, dengan senyum yang lebih matang dari terakhir kali mereka bertemu.Perjalanan tujuh belas jam di udara akhirnya terbayar begitu udara dingin London menyentuh kulit. Kelelahan masih menempel di tubuh, tetapi suasana di depan pintu itu membuat semuanya terasa lebih ringan.“Mbak Ive, apa kabar?” sapa Anindya duluan dengan senyum hangat.“Baik,” jawab Ivelle sambil mendekat dan memeluk Anindya singkat. “Kamu makin cantik aja.”Anindya terkekeh kecil. “Mungkin karena ada donatur, Mbak. Kalau nggak ada, aku nggak bisa perawatan.”Arvendra yang berdiri di belakang Anindya mendengus pelan. “

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 230: Enam Tahun Berlalu

    “El, beneran mau kuliah di London?”Pertanyaan itu sudah Anindya ulang berkali-kali sejak seminggu terakhir, tapi tetap saja rasanya belum siap menerima jawaban yang sama.Di hadapannya sekarang duduk seorang pemuda tujuh belas tahun dengan bahu lebar dan sorot mata tenang. Anak yang dulu dia ajarkan matematika sambil ngambek karena salah hitung, sekarang sudah bicara soal visa, kampus, dan masa depan.Waktu memang tidak pernah pelan. Waktu selalu berlari, meninggalkan ibu-ibu yang belum selesai memeluk anaknya.Padahal sejak bulan lalu Elvio sudah resmi diterima di Brunel University London. Bahkan sudah mendaftar sekolah balap untuk mengejar mimpi lamanya, yaitu Formula 1. Mimpi yang dulu pernah Arvendra tolak mentah-mentah, lalu diam-diam dia dukung dari belakang.Tetap saja, mengetahui besok pagi anak itu benar-benar akan pergi, rasanya seperti ada bagian kecil di dada Anindya yang ikut dibawa.“Miya,” jawab Elvio sabar, nada suaranya sekarang jauh lebih dalam daripada dulu, “aku u

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 229: Malam Panjang

    Tangan Arvendra sudah sampai di punggung Anindya. Jemarinya menemukan kaitan bra itu tanpa kesulitan, seolah hafal letaknya bahkan tanpa melihat.Anindya menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.Klik. Kaitan itu terlepas hanya dengan satu tangan. Terlalu mudah, terlalu terbiasa.“Kalau nggak nyaman, bilang,” bisik Arvendra dekat sekali, bibirnya hampir menyentuh telinga istrinya.Anindya tersenyum kecil. “Aku lagi sama kamu, Mas. Nggak ada yang nggak nyaman.”Kalimat itu cukup untuk menjatuhkan sisa kendali. Ciuman mereka kembali bertaut. Lebih dalam, lebih rakus. Tangan Arvendra turun tanpa ragu, menjelajah lekuk tubuh istrinya dengan sentuhan yang sudah terlalu lama dia tahan. Telapak tangannya mencengkeram, mengusap, menegaskan rasa rindu yang selama ini hanya dia simpan di kepala.Seolah tubuh Anindya adalah jawaban atas semua penantian itu. Dan detik itu juga posisi mereka berbalik.Yang tadi menggodanya, kini justru terengah.“Mas …” Napas Anindya pecah saat ciuman terle

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 228: Sengaja Menggoda

    Dengan kemeja longgar dan celana pendek selutut, Arvendra duduk di sofa kamar sambil menatap tablet kerjanya. Stylus di tangannya bergerak, garis demi garis bangunan terbentuk rapi, presisi, terkendali.Samudra yang kini sudah berumur tiga bulan, telah tertidur di kamarnya. Begitu pula Elvio. Malam sudah cukup larut untuk membuat rumah itu akhirnya hening.Sejak Anindya melahirkan, hidup mereka berubah. Bukan rasa. Bukan pula kedekatan, tapi ritmenya. Yang dulu selalu berdua sekarang sering sengaja berjarak. Yang dulu terbiasa saling menyentuh sekarang harus saling menahan.Bukan karena tidak mau. Justru karena terlalu mau.Larangan Aryasena itu jelas. Arvendra bukan pria bodoh yang menukar kesehatan istrinya dengan keinginannya sendiri. Dia terbiasa menunggu. Masalahnya, tubuh tidak pernah diajari bersabar.Dan sialnya, setelah melahirkan, Anindya bukannya berubah biasa saja. Wanita itu makin menggoda.Setiap kali Anindya lewat, sesuatu di dalam dirinya langsung bangun. Naluri laki-l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status