Share

Bab 7: Siapa Pria Itu?

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-19 00:18:40

“Dani,” suara Arvendra turun satu oktaf. Gelas wine di tangannya diletakkan perlahan di atas meja. “Berhenti bicara omong kosong.”

Dani terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. “Santai, santai. Bercanda.”

Namun, tawa di meja itu sudah mati. Hanya suara MC yang kini terdengar, memanggil satu per satu nama penting untuk membuka acara.

Dari sudut matanya, Anindya bisa melihat urat di tangan Arvendra menegang. Tanda pria itu sedang berusaha keras menahan diri. Bukan hanya karena kata-kata Dani, tapi karena harga diri seseorang seperti dia tak pernah tahan saat ada yang melewati batas.

Tepat saat suasana di meja mulai canggung, seorang pelayan menghampiri membawa nampan berisi beberapa gelas wine.

“Untuk Anda, Pak,” ucapnya sopan, menawarkan pada Arvendra.

Arvendra menerima salah satunya tanpa curiga. “Terima kasih,” ujarnya singkat, jemarinya sempat menyentuh permukaan gelas dingin itu.

Beberapa detik kemudian, suara MC bergema memenuhi ruangan. “Dan sekarang, kami persilakan Tuan Arvendra Satwika Pradipta untuk memberikan sambutan singkat, sebagai perwakilan angkatan 2006.”

Beberapa kepala otomatis menoleh ke arah mereka.

Arvendra menegakkan tubuh, lalu meneguk wine-nya hingga tandas. Gerakan yang tampak tenang, padahal ada sisa emosi di baliknya.

“Saya tinggal dulu,” kata Arvendra pada Anindya sebelum berdiri.

Begitu Arvendra melangkah ke depan, suasana di meja jadi longgar. Dani bersandar santai, sementara di sisi lain ruangan, seorang wanita bergaun biru safir terlihat mendekat.

Dari kursinya, Anindya sempat melihat Dani berdiri, menyambut wanita itu dengan senyum yang terlalu akrab. Mereka sempat bertukar bisikan singkat, lalu tertawa pelan seolah membicarakan sesuatu yang hanya mereka berdua tahu.

Anindya berusaha mengabaikan, menatap ke arah panggung di mana Arvendra kini sedang berbicara dengan nada tenang dan percaya diri. Namun, dari sela sorot lampu, dia bisa melihat sesuatu yang jarang terlihat, sisi lembut dari pria itu.

Anindya tersenyum kecil. Namun, senyum itu cepat menghilang ketika Dani tiba-tiba kembali ke meja dengan dua gelas di tangannya.

“Kamu mau minum, Anin?” tawar Dani santai, lalu menambahkan, “Cuma wine ringan.”

Anindya menggeleng cepat. “Terima kasih, aku nggak biasa minum.”

“Ah, masa sih?” Dani mencondongkan tubuh sedikit, nada suaranya sengaja dibuat memancing. “Kamu kelihatan dewasa malam ini, tapi ternyata masih polos, ya? Coba deh satu teguk, biar tahu rasanya.”

Nada menggoda itu membuat gengsi Anindya terusik. Dia menatap gelas itu sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Oke. Sedikit saja.”

Dani tersenyum puas, mengangkat gelasnya kecil-kecil. “Nah, begitu dong. Cheers.”

Cairan hangat itu menelusuri tenggorokan Anindya secara perlahan. Rasanya manis, tapi ada sesuatu yang aneh, efek hangat yang datang terlalu cepat.

Pandangan Anindya mulai berputar. Tubuhnya terasa ringan, tapi panas.

Dani menyentuh lengan Anindya pura-pura khawatir. “Kamu pucat banget, ayo keluar bentar. Udara di luar lebih segar.”

__

Tubuh Anindya yang kini sudah polos, didorong ke ranjang dingin. Dia ingin menolak, tetapi entah kenapa seluruh tubuhnya terasa panas, mendambakan sentuhan yang lebih.

Apa sebenarnya yang dia minum tadi? Pasti bukan alkohol biasa.

Sebelum sempat mencerna semuanya, tubuhnya sudah ditindih oleh sosok seorang pria. Anindya mencoba melihat lebih jelas, tetapi wajah pria itu tertutupi bayangan.

Lampu di sekeliling mereka samar, menciptakan suasana yang membuat segalanya tampak kabur, entah karena pencahayaan yang sengaja dibuat redup atau efek dari minuman yang baru saja dia konsumsi.

“Siapa kamu?” suara Anindya terdengar bergetar, berusaha keras untuk tetap tenang di tengah kebingungan ini.

Namun, pria itu hanya tersenyum, dan senyumnya menambah rasa panas yang mengalir di tubuhnya.

Pria itu meraih kedua tangan Anindya dan menahannya di samping. Lalu mulai mencium bibirnya, membuat Anindya terkejut.

“Hmpp—”

Anindya ingin melawan, tetapi setiap sentuhan dari pria itu justru terasa menghangatkan tubuhnya lebih dalam. 

Kenapa ini terasa begitu menggoda? Kenapa suara hati gadis itu seakan berbisik untuk membiarkan ini terjadi?

Tanpa aba-aba, sentuhan pria itu mulai menjalar lebih jauh. Jemarinya bergerak perlahan, menyusuri bahu Anindya, turun mengikuti lekuk pinggangnya, lalu berhenti sesaat di sisi pahanya. 

“Tolong … lepas—” lirih Anindya yang sepertinya terasa berbeda dengan apa yang tubuhnya rasakan.

Anindya merasa terombang-ambing antara dorongan untuk menolak dan gairahnya yang membara. Dia ingin menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tetapi semua yang bisa dia lakukan hanyalah merasakan.

Ini benar-benar membingungkan.

Wangi parfum pria itu tercium familiar, hangat dan menenangkan. Namun, entah mengapa Anindya justru merasa panas mencium wanginya.

Mereka kini saling bertatapan. Sorot mata pria itu menelusup dalam, seolah menelanjangi jiwa Anindya. Tatapannya tegas, tajam, tapi tetap saja Anindya tidak mengenali siapa dia.

“Nikmati saja,” ujar pria itu dengan suara yang rendah dan cukup serak, jelas membuat Anindya tidak bisa mengenalinya.

Pria itu kemudian menurunkan cumbuannya, berani menjelajah ke titik lain. Napasnya berat saat dia menunduk, dan menghirup kulit di sepanjang leher jenjang Anindya.

Desahan napas Anindya terdengar samar. Pria itu tak berhenti, bibir dan jemarinya bergerak pelan namun pasti, membuai, menorehkan sensasi yang tak terbendung di dada Anindya.

Tidak ada jarak di antara mereka. Kedua pusat tubuh mereka hampir menyatu. 

Saat mereka melebur, Anindya merasakan sakit di bawah sana. “Arghh …”

Gairah yang mengalir bertabrakan dengan ketidaknyamanan, membuatnya bingung dan terjebak.

Perlahan, pria itu mengantarkan hentakan. Membuat Anindya meringis, tetapi entah kenapa dia tidak bisa menolak.

Seharusnya, gadis itu berteriak, tetapi yang keluar hanyalah desahan yang berubah menjadi lenguhan ketika pria itu menghentak lebih dalam.

“Shhh … hentikaa—”

Tidak. Ini tidak benar. Namun, tidak ada dari mereka yang berhenti.

Kedua tangan pria itu kini menangkup wajah Anindya, memaksanya tetap menatap. Dia menunduk, bibirnya berhenti di sisi telinga perempuan itu.

“Just feel it,” bisik pria itu penuh dominan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Febru Anggorowati
waduh......
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
ooo kirain udh panjang kyk Alvano
goodnovel comment avatar
Rusli Rusli
nanggung nih, tambah lagi up nya kak...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 76: Rahasia

    “Mas, maaf tadi aku meeting jadi nggak angkat telepon.” Anindya meraih satu pak tepung terigu, meletakkannya di keranjang sambil memindahkan ponsel ke telinga.Di seberang, suara Arvendra langsung mereda, seperti baru saja menahan sesuatu. “Saya nggak tahu kamu lagi meeting. Kalau tahu, saya nggak ganggu. Gimana? Lancar?”“Lancar, Mas.” Anindya mendorong troli pelan, melewati deretan gula pasir dan baking powder.“Kamu lagi di mana sekarang? Kedengarannya kayak rame.”“Di supermarket,” jawab Anindya jujur. “Mau buat cake sama cookies. Elvio juga udah aku suruh ke apartemen.”Hening satu detik.“Loh Mas nggak diajak?” Nada Arvendra turun sedikit, bukan marah, lebih seperti bingung kenapa dirinya tidak otomatis termasuk dalam rencana. “Terus ada acara apa memang?”Anindya menggigit bibir, menahan senyum kecil. “Aku baru diterima jadi model salah satu brand skincare, Mas. Ini kesempatan besar buat aku. Aku seneng banget.” Terdengar tarikan napas pelan dari seberang. Arvendra butuh dua d

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 75: Meeting

    Senyum yang muncul di wajah pria itu bukan senyum ramah profesional. Itu senyum seseorang yang merasa sudah menemukan seseorang yang dia cari.Pria itu Wira. Wira dari klub, pria yang semalam mencondongkan tubuh terlalu dekat, yang mengikuti langkah Anindya tiga menit penuh, yang hampir dia maki kalau saja Arvendra tidak muncul di detik terakhir.Sekarang tatapan Wira jauh lebih halus, jauh lebih dewasa, jauh lebih terkontrol, dan itu justru membuatnya jauh lebih berbahaya.Anindya refleks mundur selangkah.Mia yang tidak tahu apa-apa, tampak heran. “Lara, ini Pak Wira Wibowo. Owner salah satu brand skincare premium dan sponsor utama untuk event kita berikutnya.”Wira mengangguk santai, postur tegaknya menyiratkan kepercayaan diri pria yang terbiasa duduk di kursi paling penting dalam rapat apa pun.“Ternyata kita bertemu lagi,” kata Wira. Senyumnya tetap lembut, terukur, bersih. Namun, bagi Anindya, itu senyum yang jauh lebih mengancam daripada versi klub semalam.“Eh? Kalian sudah k

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 74: Satu Tahun Lagi?

    Anindya langsung kaku.Sudah dia bilang dia belum siap untuk memulai pernikahan. Namun, di dalam hati kecilnya dia tahu, bertahan dalam hubungan seperti ini pun jelas bukan keputusan tepat. Terlebih setelah kejadian semalam, dia tidak bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.“Mas …” Napas Anindya tersangkut.“Tapi saya siap ditolak.” Arvendra mengucapkannya datar, tanpa nada terluka, tanpa gurauan. Lebih seperti pria yang sudah terlalu sering menerima kenyataan pahit dan memutuskan untuk menanggungnya saja.“Mas, bukan begitu maksud aku.” Anindya buru-buru mencondongkan tubuh, panik melihat ekspresi pria itu yang terlalu tenang. “Tunggu, ya, satu tahun lagi?”“Satu tahun?” ulang Arvendra pelan. Terlalu pelan. Terlalu tenang untuk sesuatu yang jelas membuatnya panas.“Aku udah tanda tangan kontrak sama agency. Di sana peraturannya nggak boleh menikah dulu selama satu tahun,” jelas Anindya pelan.Tatapan hazel itu langsung berubah. Bukan marah, tapi kedewasaan seorang pria yang merasa gadi

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 73: Anak Burung Kesayangan

    Beep. Beep. Kode pintu ditekan dari luar.Anindya buru-buru menyeka air matanya, tapi percuma. Pintu sudah terbuka, dan Arvendra berdiri di ambang. Kaus hitam melekat di tubuhnya, rambut sedikit berantakan, napasnya masih tersengal tipis seolah dia berjalan cepat. Di tangannya ada plastik putih kecil.Begitu tatapannya turun pada mata Anindya yang basah, ekspresinya langsung berubah. Tanpa bertanya, tanpa kalimat pembuka, dia berjalan menghampiri.“Anin …” Tangan Arvendra meraih pinggangnya, menariknya ke dada keras itu dengan gerakan mantap tapi lembut.“Hei, hei. Kenapa nangis begini?” tanyanya. Tangan besarnya terangkat ke belakang kepala Anindya, membenamkannya ke pelukan hangatnya.Dan seketika itu juga, pertahanan Anindya runtuh. Dia mencengkeram bagian depan kaus Arvendra, tubuhnya gemetar, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.“Aku … aku nggak suka ditinggal kalau pagi …” Kalimat itu pecah, kecil, memalukan, tapi terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin dia simpan sendiri.Arv

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 72: Memuja Tubuhnya

    “Sejauh yang Mas mau,” bisik Anindya.Arvendra tertawa kecil. Bukan tawa manis. Namun, tawa pria yang baru saja diberi izin untuk kehilangan kendali, dan tahu persis konsekuensinya.“Good. Karena saya juga sudah terlalu lama menahan ini.” Arvendra menunduk, mencium pusat dada Anindya, lalu turun perlahan. Tidak terburu-buru, tetapi tiap inci seolah dihitung, dipelajari, diingat. Tangan besarnya mengusap naik turun sisi pinggulnya, menggenggamnya sekali, cukup untuk membuat Anindya melengkung.“Relax, Sayang.” Pria itu mencium perut bawah Anindya. “Biar saya yang kerja malam ini.”Anindya menggigit bibir, kedua pahanya menegang refleks.Arvendra merasakan itu. Tangan Arvendra menahan kedua paha itu, membukanya sedikit, ibu jarinya mengusap bagian dalam paha Anindya dengan tekanan yang nyaris malas, tapi sangat … sangat niat.“Kamu gemeteran,” gumam Arvendra sebelum mencium bagian dalam paha kiri, lembut dan dalam sekaligus.“Mmm …” Anindya tidak bisa membentuk kata. Yang keluar hanya na

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 71: Mau Sejauh Apa?

    Arvendra membalas ciuman itu tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Bibirnya menekan balik dengan kendali seorang pria yang sudah terlalu lama menahan diri, kendali yang sejak tadi hanya tinggal satu tarikan napas untuk pecah.Tangan besarnya melingkar di pinggang Anindya, menarik tubuh gadis itu naik sepenuhnya ke pangkuannya. Gerakan itu tegas, seperti dia akhirnya mengambil apa yang sudah terus menerus menggoda batas sabarnya.Anindya terkejut, tapi tubuhnya justru merapat. Tangannya naik ke bahu Arvendra, meremas kemeja hitam itu begitu erat seolah kalau dia melepaskan genggaman sedikit saja, gravitasi akan menyeretnya jauh lebih dalam.Ciuman itu berubah. Dari impulsif, menjadi haus. Dari haus, berubah menjadi kebutuhan yang tidak peduli siapa yang akan terbakar duluan.“Anin,” suara Arvendra pecah di sela napas mereka, bibirnya masih menyisir bibir gadis itu.Anindya hanya mengeluarkan gumaman tanpa bentuk, tubuhnya terasa terlalu panas untuk memproduksi kalimat yang waras.Ar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status