MasukUsai jam les selesai, dengan langkah ragu Anindya menuju lorong belakang. Begitu pintu kaca terbuka, aroma klorin bercampur angin malam menerpa wajahnya. Dan di sanalah dia melihatnya.
Arvendra berdiri di tepi kolam, hanya mengenakan celana renang abu pendek yang basah, menempel ketat di pinggang.
Tubuh setengah telanjang itu berkilau diterpa lampu taman, tiap tetes air menuruni garis otot bahu hingga punggungnya yang lebar. Saat dia menyugar rambut basah dengan satu gerakan sederhana, otot-otot lengannya ikut menegang, menambah kesan gagah dan maskulin.
Deg.
Anindya spontan menahan napas. Pandangannya meluncur turun, ke dada bidang dengan tato samar di sisi kiri, lalu lebih ke bawah. Celana renang basah itu menempel tanpa ampun, membentuk lekukan yang seharusnya tidak gadis itu lihat.
Wajahnya terbakar. Refleks, Anindya menoleh kasar ke samping.
‘Astaga Nin, jangan lihat!’ batin Anindya.
Namun otaknya kejam, rasa penasaran lebih kuat dari logika. Ekor matanya justru kembali melirik. Garis otot perut yang turun ke pinggang, pinggul yang ramping, dan bagian bawah yang jelas nyata. Terlalu nyata.
Arvendra menoleh, seakan sadar ada tatapan. Hazel itu menembus remang malam, langsung menemukan sosok Anindya yang kaku di dekat pintu kaca.
“Anindya?” Suaranya berat, serak, seperti masih basah oleh sisa renang. “Sedang apa kamu di situ?”
“Ada sesuatu yang mau saya sampaikan,” ucap Anindya ragu-ragu.
Arvendra melangkah mendekat, pelan tapi mantap. Dari jarak yang hanya satu meter, Anindya bisa melihat dengan jelas betapa celana renang itu tidak menyembunyikan apa pun.
Astaga ... memangnya milik semua pria sebesar itu?
“Kenapa wajah kamu merah begitu?” Arvendra bertanya dengan tenang.
“Saya … saya agak demam, sepertinya,” kilah Anindya gugup. Lidahnya kaku, logika berantakan.
“Jadi ada apa?” Arvendra bertanya lagi, masih sama tenangnya. Seakan tidak menyadari betapa penampilannya malam itu bisa membuat siapa pun kehilangan kata-kata.
Lidah Anindya kelu. Padahal sejak tadi dia menyiapkan kalimat untuk meminjam uang, tapi sekarang suaranya seakan hilang.
“Tidak ada, Pak. Saya permisi.” Anindya berbalik, tapi ponselnya tiba-tiba bergetar keras.
Layar menyala. Pesan masuk.
[Lo mau kasih uang jam berapa? Ini udah lewat jam delapan! KTP lo udah di gue. Mau gue laporin sekarang, hah?!]
Panggilan bertubi-tubi pun masuk, layar ponselnya dipenuhi notifikasi.
Sial. Napas Anindya memburu. Dengan tangan gemetar, dia berbalik lagi. “Pak.”
Arvendra yang hendak kembali ke kolam berhenti, menoleh. “Kenapa, Anin?”
Anindya menggenggam ponselnya erat-erat. Suaranya tercekat, tapi akhirnya keluar juga. “Boleh … boleh saya pinjam dua ratus juta?”
Hazel itu menajam, tapi pria itu tidak kaget. “Untuk apa, Anin?”
Dengan suara terputus-putus, Anindya menceritakan insiden di kompleks sore tadi. Tentang motor bututnya, tentang Lamborghini, tentang tuntutan ganti rugi yang mustahil dia bayar.
Pria itu mendengarkan tanpa memotong, hanya menatap tajam, tubuhnya masih setengah telanjang, membuat konsentrasi Anindya buyar berkali-kali.
Begitu cerita selesai, pria itu berkata, “Boleh. Saya pinjamkan uang itu.”
Anindya terperanjat. “Serius, Pak? Terima kasih, saya–”
“Tapi,” potong Arvendra tenang. “Temani saya di hotel besok malam.”
Hotel? Maksudnya pria ini apa? Tidur bersama begitu?
Anindya membeku di tempat. Kata-kata itu menghantam telinganya lebih keras daripada suara benturan yang masih terus terngiang di kepalanya–suara motor bututnya menghantam bodi Lamborghini yang bahkan harganya tak sanggup dia bayangkan.
“A-apa maksud Bapak?” tanya Anindya akhirnya setelah sekian lama membisu.
Tatapan Arvendra menusuk lurus. Datar, dingin, hazel yang berkilau seperti kaca. “Uang yang kamu butuhkan tidak kecil, Anin. Dan kamu datang pada saya tanpa jaminan apa pun.”
Langkahnya maju satu, mantap, membuat Anindya refleks mundur setapak. Ruang di antara mereka makin menyempit, udara seakan berat untuk dihirup, padahal mereka ada di luar ruangan.
Arvendra melanjutkan, “Kamu minta saya menyelesaikan masalahmu. Saya hanya menuntut satu hal sebagai gantinya. Setelah itu, anggap masalahmu selesai. Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana cara mengembalikannya.”
Anindya tercekat. Kalimat ‘temani saya di hotel’ berputar-putar di kepalanya, membuat tengkuknya dingin, kulitnya merinding. Dia tahu betul arti terselubung dari kata-kata itu. Tidak mungkin maksud pria ini sekadar temani biasa.
Matanya panas, bibirnya tergigit sampai perih, bahunya berguncang halus. Rasa takut, malu, dan getir bercampur menjadi satu.
Wanita itu masih perawan. Bahkan belum pernah sekalipun dicium, apalagi disentuh dengan cara yang tidak pantas. Bayangan dirinya berada di kamar hotel bersama pria dewasa yang lima belas tahun lebih tua darinya, seperti Arvendra, membuat perutnya mual dan seluruh tubuhnya merinding ketakutan.
“Pak … tidak ada cara lain?” Anindya memberanikan diri bersuara lagi, kali ini dengan putus asa. “Saya janji akan terus mengajar Elvio, tanpa dibayar, selama yang Bapak mau. Tolong … kasih saya kesempatan untuk ganti rugi dengan cara itu.”
“Guru les?” ulang Arvendra pelan. “Kamu tahu berapa saya bayar sekarang? Bahkan kalau kamu mengajar Elvio setiap hari, empat tahun penuh, nilainya tetap tidak akan menutup hutang itu.”
“Tapi saya … saya benar-benar nggak punya apa-apa lagi, Pak–”
“Perbaikan mobil itu nilainya dua ratus juta,” potong Arvendra. “Dan tawaranmu jelas tidak sepadan.”
Kalimat itu menampar Anindya lebih keras daripada teriakan siapa pun. Dalam sekejap, dia sadar: di hadapan pria ini, dirinya, keahliannya, janjinya–semua terasa tidak berarti.
Belum sempat Anindya mengucap apa-apa lagi, ponselnya tiba-tiba berdering keras. Tangan mungilnya gemetar ketika melihat gawai itu. Nama di layar membuat jantungnya langsung naik ke tenggorokan: Leo-Pemilik Lamborghini.
“H … halo, Pak …,” suara Anindya bergetar, nyaris tak keluar.
“Mana uang gue?!” suara berat dan galak itu langsung meledak di telinga Anindya. Nada teriakan itu jauh lebih keras daripada yang dia ingat, sampai Anindya refleks menjauhkan ponsel.
“Pak, saya mohon … jangan bawa ke polisi. Saya … saya lagi cari uangnya …” Tangis Anindya pecah, napasnya memburu. Air matanya jatuh satu-satu, tubuhnya gemetar hebat.
“Cari?! Lu pikir gue main-main?!” suara Leo di seberang makin garang. “Kerusakan mobil gue nggak bisa ditambal pakai janji kosong! Gue udah nahan diri buat nggak bikin ribut, tapi kalau bentar lagi duitnya nggak ada, gue pastiin lo tidur di sel tahanan malam ini!”
Klik.
Sambungan terputus. Anindya terhuyung, ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Napasnya tercekat, dada terasa kosong.
“Bagaimana?” Suara berat milik Arvendra terdengar lagi, dalam dan menggetarkan, memecah sunyi yang menekan.
Arvendra, Elvio, dan Ivelle masuk ke restoran hotel The St. Regis yang tenang dan tertata rapi. Di salah satu meja dekat jendela, seorang pria bule sudah menunggu.Begitu mereka mendekat, pria itu berdiri dan tersenyum ramah.“Halo,” sapanya hangat.Ivelle langsung duduk di samping pria itu, sementara Arvendra dan Elvio mengambil kursi di seberang.“Kenalin, ini Thomas.” Ivelle lalu menoleh ke Arvendra. “Maaf aku ngajak kalian jauh-jauh ke sini. Tapi aku pikir Singapura tempat yang paling netral. Tidak terlalu dekat dengan masa lalu, dan tidak terlalu jauh dari hidup kita sekarang.”“Lagipula,” lanjut Ivelle, “setidaknya Elvio dan Thomas bisa bertemu langsung. Sebelum semuanya resmi.”Arvendra mengangguk pelan. “Nggak apa-apa. Kita sekalian liburan,” katanya, lalu melirik Elvio. “Iya, ‘kan, El?”Elvio mengangguk antusias. “Iya, Papa.”Tidak dipungkiri, jantung Arvendra kini berdebar. Bukan karena marah. Bukan pula karena cemburu. Lebih seperti perasaan terintimidasi yang datang tanpa i
“Mbak Lara, besok mau golf nggak? Katanya di dekat hotel tempat kita nginep ada lapangan golf yang bagus,” tanya pria yang sedang menyetir mobil van itu.Juan, asisten sekaligus sopir Anindya selama dua tahun terakhir, melirik sekilas lewat kaca spion.Anindya yang sejak tadi memandangi jalanan Singapura yang rapi, bersih, dan nyaris tanpa cela, menoleh. “Boleh. Tapi runway untuk besok udah siap semua belum, Juan?”“Santai, Mbak. Udah aman semua.”Mobil melaju mulus, seperti hidup Anindya sekarang, teratur, cepat, dan tampak sempurna dari luar.Tiga tahun.Sudah tiga tahun berlalu sejak hari pembatalan pernikahan itu. Sejak hari ketika dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri, meski harus meninggalkan banyak hal di belakang.Indra pulih lebih cepat dari dugaan dokter. Stroke itu meninggalkan bekas, tentu saja, tapi tidak merenggut ayahnya darinya. Anindya menebus rasa bersalahnya dengan cara paling konkret, yaitu merenovasi rumah Indra di desa, memastikan pria itu tidak lagi hidup da
“Silakan lihat sendiri,” ujar Anindya tenang, suaranya datar tapi tajam. Dia menyodorkan ponselnya ke tengah meja. “Hanya orang yang benar-benar menutup mata yang masih mau melanjutkan pernikahan ini setelah melihat apa yang ada di sini.”Ruangan kecil di samping gereja itu terasa pengap. Zafran duduk kaku di kursinya. Darsa beserta istri di sisi berlawanan. Indra dan Nani di ujung meja, wajahnya tegang. Lidya duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan, terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan terbongkar.Suami Lidya dan anak perempuannya tidak ada di ruangan itu. Anindya sendiri yang meminta mereka menunggu di luar. Bukan apa-apa, ada hal-hal yang tidak pantas disaksikan anak kecil, dan karena dia tidak mau ada distraksi emosional yang bisa dipakai untuk memelintir keadaan.Video itu diputar. Tidak ada sensor. Tidak ada penjelasan tambahan.Zafran dan Lidya. Di kamar hotel. Bukan hanya tubuh, tetapi rencana.Suara mereka terdengar jelas. Tentang warisan. Te
“Nona, mempelai pria sudah tiba.”Suara penata rias itu menarik Anindya kembali ke tubuhnya sendiri usai Arvendra pergi. Dia menoleh seketika. Air mata di pipinya belum sepenuhnya kering, dan dia tidak berusaha menghapusnya. Biarlah. Kalau hari ini memang harus jadi hari terburuk dalam hidupnya, dia tidak ingin berpura-pura kuat.“Baik,” ucap Anindya pelan. “Boleh bantu saya berdiri?”Penata rias menghampiri, menahan gaun Anindya agar tidak terseret. Langkahnya terasa berat saat pintu ruang rias dibuka. Musik gereja mengalun lembut, terlalu damai untuk dada yang sedang berantakan.Saat Anindya melangkah masuk, Zafran sudah berdiri di depan altar. Rapi, tenang, tersenyum seolah tidak ada dosa yang baru saja dia sembunyikan rapi di balik jasnya.Anindya mengedarkan pandangan. Di barisan keluarga, Lidya ikut tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang sedang menikmati pertunjukan yang dia sutradarai sendiri.Semua orang tampak baik-baik saja. Semua orang tampak bahag
Bohong kalau Anindya tidak berdebar duduk berhadapan begini dengan Arvendra. Bohong kalau hatinya tidak tersayat. Bohong juga kalau dia tidak ingin bilang maaf, bersimpuh, lalu menarik semua keputusannya kembali.Namun, hari ini bukan tentang apa yang dia inginkan.“Kenapa Mas bisa tahu aku nikah hari ini?” Anindya membuka percakapan, suaranya berusaha datar.Mereka duduk berdua di sofa ruang persiapan. Pintu tertutup. Penata rias yang tadi menanganinya sudah dia minta menunggu di luar. Alasan profesional, alasan keamanan, alasan apa pun asal mereka diberi waktu. Untungnya perempuan itu mengerti dan tidak banyak bertanya.Arvendra menyandarkan punggung, menatap Anindya lama sebelum menjawab. Tatapan yang bukan marah meledak, tapi dingin, terukur, dan justru itu yang paling menyakitkan.“Yang penting itu bukan gimana saya tahu,” kata Arvendra akhirnya. “Yang perlu saya tahu, kenapa kamu mau-maunya dipaksa nikah sama orang itu.”Anindya menelan napas.“Dipaksa?” Arvendra mengulang, sudut
“Kamu nggak cemburu aku nikah sama adik tiri kamu?” tanya Zafran, nadanya ringan, hampir seperti bercanda di sela sarapan.Lidya menoleh. Senyum terbit di bibirnya, tipis dan terlatih, tapi matanya lelah. Mata orang yang terlalu lama menelan banyak kompromi.“Cemburu, lah,” jawab Lidya santai. Dia menarik selimut, menggeser tubuhnya mendekat. “Tapi ini yang terbaik. Kamu nikah, warisan turun. Habis itu, urusan kita jadi gampang.”“Gampang bagaimana?” Zafran melirik sekilas, sudah tahu jawabannya, tapi ingin mendengarnya diucapkan.“Nanti, setelah kamu dapat warisan,” ucap Lidya pelan, terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya berat, “aku urus perceraianku. Kamu urus pernikahanmu.”Zafran tersenyum kecil. Bukan senyum lega, melainkan senyum seseorang yang menikmati rencana yang rapi, bersih di atas kertas.“Sekarang cerai itu kelihatan buruk,” kata Zafran santai, seolah sedang membahas cuaca. “Keluarga aku butuh lihat aku stabil. Menikah. Normal. Kalau aku datang dengan perempuan be







