Share

Bab 8: Hampir Saja!

Auteur: Duvessa
last update Dernière mise à jour: 2025-10-20 00:45:54

Anindya terbangun dengan kepala berat, seolah dipukul dari dalam. Cahaya dari celah tirai menusuk mata, membuatnya terpejam kembali. Napasnya tercekat saat rasa nyeri menjalar dari pangkal paha. Perih, asing, membuat perutnya menegang refleks.

“Aw!” desis Anindya pelan ketika dia mencoba duduk.

Selimut yang dia kenakan melorot dari bahunya. Ketika itu dia baru saat itu dia sadar, kulitnya hanya tertutup kain putih itu. Tidak ada pakaian. Tidak ada jejak gaun yang tadi malam dia kenakan.

Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa dingin.

“Nggak mungkin …,” bisiknya gemetar. Suaranya pecah, napasnya pendek. Air mata mulai jatuh tanpa sempat dia tahan.

Dengan tangan yang bergetar hebat, Anindya menarik selimut erat-erat menutupi tubuhnya. Matanya menyapu panik ke sekeliling, ke sisi ranjang, ke kursi, ke lantai.

Kosong.

Ranjang di sebelahnya dingin dan rapi, seolah tidak pernah dipakai siapa pun.

Jantungnya berdegup keras. Dia berharap ada seseorang. Siapa pun. Agar dia tahu apa yang terjadi, atau setidaknya tidak merasa sendirian.

Namun, tidak ada.

Dengan selimut yang masih berada di tubuhnya, Anindya turun dari ranjang. Kakinya lemas ketika menginjak lantai dingin hotel, napasnya tertahan karena rasa sakit di selangkangan yang menusuk setiap kali dia bergerak.

Meski tubuhnya memprotes, dia memaksa melangkah menuju kamar mandi. Pintu didorong, akan tetapi kosong.

Cermin, wastafel, handuk, semuanya rapi. Tidak ada pakaian. Tidak ada orang. Tidak ada tanda kehadiran siapa pun selain dirinya.

Anindya bersandar di dinding sebentar, mencoba mengatur napas. Matanya buram, bukan hanya karena sakit, tetapi karena ketakutan yang menekan dada begitu keras sampai rasanya sulit bernapas.

Anindya menatap kosong ke lantai. Dia tidak tahu siapa pria yang melakukannya. Tidak tahu apakah tadi malam pria itu menggunakan pengaman atau tidak. Kalau dia hamil, dan tidak tahu siapa ayah dari anaknya, lalu bagaimana masa depannya?

“Kalau aku hamil gimana?” gumam Anindya lagi.

Akhirnya, dia berjalan kembali ke sisi ranjang, berniat mencari pakaiannya atau apa pun yang bisa menutupi tubuhnya selain selimut. Lututnya hampir goyah ketika dia berjongkok perlahan, jemarinya meraba lantai dingin di samping kasur.

Lalu Anindya melihatnya.

Sebuah saputangan. Tergeletak setengah tersembunyi di bawah nakas. Berwarna putih gading, terlipat tidak sempurna. Di salah satu ujungnya, ada noda merah samar. Entah lipstik atau sesuatu yang lain.

Dengan tangan gemetar, Anindya meraihnya.

Begitu saputangan itu berada di genggamannya, napas Anindya tertahan. Ada aroma yang menempel di kain itu. Samar, tapi terasa familiar.

Jantungnya mencelos.

Tidak, itu mustahil. Atau justru itu satu-satunya kemungkinan yang masuk akal?

Dada Anindya seketika mengencang, sementara pandangannya kabur.

Benarkah pria itu yang melakukannya?

__

“Bi Nur, kok rumah sepi?”

Suara Anindya terdengar parau ketika dia melangkah masuk ke dapur. Kepalanya masih berat, mata sembab, dan gaun pesta yang masih melekat di tubuhnya sudah kusut di beberapa bagian. Untung dia masih punya sedikit uang di dompet untuk pulang naik taksi. Kalau harus naik ojek dalam keadaan begini, dia bahkan tak tahu harus menjelaskan apa.

Nur, salah satu asisten rumah tangga di rumah Elvio yang sedang menyiangi sayur, menoleh cepat. “Oh, Kak Anin sudah pulang. Tadi Elvio dijemput sama neneknya. Tuan Arven juga lagi ada meeting dadakan dari pagi.”

Anindya hanya mengangguk pelan, lalu pamit untuk pergi ke kamarnya. “Aku ke kamar dulu ya, Bi.”

Tanpa menunggu balasan, Anindya melangkah menuju kamar tamu. Saputangan putih itu masih tersembunyi di dalam tas kecil yang dia peluk erat. Kepalanya berat, tubuhnya letih, tapi pikirannya jauh dari kata tenang.

Begitu tiba di kamar, Anindya duduk di tepi ranjang. Rambutnya masih lembap setelah mandi. Agar tidak menempel di kulit, dia menjepit sebagian dengan jepit rambut kecil berwarna perak. Bukan karena peduli penampilan, tapi karena kepalanya terasa penuh dan dia butuh bernapas lega tanpa rambut menghalangi wajah.

Dani.

Kenapa dia memberi Anindya minuman itu? Apa maksudnya?

Entahlah, Anindya tidak punya tenaga untuk memikirkan itu.

Namun, Anindya segera teringat dengan sapu tangan itu. Dia ingat betul wangi woody-spicy samar di sapu tangan itu rasanya mirip sekali dengan aroma jas yang dikenakan Arvendra tadi malam.

Anindya melirik jam di dinding kamar, pukul dua siang. Nur bilang Elvio baru pulang sore, sementara Arvendra kemungkinan hingga malam. Artinya, kalau dia ingin memastikan sesuatu, sekarang adalah satu-satunya waktu yang aman.

Berbekal keberanian yang bahkan tidak dia tahu dari mana datangnya, Anindya melangkah keluar kamar. Dia berhenti di anak tangga pertama, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun.

Perlahan, Anindya mulai menaiki anak tangga satu per satu. Tujuannya jelas, yaitu kamar Arvendra. Di sanalah, mungkin, jawaban yang dia cari sedang menunggu.

Begitu tiba di depan pintu, Anindya menelan ludah. Tangannya bergetar saat memutar gagang dan mendorong pelan. Pintu tak terkunci.

Kegelapan menyambutnya, bersama aroma sabun pria yang langsung menyergap. Dia meraba dinding, menyalakan lampu. Cahaya putih menyingkap kamar hitam-abu yang rapi dan dingin, nyaris terlalu sempurna.

Pandangan Anindya tertuju pada meja di sudut, deretan botol parfum tersusun rapi dalam kaca elegan.

Pelan, dia menutup pintu, melangkah mendekat, lalu mengambil satu botol. Tutupnya dibuka, aromanya dihirup pelan.

“Bukan ini,” gumamnya pelan.

Sampai akhirnya, pada botol kesekian, tubuhnya mendadak kaku. Aroma itu. Samar tapi tegas, wangi yang sama dengan saputangan di tangannya. Sontak saja Napas Anindya tercekat. 

Deg.

Suara langkah dari arah lorong membuat jantung Anindya melonjak. Dia menoleh cepat ke arah pintu. Dan bayangan seseorang tampak di bawah celah pintu, bergerak perlahan.

“Pak Arven? Dia sudah pulang?”

Anindya buru-buru berlari ke sebuah lemari kecil untuk bersembunyi. Dan tepat ketika pintu lemari mungil itu tertutup, suara pintu kamar terbuka.

“Katanya sampai malam, kok ini udah pulang? Duh, gimana ini,” gumam Anindya lirih, dia berusaha menahan napasnya.

Dari balik celah pintu lemari, Anindya bisa melihat Arvendra sedang membuka jam tangannya perlahan, tampak seperti orang yang sedang malas. Kemudian, pria itu duduk di tepi ranjang, masih dengan kemeja yang lengannya telah digulung sampai siku.

Setiap gerakan kecil Arvendra terasa lambat, kontras dengan detak jantung Anindya yang semakin cepat. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya, lalu mulai membasahi leher.

Beberapa saat kemudian, Anindya tidak lagi melihat Arvendra di tepi ranjang, lalu suara pintu terbuka langsung menyapa pendengaran Anindya.

“Dia sudah keluar?” gumam Anindya lagi.

Setelah itu, dengan gerakan perlahan, Anindya membuka pintu persembunyiannya. Dia telah sepenuhnya yakin bahwa Arvendra tak ada lagi di sana.

“Hhh …”

Anindya menghela napas lega. Hampir saja dia ketahuan.

Buru-buru Anindya melangkah ke arah pintu kamar. Namun, tentu gerakannya perlahan agar tak menimbulkan suara.

Namun, kurang satu langkah Anindya bisa meraih gagang pintu kamar, tiba-tiba—

“Sedang apa kamu di kamar saya?”

Deg!

Anindya menoleh. Pandangannya langsung menangkap sosok Arven yang berdiri di sana dengan tatapan heran. Namun, kali ini bukan itu yang membuat Anindya lebih terkejut.

Dada polos Arvendra yang tak tertutup apapun, menampilkan goresan-goresan merah seperti bekas cakaran. Bekas itu bahkan tampak juga di lengan kekarnya.

Apa itu karena perbuatannya semalam?

“Gak mungkin,” ujar Anindya lirih sambil menutup mulutnya.

“Anindya, saya tanya, sedang apa kamu di kamar saya?”

Suara Arvendra kembali mengudara. Kali ini terdengar lebih mendesak, tapi tetap tenang. Bahkan, pria itu telah mengambil beberapa langkah mendekati Anindya, seolah penampilannya kini yang bertelanjang dada bukan masalah besar.

“Maaf lancang,” suara Anindya bergetar saat berucap. Perlahan, dia mengeluarkan saputangan dari saku celananya, menunjukkannya pada Arvendra. “Saya cuma mau tahu … yang semalam di hotel itu Pak Arven atau bukan? Ini punyanya Pak Arven?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Febru Anggorowati
jangan berpikiran ngeres dulu nin
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
smg Arvendra bs diajak obrol*
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 76: Rahasia

    “Mas, maaf tadi aku meeting jadi nggak angkat telepon.” Anindya meraih satu pak tepung terigu, meletakkannya di keranjang sambil memindahkan ponsel ke telinga.Di seberang, suara Arvendra langsung mereda, seperti baru saja menahan sesuatu. “Saya nggak tahu kamu lagi meeting. Kalau tahu, saya nggak ganggu. Gimana? Lancar?”“Lancar, Mas.” Anindya mendorong troli pelan, melewati deretan gula pasir dan baking powder.“Kamu lagi di mana sekarang? Kedengarannya kayak rame.”“Di supermarket,” jawab Anindya jujur. “Mau buat cake sama cookies. Elvio juga udah aku suruh ke apartemen.”Hening satu detik.“Loh Mas nggak diajak?” Nada Arvendra turun sedikit, bukan marah, lebih seperti bingung kenapa dirinya tidak otomatis termasuk dalam rencana. “Terus ada acara apa memang?”Anindya menggigit bibir, menahan senyum kecil. “Aku baru diterima jadi model salah satu brand skincare, Mas. Ini kesempatan besar buat aku. Aku seneng banget.” Terdengar tarikan napas pelan dari seberang. Arvendra butuh dua d

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 75: Meeting

    Senyum yang muncul di wajah pria itu bukan senyum ramah profesional. Itu senyum seseorang yang merasa sudah menemukan seseorang yang dia cari.Pria itu Wira. Wira dari klub, pria yang semalam mencondongkan tubuh terlalu dekat, yang mengikuti langkah Anindya tiga menit penuh, yang hampir dia maki kalau saja Arvendra tidak muncul di detik terakhir.Sekarang tatapan Wira jauh lebih halus, jauh lebih dewasa, jauh lebih terkontrol, dan itu justru membuatnya jauh lebih berbahaya.Anindya refleks mundur selangkah.Mia yang tidak tahu apa-apa, tampak heran. “Lara, ini Pak Wira Wibowo. Owner salah satu brand skincare premium dan sponsor utama untuk event kita berikutnya.”Wira mengangguk santai, postur tegaknya menyiratkan kepercayaan diri pria yang terbiasa duduk di kursi paling penting dalam rapat apa pun.“Ternyata kita bertemu lagi,” kata Wira. Senyumnya tetap lembut, terukur, bersih. Namun, bagi Anindya, itu senyum yang jauh lebih mengancam daripada versi klub semalam.“Eh? Kalian sudah k

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 74: Satu Tahun Lagi?

    Anindya langsung kaku.Sudah dia bilang dia belum siap untuk memulai pernikahan. Namun, di dalam hati kecilnya dia tahu, bertahan dalam hubungan seperti ini pun jelas bukan keputusan tepat. Terlebih setelah kejadian semalam, dia tidak bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.“Mas …” Napas Anindya tersangkut.“Tapi saya siap ditolak.” Arvendra mengucapkannya datar, tanpa nada terluka, tanpa gurauan. Lebih seperti pria yang sudah terlalu sering menerima kenyataan pahit dan memutuskan untuk menanggungnya saja.“Mas, bukan begitu maksud aku.” Anindya buru-buru mencondongkan tubuh, panik melihat ekspresi pria itu yang terlalu tenang. “Tunggu, ya, satu tahun lagi?”“Satu tahun?” ulang Arvendra pelan. Terlalu pelan. Terlalu tenang untuk sesuatu yang jelas membuatnya panas.“Aku udah tanda tangan kontrak sama agency. Di sana peraturannya nggak boleh menikah dulu selama satu tahun,” jelas Anindya pelan.Tatapan hazel itu langsung berubah. Bukan marah, tapi kedewasaan seorang pria yang merasa gadi

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 73: Anak Burung Kesayangan

    Beep. Beep. Kode pintu ditekan dari luar.Anindya buru-buru menyeka air matanya, tapi percuma. Pintu sudah terbuka, dan Arvendra berdiri di ambang. Kaus hitam melekat di tubuhnya, rambut sedikit berantakan, napasnya masih tersengal tipis seolah dia berjalan cepat. Di tangannya ada plastik putih kecil.Begitu tatapannya turun pada mata Anindya yang basah, ekspresinya langsung berubah. Tanpa bertanya, tanpa kalimat pembuka, dia berjalan menghampiri.“Anin …” Tangan Arvendra meraih pinggangnya, menariknya ke dada keras itu dengan gerakan mantap tapi lembut.“Hei, hei. Kenapa nangis begini?” tanyanya. Tangan besarnya terangkat ke belakang kepala Anindya, membenamkannya ke pelukan hangatnya.Dan seketika itu juga, pertahanan Anindya runtuh. Dia mencengkeram bagian depan kaus Arvendra, tubuhnya gemetar, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.“Aku … aku nggak suka ditinggal kalau pagi …” Kalimat itu pecah, kecil, memalukan, tapi terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin dia simpan sendiri.Arv

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 72: Memuja Tubuhnya

    “Sejauh yang Mas mau,” bisik Anindya.Arvendra tertawa kecil. Bukan tawa manis. Namun, tawa pria yang baru saja diberi izin untuk kehilangan kendali, dan tahu persis konsekuensinya.“Good. Karena saya juga sudah terlalu lama menahan ini.” Arvendra menunduk, mencium pusat dada Anindya, lalu turun perlahan. Tidak terburu-buru, tetapi tiap inci seolah dihitung, dipelajari, diingat. Tangan besarnya mengusap naik turun sisi pinggulnya, menggenggamnya sekali, cukup untuk membuat Anindya melengkung.“Relax, Sayang.” Pria itu mencium perut bawah Anindya. “Biar saya yang kerja malam ini.”Anindya menggigit bibir, kedua pahanya menegang refleks.Arvendra merasakan itu. Tangan Arvendra menahan kedua paha itu, membukanya sedikit, ibu jarinya mengusap bagian dalam paha Anindya dengan tekanan yang nyaris malas, tapi sangat … sangat niat.“Kamu gemeteran,” gumam Arvendra sebelum mencium bagian dalam paha kiri, lembut dan dalam sekaligus.“Mmm …” Anindya tidak bisa membentuk kata. Yang keluar hanya na

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 71: Mau Sejauh Apa?

    Arvendra membalas ciuman itu tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Bibirnya menekan balik dengan kendali seorang pria yang sudah terlalu lama menahan diri, kendali yang sejak tadi hanya tinggal satu tarikan napas untuk pecah.Tangan besarnya melingkar di pinggang Anindya, menarik tubuh gadis itu naik sepenuhnya ke pangkuannya. Gerakan itu tegas, seperti dia akhirnya mengambil apa yang sudah terus menerus menggoda batas sabarnya.Anindya terkejut, tapi tubuhnya justru merapat. Tangannya naik ke bahu Arvendra, meremas kemeja hitam itu begitu erat seolah kalau dia melepaskan genggaman sedikit saja, gravitasi akan menyeretnya jauh lebih dalam.Ciuman itu berubah. Dari impulsif, menjadi haus. Dari haus, berubah menjadi kebutuhan yang tidak peduli siapa yang akan terbakar duluan.“Anin,” suara Arvendra pecah di sela napas mereka, bibirnya masih menyisir bibir gadis itu.Anindya hanya mengeluarkan gumaman tanpa bentuk, tubuhnya terasa terlalu panas untuk memproduksi kalimat yang waras.Ar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status