Share

Dua Lawan Satu

Plak... plak! 

Maya menampar wajah bu Marni. Lalu berkata “Jaga bicara anda! Saya bisa lebih kasar dari ini.”

Bu Marni memegang wajahnya yang perih, dia tak menyangka Maya akan berani menamparnya. 

Biasanya, pelakor akan ketakutan kalau di datangi. Berbeda dengan Maya, dia malah melawan. 

“Pantas Danu bertekuk lutut di kakinya, wanita sia*an ini punya karisma,” batin bu Marni. 

Tak menerima ibunya di tampar, Mira maju dan menarik rambut Maya, sampai dia terhuyung ke belakang. 

“Jangan beraninya sama orang tua, kalau kamu mau bertarung. Ayok, lawan saya.” Mira bekata dengan penuh amarah. 

Rambut panjang Maya masih dalam genggamannya. 

Maya yang tak bisa menjaga keseimbangan akhirnya terjatuh. 

Bugh! 

Badannya menghantam meja kaca dan

Prang!

Kaca meja pecah, Maya terduduk di atas pecahan kaca. 

Melihat hal itu, Mira tambah menarik rambut Maya. 

Maya memegang tangan Mira, berusaha melepaskan rambutnya. Karena merasa kekuatan Mira besar, akhirnya Maya mencakar Mira dengan kukunya yang panjang. 

“Aduh,” teriak Mira. 

Tangannya terlepas dari rambut Maya. 

“Ternyata kucingnya, kucing garong, Bu,” ucap Mira kepada ibunya. 

Bu Marni yang mendengar perkataan anaknya itu ikut tersenyum, lalu berkata. 

“Hati-hati, Nak! Dia bukan kucing garong. Tapi, kucing gila.”

Ejekan Mira dan bu Marni, kembali menyulut emosi Maya. Dia segera bangkit dan mendekati Mira. 

Dia menendang kaki Mira, sampai Mira tersungkur. Kakinya dengan cepat menginjak punggung Mira agar tak bergerak. 

Melihat hal itu, bu Marni menarik tangan Maya untuk menjauh dari Mira. 

Merasakan tangannya di tarik, dia segera berbalik dan menghentakkan tangannya. Bu Mirna terhuyung ke belakang.  Untung saja dia tak jatuh. 

“Se*an memang kalian, beraninya keroyok. Coba satu lawan satu!” seru Maya dengan napas yang ngos-ngosan. 

“Banyak bicara kamu,” timpal Mira yang tiba-tiba telah berada di belakang Maya.  Lengannya dia kalungkan di leher Maya, membuat wanita cantik itu tak bisa bernapas. 

Sekuat tenaga, dia memukul tangan Mira. Tapi tenaganya kalah dari tenaga adik Danu tersebut. 

Wajah Maya sudah memerah, dia sudah mulai kehilangan oksigen. Tangannya masih memukul-mukul lengan lawan. 

Bu Marni duduk di sofa menyaksikan kekasih anaknya kehabisan napas, dia sama sekali tak punya niat untuk melerai. Dia tau Mira tak akan membunuh wanita itu. 

Hanya, dia harus di beri pelajaran fikirnya. 

“Le— pas— kan,” terbata Maya berucap. Dengan sisa tenaga yang di miliki, kakinya menendang tulang kering Mira. 

Mira kesakitan, tangannya terlepas dari leher Maya. 

Maya jatuh terduduk.

 “Uhuk... uhuk... uhuk....” Dia terbatuk, baik Maya maupun Mira, mereka sama-sama kecapaian.

Merasa sudah agak mendingan, Maya bangkit mendekati Mira, melihat hal itu bu Mira mengambil figura yang terletak di atas bufet. Lalu melemparkan ke arah Maya. 

Bugh! 

Punggung Maya terkena figura tersebut, tapi dia tak peduli, targetnya adalah gadis yang tadi mencoba untuk membunuhnya. 

Mira yang masih berguling kesakitan pasrah, ketika rambutnya di tarik. Dia hanya bisa berteriak. “Aduh, tolong... tolong.”

“Silahkan, teriak sekencengnya. Tak akan ada yang bisa menolong kamu!” ucap Maya. 

Bu Marni mendekat, mendorong Maya sampai terjatuh. 

“Hentikan!”

Mereka yang mendengar teriakan tersebut, langsung berbalik ke arah sumber suara. 

Terlihat, wajah Danu merah menahan amarah. 

“Apa-apaan ini!” gertaknya. 

Maya yang pintar membaca situasi, segera meringis lalu berkata. 

“Mas, tolong! Mereka mengeroyok saya.”

Mendengar perkataan Maya, dan melihat apa yang baru saja ibunya lakukan, Danu lebih percaya pada Maya. 

“Bu, apa yang Ibu perbuat? Bikin malu saja,” tegur Danu. 

“Bikin malu! Siapa yang bikin malu? Ibu atau kamu?” bu Marni bertanya balik. 

“Ya, Ibulah! Datang ke rumah orang, terus mengeroyok yang punya rumah,” jelas Danu. 

“Heh, anak tak tau diri, kalau kamu angkat telpon, tidak akan Ibu sama Mira ke sini.” Bu Marni membela diri. 

“Kok, Mas tega marahi Ibu demi ular seperti dia.” Mira yang sedari tadi diam, ikut menimpali. 

“Anak kecil tidak usah ikut campur,” tegur Danu. 

Maya yang melihat perdebatan kecil, antara Anak dan orang tua tersenyum dalam hati. 

Tak sia-sia ektingnya, dirinya berharap Danu mengusir mereka dari rumahnya. 

“Sudahlah, Ibu juga tak sudi lama-lama di sini. Sekarang kamu ikut Ibu pulang,” ajak bu Marni pada putra semata wayangnya itu. 

“Danu, masih mau di sini, silahkan Ibu dan Mira pulang duluan,” tolak Danu. 

“Hehehehehe.” Bu Marni tertawa. Lalu berkata. “Kalau kamu tidak pulang bersama Ibu, berarti, kamu sudah siap di coret dari daftar pewaris perusahaan Danu Reksa Perdana.”

Danu menggeleng, ibunya tau betul kelemahannya. 

“Bagaimana?” tanya bu Marni ingin memastikan. 

“Baiklah, Danu ikut Ibu pulang,” putus Danu Akhirnya. 

“Kamu lihatkan? Kakakku lebih mencintai harta daripada kamu, SUND*L!” bisik Mira, saat dia melewati Maya. 

Maya yang mendengar, hanya bisa mengepalkan tangan. Tak mungkin membalas perkataan gadis itu. 

“Sial*n,” Makinya dalam hati. 

Maya hanya bisa menyaksikan Danu berlalu pergi, hatinya tiba-tiba nyeri. Terbayang perjalanan untuk bersatu dengan Danu pasti berat. 

“Huffft,” dia menghembuskan napas panjang. 

Saat berbalik, dia melihat ruang tamunya berantakan, tambah membuat semua sendinya tambah sakit.

Baru saja hendak duduk, Maya merasakan semua siku dan tangannya perih, saat dia memperhatikan tangannya. Matanya terbelalak, telapak tangan sampai siku penuh goresan-goresan kaca, bahkan ada beberapa pecahan kaca yang menempel. 

“Sepertinya, aku butuh dokter,” lirihnya. 

Segera dia melangkah ke kamar, berganti pakaian. Lalu segera berangkat ke rumah sakit. 

***** 

“Danu, nggak usah pulang ke rumah. Langsung ke rumah sakit saja,” perintah bu Marni pada anaknya itu. 

“Nggak usah, Bu! Luka Mira bisa di obati di rumah,” tolak Danu. 

“Siapa yang mau mengobati Mira?” tanya bu Marni balik. 

Danu melirik ibunya, wanita paruh baya itu sedang memainkan telpon genggamnya. 

“Lalu, kalau bukan untuk mengobati luka Mira, terus untuk apa kita ke rumah sakit?!” tanyanya lagi. 

“Sudah, nggak usah banyak tanya. Lebih baik kamu konsentrasi menyetir. Ibu tidak mau kalau karena kelalaian kamu, kita semua berakhir di kuburan,” cecar bu Marni. 

Hatinya masih kesal kepada Danu. Tapi, dia tak mau Danu kembali lagi ke rumah pelakor itu. 

Lebih baik, dia konsentrasi dengan rencana awalnya. 

“Pelakor harus dilawan dengan pelakor,” gumam bu Marni. 

“Apa, Bu?” tanya Danu, dia mendengar gumaman bu Marni. 

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruang ICU. Danu yang masih tidak tau apa yang terjadi hanya bisa mengekor ke mana Ibu dan adiknya pergi. 

Sampai di ruang ICU, pintu ruangan terbuka dan sosok lelaki yang sangat di kenal oleh Danu keluar. Mereka saling bertatapan, lelaki itu mendekati Danu, lalu tersenyum dan. 

Bugh! 

Bugh! 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status