首頁 / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 4. Terjerat Kembali

分享

4. Terjerat Kembali

作者: Mira Restia
last update publish date: 2021-07-22 21:51:18

Zeva merebahkan diri, mencoba memejamkan mata, tapi tidak berhasil. Dia tidak menyangka, sampai kini pun otaknya dipenuhi memori saat bersama dengan Vianca. Wanita itu, berhasil mencuri hatinya, walau hanya baru bertemu satu malam. 

Zeva meraih ponsel, kemudian mengirim pesan pada Vianca hanya sekadar menggoda tanpa ada maksud lain. "Gua ingin ketemu sama lo lagi. Setiap hari dan seumur hidup. Lo mau?"

Zeva merasa geli sendiri. Jika dia bertemu setiap hari dengan Vianca, maka dia harus sedia uang yang banyak untuk membayar rutin wanita itu. Padahal, uang dari ayahnya sudah hampir menipis. Semakin ke sini, ayahnya terlalu rese dan susah memberikan uang lagi. Zeva jadi kepikiran untuk mencari pekerjaan dengan benar.

Ada notifikasi pesan masuk, dan itu dari Vianca. "Jangan aneh-aneh, Mas."

Zeva tidak suka balasan itu. Baginya, Vianca sudah lancang menolak dirinya.

"Lo adalah wanita malam paling rese yang pernah gua temui. Lo nolak keinginan gua?" 

"Bukannya menolak, kalau bertemu seumur hidup itu artinya menikah. Emang Mas mau nikah sama saya?"

Zeva tertegun, kini dirinya yang tidak membalas. Entahlah, sepertinya Zeva takut jika dimintai menikahi Vianca. Meskipun Vianca baginya adalah sesuatu hal yang paling indah. Namun, dia tidak pernah terpikir untuk mendapatkan keturunan dari seorang mantan wanita malam. 

Zeva hanya ingin bersenang-senang sejenak, selepas keluar dari penjara. Namun, hatinya lebih rumit dari yang dia pikirkan. Wajah Vianca akan terlukis sendiri di otaknya.

***

Vianca, wanita itu kini sedang berputus asa. Di depan matanya ada seorang laki-laki yang sedang mengacak-acak kamarnya untuk mencari sesuatu. Vianca melempar benda apa saja yang dia raih. Kebetulan, ada dua bingkai foto di sampingnya dan benda itu melayang di udara mengenai punggung pria yang bernama Melvin. Namun, punggung Melvin terlalu kokoh jika hanya dilempar bingkai. 

Laki-laki itu tahu seluk beluk isi kontrakan Vianca, karena dia adalah kakak tiri Vianca. Melvin membalikan badan sejenak, hanya untuk mengumpat dan memaki adiknya dengan kata-kata kotor. 

"Jangan sentuh barang-barangku!" teriak Vianca.

Akhirnya yang Melvin cari berhasil dia temukan. Sungguh tidak mudah menemukan amplop berisi uang milik Vianca, karena Vianca menyembunyikan amplop itu. 

"Dari mana kakak tahu aku baru dapat uang, hah? Kembalikan itu padaku!" Vianca mendekat.

"Halah, pelit banget! Timbang uang dari cowok brengsek juga! Kakak cuma pinjem doang! Nanti dibalikin!"

"Kakak gak tahu diri! Tiap ambil uangku bilangnya selalu aja kaya gitu. Aku gak percaya!"

"Cerewet, lagian ini bukan duit halal juga 'kan?" Melvin mengacungkan amplop tinggi-tinggi.

Vianca melompat menggapai amplop tersebut, tapi usahanya sia-sia. Malahan, dirinya hanya menjadi bahan tertawaan Melvin saja. Vianca maju, semakin mendekat ke arah Melvin.

Melvin mendorong Vianca, tapi wanita itu tidak mau kalah, dia mengigit lengan Melvin dengan sekuat tenaga. Karena terdesak membutuhkan uang dengan cepat, sehingga Melvin mendorong lebih kuat adiknya hingga Vianca tersungkur, kepalanya membentur pinggiran nakas.

"Sorry, Vi. Salah sendiri gigit lengan kakak."

Napas Vianca terengah-engah karena kekesalannya sudah memuncak di otak, yang paling membuatnya kesal adalah, karena dia tidak bisa berbuat banyak dengan tenaga yang dia miliki saat ini. Melvin terlalu perkasa untuk dilawan.

"Kembalikan uangku. Itu modal aku buat nyari kerja!" Vianca berteriak pada Melvin yang sudah berada di ujung pintu.

Melvin mana sudi mendengarkan permohonan Vianca. Karena dia sendiri sudah buntu untuk mendapatkan jalan yang lain. Dia terlalu serakah sehingga meninggalkan hutang dengan bunga yang besar.

Vianca bangkit, mengambil betadine, sadar dahinya berdarah saat membentur pinggiran nakas tadi. Dia menghadap ke cermin, menatap dirinya sendiri dalam kesedihan. Usahanya semalam sia-sia sudah. Padahal, dia sekuat tenaga menahan rasa takut menghadapi pelanggan yang baru saja terbebas dari bui.

Merogoh ponsel, Vianca dengan tidak tahu malu mengirim chat pada Zeva. Dia buta arah, lupa bahwa sebenarnya masih ada jalan lurus jika mau sedikit saja bersabar. Vianca, begitu berputus asa hidup dalam kesulitan.

"Mas Zeva! Maaf! Boleh saya minta uang lagi?"

Zeva membalas. "Kalau mau uang? Ya buat gua senang lagi kaya kemarin. Tapi ingat! Jangan minta dinikahi, ya! Karena gua gak mau berhubungan resmi sama lo."

"Oke, siap," balas Vianca.

Dia mengumpat dalam hati. "Lagian siapa juga yang mau hubungan serius sama pria angkuh macam Zeva."

Vianca lagi-lagi harus menjilat ludah sendiri. Dia membenci dirinya yang seperti ini. Dia ingat ada uang yang sempat dia pisahkan sebagian, dia pun pergi ke gerai kecantikan untuk membeli make up.

Dia pergi sendiri, sambil menangis sepanjang jalan karena masih tidak ikhlas uangnya lenyap begitu saja digunakan oleh Melvin.

Merasa minder masuk ke gerai kecantikan dengan mata yang sudah terlanjur bengkak, akhirnya Vianca duduk di bangku di depan mini market yang sedang tutup. Berharap, kondisi matanya membaik, tapi hal itu tidak terjadi.

Hingga akhirnya, Vianca menyadari di hadapannya ada ice bland avocado. Minuman itu sejajar dengan mukanya hingga berkesimpulan minuman itu diberikan padanya dengan cuma-cuma.

Vianca tidak mau menerima minuman dari orang asing. Dia menggeser minuman menjauh darinya. "Maaf, saya lagi tidak ingin minum es."

"Yakin?" jawab pria itu

Tertegun, dia kenal suara itu. Suara pria menyebalkan yang sudah mengganggu tidurnya semalam. 

"Zeva?" tanya Vianca, sambil sibuk merapikan rambut dan mengusap wajah.

"Iya, kebetulan banget kita ketemu di sini."

Vianca tertunduk, penampilannya tidak cantik seperti semalam. Malahan, wajahnya sembab dan menyisakan luka di dahi.

"Angkat wajah lo, Vi!"

Vianca tidak menurut. Selain karena malu dengan penampilannya, bukan waktunya juga untuk bertemu Zeva. Mereka janjian nanti malam.

Zeva meraih dagu Vianca, mengangkatnya ke atas. Wajah Vianca tanpa make up malah membuat Zeva semakin suka, karena cantik alami. Namun, ada hal yang tidak disukai Zeva. Mata sembab dan dahi yang luka mengganggu pemandangannya.

"Benar-benar cewek menyedihkan! semoga nanti malam, tampilan lo gak gini-gini amat."

"Iya! Ini juga 'kan mau beli make up yang bagus. Tapi kalau luka di dahi gak mungkin hilang hari ini. Jadi dimaklum aja, ya!"

Zeva terkekeh. "Lo habis tawuran? Lain kali hati-hati! Jangan terlalu bar-bar kalau ada janji sama gua. Males banget, tahu. Lihat wajah lo kaya gitu."

Zeva membayangkan sosok PSK yang sedang berkelahi, jambak-jambakan memperebutkan sesuatu dengan temannya. Dia mengambil kesimpulan sendiri, karena tahu sifat gadis malam pada umumnya memang seperti itu.

Sementara itu Vianca, hanya merotasi bola mata. Masa bodo dengan penilaian Zeva. Hal itu lebih baik baginya, daripada Zeva ikut-ikutan mencampuri urusan keluarganya.

"Minum!" perintah Zeva, sambil mendekatkan minuman yang sempat digeser Vianca tadi.

"Saya tadi sudah bilang, gak mau minum es."

"Kenapa? Kita sudah pernah melakukan hal yang lebih, selain minum di gelas yang sama 'kan?"

Zeva lebih mendekatkan ice bland pada mulut Vianca. Namun, Zeva malah melihat minumannya jatuh, sehingga semua isinya tumpah. Hal itu lantaran Vianca menepis pemberian Zeva.

Hampir saja Zeva mengamuk akibat penolakan wanita itu. Akan tetapi, amarahnya mereda berganti dengan perasaan iba saat menatap manik Vianca. Zeva melihat ada raut putus asa dari sorot mata itu. 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Sagala Cellular
suka sskali keren
查看全部評論

最新章節

  • Pelampiasan Pria Angkuh   100. Tamat

    Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau

  • Pelampiasan Pria Angkuh   99. Edrick dan Kirana

    Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan

  • Pelampiasan Pria Angkuh   98. Zalea 1 Tahun

    Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   8. Terluka

    Vianca sudah memakai pakaian putih-hitam karena hari ini ada panggilan kerja. Namun, walaupun masih pagi, dia diresahkan oleh kehadiran Melvin di depan rumahnya. Kakaknya itu, nampak kumal, serta belum mengganti pakaian hang out. Sepertinya, Melvin semalaman habis party bersama teman-temannya.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   7. Mantan Pacar Zeva

    Setelah satu bulan lamanya, Vianca sudah tak mendengar kabar laki-laki itu lagi. Terakhir mereka bertemu, Zeva membantu menyiapkan lamaran pekerjaan. Hal kecil itu membuat kesan tersendiri bagi seorang Vianca, yang sangat jarang berinteraksi dengan orang sekitar. Saat Zeva tidak hadir, maka hari-

  • Pelampiasan Pria Angkuh   6. Wanita yang Tak Layak

    Sudah kesekian kalinya Zeva dan Vianca bertemu. Sekadar berkeluh kesah layaknya teman yang saling mendukung. Namun, baru kali ini Vianca diajak ke kontrakan milik Zeva. Kontrakan yang lebih mirip persembunyian teroris karena letaknya yang jauh dari jalan utama. Serta, stiker logo death metal mene

  • Pelampiasan Pria Angkuh   5. Sulit Terpejam

    Zeva menyaksikan sendiri minuman yang diberikan pada Vianca jatuh. Alisnya berkerut, dia keberatan niat baiknya disambut dengan penolakan.Vianca mengigit bibir bawah, resah karena dia tidak sengaja menumpahkannya. Dia masih waras untuk tidak mencari gara-gara dengan Zeva. "Maafkan saya!"

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status