Beranda / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 3. Ketakutan Vianca

Share

3. Ketakutan Vianca

Penulis: Mira Restia
last update Tanggal publikasi: 2021-07-22 21:32:45

Menjelang dini hari, meskipun mereka sudah melalui malam indah bersama, keduanya tidak terpejam. Seolah, waktu sayang untuk dilewatkan hanya dengan tidur. Besok, bisa saja mereka akan saling melupakan dan hari ini adalah hari di mana pertama dan terakhir kali mereka bertemu.

"Gua ingin melakukan banyak hal bersama lo, hanya dalam waktu satu malam."

"Ngapain lagi?" tanya Vianca setengah ngantuk.

"Ngobrol sama lo."

Vianca tidak menjawab, dirinya ingin tidur tapi tidak diijinkan. Tadi sempat dia terpejam, tapi bahunya diguncang oleh Zeva hingga akhirnya bangun lagi. 

Namun Zeva tidak peduli. Masa bodo dengan wajah Vianca yang menahan ngantuk. Dia ingin wanita itu mendengarkan apa pun yang Zeva ungkapkan. "Usia lo berapa tahun, kenapa bisa seimut ini?"

Vianca yang nyaris terlelap mendadak segar bugar hanya dengan satu kalimat pujian. "Imut?"

"Serius, imut banget. Jadi berapa taun usia lo?"

"22 tahun. Kalau Mas berapa tahun?"

"Muda banget, gua 30 tahun kurang dua hari."

"Bentar lagi ultah, dong. Happy birthday, ya! Wish you all the best."

"Kenapa kasih ucapan? Dua hari lagi 'kan? Bukan hari ini."

"Dua hari ke depan belum tentu kita bertemu lagi 'kan?"

"Selama lo gak blokir nomer gua. Lo bisa chat gua kapan aja. Jangan pernah diblokir, ya! Please!"

Vianca tersenyum, karena isi hatinya mudah ditebak Zeva, memang dia ada rencana memutus kontak dengan pelanggan yang terakhirnya ini. Sesuai rencananya semula, setelah mendapatkan uang dari Zeva, dia akan pergunakan uang itu untuk menyogok pekerjaan.

"Kenapa senyum? Jadi beneran nanti lo bakal blokir nomer gua?"

"Enggak, kok." Vianca tertunduk, dia menyembunyikan ekspresi, takut ketauan berbicara yang sebaliknya.

"Serius! Gua akan cari lo kemana pun. Kalau sampai lo berani blokir nomer gua."

"Oke, gak akan saya blokir. Kalau boleh tahu Mas kerja di mana? Punya info lowongan pekerjaan gak?"

Zeva tertawa saat ditanya info pekerjaan. "Yang bener aja lo tanya kerjaan sama gua. Gua gak kerja."

"Oh, selama ini emang gak kerja?"

"Gua baru keluar dari penjara. Gua udah habisin masa muda gua di dalam sel."

Vianca tertegun. Zeva baru keluar tahanan, tidak bekerja tapi bisa sewa kamar hotel dan membayar jasa dirinya tujuh kali lipat. Apa Zeva seorang bandit? Pertanyaan tersebut bersarang dalam benak Vianca.

"Lo tahu? Saat baru keluar dari tahanan gua udah ngincer lo. Dan akhirnya, kita beneran ketemu juga 'kan?"

Zeva tertawa, merasa bangga karena sudah berhasil membuat Vianca dan dirinya bertemu hingga bermalam bersama.

Lidah Vianca kaku, dia tidak mampu berkata apa-apa. Terlintas dalam benaknya penyesalan, takut Zeva mencelakainya. Bahkan, dia tidak berani bertanya kasus apa yang bisa membuat Zeva bisa dipenjara. 

Vianca semakin takut saat Zeva menatap dengan tajam ke arahnya. Pantas saja dari tadi tatapannya lain, hal itu karena Zeva punya masalah dalam hidupnya. Vianca berasumsi macam-macam, mungkin saja dirinya tidak akan dibayar dan malah akan dirampok. Atau saat tidur organ tubuhnya akan diambil dan dijual sehingga kesempatan untuknya hidup hanyalah malam ini.

Zeva semakin mendekat, menekan pipi Vianca dan mengarahkan wajah Vianca ke wajahnya. Mereka kini berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.

"Hey, Nona PSK! Bahkan elo pun tidak ingin berdekatan sama gua, saat tahu gua ini mantan napi. Jangan lupakan lo juga seorang pendosa. Kita sama saja, dan jangan lagi bereaksi berlebihan kaya gitu! Paham?" 

Vianca sadar, dirinya tidak bisa menutupi rasa takutnya. Untuk itu, dia lebih memilih meminta maaf dengan jujur. "Maafkan, saya! Saya mohon!"

"Lo gua maafkan! Tapi ada syaratnya!"

"Syaratnya apa?"

"Lo harus selalu tersenyum dekat gua, bikin gua bahagia. Jangan kaya orang lain yang jaga jarak hanya karena gua mantan napi."

"Maafkan saya. Saya hanya takut sama Mas."

"Takut apa?" Zeva tahu ketakutan apa yang dirasakan Vianca, Zeva hanya ingin mendengar dari mulut Vianca saja.

Vianca diam, dia khawatir Zeva tersinggung.

"Katakan saja!" bujuk Zeva.

"Takut Mas jual organ tubuh saya. Jangan, ya! Kalau pun mau dijual, usahakan saya tetap hidup, dan kita pakai uangnya untuk nyogok kerja bareng aja."

Zeva terkekeh, dia tidak habis pikir wanita ini berpikir sejauh itu. Bahkan, Vianca tidak berpikiran bahwa dirinya tidak akan bisa bekerja yang berat jika organ ditubuhnya tidak lengkap. Terbersit dalam benak Zeva untuk menjahili wanita itu.

Zeva berkata, sambil memegang bahu Vianca. "Ayo berbaring yang benar! Kita akan mulai proses pembedahan. Kira-kira ginjal sama hati lo laku berapa, ya?"

Vianca memekik histeris, sambil memukul-mukul lengan Zeva, lalu mendorong pria itu agar menjauh walau usahanya gagal. 

"Woy ... woy! Lo kesurupan kayanya! Hahaha." Zeva tertawa sambil merasakan geli akibat pukulan Vianca yang tak seberapa baginya. Tubuhnya terlalu kekar jika hanya dipukul macam itu.

Vianca terhenti, saat sadar Zeva menertawakannya. Dia terlalu parno karena media masa banyak menayangkan kasus jual organ tubuh manusia.

"Vi, gua masih waras! Mana mau buka usaha atau kerja pakai modal hasil jual ginjal orang."

Vianca mengerucutkan bibir, matanya memerah menahan tangis.

Zeva mengelus puncak kepala Vianca. "Serius amat."

Zeva menggeleng sambil tersenyum, merasa lucu dengan reaksi polos dari Vianca. Hal itu cukup membuatnya terhibur. Zeva menarik kesimpulan bahwa Vianca adalah seorang wanita malam yang tidak begitu pengalaman dengan berbagai macam laki-laki.

"Lo kerja kaya gini berapa lama? Apa belum pernah pelanggan lo pria kriminal macam gua??"

Vianca mengangguk. 

"Jadi, pria macam apa yang pernah lo layani selama ini?"

Vianca menggaruk kepala sebelum menjawab. "Saya sebenarnya hanya pernah open BO beberapa kali saja. Dan sebelumnya, sempat terkekang hanya jadi simpanan CEO baik hati dan tampan selama enam bulan, jadi gak melayani siapa-siapa lagi selain pria itu."

Zeva mengerutkan alis. Dia melihat Vianca nampak berbunga-bunga saat menyebut kata CEO baik hati dan tampan. Zeva tidak mengerti kenapa dia bisa kesal seperti ini mendengarnya. Mungkin, dia merasa tersaingi. Bahkan, bisa saja dia cemburu. "Oh, jadi lo simpanan CEO tampan waktu itu?"

Vianca menjawab dengan semangat. "Iya, macam di novel-novel online gitu, lah, hidup saya. Saya cocok jika memerankan tokoh wanita berjudul Disayangi CEO Tampan."

Zeva makin kesal, dia mengacak rambutnya, menyembunyikan kecemburuannya dengan kalimat penghinaan. "Hah, jangan mimpi mana ada pelacur disayangi? Yang ada hanya dimanfaatkan. Hentikan impian kosong lo. Sebelum lo terjatuh dari harapan palsu itu."

Lamunan Vianca yang sudah melambung tinggi jatuh seketika. Dia yang sempat merasa menjadi tokoh utama akhirnya terbangun dan menghadapkan diri pada kenyataan. Bahwa, dirinya memang hina. Novel yang dia baca hanyalah fiktif dan pada kenyataannya dia hanya sampah masyarakat. 

Zeva tempramen, dia sadar akan hal itu. Begitu cepat dia membuat kesalahan lalu dengan cepat dia menyesal pula. Saat melihat mata Vianca memerah menahan air mata penyesalan itu semakin menjadi. Namun si pria arogan itu tidak akan dengan mudah meminta maaf.

Untuk kesekian kalinya Vianca harus berhati-hati menghadapi orang, dengan cara lebih menutup diri menyembunyikan isi hati. Sempat dihina orang dengan hal yang sama tidak membuatnya lebih kuat. Padahal, niatnya bilang menjadi tokoh utama novel bertema CEO hanya bercanda.

"Ya udah, Vi. Sekarang kalau lo mau tidur, tidur aja! Thanks udah nemenin gua ngobrol."

Zeva memejamkan mata. Namun giliran Vianca yang tidak mau tidur. 

Vianca menatap Zeva saat tidur. Rasanya, dia ingin mencakar wajah Zeva saat mengingat bagaimana arogannya pria ini saat berbicara. Vianca tidak mungkin berani, dia hanya mencakar udara kosong dengan jarak yang dekat dengan Wajah Zeva, sambil terus mengumpat dalam hati.

Sialnya, pria ini begitu tampan meskipun menyebalkan, Vianca tidak bisa menyangkal ketampanan Zeva. Vianca lebih mendekat, bersandar pada Zeva hanya untuk mengambil foto mereka berdua.

Akhirnya, Vianca mendapatkan foto berdua bersama Zeva, dalam keadaan Zeva sedang terpejam. Lumayan, dia jadi punya stok foto buat diajak halu jika sudah berpisah dengan Zeva nanti. 

***

Zeva mengantarkan Vianca pulang. Zeva melirik Vianca nampak murung walau sudah diberi uang. 

"Lo kenapa, duit dari gua kurang?"

Vianca terperanjat dari lamunan. "Enggak, lebih malah."

"Oh, kalau lebih, sini balikin!" 

Vianca membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan, menyerahkan pada Zeva.

"Astaga, gua cuma becanda kali. Hina banget gua udah ngasih terus diminta lagi."

Vianca tertunduk sambil memasukan kembali uang itu.

"Jadi, lo murung kenapa? Masih marah gara-gara gua ngata-ngatain lo semalam? Oke gua ngaku salah. Gua minta maaf."

Vianca tersenyum. "Kenapa harus minta maaf? Memang pada kenyataannya kaya gitu 'kan? Itu salah saya karena terlalu halu dan berharap disayangi seorang pria."

Hati Zeva makin tak tenang. Dia sebenarnya sanggup hanya sekadar menyayangi Vianca, sekaligus menyelamatkan wanita ini dari jerat dunia malam di kemudian hari. Namun, Zeva lebih memilih mengusir perasaan itu. Dia akan kalah saing dengan dua orang saudaranya yang memiliki kekasih dari kalangan atas.

Mengingat dua saudaranya begitu bersinar dengan karir cemerlang dan selalu ada perempuan smart di sampingnya, dirinya tidak ingin tersaingi dan bertekad untuk mendapatkan Savana kembali. Dia berambisi memiliki keturunan dari wanita yang memiliki derajat dan pendidikan tinggi, seperti Savana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelampiasan Pria Angkuh   100. Tamat

    Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau

  • Pelampiasan Pria Angkuh   99. Edrick dan Kirana

    Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan

  • Pelampiasan Pria Angkuh   98. Zalea 1 Tahun

    Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   14. Vianca ke Apartemen Zeva

    Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   13. Dipaksa Menikah

    Vianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk.Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan di

  • Pelampiasan Pria Angkuh   12. Pria Itu Memaksa Menginap

    Edrick mengantarkan Vianca pulang. Dia memperlakukan wanita itu layaknya tuan putri yang harus dilindungi.Bagi Vianca, sesuatu hal yang aneh ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita yang mempunyai sejarah yang kelam seperti dirinya, jarang mendapatkan perlakuan seperti

  • Pelampiasan Pria Angkuh   11. Menahan Sakit

    Zeva mengelak bahwa dirinya mencintai Vianca. "Savana jauh lebih cantik puluhan kali lipat daripada Vianca. Gak ada alasan buat gua jatuh cinta sama dia." "Karena cinta itu gak ada logika, Bang Zev. Buktinya, lo nyimpen celana dalam Vianca pake kado, di simpen baik-baik bareng sama baju l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status