Home / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 5. Sulit Terpejam

Share

5. Sulit Terpejam

Author: Mira Restia
last update publish date: 2021-07-22 22:09:34

Zeva menyaksikan sendiri minuman yang diberikan pada Vianca jatuh. Alisnya berkerut, dia keberatan niat baiknya disambut dengan penolakan.

Vianca mengigit bibir bawah, resah karena dia tidak sengaja menumpahkannya. Dia masih waras untuk tidak mencari gara-gara dengan Zeva. "Maafkan saya!"

Zeva terkekeh, dia memang kesal. Namun melihat ekspresi Vianca saat ini, malah membuat Zeva ingin memeluk wanita itu. 

"Ya sudah, lupakan minuman itu. Sekarang, lo mau gua antar beli baju tak senonoh, gak? Buat dipakai nanti malam."

"Em, gak usah." 

Mendengar kata baju tak senonoh dari mulut Zeva, rasanya Vianca ingin sekali mencekik pria di hadapannya itu. Namun lagi-lagi Vianca hanya bisa ketakutan, apalagi Zeva saat ini kembali memakai stelan hitam-hitam seperti anggota mafia.

Zeva menarik tangan Vianca, mengajaknya ke pusat perbelanjaan. "Ikut, yuk!"

"Gak mau!" Vianca menahan tubuhnya supaya tidak bergeser. 

"Kenapa?"

"Kita hanya akan bertemu nanti malam. Saat ini saya tidak mood untuk jalan-jalan."

Pertahanan Vianca sia-sia, karena pria itu memiliki tenaga yang kuat untuk menarik tubuh Vianca. Akhirnya Vianca mengikuti ke mana Zeva pergi walau harus tertatih-tatih menyesuaikan langkah pria itu. 

"Pelan-pelan jalannya, Mas!" Vianca protes.

Mereka menaiki mobil milik Zeva. Sepanjang jalan, Vianca berada dalam kegelisahan. Dia takut, Zeva seorang buronan. Tidak lucu juga 'kan? Saat sedang jalan berdua tiba-tiba disuruh angkat tangan sama polisi. Apalagi, Vianca malas jika diintrogasi. 

"Mas mantan napi saja 'kan, bukan buronan?" tanya Vianca dengan wajah pucat.

Zeva melirik, bukannya menjawab dia malah tersenyum. Membuat gadis yang dibawanya bingung. Zeva sepertinya suka sekali menakut-nakuti Vianca.

"Gua gak habis pikir sama lo, gua belum cerita kasus gua apa, tapi lo udah berpikiran bahwa kasus gua ini membahayakan nyawa orang."

"Badan kekar seperti Mas Zeva mana mungkin dipenjara karena kasus maling ayam atau menipu belanja online 'kan?"

Zeva tertawa, tawa yang sangat nyaring, suaranya memenuhi seisi mobil hingga menyalip suara mesin kendaraan. 

Vianca protes kembali, dengan wajah makin panik. "Hentikan tawamu! Fokuslah pada jalan! Nanti kita bisa kecelakaan dalam kondisi belum bertaubat."

"Lo itu mirip banget sama nyokap gua. Banyak banget hal yang ditakuti kalau lagi naik kendaraan. Kayanya isi otak lo prasangka buruk semua."

Vianca bungkam, wajahnya masih pucat dan tegang.

"Lagian kalau gua beneran buronan, 'kan gak ada hubungannya sama lo."

"Tapi kalau Mas digerebeg polisi pas lagi sama saya, saya jadi ikut-ikutan harus angkat tangan dan diborgol. Lalu nanti saya ikut diintrogasi juga. Saya malas diinterogasi sambil dibentak polisi."

"Hahaha ... kocak banget. Lagian, kalau bener gua buronan gua sembunyi, lah ke luar kota bukannya ngajak cewek jalan-jalan ke Mall. Hahaha ...."

Vianca terdiam, meskipun Zeva terus-menerus menertawakannya. Dia sama sekali tidak ingin terlibat percakapan yang lebih. Usahnya berhasil. Zeva tidak mengajak mengobrol lagi, hanya sesekali melirik ke arah wajah cantik Vianca yang murung.

Ada satu pertanyaan di dalam otak Zeva yang tidak dia utarakan. Yaitu, mengapa Vianca bisa memiliki luka di dahi. Apakah tuduhannya pada Vianca sebagai PSK bar-bar benar adanya, atau hanya prasangka Zeva saja. Entahlah, pria bodoh satu ini malah memendam rasa penasaran sendiri, karena ada satu hal yang dia takuti, dia tidak ingin memiliki perasaan apa pun termasuk simpati. Dia hanya ingin bersenang-senang. 

Namun tanpa Zeva sadari,  ia gagal untuk bersenang-senang karena ternyata hatinya mulai khawatir pada kondisi wanita itu. Dia membenci perasaan terkutuk ini. 

Mereka berjalan berdua setibanya di pusat perbelanjaan. Zeva menyuruh Vianca memilih pakaian. Namun wanita yang berada di sampingnya tidak melakukannya.

"Saya malas belanja."

"Setahu gua cewek suka belanja."

"Maksud saya, saat ini malas ngapa-ngapain. Kalau bukan karena Mas memaksa. Saya gak akan mau ikut."

"Panggil nama saja. Gak usah pakai embel-embel Mas."

"Oke, baiklah."

Zeva memilih sendiri pakaian untuk Vianca. Selain itu, dia membeli juga tas, sepatu, dan make up. Kemudian, Zeva mengajak Vianca untuk makan bersama.

Vianca berdebar. Untuk kedua kalinya dia makan bersama Zeva. Diam-diam, dia memperhatikan wajah Zeva yang sedang serius menatap layar handphone. Bagi Vianca, sosok Zeva begitu tampan sekaligus sangar. Raut wajah Zeva tidak pernah santai, setiap pria itu melirik seolah sedang ngajak ribut orang. 

"Kenapa lo lihatin gua kaya gitu? Gua tersinggung, loh. Soalnya tatapan lo, bukan tatapan seorang cewek yang lagu terpesona sama gua."

"Maaf!" Vianca tertunduk.

"Lo sama aja sama keluarga gua! Gak pernah percaya sama gua. Anggap gua ini kriminal abadi. Oke lah! Gua pernah di bui, tapi gua masih golongan manusia bukan iblis. Sesekali ada lah rasa ingin taubat."

"Maaf! Saya juga bukan orang suci. Maaf jika respon saya berlebihan."

"Lo ngomong formal banget. Jangan kaya gitu, lah. Santai aja, oke!"

Vianca mengigit bibir bawah, menahan senyum. Kemudian, meraih makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan restoran.

"Senyumnya jangan ditahan, please. Kalau mau tertawa, ya tertawa aja yang lepas. Gua nyari lo buat senang-senang."

Vianca membulatkan mata, semakin gugup. Zeva mengajaknya bersenang-senang, tapi dia tahu sendiri bahwa dirinya bukan orang yang menyenangkan. Sebenarnya, saat open BO dulu, pelanggannya juga kurang begitu puas karenaVianca tidak pandai menggoda dan fasif. 

Zeva menatap lekat ke arah Vianca. Menyadari perubahan mimik wanita itu. "Lo jangan takut! Cukup dengan lo tersenyum dan dengerin gua bicara, gua udah senang. Sebenarnya, gua hanya butuh ketenangan dari seseorang, butuh tempat berbagi. Cuma, gua lagi ada di fase di mana orang-orang ngejauhi gua." 

***

Vianca tertegun, dia sudah berhasil mendapatkan kembali 7 kali lipat bayaran pada umumnya untuk PSK, hanya dengan mendengarkan Zeva bercerita kehidupannya. Vianca juga diwajibkan tersenyum saat Zeva menatap ke arahnya.

Vianca bingung, karena Zeva tidak meminta hal lain lagi. Bagi Vianca, mungkin saja pria ini semalam kelelahan karena terlalu banyak bicara hingga mulut seakan berbusa, lalu setelah itu langsung tidur. Bahkan sampai pagi pun Zeva tidak meminta hal berbau sex.

"Makasih buat semalam, hati-hati di jalan."

"Makasih? Saya 'kan gak ngapa-ngapain."

"Lo udah dengerin gua cerita, terus tersenyum sepanjang malem. Thanks."

"Apa cuma kaya gitu aja cukup?" tanya Vianca malu-malu.

Zeva mengangguk. Sebenarnya, selain butuh tempat berbagi cerita, dia tidak tega melakukan hubungan saat Vianca tertekan dan bersedih. 

Vianca mematung, ingin berniat pulang tapi tertahan saat melihat raut wajah Zeva berbeda. Dia melihat sisi lain pada pria itu. Pria itu sedang kesepian. Sampai-sampai membayar dirinya hanya untuk menghancurkan rasa penatnya. Vianca bahkan semalaman mendengar, keluhan tentang kekecewaan Zeva pada keluarganya.

Zeva melirik, menyadari Vianca menatap ke arahnya. "Lo gak mau pulang? Maunya digoyang?"

"Sembarangan!" Vianca bicara dengan  wajah menahan rasa malu.

"Heh, itu cuma lirik lagu. Gak usah sensi kaya gitu, Vi."

Ah, Vianca berpikir keras. Dia akui pernah mendengar lirik itu tapi lupa di mana. Sepertinya, di acara reality show sebuah televisi swasta.

"Mau diantar pulang lagi?" Zeva bertanya karena Vianca masih saja mematung.

"Em, tidak! Saya pulang sekarang, permisi!"

Vianca perlahan melangkah untuk pulang. Lain dengan kemarin yang diantar pulang oleh Zeva, kali ini dia pulang sendiri. Vianca memaklumi hal tersebut, Zeva belum terpejam dari semalam. Bisa-bisa Zeva kesulitan fokus saat mengemudi karena ngantuk, kalau memaksakan diri mengantar dirinya pulang.

Kaki seakan berat melangkah, Vianca pun melirik ke belakang, menatap pria yang kini sibuk dengan ponselnya. Dia menyadari, ada yang tertinggal. Sebelah hatinya tertinggal di tempat ini, masih ingin menemani Zeva.  

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sagala Cellular
mantap pokoknya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelampiasan Pria Angkuh   100. Tamat

    Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau

  • Pelampiasan Pria Angkuh   99. Edrick dan Kirana

    Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan

  • Pelampiasan Pria Angkuh   98. Zalea 1 Tahun

    Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   14. Vianca ke Apartemen Zeva

    Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   13. Dipaksa Menikah

    Vianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk.Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan di

  • Pelampiasan Pria Angkuh   12. Pria Itu Memaksa Menginap

    Edrick mengantarkan Vianca pulang. Dia memperlakukan wanita itu layaknya tuan putri yang harus dilindungi.Bagi Vianca, sesuatu hal yang aneh ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita yang mempunyai sejarah yang kelam seperti dirinya, jarang mendapatkan perlakuan seperti

  • Pelampiasan Pria Angkuh   11. Menahan Sakit

    Zeva mengelak bahwa dirinya mencintai Vianca. "Savana jauh lebih cantik puluhan kali lipat daripada Vianca. Gak ada alasan buat gua jatuh cinta sama dia." "Karena cinta itu gak ada logika, Bang Zev. Buktinya, lo nyimpen celana dalam Vianca pake kado, di simpen baik-baik bareng sama baju l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status