Se connecterSavana mendapat pesan 'WA dari ibunya. Dia merasa terharu ternyata ibu dan ibu mertuanya sangat sayang padanya. Hingga rela melabrak wanita yang sudah dia ketahui bernama Vianca itu.
Awalnya, dia posting di sosial media untuk mencari perhatian orang lain. Setelah berhasil menjadi selebgram dengan kisah cinta yang rumit, rupanya dia mendapatkan kenyamanan. Hal itu dikarenakan, apapun yang dia posting selalu mendapat dukungan.
Terbersit dalam hatinya untuk mengunggah video i
Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l
Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem
Dua minggu telah berlalu. Kandungan Vianca sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya semakin besar, gerakan janinnya semakin aktif. Dokter sudah mengizinkan Vianca untuk duduk di kursi roda dan dijemur di taman belakang selama 15 menit setiap pagi, asal tidak berdiri terlalu lama.Pagi itu, Zeva masuk ke kamar dengan wajah ragu-ragu. Di tangannya ada dua surat izin besuk dari Lapas Wanita."Sayang," Zeva memulai dengan hati-hati, duduk di samping Vianca yang sedang mengusap minyak di perutnya. "Kepala lapas tadi telepon. Ratna... dia sakit. Tipis di penjara. Dia minta bertemu kamu."Vianca terdiam. Tangannya berhenti mengelus."Dan Savana juga. Dia titip pesan lewat petugas, dia ingin mengembalikan kalung yang dulu pernah dia ambil dari laci kamu. Kalung pemberian almarhum Ibu kamu."Kalung itu. Vianca ingat. Kalung mutiara kecil yang hilang dua tahun lalu. Ia pikir jatuh di selokan saat cuci piring, ternyata...Zeva melanjutkan, "Dokter Anita bilang kamu sudah cukup kuat untuk perjal
Sejak Vianca bedrest total, Rafael berubah.Anak laki-laki berusia tujuh tahun yang biasanya super ceria, yang hobinya main bola sampai bajunya kotor dan berisik minta es krim, kini menjadi pendiam. Ia menolak pergi ke sekolah selama tiga hari."Papa, Rafael nggak mau sekolah," ucapnya pagi itu sambil memeluk erat perut Vianca yang sedang berbaring. "Rafael mau di rumah aja jagain Mamah sama Adik."Zeva yang sudah memakai jas kerja dan siap berangkat ke kantor, berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan putranya."Rafael sayang, Mamah di sini sudah dijaga Papa, dijaga Om Edrick, dijaga Oma. Kamu kalau di rumah terus, nanti pelajaran kamu ketinggalan lho.""Tapi kalau Rafael pergi, nanti ada orang jahat datang lagi gimana? Kemarin kan pas Rafael sekolah, Mamah disakitin Tante jahat itu," balas Rafael dengan mata berkaca-kaca. Logika anak kecilnya begitu sederhana tapi menusuk.Vianca yang mendengar itu langsung memeluk Rafael. Hatinya sakit melihat anak sekecil ini harus memikul rasa
Rumah petak di pinggiran kota itu terasa seperti neraka bagi Riko selama seminggu terakhir.Sejak malam penggerebekan polisi yang menyeret Ratna dari gudang belakang rumahnya, Siska tidak berbicara sepatah kata pun padanya. Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada piring makan yang disiapkan, tidak ada senyum. Hanya pintu kamar yang dibanting dan punggung yang sengaja membelakangi setiap kali Riko mencoba mendekat."Sayang, makan dulu yuk. Aku udah beliin ayam geprek kesukaan kamu," ujar Riko sore itu, mencoba mencairkan suasana dengan meletakkan bungkusan makanan di atas meja.Siska yang sedang melipat baju tidak menoleh sama sekali. "Aku kenyang.""Kamu dari pagi belum makan apa-apa, Siska. Jangan gini terus.""Aku bilang aku kenyang, Riko! Kamu tuli ya?" Siska akhirnya meledak, melempar baju yang ia lipat ke lantai. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.Riko menarik napas panjang. Ia sudah mencoba sabar. Ia tahu ia salah. Menyembu
Sudah seminggu Vianca diizinkan pulang dari rumah sakit. Rumah besar itu kini berubah total. Jika dulu teras depan adalah tempat favorit Vianca untuk membaca buku sambil menikmati teh hangat, kini teras itu dipasangi pagar besi tambahan setinggi dua meter dan CCTV yang menyorot ke segala arah. Zeva benar-benar menepati janjinya.Vianca kini menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tidur utama di lantai satu — kamar yang sengaja dipindahkan Zeva dari lantai dua agar Vianca tidak perlu naik turun tangga. Kasur empuk dengan empat bantal, meja kecil di sampingnya yang penuh dengan vitamin, susu hamil, dan buku-buku. Jendela kamar selalu terbuka agar sinar matahari masuk, tapi pintunya selalu terkunci dari dalam jika Zeva tidak ada di rumah.Pagi itu, saat Zeva sedang memandikan Rafael di lantai atas, seorang kurir datang mengantar surat. Bukan kurir biasa, tapi petugas dari Lembaga Pemasyarakatan.Edrick yang menerima surat itu langsung mengerutkan kening saat melihat nama pengirimny
Zeva menghempaskan diri pada kasurnya. Kemudian mengatur posisi yang baik untuk meluruskan kaki. Dia kelelahan, setelah pulang bekerja harus bersusah payah membujuk Savana untuk balikan padanya. Usahanya tak sia-sia, wanita itu memberi kesempatan ke dua dengan syarat Zeva harus memperbaiki imagen
Bukan hal yang mudah bagi Vianca berpura-pura tidak mengenal Zeva. Setelah beberapa malam dilewati bersama, tapi Zeva malah menyuruh wanita itu melupakan segala kenangan tentang mereka. Vianca bekerja ditempatkan di bagian resepsionis, dan mau tidak mau dia harus melihat Zeva berjalan tanpa melih
Vianca sudah memakai pakaian putih-hitam karena hari ini ada panggilan kerja. Namun, walaupun masih pagi, dia diresahkan oleh kehadiran Melvin di depan rumahnya. Kakaknya itu, nampak kumal, serta belum mengganti pakaian hang out. Sepertinya, Melvin semalaman habis party bersama teman-temannya.
Setelah satu bulan lamanya, Vianca sudah tak mendengar kabar laki-laki itu lagi. Terakhir mereka bertemu, Zeva membantu menyiapkan lamaran pekerjaan. Hal kecil itu membuat kesan tersendiri bagi seorang Vianca, yang sangat jarang berinteraksi dengan orang sekitar. Saat Zeva tidak hadir, maka hari-







