แชร์

Bab 10. Bimbang

ผู้เขียน: Anggun_sari
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-01 15:45:40

Zoe menggigit kukunya, gelisah, antara ingin masuk atau tidak. Saat ini dia sedang berdiri di depan toko pakaian dalam merek ternama. Semalam Eros benar-benar memberinya koin dalam jumlah besar untuk dibelanjakan barang yang dimintanya.

Harusnya hari ini dia menghadap Xavier, membicarakan serta meminta maaf atas apa yang telah ayahnya lakukan. Namun, nyatanya dia lebih memilih membolos kuliah dan pergi ke pusat perbelanjaan. Eros yang telah memberikannya banyak uang tadi malam, membuat dia benar-benar ada di persimpangan. 

Mengabaikan Eros, sama saja dengan membohongi pria itu. Tapi, ketika kini kakinya sudah benar-benar ada di depan toko pakain dalam, pikirannya mulai berjejal tak karuan. Tentang kemarahan Xavier yang akan diterimanya karena mengabaikan perintahnya. Tentang nilai kuliahnya yang mungkin akan di garis merah oleh dosen killer tersebut, dan tentang bagaimana dia akan berakhir dengan Eros, malam nanti.

“Apa aku kabur saja?” taya Zoe dalam hatinya yang mulai bimbang. “Tapi kalau aku kabur, bisa-bisa Eros mencariku dan membunuhku karena aku telah menipunya,” lanjut Zoe.

“Tidak, aku tidak boleh egois. Aku masih membutuhkan Eros. Dia satu-satunya penonton yang tak pernah sayang mengeluarkan uangnya.”

“Tapi….” Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. “Fantasinya terlalu liar. Bagaimana kalau nanti ternyata dia melakukan hal yang tidak-tidak padaku,” imbuh Zoe dengan segala macam spekulasinya.

Semalaman setelah dia berbicara dengan Eros, tangannya bergerak lincah mencari tentang bagaimana pria seperti Eros yang memiliki fantasi liar dalam melakukan hubungan intim. Dari banyaknya penjelasan yang didapatnya, orang-orang seperti Eros tak akan segan menyakiti partnernya untuk mendapat sebuah kenikmatan.

“Gila, aku benar-benar gila!” cicit Zoe yang akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam toko, setelah berkutat dengan hatinya yang dilanda kebimbangan.

Mata Zoe menatap tak percaya pemandangan di depannya. Lingerie dengan berbagai model terpajang rapi. Ada yang berbentuk jaring, ada yang hanya berupa dalaman dilapisi kain penutup tipis. Entahlah hanya dengan melihatnya saja dia sudah pusing. Dari sekian banyak model lingerie yang terpajang di depannya, dia sama sekali tidak tahu harus memilih yang mana.

“Haruskah aku menghubungi Eros dan menanyakan lingerie mana yang dia suka?” gumam Zoe bersiap mengambil ponselnya. Semalam Eros hanya menyuruhnya untuk membeli beberapa potong lingerie yang seksi dan menggoda, tapi di matanya semua lingerie ini terlihat menggoda.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayang bertepatan ketika Zoe hendak menghubungi Eros.

“Ah…eum…kira-kira dari banyaknya lingerie yang ada di sini, lingerie mana yang paling disukai laki-laki?” tanya Zoe diikuti gerakan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Dia sedang berusaha menyembunyikan rasa malunya saat ini.

Pelayan toko tersenyum ramah. “Apa Anda pengantin baru dan sedang ingin memberi kejutan untuk suami Anda?”

“Ha ha ha…iya, saya pengantin baru,” jawab Zoe mengikuti arus.

“Mari ikut saya!” ajak pelayan toko.

Pelayan toko mengambilkan beberapa model lingerie yang diminati oleh beberapa pasangan muda yang baru menikah, antara lain, lingerie dengan kain tipis ketat dengan bagian punggung terbuka, lingerie model jumpsuit transparan dengan stoking dan lingerie seksi dengan set celana dalam dan bra, model ini juga dilengkapi dengan kalung jaring-jaring.

“Ha ha ha… ini ya.” Zoe mengusap belakang kepalanya, malu sendiri melihat model-model lingerie yang terlihat begitu–menggoda dan terbuka.

“Tolong bungkus semuanya!” kata Zoe kemudian. Lebih baik menuruti perkataan si pegawai toko ketimbang dirinya pusing sendiri.

Selesai dengan urusan lingerie, Zoe berpindah ke toko yang menjual alat-alat perlengkapan plus-plus. Matanya semakin dibuat membulat sempurna saat melihat barang apa saja yang ada di sana.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya pelayan toko ramah.

“Ha ha ha…bisa tolong ambilkan semua alat ini?” pinta Zoe memberikan kertas di mana dia sudah mencatat semua keperluan yang ingin dibelinya.

“Baiklah, tunggu sebentar!” jawab si penjaga toko.

Zoe menunggu dengan sabar. Ia berjalan melihat-lihat sekitar untuk menghilangkan rasa bosan. Matanya membulat dan hampir tersedak saat melihat benda menjulang panjang dengan bentuk mirip seperti milik seorang pria.

“Kak….”

Zoe tersentak. Dia segera memutar tubuhnya mengambil tas belanjaan yang diberikan oleh si pegawai toko.

“Terima kasih,” ucap Zoe segera berlari meninggalkan toko. 

Zoe mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang terasa panas. Sungguh ini adalah hal paling memalukan yang pernah dilakukannya. Masuk ke dalam toko perlengkapan plus-plus dan melihat hal yang seharusnya tak dilihatnya.

“Sadar Zoe, sadar. Hilangkan pikiran mu dari benda panjang dan berurat itu!” cicit Zoe. 

“Sebaiknya kamu segera pergi ke hotel dan bersiap. Apa yang kamu lihat tadi bukan apa-apa. Kamu akan semakin terkejut jika benar-benar melihat wujud asli benda itu,” kata Zoe terus bermonolong.

***

Zoe menatap pantulan dirinya di depan cermin. Make-up tipis dan lipstik merah darah, terlihat mengubah penampilannya. Dia terlihat cantik dan dewasa. Membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda. Ditambah lingerie tipis warna merah yang mempertontonkan punggungnya, dia yakin Eros akan terlihat puas.

“Jangan gugup, jangan gugup!” ujar Zoe mencoba menenangkan diri.

Zoe berdiri dari duduknya. Ia berjalan mondar-mandir dengan rasa gelisah. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Eros—viewernya yang selalu tanpa sayang memberikan banyak uang setiap kali dia melakukan live. Dan malam ini Eros akan menjadi laki-laki pertama untuknya. Laki-laki yang akan merenggut kesucian yang selama ini dijagannya.

“Ha–halo?” jawab Zoe tergagap saat Eros melakukan panggilan telepon.

“Tunggu aku, sebentar lagi aku akan sampai,” terang Eros.

Dada Zoe seakan berhenti berdetak. Kata-kata yang keluar dari mulut Eros, semakin membuat kegugupannya bertambah besar. Pria itu, dia tidak ingin Eros cepat sampai ke hotel.

“Jalanan sedang macet. Mungkin dua puluh menit lagi aku baru sampai,” kata Eros.

Zoe tersenyum kaku. “Ba–baik. Aku akan menunggumu dengan sabar,” balasnya.

“Hem…apa kamu sudah berdandan?” tanya Eros penasaran.

“Iya. Aku sudah menggunakan lingerie seperti apa yang kamu inginkan. Dan aku harap kamu senang dengan penampilanku.”

Zoe memukul mulutnya sendiri saat sadar dengan apa yang dia bicarakan. Bagaimana bisa dia bicara begitu santai seolah ini semua bukanlah beban. 

“Mau melihatnya. Aku bisa memotret diriku,” tawar Zoe.

“Tidak perlu. Sebentar lagi aku juga kan melihatmu,” balas Eros.

Zoe menganggukkan kepalanya. Tangannya meremat lingerie tipis yang dikenakannya. “Baiklah,” sahut Zoe.

“Zoe…?” panggil Eros setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik.

“Gunakan penutup matamu dan bersiaplah. Aku akan segera sampai.”

Zoe menarik napas panjangnya. Usai memberikan perintah, Eros langsung mematikan ponsel dan menyisakan dirinya dalam ketegangan.

Menuruti apa yang diinginkan oleh Eros, Zoe berjalan ke arah kasur. Jari-jari lentiknya mengambil penutup mata lalu mengenakannya, bersiap menunggu Eros. 

Hingga suara decitan pintu terbuka membuat jantungnya berdebar tak karuan. Matanya yang tetutup membuat Zoe tak bisa melihat. Namun, bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. 

Jantungnya berdebar, keringat dingin membanjiri tangannya. Tidak ada suara sapaan yang didengarnya, hanya ada aroma kayu-kayuan yang tercium oleh indera penciumannya. 

“E–Eros…?” panggil Zoe memastikan.

Dalam lampu yang temaram, Eros yang sudah berdiri di depan Zoe, mengusap lembut pipi wanita itu. Membuat Zoe tersentak kaget.

“Ya, aku adalah Eros.”

“Siap melihat wajahku?” sambung Eros. 

Eros membungkukkan sedikit tubuhnya, membuka kain penutup mata yang sejak tadi menutupi mata Zoe dan membiarkan gadis itu melihatnya.

“Ka–kamu….”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 185. Berhenti menyembunyika sesuatu dariku

    “Aluna…?” lirih Zoe yang berdiri di belakang Adam.Adam menoleh menata Zoe. “Lihatlah, dia begitu mengenaskan bukan. Wajah cantiknya kini hilang entah kemana. Sekarang kakakku hanya bisa menangis dan berteriak. Sesekali bibirnya memanggil nama Pak Xavier.”Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya hampir menetes melihat kondisi Aluna yang tampak memprihatinkan. Wanita itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Sesekali Aluna terlihat tertawa, sesekali wanita itu berteriak kencang.“Aku ingin sekali membawa kakakku berobat, tapi kedua orang tuaku menghalanginya.” Adam menatap Zoe sendu.“Jika Pak Xavier tetap tidak mau bertemu dengan kakakku, mungkin aku akan membawa kakakku ke luar negeri untuk berobat di sana tak ada yang mengenal kami,” terang Adam.“Boleh aku mengambil video kakakmu?" Taya Zoe. "Aku akan menunjukkannya kepada Pak Xavier nanti. Mungkin dengan melihat video yang aku ambil, Pak xavier menjadi iba,” ujar Zoe.Adam mengangguk. Ia mempersilahkan Zoe untuk mengamb

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 184. Tak bisa menolak

    “Aku tidak bisa menjanjikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Pak Xavier. Dia akan tetap berkata tidak untuk sesuatu yang tidak diinginkannya," jawab Zoe."Aku tahu betul tentang itu, tapi aku mohon sekali ini saja. Kakakku bisa mencelakai dirinya sendiri lama-lam, Zoe.”Adam masih berlutut, memohon sesuatu yang sudah tahu akan bagaimana hasilnya. Namun ia masih mencoba melakukannya. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kakaknya terpuruk seperti ini.“Atau kamu mau melihat sendiri bagaimana keadaannya? Mungkin dengan begitu hatimu akan terketuk,” kata Adam masih berusaha memohon pada Zoe.Zoe menggigit bibirnya. Perasaannya mulai bimbang. Dia tahu betul bagaimana keadaan Aluna saat itu. Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan mempesona itu kini sudah berubah menjadi wanita yang tidak lagi memperhatikan dirinya.Zoe menatap mata Adam, jelas sekali terlihat bahwa pria itu sangat putus asa.“Aku mohon….”Goyangan di tangannya membuat Zoe tersadar dari lamunannya. Kepalanya men

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 183. Memohon

    “Hati-hati dijalan. Semoga liburanmu kali ini menyenangkan,” ucap Xavier. Ia memeluk tubuh mamanya sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kemarin setelah pergi bertiga dan menikmati waktu bersama, sore harinya Xavier dan Zoe mengantarkan Nora ke bandara. Nora menganguk. “Kalian juga hati-hati, jangan sering bertengkar. Hubungi Tante jika Xavier berani menyakitimu,” kata Nora berpesan.Zoe mengulas senyumnya. Ia bergantian memeluk tubuh Nora. Kali ini Nora ingin berlibur ke Jepang.Hangat, itu yang dirasakan Zoe setiap kali ia berpelukan dengan Nora. Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya pelukan ibunya. Sudah hampir puluhan tahun ibunya pergi tanpa pesan.“Iya Tante. Nanti saya akan langsung menghubungi Tante jika Xavier berani macam-macam.” Canda Zoe. Ia tersenyum lebar meski matanya hampir mengeluarkan air mata.“Jangan menangis, Tante pasti kembali. Tante juga harus menghadiri sidang perceraian Tante kan,” ucap Nora saat melihat air mata Zoe hampir jatuh.Zoe mengangguk. Sekal

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 182. Terima kasih karean sudah mau menerimaku

    “Syarat apa?"Xavier tersenyum licik. " Puaskan aku malam ini," bisik Xavier dengan suara lirih.Alis Zoe semakin menukik, matanya menatap tajam Xavier. Pria itu sungguh tak kenal lelah jika berhubungan dengan hal-hal berbau keintiman."Tidak! Malam ini aku mau tidur nyenyak tanpa diganggu,” balas Zoe. Ia pergi begitu saja, menggandeng tangan Nora.Zoe mengabaikan Xavier, sekali-kali ia ingin menolak ajakan yang selalu membuat tubuhnya remuk redam itu. Xavier memang maniak percintaan. Pria itu tidak akan pernah puas hanya dengan sekali permainan.“Tante mau jalan-jalan kemana dulu? Pantai atau berkeliling ke toko sekitaran sini?” tanya Zoe ketika mereka sudah berjalan keluar dari villa."Bagaimana kalau kita jalan-jalan di pinggiran pantai. Setelah itu baru kita jalan-jalan ke tempat lainya,” saran Nora.“Baiklah,” jawab Zoe dengan riang.Seperti keinginan Nora, mereka jalan-jalan ke pinggiran pantai. Banyak wisatawan yang berkunjung meski tak sepadat jika hari libur.Kaki mereka terk

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 181. Berdebat

    Xavier tersenyum miring. “Tidak, aku hanya akan memberikannya sedikit pelajaran.”Bulu kuduk Zoe merinding. Kata-kata yang diucapkan oleh Xavier seperti sebuah kata keramat yang menakutkan. Xavier memang tersenyum saat mengatakannya, namun Zoe tahu dibalik senyumnya itu ada sesuatu yang menakutkan.“Bagaimana kalau kita turun. Mamamu pasti sudah menunggu,” ucap Zoe mengalihkan pembicaraan.Zoe ingin liburannya kali ini hanya mengingat kenangan manis dan kata-kata indah. Untuk sementara waktu otaknya tidak akan ia isi dengan sesuatu hal yang mengarah ke sesuatu yang buruk.Bisa berlibur dan menikmati waktu bersama dengan Nora adalah sesuatu yang harus ia rayakan. Mengingat bagaimana selama ini wanita itu menentang dengan keras hubungannya dengan Xavier, sempat membuat hatinya kecil. Dan sekarang saat Nora sudah menerimanya, tentu hal itu adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu olehnya.Xavier mengangguk. Sebelum tangan kekar itu menggandengnya, Xavier berjalan menuju lemari pakaian. Ia men

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 180. Posesive

    Zoe mengeliat. Tangannya naik ke atas. Bibirnya bahkan masih menguap lebar. Semalam Xavier sama sekali tidak membiarkannya tidur dengan nyenyak.pria itu terus menyentuhnya hingga pagi. “Selamat pagi…,” sapa Nora.“Kamu turun tepat waktu, ayo ita sarapan bersama. Setelah itu kita jalan-jalan,” ucap Nora.Zoe hanya mengangguk. Matanya menatap tajam Xavier yan sudah duduk di meja makan. Tangan pria itu melambai, menyuruhnya duduk di sampingnya. Bukan menurut, Zoe justru duduk di samping Nora. “Duduklah di samping Xavier. Matanya suda menatap tajam seperti seorang pembunuh bayaran,” kata Nora. Dia cukup bahagia melihat interaksi antara Zoe dan Xavier. Keduanya terlihat saling mencintai.“Biarkan saja Tante. Nanti kalau Xavier marah, aku akan pergi meninggalkannya ke tempat dimana dia tidak bisa menemukanku,” sahut Zoe.Hari ini dia benar-benar marah. Bagaimana tidak marah jika Xavier terus menyuruhnya menuruti semua keinginannya. Tanda merh yang kemarun saja belum hilang kini sudah di t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status