MasukAdrian yang gelagapan langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba membela diri dengan wajah merona merah. “E-eh! Enggak, Kak! Orang gue cuma mau buang air kecil doang, beneran! Lagian siapa juga yang tau Kak Siska lagi mandi di dalam?”Siska mendengus pelan, melangkah mendekati Adrian hingga aroma wangi sabun dan sampo yang segar menyengat kuat di indra penciuman pria itu. “Beneran cuma mau buang air? Awas ya kalau lo sengaja nungguin gue keluar dari tadi!”“Astaga, Kak Siska... sumpah, demi apa pun gue udah kebelet banget,” ringis Adrian menahan gejolak di dadanya sambil memegangi perut bawahnya.Melihat raut tersiksa dan kepanikan polos di wajah sang adik, ketegangan di wajah Siska perlahan mencair. Sebuah senyuman tipis yang penuh misteri mengembang di bibirnya. Siska sengaja memiringkan tubuhnya sedikit, menggeser posisinya sangat dekat hingga bahu mulusnya sempat bergesekan pelan dengan dada Adrian saat ia melintas.“Ya udah, sana masuk. Tapi ingat... habis ini langsung
Di seberang telepon, terdengar helaan napas pendek disusul kekehan ringan yang penuh arti. "Wah, santai dulu, Pak Manajer. Suara lo kedengeran emosi banget. Ada apa nih tiba-tiba? Soal Siska lagi?""Gak usah banyak tanya dulu! Gue cuma butuh bantuan lo buat bikin Siska bertekuk lutut. Dia makin jual mahal, dan tadi... adek-adeknya ikut campur urusan gue."Wanita di seberang telepon tertawa kecil, suara denting gelas kaca terdengar samar-samar, menandakan ia sedang bersantai di tempatnya. "Adek-adeknya?? Hahaha, lo dipermalukan sama anak-anak kuliahan?"Wajah Rangga makin merah padam. "Diem lo! Gue gak nelpon lo buat diejek. Gue tau lo butuh uang, dan lo tau betul posisi gue di kantor bisa bikin karier lo melonjak cepat atau malah hancur seketika."Suasana di seberang saluran mendadak hening sejenak. Nada bernada ejekan dari wanita itu memudar, berganti menjadi sikap yang jauh lebih serius dan penuh kalkulasi bisnis."Oke... oke. Gak usah bawa-bawa posisi di kantor. Gue dengerin. Jadi.
Melihat Siska yang tampak kesakitan dan terus mencoba menarik tangannya, Adrian langsung melangkah cepat menghampiri kakak tirinya itu bersama Viktor dan Clara. Tanpa basa-basi, Adrian menyergap genggaman pria itu dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan amat kuat.“Ada apa, nih?” tanya Adrian dingin, matanya menatap lurus penuh intimidasi ke arah pria tersebut.Pria itu meringis sedikit, lalu menatap Adrian dari atas ke bawah dengan raut wajah meremehkan. “Lo gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama cewek gue!”Mendengar ucapan lancang itu, cengkeraman Adrian di pergelangan tangan sang pria semakin mengetat. “Enak aja gak usah ikut campur! Kalo lo masih mau idup, lepasin tangan kakak gue!” ancam Adrian dengan suara rendah yang amat berbahaya.Viktor yang berdiri di sebelah Adrian ikut maju satu langkah, memasang badan sambil melipat lengan kemejanya. “Iya, lo jangan macem-macem! Berani lo apa-apain Kak Siska, gue juga bakal ikut turun tangan!” serunya tak mau kalah, mencoba mem
Viktor masih membeku di kursinya, jemarinya yang gemetar makin erat mencengkeram lembaran nota laknat itu. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, membasahi kerah kemeja yang tadinya ia kenakan dengan penuh rasa percaya diri.“Astaga! Hampir 4 juta ini,” gumam Viktor, dalam hati.“Kenapa, Tor? Aman kan ya dompet lo?” tanya Adrian lagi, kali ini dengan nada menggoda sambil menahan tawa melihat raut wajah sahabatnya yang sudah sepucat kertas.Viktor menelan ludahnya yang terasa sekeras batu. Ia mencoba tersenyum, tetapi yang keluar justru ringisan memilukan. “A-aman... aman banget, Yan. Cuma... ini angkanya kok agak unik ya? Ada angka tiga, delapan, lima, terus nolnya banyak banget.”Clara yang melihat gestur panik Viktor langsung menaikkan sebelah alisnya, mengerti situasi tanpa perlu dijelaskan. “Kenapa, Tor? Kalo emang kemahalan atau uang lo gak cukup, bilang aja. Gak usah dipaksain,” timpal Clara santai.“E-eh! Bukan gitu, Kak Clara! Cukup kok! Cuma... anu... limit m-banking g
Siska tampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk kemudi mobilnya sebelum akhirnya melemparkan senyum penuh selidik, “Seriusan lo mau ngajak gue juga?” Sementara itu, Viktor di atas motor sport-nya mendadak melamun, otaknya berputar cepat menghitung peluang tersembunyi. “Oh iya... siapa tau gue juga bisa deket sama Kak Siska? Mau yang mana juga boleh, dua-duanya sama-sama cakep dan mantab!” gumam Viktor dalam hati penuh harap, membayangkan dirinya jadi pria paling beruntung. “Woy! Malah bengong!” tegur Adrian kencang sambil menepuk bahu Viktor, membuyarkan lamunan sahabatnya. Viktor pun gelagapan setengah mati, buru-buru membetulkan posisinya dengan senyuman. “Eh! A-ayo, Kak! Ikut aja! Biar gue yang traktir semuanya! Tenang aja, dompet gue masih aman kok!” Siska terkekeh geli melihat tingkah polos teman adiknya itu. “Wah, tawaran menarik nih! Ya udah, gue ngikut dari belakang ya. Awas aja kalo bohong!” Lampu lalu lintas mendadak berubah hijau. “Siap, Kak! Ikutin motor gue ya!”
Viktor sempat membeku sejenak, tak menyangka kalau tawaran nekatnya justru sanggup menarik perhatian Clara. Matanya membelalak lebar dengan napas tertahan, terkejut setengah mati karena umpan asal-asalannya ternyata langsung disantap mentah-mentah oleh kakak tiri Adrian. “Se-serius, lah! Masa gue bohong? Gue ini Viktor, cowok paling jujur dan pantang jilat ludah sendiri, Kak!” ucap Viktor berapi-api, mendadak percaya diri setengah mati sambil menepuk dadanya bangga demi menutupi kepanikan dompetnya. Adrian justru mengerutkan dahinya dalam-dalam, merasa ada yang sangat tidak beres dengan sahabatnya itu. Ia menyikut lengan Clara pelan lalu berbisik di samping telinganya, “Lo beneran mau ditraktir sama dia, Kak?” “Emang kenapa? Lo gak mau?” jawab Clara heran, mengerutkan alisnya menatap Adrian yang tampak ragu-ragu. Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah serba salah. “Bukan, bukan gitu... tapi kalo lo emang mau mah, gue ayo-ayo aja, sih.” Clara kembali men







