LOGINRadeya kelihatan sedang memohon-mohon untuk dipinjamkan uang dari seorang guru yang bahkan tidak memerhatikan matanya dengan jelas.
“Aku mohon. Aku janji akan menggantinya di hari gajian nanti. Aku benar-benar butuh uang itu sekarang untuk keluargaku di kampung,” suara Radeya kedengaran Zeds di balik gerbang sekolah.
“Hmmm..., bagaimana ya. Kalau gajiku dipinjamkan padamu, aku nggak akan punya uang lebih sekarang. Lebih baik kamu pinjam guru lain saja
“Hei, Zeds. Ayo keluar dan sapa penyewa pick-up kita!”Astaga! Haruskah dia menuruti Miya.Zeds tidak bergerak. Dia berpura-pura tidak mendengarkan Miya yang bicara cukup lantang padanya. Sampai Miya mengulangi lagi perkataannya sekali lagi. Takut Zeds tidak mendengarnya tadi.“Zeds—““Kamu duluan saja. Aku gerah sekali!” alasan Zeds. Dia lakukan itu untuk menghindari bertemu dengan Paman Dharma.Dia tidak mau menanggung resiko kalau pamannya mengenali Zeds. Akan runyam urusannya nanti jika hal itu terjadi.Untungnya Miya bukan tipe pemaksa. Dia hanya merengut dan memasang mulut mengerucut, namun segera keluar sebab seseorang memanggil dirinya dari luar pick-up. Orang itu adalah Paman Dharma.Miya segera datang pada Paman Dharma yang kali itu menampilkan tas jinjing yang diyakini berisi uang untuk dia berikan pada Miya.
Sekilas, Zeds melihat ke arah rumah yang terbuka pintunya dengan lebar tersebut. Dia bisa melihat seseorang yang keluar dari rumah itu sambil menunjuk-nunjuk memberikan perintah.Tidak disangka, Zeds melihat orang itu di sini.Lelaki yang dia kenal baik dengan nama Pijaraga di belakangnya.Ya, Dharma Pijaraga.Lelaki itu keluarga dari Pijaraga. Dia adik dari Daniyal Pijaraga. Beda dengan Daniyal yang mengabadikan dirinya untuk urusan bisnis, adik kandung dari ayahnya tersebut lebih menggeluti bidang kepolisian. Dia dan keluarganya memangku pangkat tertinggi dalam kepolisian.Dharma memiliki putra semata wayang yang seumuran Zeds. Namanya Neil Pijaraga. Zeds dengar Neil sudah lulus akademi kepolisian tahun lalu. Dia dan sepupunya itu tidak begitu dekat, juga tidak tahu kabar lelaki dingin seperti es itu. Ada yang bilang dia masuk ke jajaran kepolisian, ada yang bilang dia lari dar
Nampaknya Miya menyewakan pick-up bukan pada sembarang orang. Dia menyewakan pada saudagar kaya di pulau itu. Dia baru saja pindah di sana, barang-barang yang harus diangkut berada di kapal kargo di pesisir pantai. Miya harus mengangkut itu ke alamat yang ditunjuk.Tidak salah Miya meminta Zeds ikut dengannya. Ada banyak sekali barang yang mesti diangkut ke rumah saudagar kaya itu. Tidak seperti Zeds yang lebih menyukai minimalis di kamar dan rumahnya. Saudagar kaya ini hampir memiliki segala macam barang, mulai yang kecil sampai yang besar. Segala printilan dari yang penting sampai yang tidak penting.Namun Zeds dan Miya tidak boleh protes, tugasnya hanyalah mengangkut itu dengan pick-up. Lagipula mereka mendapatkan bayaran yang tinggi. Keduanya sepakat untuk bolak balik mengangkut ke tempat itu sampai habis tak bersisa.Mungkin butuh sekitar tiga sampai empat kali angkut untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya.&n
Gauzan sudah pergi. Radeya juga sudah bekerja.Hari sudah menjadi siang, namun Zeds hanya bermalas-malasan di depan kamar indekosnya. Dia melamun, sesekali mengingat adegan semalaman tentang Miya dan Dhias yang saling berciuman.Zeds menepis. Dia mengacak rambutnya berkali-kali setiap bayangan itu hadir dan membuatnya kembali gila.“Ugh, kenapa sih aku harus mengingat itu terus?” gumam Zeds sembari mengacak rambutnya dengan sepenuh kekuatan.Dia tidak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan seseorang. Dia pun memanggil namanya terus menerus tapi tidak mendapat perhatian. Sampai dia mendekat dan menepuk bahu Zeds.“Zeds!”Zeds yang kaget karena tepukan itu lantas terjengkang ke teras. Orang itu adalah Miya. Wanita yang sejak tadi di pikirannya. Tiba-tiba ia ada di hadapannya membuat Zeds kaget bukan main.“Kamu mengagetkanku, tahu!”
“Woi, aku diterima ke tim nasional!” sorak Dhias menggaung seantero indekos.Sontak orang-orang yang berada di dalam kamar keluar untuk menyambut euforia Dhias yang seperti mampu menembus langit ke tujuh itu.Tidak terkecuali Zeds. Dia ikut keluar dan melihat bagaimana Dhias dengan bahagianya menyerukan itu seolah mengumumkan pada dunia kalau dirinya selangkah menemui mimpinya.Radeya juga keluar kamarnya. Dia tahu berkat siapa euforia Dhias malam itu tercipta. Lelaki itu tersenyum, tapi dengan sedikit malu-malu karena tidak terbiasa melakukan itu pada orang lain.“Terima kasih!” isyarat Radeya dengan sebelah matanya yang menaik, juga tarikan bibir ke atas.Meski berjauhan, Zeds bisa menangkap isyarat Radeya itu. Dia menerimanya dengan isyarat pula. Dia anggukan kepalanya sekali dan menarikkan bibirnya serupa seperti yang Radeya lakukan.Selanjutnya Zeds meny
“Apa kamu akan menyuapku?”“Ya!”“Bagaimana kalau aku nggak mau?”“Aku akan memikirkan cara lain.”Mereka berdua beradu tatap. Ini seperti permainan psikologis, yang menang adalah yang bisa menanggapi dingin lawannya tanpa terbawa emosi.Raka menyandarkan punggungnya dengan rileks. Dia mengikuti ritme yang sedang dimainkan Zeds. Dia tahu kalau lelaki itu tidak suka kekalahan. Dia adalah si kaya yang berkepala batu dan tidak mau mendengarkan orang lain, kecuali pelayan yang saat ini berdiri di sampingnya ini.“Begini saja, kalau kamu begitu memaksa, aku akan membiarkan Dhias menjalani tes tim nasional di ibukota sana. Dengan catatan, tim nggak akan ikut campur dengannya lagi. Mau dia diperas di sana, atau dimintai bayaran ini itu, tim nggak akan memberi bantuan sama sekali.”Bagi Zeds, Raka seperti sedang mengancam. Namun itu terdengar leb







