LOGINGauzan sudah pergi. Radeya juga sudah bekerja.
Hari sudah menjadi siang, namun Zeds hanya bermalas-malasan di depan kamar indekosnya. Dia melamun, sesekali mengingat adegan semalaman tentang Miya dan Dhias yang saling berciuman.
Zeds menepis. Dia mengacak rambutnya berkali-kali setiap bayangan itu hadir dan membuatnya kembali gila.
“Ugh, kenapa sih aku harus mengingat itu terus?” gumam Zeds sembari mengacak rambutnya dengan sepenu
“Kabarnya Tuan Neil pergi dari rumah. Saya pernah mendengar kalau sebelum Tuan Neil pergi, dia sempat bertemu dengan Barra.”“Hah?”“Saya dengar itu dari pelayan lain, tapi kurang tahu hal apa yang mereka bicarakan.”Melihat sifat Barra, bukan mustahil dia mengatakan kalimat yang membuat Neil pergi dari keluarganya. Padahal dia digadang-gadang akan mewarisi jabatan tertinggi di kepolisian. Dia bisa mendapatkan itu dengan mudah, dimana orang-orang akan saling sikut demi mendapatkan yang diinginkan. Neil bisa dapat dengan mudah.Tapi lelaki itu memutuskan meninggalkan keistimewaan itu. Bisa jadi dia muak dengan keluarganya yang penuh dengan ketamakan. Sama seperti Zeds yang kadang kala juga ingin keluar dari keluarganya. Pijaraga yang baik kelihatan dari luar, tapi busuk dari dalam.“Oh ya, Aden. Hampir saya lupa.” Gauzan mengalihkan topik pembicaraan. Ucapan Zeds mengenai Paman Dh
Zeds berdiri sambil mendorong kursinya ke belakang dengan kasar sampai kursi terjengkang.Miya tahu apa yang hendak dilakukan Zeds. Kurang lebih hal yang sama yang dia lakukan pada debt collector yang tempo hari datang ke indekosnya. Hal itu pula yang membuat mereka perang dingin.Perlu beberapa hari untuk mereka bisa berbaikan. Jangan sampai kali ini Zeds melakukan hal yang sama.“Zeds, jangan berkelahi!” bisik Miya sembari menarik ujung kaus Zeds yang berkibar karena angin di tepi pantai.Zeds tidak mengindahkan. Sebelumnya Miya pernah marah karena khawatir debt collector itu datang kembali ke indekosnya dan membuat sesuatu yang lebih parah dari hari itu.Tapi kali ini, Miya tidak punya alasan untuk menghentikannya.“Kemarin aku bisa mengerti alasanmu jadi marah padaku. Kalau preman macam begini, nggak ada ampun!”Nampaknya Miya tidak b
“Hei, Zeds. Ayo keluar dan sapa penyewa pick-up kita!”Astaga! Haruskah dia menuruti Miya.Zeds tidak bergerak. Dia berpura-pura tidak mendengarkan Miya yang bicara cukup lantang padanya. Sampai Miya mengulangi lagi perkataannya sekali lagi. Takut Zeds tidak mendengarnya tadi.“Zeds—““Kamu duluan saja. Aku gerah sekali!” alasan Zeds. Dia lakukan itu untuk menghindari bertemu dengan Paman Dharma.Dia tidak mau menanggung resiko kalau pamannya mengenali Zeds. Akan runyam urusannya nanti jika hal itu terjadi.Untungnya Miya bukan tipe pemaksa. Dia hanya merengut dan memasang mulut mengerucut, namun segera keluar sebab seseorang memanggil dirinya dari luar pick-up. Orang itu adalah Paman Dharma.Miya segera datang pada Paman Dharma yang kali itu menampilkan tas jinjing yang diyakini berisi uang untuk dia berikan pada Miya.
Sekilas, Zeds melihat ke arah rumah yang terbuka pintunya dengan lebar tersebut. Dia bisa melihat seseorang yang keluar dari rumah itu sambil menunjuk-nunjuk memberikan perintah.Tidak disangka, Zeds melihat orang itu di sini.Lelaki yang dia kenal baik dengan nama Pijaraga di belakangnya.Ya, Dharma Pijaraga.Lelaki itu keluarga dari Pijaraga. Dia adik dari Daniyal Pijaraga. Beda dengan Daniyal yang mengabadikan dirinya untuk urusan bisnis, adik kandung dari ayahnya tersebut lebih menggeluti bidang kepolisian. Dia dan keluarganya memangku pangkat tertinggi dalam kepolisian.Dharma memiliki putra semata wayang yang seumuran Zeds. Namanya Neil Pijaraga. Zeds dengar Neil sudah lulus akademi kepolisian tahun lalu. Dia dan sepupunya itu tidak begitu dekat, juga tidak tahu kabar lelaki dingin seperti es itu. Ada yang bilang dia masuk ke jajaran kepolisian, ada yang bilang dia lari dar
Nampaknya Miya menyewakan pick-up bukan pada sembarang orang. Dia menyewakan pada saudagar kaya di pulau itu. Dia baru saja pindah di sana, barang-barang yang harus diangkut berada di kapal kargo di pesisir pantai. Miya harus mengangkut itu ke alamat yang ditunjuk.Tidak salah Miya meminta Zeds ikut dengannya. Ada banyak sekali barang yang mesti diangkut ke rumah saudagar kaya itu. Tidak seperti Zeds yang lebih menyukai minimalis di kamar dan rumahnya. Saudagar kaya ini hampir memiliki segala macam barang, mulai yang kecil sampai yang besar. Segala printilan dari yang penting sampai yang tidak penting.Namun Zeds dan Miya tidak boleh protes, tugasnya hanyalah mengangkut itu dengan pick-up. Lagipula mereka mendapatkan bayaran yang tinggi. Keduanya sepakat untuk bolak balik mengangkut ke tempat itu sampai habis tak bersisa.Mungkin butuh sekitar tiga sampai empat kali angkut untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya.&n
Gauzan sudah pergi. Radeya juga sudah bekerja.Hari sudah menjadi siang, namun Zeds hanya bermalas-malasan di depan kamar indekosnya. Dia melamun, sesekali mengingat adegan semalaman tentang Miya dan Dhias yang saling berciuman.Zeds menepis. Dia mengacak rambutnya berkali-kali setiap bayangan itu hadir dan membuatnya kembali gila.“Ugh, kenapa sih aku harus mengingat itu terus?” gumam Zeds sembari mengacak rambutnya dengan sepenuh kekuatan.Dia tidak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan seseorang. Dia pun memanggil namanya terus menerus tapi tidak mendapat perhatian. Sampai dia mendekat dan menepuk bahu Zeds.“Zeds!”Zeds yang kaget karena tepukan itu lantas terjengkang ke teras. Orang itu adalah Miya. Wanita yang sejak tadi di pikirannya. Tiba-tiba ia ada di hadapannya membuat Zeds kaget bukan main.“Kamu mengagetkanku, tahu!”







