MasukDi waktu yang sama dengan sudut pandang berbeda, seorang pemuda berpenampilan urakan namun bertatapan dingin, matanya sedari tadi tidak berhenti mengekori pergerakan seseorang. Lebih tepatnya, seorang gadis.
Gadis itu berseragam pelayan. Dan demi apa pun, dia memiliki tubuh yang begitu menggoda. Bokongnya sintal di balik rok hitam pendeknya. Dua bongkahan kembar di dadanya pun seperti siap memecahkan kancing kemejanya kapan pun dia meregangkan tubuh. Jangan abaikan juga leher jenjangnya yang sangat mengundang hasrat berbahaya, serta wajah yang walau hanya dibalut riasan tipis seadanya, tetapi tetap begitu cantik nan memikat. Betul-betul pemandangan yang amat memanjakan mata. Namun, bukan kecantikan semata yang membuat mata pemuda itu enggan beralih. Selama beberapa menit terakhir, ia memperhatikan betul bagaimana gadis pelayan itu melayani tamu satu per satu. Tidak banyak senyum dibuat-buat, tidak pula melempar tatapan genit seperti kebanyakan wanita yang berharap mendapat tip besar. Gadis itu bekerja cepat, seperlunya, lalu pergi tanpa pernah mencoba menarik perhatian siapa pun. Sampai akhirnya insiden pelecehan oleh seorang pria tua mesum menimpanya. Bukannya ketakutan atau buru-buru meminta maaf demi mempertahankan pekerjaannya, gadis itu justru berdiri tegak membalas perlakuan kurang ajar tersebut. Bahkan sempat mengancam akan menyeret pelanggan itu ke kantor polisi. Keberanian yang nyaris terdengar bodoh di mata orang lain, justru menjadi sesuatu yang amat menggelitik rasa penasaran pemuda itu. “Gadis yang sempurna. Hidupku pasti akan sangat berwarna jika berhasil mendapatkannya,” gumam pemuda itu, lantas menenggak habis sampanye dalam gelas yang bertengger di tangannya. “Apa yang Anda maksud gadis pelayan itu, Tuan Muda?” Seorang pria lain yang berdiri tegap di sisi sang pemuda bertanya menanggapi. Perawakannya sedikit lebih tua, pakaiannya rapi bersetelan jas, gerak-geriknya sopan dan hati-hati. Siapa pun bisa menebak dia asisten atau pengawal pribadi pemuda itu. Yang ditanya tidak menjawab, masih setia memerhatikan pergerakan gadis yang tak kunjung membuatnya bosan. “Coba kau perhatikan cara dia mempertahankan harga dirinya di depan kakek tua itu. Sangat menarik, bukan? Ah, aku jadi ingin mencoba sedikit bermain dengannya. Bagaimana menurutmu, Anton?” “Saya bisa langsung mendapatkan gadis itu kalau Anda mau, Tuan David.” David terkekeh pelan. Jemarinya memutar gelas kristal di tangan dengan santai. “Mendapatkan?” Ia mengulang kata itu pelan, seolah sedang mempertimbangkannya. Sungguh bukan perkara sulit baginya untuk merampas harga diri gadis itu. Bahkan ia yakin bisa membuat gadis itu duduk bertekuk lutut di hadapannya sebelum pesta malam ini berakhir. Sayangnya, semua yang terlalu mudah selalu membuat David cepat bosan. Ia pun akhirnya menggeleng pelan. “Tidak perlu. Nanti jadi tidak seru.” David menyeruput lagi gelas sampanye yang barusan diisi ulang oleh Anton. Matanya masih tidak berpaling dari si gadis pelayan, yang tidak lain adalah Val. Dia sedang berjalan kembali menuju bilik bar dengan raut wajah puas. Membuat David semakin menikmati pemandangan itu. “Lantas Anda mau saya bertindak bagaimana?” David menyunggingkan senyum tipis, sorot matanya terkesan jahil namun berbahaya. “Aku ingin tahu...,” gumamnya lirih, “...berapa lama harga dirinya mampu bertahan jika yang berdiri di depannya bukan pria tua mesum loyo itu, melainkan seseorang yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar.” Kalimat itu lebih terdengar seperti bicara kepada dirinya sendiri daripada kepada Anton. Ekor matanya bahkan semakin tajam mengikuti setiap langkah Val yang perlahan mendekati kerumunan pengunjung. Semakin diperhatikan, semakin besar pula keinginannya untuk mengusik ketenangan gadis itu. David memajukan dagunya. “Buat gadis itu datang ke sini. Aku ingin lihat, permainan macam apa yang akan dia tunjukkan di hadapanku.” Anton langsung mengangguk mengerti. Dia bergegas menuju tempat di mana Val berada, memesan minuman sekaligus minta dibawakan ke meja tuannya. **Sore telah berganti malam. Hal yang tidak Val tunggu-tunggu pun akhirnya datang.Ya, kepulangan David.Sekarang pukul setengah tujuh malam. David baru saja masuk. Tanpa salam tanpa permisi, dia langsung melempar tas kerjanya asal, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk ruang tamu. Kakinya dia tangkringkan ke atas meja. Tangannya terangkat, mengibas di udara seperti hendak memanggil seseorang.“Pelayanku yang menggemaskan, di mana kau? Kemari!” serunya lantang dengan nada yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan keantusiasannya. Sepertinya sejak perjalanan pulang tadi dia memang sudah tidak sabar ingin kembali mengerjai Val.Val yang barusan disuruh berdiri tertib bersanding dengan Asnah di lorong pintu masuk, menggeram tertahan. Bahunya sempat turun lemas, sebelum akhirnya ia melangkah menghampiri tuannya yang menyebalkan itu.“Ya, aku di sini. Apa yang kau inginkan?” tanya Val judes.David meliriknya dengan sebelah mata yang terpejam. Namun, dia tidak memerintah lagi. Malah di
Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev
“Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di
Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men
Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb
Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam







