LOGIN
Punya wajah cantik dan tubuh seksi itu anugerah? Salah besar! Bagi Valeria Marsella—alias Val, yang bisa dikategorikan anugerah itu, jika kau terlahir kaya. Cantik dan seksi kalau miskin, buat apa? Yang ada cuma jadi beban hidup tambahan, karena setiap harinya akan ada saja wanita bersuami yang mengecapmu sebagai jalang murahan. Apalagi jika kau hidup sebatang kara tanpa orang tua, dan bekerja di malam hari. Tamat sudah reputasimu.
Sialnya, hidup seperti itulah yang harus dijalani Val sedari remaja. Putus sekolah di umur 16 tahun, lalu terpaksa bekerja sebagai pelayan di kelab malam karena cuma itu pekerjaan dengan gaji cukup besar yang mau menerima orang tidak berpendidikan tinggi sepertinya. Entah dosa apa yang telah Val lakukan di kehidupan sebelumnya—jika kau percaya akan adanya reinkarnasi—nasibnya malang sekali harus terlahir di tengah keluarga yang buruk. Orang tuanya bercerai sewaktu ia masih kecil dan sama-sama meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Hingga membuatnya terpaksa harus melanjutkan hidup bersama pamannya yang tidak berperikemanusiaan. Kelakuannya boleh dikatakan preman sejati. Pekerjaannya sehari-hari sebagai tukang palak pedagang pasar, sesekali bahkan mencopet. Belum lagi kebiasaan buruknya yang suka berjudi. Pantas dia menjadi bujang lapuk sampai sekarang. Tapi itu bukan suatu hal yang bisa Val syukuri. Justru sebaliknya. Val benci pamannya yang tak kunjung mempunyai istri di usianya yang sudah menginjak kepala empat. Karena gara-gara itu, Val jadi terus terjebak dalam tekanan yang pamannya ciptakan. Dia menjadikan Val mesin ATM berjalan tanpa mau tahu dan peduli apa yang harus dilalui gadis yang kini baru menginjak usia 20 tahun itu demi mencari segelintir rupiah untuk disetor. Kalau Val melawan atau telat menyetor uang pada pamannya, siap-siap tubuh molek Val lebam-lebam disiksa habis olehnya. Namun, Val sudah biasa. Hidupnya sudah keras sedari kecil, jadi itu saja bukan apa-apa. Ia bahkan sudah sering mendapatkan perilaku yang lebih buruk dari itu. Yaitu dilecehkan. Seperti yang tengah dialaminya saat ini, di mana seorang kakek renta yang tidak tahu malu dengan umur menampar bokongnya cukup keras ketika Val sedikit berjongkok untuk menaruh minuman di atas mejanya. Val memelototinya tidak senang. Jangan kaget. Val bukan tipe wanita lemah yang akan meringkuk ketakutan atau pasrah saja jika diperlakukan kurang ajar seperti barusan. Sudah dibilang, Val sudah biasa hidup keras. Maka ia tidak takut dengan segala risiko dari perlawanannya. “Hehehe... apa terlalu kencang?” Kakek itu memandang salah tingkah mendapati respons gadis di hadapannya. Suara parau khas dimakan usia yang menguar dari kerongkongannya sungguh membuat Val mual. “Tidak juga,” jawab Val seraya menegakkan badan dan melipat tangan di dada. “Anda bisa melakukannya lagi dengan memakai tongkat kayu atau besi panas sekalian, kalau Anda mau. Aku akan menikmatinya.” “Sungguh?” Wajah kakek tua itu langsung berbinar nakal. Terlihat dia sempat menyisir setiap lengkungan elok tubuh Val dengan matanya yang sudah menunjukkan gejala katarak. Mungkin sedang membayangkan dia melakukan apa yang diminta gadis itu barusan, sambil melihatnya merintih nikmat disertai wajah menggoda. “Ya, tentu. Maksudku, aku akan menikmati sekali menyaksikan tua bangka tidak ingat umur seperti Anda, mendarat di penjara setelah aku melaporkan perbuatan Anda ke polisi,” tantang Val berani, lalu mengambil ponselnya dari saku. “Lakukan saja, aku sudah mulai merekam untuk dijadikan bukti.” Mendengar itu, wajah si kakek berubah marah. Dia melepeh cerutu yang sedari tadi menempel di bibirnya. “Dasar jalang kurang ajar! Berani sekali kau menghinaku! Tidak tahu siapa aku, hah?!” “Tahu. Mangkanya aku merekam.” Val masih dengan beraninya memamerkan ponsel di hadapan pria tua itu. Ia tidak main-main dengan ancamannya. Ia betulan sedang merekam. “Anda pasti salah satu pebisnis penting yang reputasinya bisa hancur dalam sekejap jika rekaman ini tersebar. Apa aku salah?” “Kurang ajar!” Lagi, pria tua itu menggeram marah. Kali ini dia berdiri dari duduknya, menyodorkan tongkatnya di hadapan wajah Val lalu berseru lagi, “pergi kau dari hadapanku, jalang sialan!” Val mematikan kamera, menyimpan ponselnya kembali dalam saku seraya tersenyum puas. “Dengan senang hati.” Ia membungkuk mencemooh sebelum melangkah pergi dari hadapan si tua bangka menggelikan itu. Jika kau berpikir apa Val tidak takut orang itu akan mengadukan kelakuan buruknya ke atasan, lalu ia terancam dipecat, percayalah Val sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut. Karena itulah ia selalu menyempatkan untuk merekam setiap orang yang melecehkannya. Rata-rata orang yang datang ke kelab megah ini merupakan orang-orang penting dan berpengaruh. Jelas mereka akan ketakutan dengan ancamannya yang bisa memicu skandal besar. Gadis itu sudah melakukan ini selama dua tahun terakhir, dan belum pernah gagal. Jadi ia terus mempertahankan senjata andalannya tersebut sampai detik ini. “Wah, gila! kau masih berani melakukan itu?!” Yang bicara barusan, dia adalah teman dekat Val selama bekerja di kelab malam ini. Rupanya dia memperhatikan kelakuan Val dari kursi di meja bar tempatnya bersantai sambil menunggu ada pelanggan datang menghampirinya. Namanya Kinara Sri Ningsih. Sungguh malang kisahnya. Dia berasal dari salah satu pelosok desa di Jawa Timur. Datang ke Jakarta atas dorongan dari ayahnya yang menyerahkannya pada pihak yang mengaku mengelola yayasan ART. Tahu-tahu dia malah dijual untuk bekerja menjadi wanita penghibur di sini. Val masih ingat ketika seorang pria paruh baya bertubuh gempal menjadi pelanggan pertamanya. Kinar menangis dan memberontak sejadi-jadinya, memohon pertolongan dari orang-orang yang ditatapnya, termasuk Val. Tapi apa daya, pada saat itu Val tidak bisa menolong. Dan ia menyesalinya. Andai saja keberanian dalam dirinya sudah ada sejak hari itu, mungkin ia bisa membantu Kinar dengan salah satu trik andalan yang biasa dipakainya dalam keadaan-keadaan mendesak. Sayang sekali semuanya sudah kadung terlambat, dan kini masa depan Kinar sudah hancur. Padahal usianya satu tahun lebih muda di bawah Val. “Selama belum ketahuan bos, ya berani saja. Toh ini demi menjaga reputasi serta masa depanku,” sahut Val bercanda. Ia masuk ke dalam bilik bar, menaruh nampan yang tadi digunakannya untuk mengantarkan minuman di meja belakang. “Kalau suatu hari ketahuan lalu kau dipecat bagaimana?” tanya Kinar penasaran. “Kalau dipecat ya?” Val merenung sejenak. Tangannya bertumpu di atas meja bar. “Hm... paling siap-siap saja dipukuli oleh pamanku karena tidak bisa setor uang.” Kinar menatap tak percaya temannya itu. “Val... bisa tidak sih, kalau mengatakan yang buruk-buruk semacam itu, wajahmu ditekuk sedikit? Jangan terlalu sering berpura-pura kuat, Val. Kita ini wanita, pada dasarnya butuh bersandar pada seseorang. Tidak bisa selalu berusaha tegar sendirian. Rasanya pasti akan terlalu menyakitkan.” “Aku sudah sering bersandar kok. Pada tembok. Atau tiang.” Val tertawa tanpa beban menanggapi candaan yang diciptakannya. Sementara Kinar hanya mendengus menyabarkan hati. Berhadapan dengan Val si hati batu—begitu Kinar menyebutnya—memang terkadang membuatnya harus sering-sering melapangkan dada. Percakapan terhenti sejenak. Val kembali disibukkan dengan seorang pelanggan yang baru datang menghampiri meja bar. Dia minta diantarkan minuman serta camilan ke salah satu meja berbayar di kelab malam ini. Setelah selesai menyiapkannya, Val berpamitan pada Kinar. “Aku antar ini dulu.” Kinar hanya mengangguk singkat seraya menyesap bir dalam gelasnya. Hingga Val berlalu pergi menembus kerumunan pesta berlatar musik DJ bising yang memekakkan telinga. **Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev
“Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di
Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men
Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb
Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam
Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam







