Share

Bab 3 - Bermain-main Sedikit

Author: Andriyani
last update publish date: 2026-08-05 06:00:18

“Pesanan Anda, Tuan-tuan.”

Val mengantarkan baki berisi beberapa botol bir serta makanan ringan ke meja paling besar serta paling mahal sewanya. Herannya, tempat seberharga ini hanya diisi oleh dua orang, itu pun yang satu hanya berdiri bak bodyguard.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini gadis itu tidak lagi hanya membungkukkan badan saat memindahkan pesanan dari nampan ke atas meja. Melainkan berjongkok dengan kedua lutut bertumpu di lantai. Ia juga tidak mau repot-repot beramah-tamah. Justru sebaliknya, ia memasang tampang paling jutek. Masa bodo mau dianggap tidak sopan juga. Asal itu bisa menghindarinya dari segala serangan perilaku bejat.

Setelah selesai menjalankan tugasnya, tanpa basa-basi Val sudah mau langsung pergi. Tapi memang dasar nasib buruk terlalu setia padanya, tangannya ditahan oleh pria yang duduk di sofa.

“Tunggu dulu, Nona Manis. Kau melupakan sesuatu,” ucapnya, Val langsung menoleh tidak senang.

“Apa?” tanyanya ketus seraya melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.

Mendapat perlakuan galak Val, pria itu anehnya malah tertawa kecil. Bibirnya tersungging miring, mata tajamnya menatap Val semakin tertarik.

“Bukan hal besar sih,” jawabnya. “Tapi karena kau melupakannya, aku jadi sedikit terganggu.”

Val mengernyit bingung sesaat, sebelum kembali tidak peduli.

“Bisakah Anda langsung katakan saja apa yang kulupakan? Apa pesanan Anda ada yang kurang?” Val semakin ketus. Membuat si pria yang tak lain adalah David, menjadi lebih bersemangat untuk terus menggodanya.

David lantas menepuk dua kali bibirnya dengan telunjuk. Gerakannya sedikit sensual, yang sukses disambut pelototan murka dari Val.

“Jangan kurang ajar ya! Aku bisa membuat bibir busukmu itu dipenuhi sariawan hanya dengan—”

“Maksudku....” David memotong tepat ketika Val mau mengangkat nampan di tangannya—sepertinya mau digunakan untuk menghantam mulut usilnya. Sekali lagi David menyentuh bibirnya dengan telunjuk. “...kau melupakan senyum ramahmu yang wajib kau tunjukan di hadapan para pengunjung kelab, Nona. Aku sedikit terganggu dengan pelayanan judesmu.”

Val langsung menurunkan kembali nampannya, menyembunyikannya di balik badan. Wajahnya tampak malu, meskipun hanya sesaat.

“Oh, begitu.”

Itu adalah respons cepat yang cukup memuaskan dalam pandangan David. Pria itu betul-betul suka bermain-main dengan gadis di hadapannya.

“Tapi maaf saja, Tuan, aku memang tidak suka beramah-tamah kepada orang-orang kurang ajar semacam Anda,” ucap Val lagi sesaat kemudian. Sungguh perubahan raut penyesalannya juga cepat sekali. “Sekarang aku permisi.”

“Tidak secepat itu.” David kembali mencengkeram pergelangan Val. Kali ini lebih erat.

“Atas dasar apa kau berani menyebutku kurang ajar? Apa aku menampar bokongmu? Tidak ‘kan?”

Mendengar itu, Val jelas terkejut. Ingatannya langsung terseret kembali pada momen ketika ia mengantarkan pesanan ke meja pelanggan sebelumnya yang seorang pria renta mesum. Mata Val pun semakin berkilat kala fokusnya kembali pada pria di hadapannya.

“Kau....” Gadis itu menggeram. “Jadi kau diam-diam mengawasiku sedari tadi. Apa itu bukan kurang ajar namanya?!”

“Itu kan tadi. Sedangkan yang kupertanyakan yang barusan. Sekarang coba jawab yang itu.”

Tatapan Val kian nanar. Ia tidak berniat meladeni pria ini lebih jauh lagi. Tapi sialnya cengkeramannya kuat sekali. Meskipun Val sudah coba melepaskannya sekuat tenaga.

“Lepaskan!” seru gadis itu terus memberontak alih-alih memberikan jawaban.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Lepaskan atau aku akan—”

“Akan apa? Mengancamku dengan rekaman kamera jebakanmu? Coba saja kalau bisa.” David terus menantang. Sekarang dia sudah sangat menikmati permainan kecil ciptaannya.

Namun, alih-alih terintimidasi, Val malah secara tidak terduga melakukan perlawanan dengan cara lain.

“Bukan. Tapi dengan ini.”

Bug!

Dengan tangan yang satu lagi, Val memukul kepala pria itu menggunakan nampan yang sedari tadi digenggamnya di tangan satunya. Yang akhirnya berhasil membebaskan cengkeraman kuat David di pergelangan kirinya.

Namun, hal itu belum cukup untuk membuatnya bebas. Karena pria yang satu lagi, yang dari tadi hanya berdiri seperti patung di belakang pemuda rese itu, sekarang dia yang gentian melakukan penyerangan terhadap Val.

Dengan gerakan sigap dan kilat, pria itu mengunci tubuh Val hingga ia tak bisa berkutik lagi. Berontak pun gerakannya tertahan total. Kencang sekali kuncian yang menjerat tubuh Val.

Sementara David, dia meringis untuk sesaat. Kemudian dia tertawa, dari pelan sampai tergelak. Seolah yang tadi dilakukan Val itu lucu sekali.

“Wah… wah. Kau betul-betul gadis yang sangat menarik rupanya. Memang penilaianku tidak pernah salah,” ujarnya setelah puas tertawa.

Val memandangnya penuh kebencian.

“Lepaskan aku! Kau mau apa dariku sebetulnya hah?! Tidak ada untungnya bermain-main seperti ini! Aku masih banyak pekerjaan!”

“Tidak ada untungnya? Jelas untung bagiku, Nona Manis. Aku jadi lebih terhibur sekarang. Berkat kau, gadis yang sangat lucu dan menggemaskan.”

Val tidak berkata apa-apa lagi kali ini. Ia sibuk berpikir bagaimana caranya supaya dirinya bisa lepas dari permainan konyol para pria tidak beradab ini.

Belum sempat Val mendapat ide, sebuah suara pekikan yang terasa familier menggema di belakangnya. Membuat permainan ini seketika terhenti lantaran fokus mereka bertiga telah terganti.

“Lepaskan! Aku tidak mau! Lepaskan!”

Suara itu membahana mengalahkan musik DJ, mengundang perhatian semua orang. Val beserta kedua pria yang sedang mempermainkannya langsung menoleh ke asal suara, yang rupanya berasal dari bar.

Mendadak jantung Val mencelos. Pikirannya mulai menebak-nebak suatu hal buruk yang tengah terjadi di sana, dan siapa yang terjerat.

Terlebih saat pandangannya akhirnya berhasil merekam kegaduhan di bar sana….

Bola matanya langsung melotot tegang.

“Kinar?!”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 28 - Istirahat Sejenak

    Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 27 - Di Balik Sebuah Nama

    “Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 26 - Terjebak Balasan Sendiri

    Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 25 - Pertarungan Segelas Kopi

    Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 24 - Masalah Lain yang Menanti

    Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 23 - Aturan Kerja yang Gila!

    Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status