LOGIN“Pesanan Anda, Tuan-tuan.”
Val mengantarkan baki berisi beberapa botol bir serta makanan ringan ke meja paling besar serta paling mahal sewanya. Herannya, tempat seberharga ini hanya diisi oleh dua orang, itu pun yang satu hanya berdiri bak bodyguard. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini gadis itu tidak lagi hanya membungkukkan badan saat memindahkan pesanan dari nampan ke atas meja. Melainkan berjongkok dengan kedua lutut bertumpu di lantai. Ia juga tidak mau repot-repot beramah-tamah. Justru sebaliknya, ia memasang tampang paling jutek. Masa bodo mau dianggap tidak sopan juga. Asal itu bisa menghindarinya dari segala serangan perilaku bejat. Setelah selesai menjalankan tugasnya, tanpa basa-basi Val sudah mau langsung pergi. Tapi memang dasar nasib buruk terlalu setia padanya, tangannya ditahan oleh pria yang duduk di sofa. “Tunggu dulu, Nona Manis. Kau melupakan sesuatu,” ucapnya, Val langsung menoleh tidak senang. “Apa?” tanyanya ketus seraya melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Mendapat perlakuan galak Val, pria itu anehnya malah tertawa kecil. Bibirnya tersungging miring, mata tajamnya menatap Val semakin tertarik. “Bukan hal besar sih,” jawabnya. “Tapi karena kau melupakannya, aku jadi sedikit terganggu.” Val mengernyit bingung sesaat, sebelum kembali tidak peduli. “Bisakah Anda langsung katakan saja apa yang kulupakan? Apa pesanan Anda ada yang kurang?” Val semakin ketus. Membuat si pria yang tak lain adalah David, menjadi lebih bersemangat untuk terus menggodanya. David lantas menepuk dua kali bibirnya dengan telunjuk. Gerakannya sedikit sensual, yang sukses disambut pelototan murka dari Val. “Jangan kurang ajar ya! Aku bisa membuat bibir busukmu itu dipenuhi sariawan hanya dengan—” “Maksudku....” David memotong tepat ketika Val mau mengangkat nampan di tangannya—sepertinya mau digunakan untuk menghantam mulut usilnya. Sekali lagi David menyentuh bibirnya dengan telunjuk. “...kau melupakan senyum ramahmu yang wajib kau tunjukan di hadapan para pengunjung kelab, Nona. Aku sedikit terganggu dengan pelayanan judesmu.” Val langsung menurunkan kembali nampannya, menyembunyikannya di balik badan. Wajahnya tampak malu, meskipun hanya sesaat. “Oh, begitu.” Itu adalah respons cepat yang cukup memuaskan dalam pandangan David. Pria itu betul-betul suka bermain-main dengan gadis di hadapannya. “Tapi maaf saja, Tuan, aku memang tidak suka beramah-tamah kepada orang-orang kurang ajar semacam Anda,” ucap Val lagi sesaat kemudian. Sungguh perubahan raut penyesalannya juga cepat sekali. “Sekarang aku permisi.” “Tidak secepat itu.” David kembali mencengkeram pergelangan Val. Kali ini lebih erat. “Atas dasar apa kau berani menyebutku kurang ajar? Apa aku menampar bokongmu? Tidak ‘kan?” Mendengar itu, Val jelas terkejut. Ingatannya langsung terseret kembali pada momen ketika ia mengantarkan pesanan ke meja pelanggan sebelumnya yang seorang pria renta mesum. Mata Val pun semakin berkilat kala fokusnya kembali pada pria di hadapannya. “Kau....” Gadis itu menggeram. “Jadi kau diam-diam mengawasiku sedari tadi. Apa itu bukan kurang ajar namanya?!” “Itu kan tadi. Sedangkan yang kupertanyakan yang barusan. Sekarang coba jawab yang itu.” Tatapan Val kian nanar. Ia tidak berniat meladeni pria ini lebih jauh lagi. Tapi sialnya cengkeramannya kuat sekali. Meskipun Val sudah coba melepaskannya sekuat tenaga. “Lepaskan!” seru gadis itu terus memberontak alih-alih memberikan jawaban. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” “Lepaskan atau aku akan—” “Akan apa? Mengancamku dengan rekaman kamera jebakanmu? Coba saja kalau bisa.” David terus menantang. Sekarang dia sudah sangat menikmati permainan kecil ciptaannya. Namun, alih-alih terintimidasi, Val malah secara tidak terduga melakukan perlawanan dengan cara lain. “Bukan. Tapi dengan ini.” Bug! Dengan tangan yang satu lagi, Val memukul kepala pria itu menggunakan nampan yang sedari tadi digenggamnya di tangan satunya. Yang akhirnya berhasil membebaskan cengkeraman kuat David di pergelangan kirinya. Namun, hal itu belum cukup untuk membuatnya bebas. Karena pria yang satu lagi, yang dari tadi hanya berdiri seperti patung di belakang pemuda rese itu, sekarang dia yang gentian melakukan penyerangan terhadap Val. Dengan gerakan sigap dan kilat, pria itu mengunci tubuh Val hingga ia tak bisa berkutik lagi. Berontak pun gerakannya tertahan total. Kencang sekali kuncian yang menjerat tubuh Val. Sementara David, dia meringis untuk sesaat. Kemudian dia tertawa, dari pelan sampai tergelak. Seolah yang tadi dilakukan Val itu lucu sekali. “Wah… wah. Kau betul-betul gadis yang sangat menarik rupanya. Memang penilaianku tidak pernah salah,” ujarnya setelah puas tertawa. Val memandangnya penuh kebencian. “Lepaskan aku! Kau mau apa dariku sebetulnya hah?! Tidak ada untungnya bermain-main seperti ini! Aku masih banyak pekerjaan!” “Tidak ada untungnya? Jelas untung bagiku, Nona Manis. Aku jadi lebih terhibur sekarang. Berkat kau, gadis yang sangat lucu dan menggemaskan.” Val tidak berkata apa-apa lagi kali ini. Ia sibuk berpikir bagaimana caranya supaya dirinya bisa lepas dari permainan konyol para pria tidak beradab ini. Belum sempat Val mendapat ide, sebuah suara pekikan yang terasa familier menggema di belakangnya. Membuat permainan ini seketika terhenti lantaran fokus mereka bertiga telah terganti. “Lepaskan! Aku tidak mau! Lepaskan!” Suara itu membahana mengalahkan musik DJ, mengundang perhatian semua orang. Val beserta kedua pria yang sedang mempermainkannya langsung menoleh ke asal suara, yang rupanya berasal dari bar. Mendadak jantung Val mencelos. Pikirannya mulai menebak-nebak suatu hal buruk yang tengah terjadi di sana, dan siapa yang terjerat. Terlebih saat pandangannya akhirnya berhasil merekam kegaduhan di bar sana…. Bola matanya langsung melotot tegang. “Kinar?!” **“Dia mencekiknya,” ungkap Val. Kinar sontak diam lagi. Wajahnya tampak sangat tegang. “Aku sampai takut setengah mati,” lanjut Val. “Tapi yang lebih mengerikan, Nona Selina, meskipun di tengah kesulitan bernapas, masih tidak hentinya semakin menyindir David. Sehingga pria itu semakin gila lagi mencekiknya. Aku dan Bu Asnah sampai berteriak menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan. Akhirnya, aku sendiri yang menarik tangannya.” “Ya ampun, Val! Kau berani sekali!” “Berani dari mana? Aku juga takut! Tapi kalau kubiarkan, bagaimana kalau dia benar-benar membunuh wanita itu di depanku?” Val mengembuskan napas panjang. “Aku tidak mau terlibat aksi pembunuhan. Lagi pula, aku sudah muak melihat sikapnya. Aku bilang kepadanya bahwa dia sendiri yang membuat Selina ingin mencelakaiku karena terlalu terang-terangan membelaku.” Kinar menatapnya lekat-lekat. “Dan reaksi Tuan David?” “Dia marah dan mengungkit bahwa dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Aku menjawab bahwa aku
“Jadi, ada cerita menarik apa saja hari ini? Tuan David berulah apa lagi padamu?” tanya Kinar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh Tower A. Val mendesah berat. “Kali ini sih bukan soal itu lagi. Asal kau tahu saja, telah terjadi drama yang cukup gila di penthouse itu hampir sepanjang hari ini.” Kinar langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil berjalan menyusuri koridor, ia memeriksa nomor unit yang tertera pada daftar pesanan di tangannya. “Wah, kedengarannya menarik. Cepat cerita!” “Menarik dari mana? Aku hampir kehilangan nyawa, tahu!” Langkah Kinar sontak terhenti. “Hah?! Demi apa...? Apa yang telah Tuan David lakukan padamu memangnya?” Val mengangkat sebelah tangan, menyuruhnya tenang. “Bukan, bukan... bukan dia pelakunya. Tapi seorang wanita gila yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan ternyata, dia adalah tunangan David. Ya, David sudah bertunangan, Kinar.” Anehnya, Kinar berhenti terkejut di sini, malah menggaruk-garuk kepala. “Loh
Di bawah langit berbintang, di antara pemandangan deretan pohon bunga kamboja yang berguguran di sepanjang trotoar, langkah Val memijak santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku sweter yang dikenakannya, sementara kepalanya sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri, menikmati kesyahduan di sekitar yang terasa melankolis. Ditambah dengan lampu taman yang bersinar kuning temaram di sepanjang jalur yang ia lewati, rasanya sungguh damai dan nyaman.Sepulang dari penthouse David, Val memutuskan untuk jalan-jalan santai sebentar di sekitar kompleks apartemen luas ini. Walau hatinya masih gundah gulana tiap kali teringat pada kenyataan bahwa Selina-lah pemilik unit yang ditinggalinya, setidaknya Val ingin sekali-kali benar-benar menikmati fasilitas tempat tinggal barunya. Sebab, ia mulai sadar bahwa ia tidak akan selamanya bisa tinggal di lingkungan para orang berkantong tebal ini.Jika dipikir-pikir, ini juga kali pertama ia keluar gedung. Biasanya ia selalu pulang larut dan sangat lel
“Kau pasti terkejut sekali ya, dengan intrik hubungan Tuan Muda David dan Nona Selina?” tanya Asnah tiba-tiba di tengah keheningan acara makan malam mereka sebelum pulang.Sejak siang tadi, tepatnya sejak Selina pergi, tak lama kemudian David juga ikut pamit pergi. Dia tidak mengajak Val berdebat lagi, tidak marah, tidak juga memprotes Val yang telah menghakiminya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk membebaskan gadis itu dari intimidasi Selina. Sehingga sisa hari ini menjadi sangat damai, bahkan Val dan Asnah diperbolehkan pulang cepat karena David bilang kemungkinan dia akan pulang sangat larut.Harusnya Val merasa lega, bukan? Tapi anehnya tidak. Kepergian David yang meninggalkan tatapan dalam dan datar yang aneh teruntuk Val, justru meninggalkan perasaan tidak biasa baginya. Entah kenapa ia merasa… resah. Seperti ada hal yang begitu mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang, tetapi ia bingung apa itu. Padahal para sumber masalah, yakni sepasang tunangan problematik itu
Botol kecil itu melayang cepat ke arah Val. Namun, refleks yang bekerja dalam dirinya hanya berpaling muka sambil mengangkat kedua lengan untuk menghalau pandangan. Tubuhnya sama sekali tidak menyingkir, meskipun ia tahu itu akan lebih efisien. Mungkin karena serangan itu datang terlalu mendadak, sampai-sampai Val tidak sempat merespons dengan baik. Pada sepersekian detik terakhir, Val sudah pasrah bersiap menerima rasa ngeri serta nyeri akibat hantaman botol wine berat itu ke tubuh atau bahkan kepalanya. Jantungnya berdebar. Sementara tubuhnya kaku, menegang bukan main. Satu detik, dua detik berlalu. Anehnya, rasa sakit itu tak kunjung datang. Tubuhnya masih baik-baik saja. Bahkan tidak terdengar suara botol pecah yang seharusnya sudah terjadi dari tadi. “Kau… kau benar-benar sudah keterlaluan, Selina.” Justru sebuah geraman mengudara di antara ketegangan. Suaranya lebih berat dari biasanya. Pelan dan menusuk, sampai rasanya siapa pun yang mendengarnya bisa merinding ngeri. Ya, it
Val membawa dirinya ke ruang istirahat pelayan. Ia menutup pintu cukup keras, lalu berjalan ke meja. Ia meraih teko berisi air, menuangnya ke gelas sampai meninggalkan jejak tetes berceceran cukup banyak di atas meja, sebelum menenggaknya cepat sampai habis. Ia terengah setelahnya. Dengan kedua tangan bertumpu di meja, matanya mulai terpejam. Napasnya yang menjadi lebih berat setelah berhadapan dengan David tadi, ditarik pelan dan hati-hati. Kemudian, diembuskan perlahan, berharap segala perasaan aneh yang tengah menggerogoti jiwanya juga ikut meluruh. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Perasaan anehnya masih menempel lekat di dalam dada, membuatnya kesal pada diri sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Val membuka mata, merenung dalam tatapan kosong. Ia memikirkan pelan-pelan setiap hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab pikirannya menjadi tidak karuan begini. Apalagi tadi saat berhadapan dengan David, demi apa pun, ia menyesal tiba-tiba be







