공유

Bab 5 - Disidang

작가: Andriyani
last update 게시일: 2026-08-05 10:00:25

Sekitar pukul lima pagi, Val dan Kinar disidang oleh dua orang berpengaruh di Balck Key Club—nama kelab malam tempat mereka bekerja. Di tengah aula dansa yang sudah lengang, musik DJ serta lampu disko yang sudah dimatikan, mereka berdiri tertunduk dengan tangan bersedekap. Di hadapan mereka seorang pria gempal yang memiliki tato di sepanjang lengan kirinya, mondar-mandir dengan pandangan murka. Matanya seakan sedang menguliti dua gadis yang telah membuat masalah besar untuknya.

Di belakang pria itu, berdiri seorang wanita paruh baya berpakaian seksi yang menonjolkan sepasang dada besarnya yang tidak natural. Tangannya terlipat di dada sembari jemarinya menjepit sebatang rokok yang sudah tinggal separuh. Sementara matanya juga tak mau kalah turut melayangkan serangan ancaman kepada Val dan Kinar.

“Keterlaluan!”

Si pria gempal akhirnya berhenti mondar-mandir. Suaranya menggelegar bagai petir yang baru saja menyambar ruangan besar ini.

“Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat?! Kerugian besar! Dasar gadis-gadis miskin tidak berguna!”

Val dan Kinar terkesiap. Mereka semakin menunduk takzim.

Pria gempal itu—alias Bobi,  manajer Black Key Club—berjalan dua langkah hingga ke hadapan Val. Dia memaku tatapan sangarnya persis di depan wajah gadis itu.

“Dan kau!” Dia berseru lebih gila lagi, membuat Val refleks mundur ngeri. “Apa sebenarnya yang telah kau coba lakukan?!”

Val tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak berani. Sungguh ini pertama kalinya bosnya semarah ini padanya. Bukannya Val tidak terbiasa dengan kegarangannya. Val sudah sering dimarahi karena ia memang sering membuat masalah. Tapi, untuk kali ini bosnya betulan seperti singa mengamuk. Tidak. Dia bahkan sudah mirip anjing neraka.

“Kau mau bertindak sok pahlawan, heh?! Dasar bodoh!”

Seruan Bobi barusan sampai membuat dinding-dinding arena dansa bergetar saking kerasnya.

“Kau sudah sering membuat masalah dengan para pelanggan....” Bobi menggeram, bau alkohol busuk menguar dari mulutnya tepat di depan hidung Val, membuatnya ingin muntah. “... dan sekarang kau malah membuat masalah dengan orang-orang dari bos besar. Apa kau gila?! Sudah bosan kau bekerja di sini hah?!”

Lagi, Val mundur satu langkah. Selain karena terkejut, juga karena ia sudah tidak tahan dengan bau mulut Bobi.

“Aku... aku minta maaf.” Akhirnya Val berhasil mengumpulkan keberanian untuk menjawab. “Mereka bertindak semena-mena terhadap Kinar, aku hanya ingin menolong. Aku tidak tahu kalau mereka orang-orang dari bos besar. Tolong jangan pecat aku.”

Kalimat terakhir barusan keluar dengan nada memelas yang memprihatinkan. Sebetulnya Val benci mengemis begini. Tapi kalau ia sampai dipecat, pamannya pasti akan menyiksanya habis-habisan. Apalagi hari ini harusnya hari gaji mingguan Val turun. Pamannya pasti akan menodongnya begitu ia pulang nanti. Tapi melihat kondisi ini... rasanya Val ragu gajinya akan diberikan.

“Menolong? Cih!” Bobi mencibir menertawakan Val. “Kau bodoh atau bagaimana, mau menolong pelacur yang sudah tugasnya untuk diperjualbelikan kepada klien?”

Val diam lagi. Ia melirik Kinar diam-diam, khawatir akan perasaannya setalah Bobi dengan entengnya menyebutnya pelacur.

“Dengar, gadis naif....” Kali ini yang bicara wanita paruh baya yang sedari tadi hanya asyik merokok sembari menonton Val dan Kinar dicaci maki. Madam Lora, begitu semua orang memanggilnya.

“... temanmu ini sudah kubeli dengan harga yang tidak murah. Mangkanya dia menjadi pelacur di sini. Jadi, kalau ada klien yang ingin membelinya seutuhnya dengan harga yang setimpal, adalah hakku untuk menjualnya. Begitulah, di dunia ini setiap orang memiliki harga, Sayangku. Termasuk temanmu.”

Val mengepalkan tangan. Dadanya bergemuruh menahan emosi.

Betul, kejadian beberapa jam lalu saat Kinar diseret-seret paksa, itu dia hendak dijual kepada seorang klien. Sekali lagi, dijual bukan disewa. Yang artinya selamanya dia akan dijadikan budak seks oleh klien tersebut. Mangkanya dia memberontak habis-habisan.

“Tapi itu tidak berperikemanusiaan namanya.” Tanpa sadar Val menggeram, yang langsung disambut tawa meremehkan dari Bobi dan Madam Lora.

“Orangmu ini lucu sekali, Bobi,” ujar Madam Lora kepada rekannya, sebelum kembali memandang Val.

“Tidak ada yang namanya perikemanusiaan di industri ini, Manis.”

Madam Lora membelai dagu Val mencemooh. Gadis itu langsung menghindar kasar. Rasa takut akan dipecat sudah ia lupakan sekarang. Karena pikirannya terlalu sibuk memerangi orang-orang gila di hadapannya.

“Dan kau.” Madam Lora gentian memandang Kinar. Ia mengangkat dagu gadis itu lembut sampai mata mereka bertemu. Kinar menatapnya takut.

“Aku yakin kau sudah paham mengenai aturan kontrak yang telah kau tandatangani. Kau tidak berhak menolak klien yang ingin memilikimu seutuhnya. Lantas, kenapa kau malah membuat keributan? Sampai temanmu yang sok pahlawan ini membuat masalah, sehingga klien kita yang berdompet tebal itu jadi sangat marah. Sekarang, aku rasa kau juga sudah tahu apa hukumannya?”

Madam Lora bicara dengan nada lembut yang dibuat-buat. Tetapi tatapannya jelas menyiratkan ancaman. Karena respons Kinar langsung tambah ketakutan.

“Ampun, Madam.”

Tiba-tiba tubuh Kinar meluruh. Ia berlutut di sepatu berkilau Madam Lora. Val yang menyaksikan itu jelas melotot tak menyangka.

“Apa yang kau lakukan?! Bangun!” desisnya.

Namun, Kinar tak menghiraukannya. Ia tetap bersikeras berlutut di kaki Madam Lora.

“Ampun, Madam. Kumohon jangan kasih aku hukuman seratus cambuk itu. Aku akan menebus kesalahan kami. Tolong, maafkan kami untuk kali ini saja.”

Mendengar perkataan Kinar barusan, Val menegang.

“Seratus cambuk... apa maksudnya?”

Sementara Madam Lora dan Bobi tampak saling pandang gelisah.

“Dia hanya melantur. Sudah, kau jangan ikut campur lagi. Kau sudah bukan bagian dari Black Key lagi mulai saat ini. Kau kupecat. Sekarang kau pergi.” Bobi yang memberi jawaban. Seraya mendorong-dorong tubuh Val menjauh.

Mendengar kata dipecat, Val langsung melupakan soal seratus cambuk tadi. Sekarang pikirannya dipenuhi ketakutan akan segala risiko yang menghadang di depan kalau ia sampai betulan dipecat.

“Tidak, Tuan Bobi, jangan pecat aku. Aku sudah mengabdi di kelab ini selama beberapa tahun. Aku senior di sini, aku sudah menguasai banyak hal yang belum dipahami anak-anak baru.” Val mencoba bernegosiasi.

Namun, Bobi tampak tidak peduli.

“Ck, pelayan tidak ramah sepertimu tidak dibutuhkan di mana pun, sekalipun kau sudah senior. Pergi sana!”

Bobi mendorong Val lebih kasar begitu mereka sudah tiba di depan pintu. Val pun jatuh terjerembap, tulang ekornya menubruk sudut pot tanaman yang lumayan besar. Ia meringis ngilu sesaat, tetapi langsung bangkit begitu Bobi hendak menutup pintu.

“Tidak, tunggu, Tuan Bobi, tolong jangan pecat aku! Aku bisa mengubah sikapku, aku janji! Mulai sekarang aku akan lebih ramah pada pelanggan!”

“Argh! Sudah sana pergi!”

Bobi mendorong Val sekali lagi, dan Val pun jatuh lagi. Tapi kali ini ia langsung bangkit berdiri sebelum....

BRAK!

Terlambat. Pintu sudah ditutup oleh Bobi dan dikunci dari dalam.

Tapi Val belum mau menyerah, ia terus menggedor-gedor dan berteriak dari luar.

“Tuan Bobi, buka pintunya. Kau tidak bisa seenaknya memecatku begini. Masa kau tidak menghargai kerja kerasku selama ini?”

“Cih, aku tidak peduli. Pergi! Salahmu sendiri, kau sudah membuatku rugi besar!”

“Sudah kubilang aku hanya ingin menolong temanku!”

Di titik ini, kesabaran Val mulai habis. Sehingga bukannya terus memohon, ia malah terkesan mengajak ribut.

“Bagaimana mungkin seorang teman tega membiarkan temannya diseret-seret dan mau dijual begitu? Kinar bukan binatang! Kalian yang binatang!”

“Oh begitu?” sahut Bobi dari dalam. “Kalau begitu kau sendiri apa, mengemis pada kami para binatang? Dasar jalang tidak tahu diri! Pergi kau!”

Tangan Val mengepal kesal. Wajahnya pun sudah merah padam.

“Setidaknya bayar dulu gaji mingguanku, uang tip bagianku, dan sisa gaji bulananku!”

Terdengar Bobi tertawa di balik pintu.

“Jangan mimpi! Gajimu yang tidak seberapa itu harus aku ambil untuk membayar kerugianku. Itu pun masih sangat jauh kurangnya. Justru kau berhutang padaku, akan kutagih ke rumahmu bulan depan.”

“APA?!” Val berteriak tidak terima. Wajahnya menampakkan murka yang tak terbendung lagi.

“Mana bisa kau seenaknya begitu! Keluar kau babi gempal sialan! Berikan uangku! Itu hakku!”

Val menggedor-gedor pintu begitu kencangnya, tetapi tidak juga ada jawaban dari dalam. Ia pun berteriak kesal.

Sampai beberapa saat kemudian, tubuh dan jiwanya akhirnya merasa lelah. Ia jatuh terduduk. Pandangannya kosong, tangannya memegang kening frustrasi.

“Ya Tuhan... kenapa malah jadi begini? Sekarang bagaimana aku akan menghadapi Paman saat dia menagih jatah nanti?”

**

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 46 - Curhat (Bagian II)

    “Dia mencekiknya,” ungkap Val. Kinar sontak diam lagi. Wajahnya tampak sangat tegang. “Aku sampai takut setengah mati,” lanjut Val. “Tapi yang lebih mengerikan, Nona Selina, meskipun di tengah kesulitan bernapas, masih tidak hentinya semakin menyindir David. Sehingga pria itu semakin gila lagi mencekiknya. Aku dan Bu Asnah sampai berteriak menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan. Akhirnya, aku sendiri yang menarik tangannya.” “Ya ampun, Val! Kau berani sekali!” “Berani dari mana? Aku juga takut! Tapi kalau kubiarkan, bagaimana kalau dia benar-benar membunuh wanita itu di depanku?” Val mengembuskan napas panjang. “Aku tidak mau terlibat aksi pembunuhan. Lagi pula, aku sudah muak melihat sikapnya. Aku bilang kepadanya bahwa dia sendiri yang membuat Selina ingin mencelakaiku karena terlalu terang-terangan membelaku.” Kinar menatapnya lekat-lekat. “Dan reaksi Tuan David?” “Dia marah dan mengungkit bahwa dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Aku menjawab bahwa aku

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 45 - Curhat

    “Jadi, ada cerita menarik apa saja hari ini? Tuan David berulah apa lagi padamu?” tanya Kinar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh Tower A. Val mendesah berat. “Kali ini sih bukan soal itu lagi. Asal kau tahu saja, telah terjadi drama yang cukup gila di penthouse itu hampir sepanjang hari ini.” Kinar langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil berjalan menyusuri koridor, ia memeriksa nomor unit yang tertera pada daftar pesanan di tangannya. “Wah, kedengarannya menarik. Cepat cerita!” “Menarik dari mana? Aku hampir kehilangan nyawa, tahu!” Langkah Kinar sontak terhenti. “Hah?! Demi apa...? Apa yang telah Tuan David lakukan padamu memangnya?” Val mengangkat sebelah tangan, menyuruhnya tenang. “Bukan, bukan... bukan dia pelakunya. Tapi seorang wanita gila yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan ternyata, dia adalah tunangan David. Ya, David sudah bertunangan, Kinar.” Anehnya, Kinar berhenti terkejut di sini, malah menggaruk-garuk kepala. “Loh

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 44 - Menikmati Sedikit Waktu Bersantai

    Di bawah langit berbintang, di antara pemandangan deretan pohon bunga kamboja yang berguguran di sepanjang trotoar, langkah Val memijak santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku sweter yang dikenakannya, sementara kepalanya sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri, menikmati kesyahduan di sekitar yang terasa melankolis. Ditambah dengan lampu taman yang bersinar kuning temaram di sepanjang jalur yang ia lewati, rasanya sungguh damai dan nyaman.Sepulang dari penthouse David, Val memutuskan untuk jalan-jalan santai sebentar di sekitar kompleks apartemen luas ini. Walau hatinya masih gundah gulana tiap kali teringat pada kenyataan bahwa Selina-lah pemilik unit yang ditinggalinya, setidaknya Val ingin sekali-kali benar-benar menikmati fasilitas tempat tinggal barunya. Sebab, ia mulai sadar bahwa ia tidak akan selamanya bisa tinggal di lingkungan para orang berkantong tebal ini.Jika dipikir-pikir, ini juga kali pertama ia keluar gedung. Biasanya ia selalu pulang larut dan sangat lel

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 43 - Tentang David

    “Kau pasti terkejut sekali ya, dengan intrik hubungan Tuan Muda David dan Nona Selina?” tanya Asnah tiba-tiba di tengah keheningan acara makan malam mereka sebelum pulang.Sejak siang tadi, tepatnya sejak Selina pergi, tak lama kemudian David juga ikut pamit pergi. Dia tidak mengajak Val berdebat lagi, tidak marah, tidak juga memprotes Val yang telah menghakiminya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk membebaskan gadis itu dari intimidasi Selina. Sehingga sisa hari ini menjadi sangat damai, bahkan Val dan Asnah diperbolehkan pulang cepat karena David bilang kemungkinan dia akan pulang sangat larut.Harusnya Val merasa lega, bukan? Tapi anehnya tidak. Kepergian David yang meninggalkan tatapan dalam dan datar yang aneh teruntuk Val, justru meninggalkan perasaan tidak biasa baginya. Entah kenapa ia merasa… resah. Seperti ada hal yang begitu mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang, tetapi ia bingung apa itu. Padahal para sumber masalah, yakni sepasang tunangan problematik itu

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 42 - Ketegangan yang Kian Menjadi

    Botol kecil itu melayang cepat ke arah Val. Namun, refleks yang bekerja dalam dirinya hanya berpaling muka sambil mengangkat kedua lengan untuk menghalau pandangan. Tubuhnya sama sekali tidak menyingkir, meskipun ia tahu itu akan lebih efisien. Mungkin karena serangan itu datang terlalu mendadak, sampai-sampai Val tidak sempat merespons dengan baik. Pada sepersekian detik terakhir, Val sudah pasrah bersiap menerima rasa ngeri serta nyeri akibat hantaman botol wine berat itu ke tubuh atau bahkan kepalanya. Jantungnya berdebar. Sementara tubuhnya kaku, menegang bukan main. Satu detik, dua detik berlalu. Anehnya, rasa sakit itu tak kunjung datang. Tubuhnya masih baik-baik saja. Bahkan tidak terdengar suara botol pecah yang seharusnya sudah terjadi dari tadi. “Kau… kau benar-benar sudah keterlaluan, Selina.” Justru sebuah geraman mengudara di antara ketegangan. Suaranya lebih berat dari biasanya. Pelan dan menusuk, sampai rasanya siapa pun yang mendengarnya bisa merinding ngeri. Ya, it

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 41 - Pelayan Kesayangan

    Val membawa dirinya ke ruang istirahat pelayan. Ia menutup pintu cukup keras, lalu berjalan ke meja. Ia meraih teko berisi air, menuangnya ke gelas sampai meninggalkan jejak tetes berceceran cukup banyak di atas meja, sebelum menenggaknya cepat sampai habis. Ia terengah setelahnya. Dengan kedua tangan bertumpu di meja, matanya mulai terpejam. Napasnya yang menjadi lebih berat setelah berhadapan dengan David tadi, ditarik pelan dan hati-hati. Kemudian, diembuskan perlahan, berharap segala perasaan aneh yang tengah menggerogoti jiwanya juga ikut meluruh. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Perasaan anehnya masih menempel lekat di dalam dada, membuatnya kesal pada diri sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Val membuka mata, merenung dalam tatapan kosong. Ia memikirkan pelan-pelan setiap hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab pikirannya menjadi tidak karuan begini. Apalagi tadi saat berhadapan dengan David, demi apa pun, ia menyesal tiba-tiba be

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status