LOGINSekitar pukul lima pagi, Val dan Kinar disidang oleh dua orang berpengaruh di Balck Key Club—nama kelab malam tempat mereka bekerja. Di tengah aula dansa yang sudah lengang, musik DJ serta lampu disko yang sudah dimatikan, mereka berdiri tertunduk dengan tangan bersedekap. Di hadapan mereka seorang pria gempal yang memiliki tato di sepanjang lengan kirinya, mondar-mandir dengan pandangan murka. Matanya seakan sedang menguliti dua gadis yang telah membuat masalah besar untuknya.
Di belakang pria itu, berdiri seorang wanita paruh baya berpakaian seksi yang menonjolkan sepasang dada besarnya yang tidak natural. Tangannya terlipat di dada sembari jemarinya menjepit sebatang rokok yang sudah tinggal separuh. Sementara matanya juga tak mau kalah turut melayangkan serangan ancaman kepada Val dan Kinar. “Keterlaluan!” Si pria gempal akhirnya berhenti mondar-mandir. Suaranya menggelegar bagai petir yang baru saja menyambar ruangan besar ini. “Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat?! Kerugian besar! Dasar gadis-gadis miskin tidak berguna!” Val dan Kinar terkesiap. Mereka semakin menunduk takzim. Pria gempal itu—alias Bobi, manajer Black Key Club—berjalan dua langkah hingga ke hadapan Val. Dia memaku tatapan sangarnya persis di depan wajah gadis itu. “Dan kau!” Dia berseru lebih gila lagi, membuat Val refleks mundur ngeri. “Apa sebenarnya yang telah kau coba lakukan?!” Val tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak berani. Sungguh ini pertama kalinya bosnya semarah ini padanya. Bukannya Val tidak terbiasa dengan kegarangannya. Val sudah sering dimarahi karena ia memang sering membuat masalah. Tapi, untuk kali ini bosnya betulan seperti singa mengamuk. Tidak. Dia bahkan sudah mirip anjing neraka. “Kau mau bertindak sok pahlawan, heh?! Dasar bodoh!” Seruan Bobi barusan sampai membuat dinding-dinding arena dansa bergetar saking kerasnya. “Kau sudah sering membuat masalah dengan para pelanggan....” Bobi menggeram, bau alkohol busuk menguar dari mulutnya tepat di depan hidung Val, membuatnya ingin muntah. “... dan sekarang kau malah membuat masalah dengan orang-orang dari bos besar. Apa kau gila?! Sudah bosan kau bekerja di sini hah?!” Lagi, Val mundur satu langkah. Selain karena terkejut, juga karena ia sudah tidak tahan dengan bau mulut Bobi. “Aku... aku minta maaf.” Akhirnya Val berhasil mengumpulkan keberanian untuk menjawab. “Mereka bertindak semena-mena terhadap Kinar, aku hanya ingin menolong. Aku tidak tahu kalau mereka orang-orang dari bos besar. Tolong jangan pecat aku.” Kalimat terakhir barusan keluar dengan nada memelas yang memprihatinkan. Sebetulnya Val benci mengemis begini. Tapi kalau ia sampai dipecat, pamannya pasti akan menyiksanya habis-habisan. Apalagi hari ini harusnya hari gaji mingguan Val turun. Pamannya pasti akan menodongnya begitu ia pulang nanti. Tapi melihat kondisi ini... rasanya Val ragu gajinya akan diberikan. “Menolong? Cih!” Bobi mencibir menertawakan Val. “Kau bodoh atau bagaimana, mau menolong pelacur yang sudah tugasnya untuk diperjualbelikan kepada klien?” Val diam lagi. Ia melirik Kinar diam-diam, khawatir akan perasaannya setalah Bobi dengan entengnya menyebutnya pelacur. “Dengar, gadis naif....” Kali ini yang bicara wanita paruh baya yang sedari tadi hanya asyik merokok sembari menonton Val dan Kinar dicaci maki. Madam Lora, begitu semua orang memanggilnya. “... temanmu ini sudah kubeli dengan harga yang tidak murah. Mangkanya dia menjadi pelacur di sini. Jadi, kalau ada klien yang ingin membelinya seutuhnya dengan harga yang setimpal, adalah hakku untuk menjualnya. Begitulah, di dunia ini setiap orang memiliki harga, Sayangku. Termasuk temanmu.” Val mengepalkan tangan. Dadanya bergemuruh menahan emosi. Betul, kejadian beberapa jam lalu saat Kinar diseret-seret paksa, itu dia hendak dijual kepada seorang klien. Sekali lagi, dijual bukan disewa. Yang artinya selamanya dia akan dijadikan budak seks oleh klien tersebut. Mangkanya dia memberontak habis-habisan. “Tapi itu tidak berperikemanusiaan namanya.” Tanpa sadar Val menggeram, yang langsung disambut tawa meremehkan dari Bobi dan Madam Lora. “Orangmu ini lucu sekali, Bobi,” ujar Madam Lora kepada rekannya, sebelum kembali memandang Val. “Tidak ada yang namanya perikemanusiaan di industri ini, Manis.” Madam Lora membelai dagu Val mencemooh. Gadis itu langsung menghindar kasar. Rasa takut akan dipecat sudah ia lupakan sekarang. Karena pikirannya terlalu sibuk memerangi orang-orang gila di hadapannya. “Dan kau.” Madam Lora gentian memandang Kinar. Ia mengangkat dagu gadis itu lembut sampai mata mereka bertemu. Kinar menatapnya takut. “Aku yakin kau sudah paham mengenai aturan kontrak yang telah kau tandatangani. Kau tidak berhak menolak klien yang ingin memilikimu seutuhnya. Lantas, kenapa kau malah membuat keributan? Sampai temanmu yang sok pahlawan ini membuat masalah, sehingga klien kita yang berdompet tebal itu jadi sangat marah. Sekarang, aku rasa kau juga sudah tahu apa hukumannya?” Madam Lora bicara dengan nada lembut yang dibuat-buat. Tetapi tatapannya jelas menyiratkan ancaman. Karena respons Kinar langsung tambah ketakutan. “Ampun, Madam.” Tiba-tiba tubuh Kinar meluruh. Ia berlutut di sepatu berkilau Madam Lora. Val yang menyaksikan itu jelas melotot tak menyangka. “Apa yang kau lakukan?! Bangun!” desisnya. Namun, Kinar tak menghiraukannya. Ia tetap bersikeras berlutut di kaki Madam Lora. “Ampun, Madam. Kumohon jangan kasih aku hukuman seratus cambuk itu. Aku akan menebus kesalahan kami. Tolong, maafkan kami untuk kali ini saja.” Mendengar perkataan Kinar barusan, Val menegang. “Seratus cambuk... apa maksudnya?” Sementara Madam Lora dan Bobi tampak saling pandang gelisah. “Dia hanya melantur. Sudah, kau jangan ikut campur lagi. Kau sudah bukan bagian dari Black Key lagi mulai saat ini. Kau kupecat. Sekarang kau pergi.” Bobi yang memberi jawaban. Seraya mendorong-dorong tubuh Val menjauh. Mendengar kata dipecat, Val langsung melupakan soal seratus cambuk tadi. Sekarang pikirannya dipenuhi ketakutan akan segala risiko yang menghadang di depan kalau ia sampai betulan dipecat. “Tidak, Tuan Bobi, jangan pecat aku. Aku sudah mengabdi di kelab ini selama beberapa tahun. Aku senior di sini, aku sudah menguasai banyak hal yang belum dipahami anak-anak baru.” Val mencoba bernegosiasi. Namun, Bobi tampak tidak peduli. “Ck, pelayan tidak ramah sepertimu tidak dibutuhkan di mana pun, sekalipun kau sudah senior. Pergi sana!” Bobi mendorong Val lebih kasar begitu mereka sudah tiba di depan pintu. Val pun jatuh terjerembap, tulang ekornya menubruk sudut pot tanaman yang lumayan besar. Ia meringis ngilu sesaat, tetapi langsung bangkit begitu Bobi hendak menutup pintu. “Tidak, tunggu, Tuan Bobi, tolong jangan pecat aku! Aku bisa mengubah sikapku, aku janji! Mulai sekarang aku akan lebih ramah pada pelanggan!” “Argh! Sudah sana pergi!” Bobi mendorong Val sekali lagi, dan Val pun jatuh lagi. Tapi kali ini ia langsung bangkit berdiri sebelum.... BRAK! Terlambat. Pintu sudah ditutup oleh Bobi dan dikunci dari dalam. Tapi Val belum mau menyerah, ia terus menggedor-gedor dan berteriak dari luar. “Tuan Bobi, buka pintunya. Kau tidak bisa seenaknya memecatku begini. Masa kau tidak menghargai kerja kerasku selama ini?” “Cih, aku tidak peduli. Pergi! Salahmu sendiri, kau sudah membuatku rugi besar!” “Sudah kubilang aku hanya ingin menolong temanku!” Di titik ini, kesabaran Val mulai habis. Sehingga bukannya terus memohon, ia malah terkesan mengajak ribut. “Bagaimana mungkin seorang teman tega membiarkan temannya diseret-seret dan mau dijual begitu? Kinar bukan binatang! Kalian yang binatang!” “Oh begitu?” sahut Bobi dari dalam. “Kalau begitu kau sendiri apa, mengemis pada kami para binatang? Dasar jalang tidak tahu diri! Pergi kau!” Tangan Val mengepal kesal. Wajahnya pun sudah merah padam. “Setidaknya bayar dulu gaji mingguanku, uang tip bagianku, dan sisa gaji bulananku!” Terdengar Bobi tertawa di balik pintu. “Jangan mimpi! Gajimu yang tidak seberapa itu harus aku ambil untuk membayar kerugianku. Itu pun masih sangat jauh kurangnya. Justru kau berhutang padaku, akan kutagih ke rumahmu bulan depan.” “APA?!” Val berteriak tidak terima. Wajahnya menampakkan murka yang tak terbendung lagi. “Mana bisa kau seenaknya begitu! Keluar kau babi gempal sialan! Berikan uangku! Itu hakku!” Val menggedor-gedor pintu begitu kencangnya, tetapi tidak juga ada jawaban dari dalam. Ia pun berteriak kesal. Sampai beberapa saat kemudian, tubuh dan jiwanya akhirnya merasa lelah. Ia jatuh terduduk. Pandangannya kosong, tangannya memegang kening frustrasi. “Ya Tuhan... kenapa malah jadi begini? Sekarang bagaimana aku akan menghadapi Paman saat dia menagih jatah nanti?” **Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev
“Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di
Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men
Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb
Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam
Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam







