Share

Bab 9 - Obsesi Tuan Muda

Author: Andriyani
last update publish date: 2026-08-11 22:49:02

Sudah hampir tiga jam sejak David berada di ruang kerjanya di salah satu lantai gedung utama Keystone Group. Namun, yang dilakukannya hanya duduk santai dengan kedua kaki nangkring di atas meja. Di hadapannya, beberapa dokumen pekerjaan masih menumpuk rapi, belum tersentuh sama sekali.

Satu-satunya benda yang kelihatan bekerja hanyalah pena di antara jemari David. Ia memutarnya pelan sambil menatap tumpukan dokumen tersebut dengan ekspresi setengah bosan, setengah malas.

David bukannya membenci pekerjaannya. Ia bukan tipikal anak orang kaya tidak tahu diri yang maunya tinggal menikmati harta orang tuanya saja tanpa mau repot-repot bekerja. Tidak sama sekali begitu. Ia orang yang bertanggung jawab dan strategis kok.

Hanya saja, ia tidak suka kalau pekerjaannya berjalan terlalu kaku dan formal. Mengharuskannya duduk berjam-jam di belakang meja, membaca laporan yang bisa diringkas menjadi beberapa kalimat, lalu membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang sejak awal sudah diputuskan oleh orang lain.

Ia lebih suka berada di luar ruangan. Mengamati situasi secara langsung, menemui orang-orang yang terlibat, lalu mengambil keputusan tanpa harus menunggu rapat panjang dan membaca belasan halaman laporan.

Sayangnya, aturan begitu tidak berlaku untuk umum. Dan segala formalitas pekerjaan harus tetap dilangsungkan.

“Selamat siang, Tuan Muda.”

Seseorang masuk ke ruangannya setalah mengetuk dua kali. Tanpa menoleh pun David sudah hafal suara formalnya yang begitu khas.

Betul, Anton. Dia datang membawa beberapa berkas di tangan. Pria itu tetap terlihat rapi seperti biasa. Bersetelan jas gelap, rambut tertata, dan wajah tenang  yang sarat akan kepatuhan.

David meliriknya malas.

“Dokumen menyebalkan apa lagi yang kau bawa di tanganmu?” tanyanya, sudah jengah duluan melihat barang bawaan Anton.

“Ini dari ayah Anda.”

Anton meletakan dokumen itu di meja. Membuat David langsung menurunkan kakinya dari sana seraya mendesah malas.

“Kau bakar saja, Anton. Aku tidak mau repot-repot menyentuhnya. Paling-paling berisi permohonan itu lagi.”

Kali ini tangan David mengepal memukul meja pelan.

“Sampai kapan pun juga aku tidak akan menandatangani surat persetujuan peralihan kepemilikan itu. Sudah sepantasnya sektor perhotelan dan restoran menjadi hak ibuku setelah perceraian mereka. Sekarang, orang tua itu mau menyerahkannya pada gundik sialannya?! Bilang padanya, langkahi dulu mayatku kalau dia mau mencoba menyentuh ibuku.”

Anton meneguk saliva, tetapi tatapannya tidak menunjukkan gentar sama sekali. Walau dalam hati jelas ia berpikir, mana berani ia menyampaikan pesan sang tuan muda barusan kepada tuan besar?

“Tuan Darius berpesan, setidaknya Anda datang dulu menemuinya sebentar. Dia ingin membicarakan masalah ini dengan lebih santai. Agar Anda tidak langsung berprasangka buruk terhadap Nyonya Ellara. Tuan Darius juga ingin Saya menyampaikan pada Anda, peralihan hak kepemilikan itu sebenarnya tertuju untuk Nona Diandra. Bukan untuk Nyonya Ellara.”

“Cih! Kebohongan besar!” cibir David, matanya tajam menatap Anton. “Masa kau percaya rencana licik mereka, Anton?”

Anton diam. Dia hanya tertunduk, tidak berani menyela karena menurutnya pembicaraan ini sudah mengarah ke ranah pribadi keluarga tuannya.

“Sudahlah, abaikan saja orang tua itu!” David melambaikan tangan acuh.

“Tapi, Tuan Muda, nanti Tuan Darius bisa....”

“Kau takut pada ayahku? Buat apa? Sekarang kau sudah resmi bekerja untukku. Kau harusnya tunduk padaku, bukan padanya!”

Anton langsung bersedekap begitu menyaksikan amarah David.

“Baik, Tuan,” jawab Anton akhirnya.

“Bagus.”

David memutar kursi, kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela di belakangnya. Didorongnya sedikit pintu jendela yang berbentuk memanjang itu hingga ia merasakan udara di luar yang mulai panas. Kemudian ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.

“Ngomong-ngomong, kau tahu Selina ada di mana?”

David menghisap rokoknya dalam damai, lalu mengembuskan asapnya ke luar jendela.

“Dia tidak bisa dihubungi sedari dua hari lalu. Padahal ada hal penting yang harus aku diskusikan dengannya. Mengenai proyek pembangunan kelab malam baru di Jakarta Selatan.”

Anton terlihat mengeluarkan gawainya. Dia mengutak-atik sebentar, lalu menunjukkan sebuah foto pada David.

David langsung menyeringai jijik. Foto itu adalah foto Selina Brianka Edgard—tunangannya—yang terlihat sedang asyik berpesta miras bersama banyak lelaki muda berbadan kekar. Dan gadis itu hanya mengenakan bikini.

“Nona Selina sedang berlibur di Bali. Dia pergi hanya dengan sopir pribadinya, Arya Fardana.”

Jemari Anton memperbesar foto, mengarahkan David untuk melihat laki-laki yang sedang dipeluk Selina. Menyadari itu, wajah David semakin jijik lagi. Ia langsung menjauhkan ponsel Anton dari hadapannya.

David kembali menatap ke luar jendela, menikmati rokoknya yang belum habis. Pikirannya melayang sejenak.

Sejak lulus SMA, keluarganya mengatur pertunangannya dengan Selina. Putri tunggal Harrold Edgard, seorang pengusaha properti berskala internasional.

Ya, Selina memang berdarah campuran. Ayahnya orang Inggris, ibunya Indonesia. Pendidikannya bagus, profesionalitasnya juara, dan yang terpenting... attitude-nya bak putri bangsawan elegan. Maka dari itu tak jarang orang mengaguminya. Termasuk David dulu, ketika baru diperkenalkan dengannya.

Namun, seiring waktu berlalu saat mereka sudah saling mengenal satu sama lain, Selina mulai menunjukkan sisi gelapnya yang selama ini selalu dia sembunyikan. Dia tidak pernah merasa cukup dengan satu pria. Sejak mengetahui hal itu, rasa kagum David berubah jadi rasa jijik.

Kalau boleh jujur, David menyesali status pertunangan yang telah mengikatnya. Namun di lain sisi ia juga bersyukur. Karena peran Selina cukup berarti bagi posisinya. Selina telah berjasa besar membantunya untuk tidak bergantung lagi pada ayahnya.

David diwariskan saham Keystone Group di sektor hiburan malam. Dia telah menyandang status CEO sejak usia dua puluh tahun. Tapi baru setahun terakhir ia betul-betul merasa bebas dari pengaruh ayahnya, sang pemegang inti seluruh sektor usaha Keystone Group. Berkat Selina, yang menarik kerja samanya dengan pihak inti Keystone Group, mengganti kontrak bahwa perusahaan keluarganya hanya akan fokus mendukung sektor yang dikelola David dan ibunya.

David menyesap rokoknya agak lama dengan tempo cepat. Baru setelahnya ia membuang sisa puntung rokok yang sudah dimatikan ke tempat sampah.

Ia kembali berjalan mendekati Anton seraya melipat tangan di dada.

“Kenapa ya, akhir-akhir ini kok aku merasa tunanganku yang nakal itu sering sekali terlihat terlalu menempel dengan sopirnya? Apa hanya perasaanku saja, atau kau juga berpikir hal sama, Anton?”

Anton diam. Ia tidak berani berkomentar sembarangan mengenai Selina. Wanita itu juga punya power yang luar biasa. Dia bisa kapan saja menghancurkan orang sekelas Anton.

Untungnya David tampak tidak mau memperpanjang percakapan soal Selina.

“Sudahlah, aku tidak mau repot-repot peduli dengan urusan percintaan gilanya itu. Lebih baik kita bahas yang lain saja.”

Ekspresi David tiba-tiba berubah antusias.

“Bagaimana kalau kita bicarakan rencana tadi malam? Kau ingat, mengenai kelanjutan permainanku dengan si gadis pelayan angkuh itu?”

Pada saat itu, wajah Anton mendadak berubah gugup. Hanya saja David belum sadar.

“Kau sudah urus ‘kan soal rencana penggantian targetnya? Bukan lagi yang bernama Kinar itu, melainkan dia. Aku ingin membelinya untuk kujadikan pelayan pribadiku di apartemen. Wah, aku tidak sabar. Pasti akan menyenangkan sekali bisa mempermainkannya setiap hari.”

“Eum, soal itu....”

“Kenapa?” tanya David penuh selidik. “Jangan bilang kau lupa koordinasikan pada Moran?”

Anton menggeleng lemah. “Bukan begitu, Tuan. Saya ingat semua perintah Anda. Tapi....”

“Tapi apa?!” David tidak sabar.

“Bobi sudah memecat gadis itu tadi pagi.”

“APA?!”

Suara David yang melantang begitu mendadak refleks membuat Anton mundur satu langkah. Ia hafal betul perangai tuan mudanya. Kalau sudah begini, sebaiknya jangan ada yang bicara lagi, apalagi sampai memancing emosinya lebih jauh. Kalau tidak mau berakhir babak belur menjadi sasaran amuknya.

“Beraninya babi sialan itu menyingkirkan mainanku....” David menggeram. Jemarinya bergetar kuat dalam kepalan tangannya. Serta giginya bergemeretak meluapkan segala amarah.

“Anton!” David menatap Anton nanar.

“Seret dia kemari—tunggu, tidak perlu! Bawa aku padanya! Biar kukirimkan hadiah spesialku langsung ke hadapan wajahnya.”

Anton tentu tidak berani menyela. Ia langsung mengangguk patuh, lantas berbalik.

Dengan langkah cepat, mereka berpacu menuju kediaman Bobi yang tidak jauh dari lokasi Black Key Club.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 28 - Istirahat Sejenak

    Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 27 - Di Balik Sebuah Nama

    “Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 26 - Terjebak Balasan Sendiri

    Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 25 - Pertarungan Segelas Kopi

    Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 24 - Masalah Lain yang Menanti

    Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 23 - Aturan Kerja yang Gila!

    Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status